<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guru Pembaharu</title>
	<atom:link href="http://gurupembaharu.com/home/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gurupembaharu.com/home</link>
	<description>Forum komunikasi, interaksi dan kolaborasi pendidik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 May 2013 03:23:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pelatihan Perbaikan RKAS</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 03:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13449</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.
Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/guru-2/" rel="attachment wp-att-13450"><img class="alignleft  wp-image-13450" style="margin: 6px;" title="guru" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/04/guru.jpg" alt="" width="151" height="112" /></a>Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.<span id="more-13449"></span></p>
<p>Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada penguasaan ilmu dan keterampilan yang baik dalam merencanakan program sekolahnya sehingga dapat  meraih <strong>keunggulan</strong>. Dalam mewujudkan cita-cita kepala sekolah hendaknya menempuh empat langkah stategis; yaitu <strong>pertama</strong> menganalisis konteks eksternal dan internal; <strong>kedua </strong>merumuskan visi, misi, tujuan dan strategi, <strong>ketiga </strong>menerapkan strategi dalam pelaksanaan program, dan <strong>keempat</strong> memonitor dan mengevaluasi program (Thomas L. Wheelen and I David Hungger:1995).</p>
<p>Keempat langkah strategis itu, ujungnya adalah mewujudkan keunggulan mutu siswa atau lulusan. Lulusan  berkeunggulan adalah yang memiliki dapat menguasai materi pelajaran, terampil menerapakan ilmu yang diperolehnya,  menguasai cara belajar sehingga penguasaannya dapat siswa gurunakan dalam memecahkan masalah kehidupannya.</p>
<p>Pengembangan kapasitas sekolah untuk mewujudkan mutu lulusan merupakan proses yang tidak pernah berakhir selama sekolah berdiri dan proses pembelajaran berjalan. Oleh karena itu, peningkatan mutu merupakan proses yang bersiklus tanpa henti dari tahun ke tahun. Targetnya pun harus berubah karena segala sesuatuyang ada sekitar hidup siswa terus berubah.</p>
<p>Untuk menuntun kepala sekolah meraih mimpinnya sebaiknya  kepala sekolah merumuskan visi-misi yang disertai dengan tujuan yang jelas. Jelas artinya  harus diuraikan dalam sejumlah target yang <strong>realistis</strong> dan <strong>terukur</strong>. Penegasan tersebut mengarahkan kepala sekolah  agar dapat menjamin pelaksanaan keempat langkah strategis di atas mengarah pada tujuan yang direalisasikan dalam target yang selalu diukur pencapaiannya dari waktu ke waktu.</p>
<p>Selain empat langkah strategis, terdapat empat langkah utama menjamin mutu yang wajib kepala sekolah tunaikan. <strong>Pertama</strong> merumuskan strategi atau metode dalam perencanaan (plan) berdasarkan pencapaian program sebelumnya. Dalam perencanaan kepala sekolah perlu memperhitungkan kekuatan sumber daya yang sekolah miliki sehingga target selalu disesuaikan dengan kemampuan nyata untuk mewujudkannya.  <strong>Kedua, </strong>menerapkan strategi atau melaksanakan kegiatan sesuai dengan program<strong>. Ketiga</strong>, memonitor dan mengevaluasi proses dan hasil pekerjaan, melaksanakan perbaikan proses pekerjaan untuk memperbaiki pencapaian. <strong>Keempat</strong>, menggunakan hasil monitoring datan evaluasi sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan berkelanjutan. Siklus kegiatan itu sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh Edward Sallis (1993) yang sangat terkenal dengan model <em>plan, do, check, act</em>.</p>
<p><strong>Target kompetensi  </strong></p>
<p>Pelatihan ini memiliki target agar kepala sekolah mampu memperbaiki Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan/RKAS  secara berkelanjutan sehingga program berkembang sesuai kebutuhan pembaharuan mutu. Target kompetensi umum tersebut selanjutnya dijabarkan dalam target khusus, yaitu agar kepala sekolah mampu</p>
<ol>
<li>Memetakan pemenuhan standar berdasarkan analisis konteks.</li>
<li>Merumuskan dokumen RKJM dan RKAS secara sistematis.sesuai dengan kebutuhan pengembangan sekolah yang realistik dan terukur.</li>
<li>Penentuan skala prioritas</li>
<li>Mengembangkan RKJM dan RKAS yang mengintegrasikan seluruh program  pemenuhan delapan SNP.</li>
<li>Mengembangkan program RKJM dan RKAS secara inovatif sehingga memenuhi prinsip pembaharuan mutu berkelanjutan.</li>
<li>Menggunakan instrumen evaluasi program sekolah</li>
</ol>
<p><strong>Bentuk Tagihan yang diharakan dapat dihimpun seusai pelatihan adalah menyempurnakan templet RKAS terlampir</strong></p>
<p>[<strong>download id="3109"]<a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3109" title=" downloaded 147 times" >Rencana Kegiatan Tahunan dan Rencana Anggaran Sekolah (147)</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Komputer</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 May 2013 02:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14953</guid>
		<description><![CDATA[
Mulai tahun 1990-an komputer masuk sekolah di Indonesia. Program microsoft word, lotus, DOS yang mulai populer pada tahun 1980-an mulai dipergunakan di sekolah. Disket merupakan perangkat wajib bagi setiap pengguna persoanal komputer pada saat itu. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/pencil/" rel="attachment wp-att-14955"><img class="alignleft  wp-image-14955" title="pencil" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/05/pencil-84x150.jpg" alt="" width="84" height="130" /></a><a href="http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/pencil/" rel="attachment wp-att-14955"><br />
</a>Mulai tahun 1990-an komputer masuk sekolah di Indonesia. Program microsoft word, lotus, DOS yang mulai populer pada tahun 1980-an mulai dipergunakan di sekolah. Disket merupakan perangkat wajib bagi setiap pengguna persoanal komputer pada saat itu. Di awal tahun 1990 mulailah banyak sekolah yang menyediakan komputer sebagai pendukung pembelajaran dan pada waktu yang tidak terlalu lama, muncul kebutuhan menyelanggarakan mata pelajaran komputer dan labolatorium komputer di banyak sekolah.<span id="more-14953"></span></span></p>
<p>Beberapa sekolah berjalan pada penghujung tahun 1990-an karena telah mengantarkan siswanya menjadi juara olimpiade bidang komputer, hingga tahun 2012 olimpiade infrmatics yang ke 24. Pada bidang ini Indonesia. Contohnya, dalam International Olympiad in Informatics (IOI) ke-24 di Milan, Italia, 23-30 September 2012, berhasil mempersembahkan satu medali perak dan tiga medali perunggu. Tim Indonesia menempati posisi ke-19 dari klasemen umum negara-negara peserta.</p>
<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Bersamaan dengan berkembangnya prestasi siswa beberapa guru komputer pun diangkat menjadi pegawai negeri sehingga peluang pekerjaan sebagai guru komputer memberikan harapan yang besar. Namun pada tahun 2013 dengan rencana pergantian kurikulum mata pelajaran komputer pun hilang dari struktur.</span></p>
<p>Kini struktur kurikulum pada persekolahan di Indonesia sama dengan kurikulum di negara lain. Tidak memasukan keterampilan komputer sebagai mata pelajaran. Komputer harus menjadi bagian keterampilan pada seluruh mata pelajaran. Semua guru tak bisa mengelak untuk menjadi guru komputer dalam meningkatkan kompetensi siswa pada substansi yang digelutinya.</p>
<p>Pertannyaan berikutnya adalah bagaimana dengan guru komputer yang sudah ada di sekolah menjelang pemberlakuan kurikulum 2013? Masalah ini akan dibahas dalam pertemuan guru kompter Kota Bogor pada tanggal 4 Mei 2013.</p>
<a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3108" title=" downloaded 44 times" >Kurikulum 2013 (44)</a>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendalami Penerapan Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 17:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14926</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific aproach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik akhir-akhir ini. Yang menjadi latar belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/saintifik/" rel="attachment wp-att-14929"><img class="alignleft  wp-image-14929" style="margin: 5px;" title="saintifik" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/saintifik-150x86.jpg" alt="" width="200" height="100" /></a>Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau <em>scientific aproach</em> pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik akhir-akhir ini. Yang menjadi latar belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang <span style="font-size: 13px;">mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.<span id="more-14926"></span> </span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Disadari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan strategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga. </span><span style="font-size: 13px;"> </span></p>
<p>Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 telah merintis pengembangan program prestisius ini dalam  Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) di Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasi di sejumlah daerah dan dikembangkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia. Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun <span style="font-size: 13px;">2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang lebih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. </span></p>
<p>Dalam perancangan kurikulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latar belakang pemikiran yang menyatakan bahwa secara faktual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan daripada  fakta dalam kelas. Produktivitas pembelalaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi madek alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita  yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu. Memang, ini kondisi yang sangat memprihatinkan.</p>
<p><strong>Apakah Pendekatan Ilmiah?</strong></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pendekatan ilmiah berarti konep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (</span><em style="font-size: 13px;">scientific teaching</em><span style="font-size: 13px;">) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah. </span></p>
<p>Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.</p>
<p>Menurut  majalah <strong>Forum Kebijakan Ilmiah</strong> yang terbit di Amerika pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan  bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi perbedaan kemampuan siswa.</p>
<p>Pada penerbitan majalah selanjutnya pada tahun 2007 tentang <strong><em>Scientific Teaching</em></strong> dinyatakan terdapat tiga prinsip utama dalam menggunakan pendekatan ilmiah; yaitu:</p>
<ul>
<li><strong>Belajar siswa aktif</strong>, dalam hal ini  termasuk <em>inquiry-based learning </em>atau belajar berbasis penelitian, <em>cooperative learning</em> atau belajar berkelompok, dan belajar berpusat pada siswa.</li>
<li><strong>Assessment </strong>berarti  pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar<strong>.</strong></li>
<li><strong>Keberagaman </strong>mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan keragaman.  Pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks.</li>
</ul>
<div>
<p>Metode Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan. Dalam penerapan metode ilmiah terdapat aktivitas yang dapat diobservasi seperti mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pelaksanaan metode ilmiah tersusun dalam tujuh langkah berikut:</p>
<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/berpikir-ilmiah-compres/" rel="attachment wp-att-14945"><img class="alignleft size-medium wp-image-14945" title="Berpikir Ilmiah compres" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Berpikir-Ilmiah-compres-222x300.jpg" alt="" width="222" height="300" /></a></p>
<ol start="1">
<li>Merumuskan pertanyaan.</li>
<li>Merumuskan latar belakang penelitian.</li>
<li>Merumuskan hipotesis.</li>
<li>Menguji hipotesis melalui percobaan.</li>
<li>Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan.</li>
<li>Jia hipotesis terbukti benar maka daapt dilanjutkan dengan laporan.</li>
<li>Jika Hipotesis terbukti tidak benar atau benar sebagian maka lakukan pengujian kembali.</li>
</ol>
<p>Penerapan metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai. Karena itu kemampuan bertanya merupakan kemampuan dasar dalam mengembangkan berpikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.</p>
<p>Oleh karena itu, penguasaan teori dalam sebagai dasar untuk menerapkan metode ilmiah. Dengan menguasi teori maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah. Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarahkan perumusan pertanyaan penelitian.</p>
<p>Uraian singkat buah pemikiran Rawcett J and Downs F. 1986. <a href="http://www.indiana.edu/%20~educy520/%20readings/fawcett86.pdf">http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf</a> menyatakan bahwa teori dengan penelitian memiliki hubungan yang sangat erat. Pola hubungannya dialektik sehingga teori ditentukan oleh data yang dikoleksi sebagai perolehan penelitian. Pada tahap selanjutnya pengolahan data menentukan peluang diterimanya suatu teori.</p>
<p>Disain penelitian dapat menghasilkan tiga ragam teori  yaitu deskriptif, korelasi, dan eksperimen. <strong><em>Penelitian deskriptif</em></strong> menghasilkan <strong><em>teori deskriptif</em></strong> yang menggambarkan atau mengklasifikasi karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa yang disusun secara ringkas dari hasil  atau  temuan obeservasi. Yang termasuk pada tipe ini adalah <em>studi kasus</em>, <em>survey, studi etnografi, dan studi gejala</em>. Jadi, teori deskriptif diperoleh dari penelitian deskriptif. <span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Penelitian deskriptif menjawab pertanyaan;</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apakah ini?</span></li>
</ul>
<p><strong><em>Penelitian dan teori relasional</em></strong> yang mempelejari hubungan antara berbagai dimensi atau <strong><em>karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa</em></strong>. Pada tipe ini dijelaskan  bagaimana hubungan bagian dari suatu gejala dengan yang lainnya. Teori dapat dibangun setelah karakteristik atau gejala benar-benar diketahui. Pada riset tipe ini  digunakan  pertanyaan:</p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apa yang terjadi di sini?</span></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apa yang terjadi jika beberapa karakteristik muncul bersamaan?</span></li>
</ul>
<p><strong><em>Penelitian dan Teori eksperimental</em></strong> bergerak pada prediksi hubungan sebab-akibat antara dimensi atau karakteristik  suatu gejala atau perbedaan antar kelompok. Tipe ini berkaitan dengan <em>penyebab dan pengaruh</em> yang mengeksplorasi persoalan mengapa  ada perubahan gejala atau suatu keadaan. Teori eksplanatori menguji kebenaran dengan riset eksperimen dengan  menggunakan pertanyaan:</p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apa yang akan terjadi jika&#8230;?</span></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apakah perlakuan A berbeda dengan perlakuan B?</span></li>
</ul>
<p>Kemampuan menguasai teori menurut Krathwohl dapat dipetakan dalam tabel Taksonomi seperti di bawah ini.</p>
<p>Dimensi proses kognitif menggambarkan tingkat kecakapan berpikir dari mulai mengingat, mengerti atau memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.  Istilah berkreasi sama dengan mencipta. Pada dimensi penguasaan ilmu pengetahuan atau teori meliputi  penguasaan ilmu pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognif.</p>
<p>Kita mengetahui bahwa dalam rancangan kurikulum 2013 membedakan siswa sekolah dasar yang diberi target untuk mengembangkan kompetensi faktual dan konseptual, dan sekolah menengah mendapat target untuk mengembangkan kemampuannya sampai prosedural dengan puncak kompetensi  pada mencipta.</p>
</div>
<div><strong style="font-size: 13px;">Bagaimana penerapan metode ilmiah?</strong></div>
<p>Yang paling penting dalam penerapan metode ilmiah adalah menentukan kompetensi siswa yang hendak siswa kuasai. Sebagaiamana diuraikan sebelumnya bahwa guru dapat memfasilitasi siswa pada tiga tipe pilihan yaitu model <strong>deskriptif, relasional, atau eksperimen. </strong>Ketiga tipe tersebut memerlukan teknik eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang berbeda sehingga menghasilkan tipe teori yang berbeda yaitu teori deskriptif, relasional, dan hasil eksperimen.</p>
<p>Secara umum urutan penerapan metode ilmiah meliputi enam langkah utama berikut:</p>
<ol>
<li>Rumuskan masalah; pada langkah ini mengungkap apa yang sesungguhnya ingin anda ketahui.</li>
<li>Himpun informasi; untuk menjawab sejumlah pertanyaan masalah anda perlu mengimpun informasi, data, atau fakta yang menjadi latar belakang pemikiran. Karena itu  pertanyaan masalah sesungguhnya muncul dari proses perluasan atau pendalaman pengetahuan yang telah anda miliki sebelumnya. Tanpa memiliki pengetahuan tentang sesuatu anda tidak dapat bertanya tentang sesuatu.</li>
<li>Rumuskan hipotesis; apa yang sesungguh Anda pikirkan sehingga ingin mengetahuinya dan apa yang ingin anda amati. Berdasarkan teori yang telah diketahui sebelumnya anda dapat menyusun kesimpulan sementara atau hipotesis. Selanjutnya hipotesis dapat diuji, dengan melakukan pengamatan, membangun sebuah model hubungan dan membuktikan melalui kegiatan percobaan atau observasi.</li>
</ol>
<p>Dalam pelaksanaan pekerjaan hipotesis kerja dapat anda tetapkan dalam masalah seperti dengan menggunakan pertanyaan: Bagaimana penggunaan metode ilmiah dapat meningkatkan hasil belajar siswa?</p>
<ol>
<li>Materi; tentukan materi yang akan siswa eksplorasi dalam kegiatan belajar dengan memilih satau satu dari tipe deskriptif, relasional, atau eksperimen.</li>
<li>Prosedur; susunlah langkah rinci yang akan siswa lakukan dalam melaksanakan penelitian.</li>
<li>Hasil; tentukan apa yang akan siswa pelajari pada pelaksanaan observasi. Data apa yang akan siswa himpun, diolahnya dan yang siswa tafsirkan.</li>
<li>Simpulkan hasilnya,  informasi yang anda peroleh dari hasil observasi gunakan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi masalah sebelum anda melakukan percobaan atau penelitian. Apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis atau menjawab pertanyaan?</li>
</ol>
<p>Penilaian hasil belajar dapat dilihat dalam tiga dimensi. Keterampilan berpikir terepleksi pada aktivitas ; Mengamati,  Menanya, Mencoba, Mengolah, Menyaji , Menalar dan Mencipta. Level kecakapan berpikir terpetakan dalam model Taksonomi : mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Sedangkan dalam penguasaan teori meliputi faktual, konseptual, dan proseduran.  Pada pelakanaannya tidak semua aktivitas dinilai pada tiap pelaksanaan pembelajaran. Guru dapat memilih prioritas yang  berdasarkan peta Krathwohl seperti di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/diagram-krathwohl-2/" rel="attachment wp-att-14946"><img class="aligncenter  wp-image-14946" title="Diagram Krathwohl 2" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Diagram-Krathwohl-2-300x198.jpg" alt="" width="400" height="298" /></a></p>
<p>Pelaksanaan kegiatan belajar, misalnya, dalam dua jam pelajaran dibatasi pada kegiatan kelompok dalam penguasaan fakta, konsep, dan mencipta pada ranah kognitif level tinggi yaitu analisis, evaluasi, dan berkreasi pada materi pelajaran yang telah guru tentukan.</p>
<p><strong>Model Penerapan Pendekatan Kuntitatif dan Kualitatif </strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Penerapan metode ilmiah dalam pembelajaran dapat memilih menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan adalah  pendekatan yang ilmiah dan sistematis mengembangkan dan menggunakan <a title="Model matematis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Model_matematis&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000;">model-model matematis</span></a>, <a title="Teori" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teori"><span style="color: #000000;">teori-teori</span></a> dan/atau <a title="Hipotesis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis"><span style="color: #000000;">hipotesis</span></a> yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses <a title="Pengukuran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengukuran"><span style="color: #000000;">pengukuran</span></a> menjadi ciri khas pada penelitian kuantitatif menggambarkan  hubungan yang fundamental antara <a title="Pengamatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan"><span style="color: #000000;">pengamatan</span></a> <a title="Empiris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Empiris"><span style="color: #000000;">empiris</span></a> dan ekspresi matematis pada hubungan-hubungan yang dinyatakan dalam bentuk angka (Wikipedia)</span></p>
<p>Contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka dalam menghadapi masa depan  sejak  setahun yang lalu hingga hari ini.</p>
<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Pendekatan  kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).</span></p>
<p>Model penerapan metode dapat dilihat dalam gambar berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/sosial/" rel="attachment wp-att-14940"><img class="aligncenter  wp-image-14940" title="sosial" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/sosial.bmp" alt="" width="400" height="400" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan bersiklus yang bermula dari indentifikasi masalah, membatasi masalah, menetapkan fokus kajian, menghimpun data, mengolah dan membahas data, mencocokkan dengan teori atau hipotesis, dan menyusun serta menyajikan laporan. Pada model ini dapat mengelola data tidak dengan menggunakan angka-angka.</p>
<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.  Peneliti pergi ke lokasi, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti meng­amati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubung­annya dengan peristiwa yang terjadi saat itu.  Peneliti mendatangi suatu lingkungan kemudian menggali informasi yang menjadi fokus yang telah ditentukan.</span></p>
<p>Data yang diperoleh seperti hasil peng­amatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya. Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai gejala yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif.</p>
<p>Hakikat pema­paran data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan me­ngapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan me­nguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan penjelasan  mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. <span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. </span></p>
<p>Prinsip-prinsip itulah yang seharusnya guru terapkan dalam proses pembelajaran sehingga dipastikan siswa tidak hanya aktif dalam kelas, namun mereka dapat mendatangi alam sekitar untuk melakukan kegiatan belajar di luas kelas.</p>
<p><strong><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Referensi: </span></strong></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Kemendiknas  208.  Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta</span></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Rawcett J and Downs F. 1986. </span><a style="font-size: 13px; line-height: 19px;" href="http://www.indiana.edu/%20~educy520/%20readings/fawcett86.pdf">http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf</a></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Sugiyono. 2005. </span><em style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Memahami Penelitian Kualitatif</em><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">. Bandung: Alfabeta.</span></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempertajam Fokus Program UN Satuan Pendidikan</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 15:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Supervisi]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14897</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah hiruk-pikuk agenda Ujian Nasional pada tahun ini sehubungan dengan penyelenggaraan yang unik dan pantastis. Unik karena penyelenggaraan ujian sekolah negara kita telah menjadi ritual pendidikan yang tiada taranya di dunia. Syarat nilai lulus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/ujian-nasional-3/" rel="attachment wp-att-14900"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14900" style="margin: 5px;" title="ujian nasional" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/ujian-nasional-150x92.jpg" alt="" width="150" height="92" /></a>Di tengah hiruk-pikuk agenda Ujian Nasional pada tahun ini sehubungan dengan penyelenggaraan yang unik dan pantastis. Unik karena penyelenggaraan ujian sekolah negara kita telah menjadi ritual pendidikan yang tiada taranya di dunia. Syarat nilai lulus UN 5,5 yang dipadukan dengan nilai yang patastis. Penyelenggaraannya tidak kalah pantastis karena soalnya dicetak dalam 30 jenis soal.<span id="more-14897"></span></p>
<p>Yang terlibat dalam penyelenggaraan tidak hanya guru, tetapi melibatkan polisi. Pemendahan soal dikawal senjata dan menggunakan mobil tentara. Penyimpanan soal dikunci  dalam ruang dengan kunci rangkap. Sampul soal dilak dan diberi kode khusus. Yang lebih pantastis lagi perpindahan soal juga menggunakan jasa pesawat terbang. Tapi&#8230;.masih terlambat tiba di sekolah. Ini baru ujian yang paling unik di dunia, karena di televisi disiarkan pula siswa yang saling menyontek jawaban di tengah pembiaran para pengawas ruangan.</p>
<p>Dari sisi substansi penyelenggaraan evalusi terdapat hal penting yang terlupakan karena semua pihak silau dengan masalah besar. Yang saya maksud adalah sekolah kurang fokus untuk memperhatikan penyelenggaraan UN yang merujuk pada Permendiknas No. 20 tahun 2007 tentang penilaian pendidikan.</p>
<p>Sebagai program seharusnya sekolah menyiapkan tujuan dengan dilengkapi indikator pencapian yang terukur,  rencana yang dapat diaplikasikan, melaksanakan kegiatan secara terkontrol, bahkan kegiatan evaluasi yang mengukur yang seharusnya diukur. Hasil pemantauan pengawas menunjukkan sekolah kurang fokus dalam memperhatikan prinsip penyelenggaraan yang sistematis. Salah satu kelemahan yang mencolok  yaitu kejelasan tujuan pelaksanaan dan alat ukur keberhasilan.</p>
<p><span style="font-family: TimesNewRoman, serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;">Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan penilaian oleh pemerintah dilakukan melalui UN dengan langkah-langkah yang diatur dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Merujuk pada Permendiknas Nomor 20 tahun tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan dapat dirumuskan tujuan UN sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terselenggara UN sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS) UN.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terukurnya kompetensi peserta didik dalam beberapa mata pelajaran sebagai dasar penilaian ketercapaian standar nasional pendidikan.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terhimpunnya data hasil UN sebagai<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>dasar penilaian ketercapaian program satuan pendidikan.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terhimpunnya data hasil UN sebagai dasar untuk memetakan mutu satuan pendidikan.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terhimpunnya data hasil UN sebagai penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan sesuai dengan kriteria kelulusan.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Tujuan tersebut selanjutnya dapat diurai dalam sejumlah indikator dan target yang sekolah tetapkan berdasarkan kondisi yang paling mungkin satuan pendidikan capai seperti pada contoh berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif';">Indikator pencapaian tujuan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif';">Tujuan ke-1; penyelenggaraan:</span></strong></p>
<ol>
<li><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menetapkan program pembinaan kompetensi siswa secara berkelanjutan dengan program intensif selama siswa berada di kelas akhir.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola buku data buku induk yang lengkap sebagai sumber informasi pendukung UN</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Merencanakan penyelenggaran UN yang mencakup:</span></li>
</ol>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">1)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan rumusan tujuan</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">2)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>indikator dengan target pencapaian tujuan yang terukur.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">3)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>strategi sukses penyelenggaraan UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">4)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan jadwal penyelenggaran</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">5)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan panitia pelaksana dalam bentuk surat keputusan.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">6)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan pangawas ruangan sesuai POS.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">7)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Melengkapi data peserta UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;"> <img src='http://gurupembaharu.com/home/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> <span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menyiapkan nilai hasil ujian sekolah</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">9)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengirim nilai sekolah ke penyelenggara UN tingkat kabupaten/kota</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">10)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola naskah soal</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">11)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memastikan lembar jawab memenuhi kriteria pada POS UN.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">12)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menghimpun data kehadiran siswa, panitia, pengawas ruang, dan kepala sekolah</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">13)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola pelaksanaan sesuai dengan tata tertib UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">14)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Merumuskan tata tertib panitia, pengawas ruangan, dan peserta UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">15)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memantau pengawas ruangan bekerja sesuai tata tertib pengawas</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">16)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola nilai peserta</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">17)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola Belangko STTB</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">18)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola arsip </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">19)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menyusun himpun ijazah peserta dari satuan pendidikan satu tingkat sebelumnya</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">20)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Melengkapi administrasi penyelenggaran </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">21)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Melaksanakan evaluasi keberhasilan UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">22)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menyusun laporan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif';"> Indikator Tujuan Ke-2; Hasil UN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Sekolah menetapan target dan realisasi pencapaian pada tiap mata pelajaran UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">23)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Peserta mencapai nilai tertinggi 10</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">24)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Peserta IPA mencapai rata-rata nilai &#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">25)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Peserta IPS mencapai rata-rata nilai &#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">26)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Nilai terendah&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';"><strong> Indikator Tujuan Ke-3,4,5; menggunakan hasil UN untuk</strong><br />
</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">27)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">memetakan data kinerja sekolah dalam pemenuhan program satuan pendidikan</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">28)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">memetakan data posisi kinerja sekolah pada tingkat kabupaten kota berdasarkan hasil UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">29)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memetakan  data posisi kinerja sekolah pada tingkat provinsi berdasarkan hasil UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">30)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memetakan data posisi kinerja sekolah pada tingkat nasional berdasarkan hasil UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">31)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mencapai kelulusan 100%</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">32)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mencapai posisi siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi sebanyak&#8230;&#8230;<br />
</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">33)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mencapai target pencapaian siswa yang terserap dunia kerja&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Sejumlah indikator seperti pada model di atas selanjutnya dapat sekolah gunakan untuk melakukan evaluasi. Instumen evaluasi penyelenggaraan yang mudah diterapkan seperti pada model berikut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3106" title=" downloaded 39 times" >Instrumen evaluasi pelaksanaan UN (39)</a></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;">Tulisan ini merupakan hasil refleksi supervisi oleh pengawas yang dapat sekolah gunakan untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan UN tahun 2013.</p>
<p><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';"> </span>Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Langkah Metode Jigsaw</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2013 11:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14855</guid>
		<description><![CDATA[Data hasil pelaksanaan supervisi pelaksanaan pembelajaran pada beberapa sekolah SMA menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil guru yang berpengalaman menerapkan metode jigsaw  secara mandiri. Sebagian besar guru memiliki pengetahuan yang cukup tentang metode ini, namun belum mencoba ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/integras-konsep/" rel="attachment wp-att-14856"><img class="alignleft  wp-image-14856" style="margin: 5px;" title="Integras Konsep" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Integras-Konsep.jpg" alt="" width="130" height="130" /></a>Data hasil pelaksanaan supervisi pelaksanaan pembelajaran pada beberapa sekolah SMA menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil guru yang berpengalaman menerapkan <strong><em>metode jigsaw  </em></strong>secara mandiri. Sebagian besar guru memiliki pengetahuan yang cukup tentang metode ini, namun belum mencoba untuk menerapkannya karena belum yakin terampil melaksanakan pembelajaran dengan metode tersebut.<span id="more-14855"></span><span style="font-size: 13px;">Menyikapi kondisi seperti itu,  dipandang perlu untuk menyusun panduang praktis menerapkan metode ini terutama untuk meningkatkan inisiatif siswa mengembangkan pengetahuannya secara mandiri serta mengintegrasikan pemahaman berberapa konsep melalui kegiatan pada satu waktu yang dieksplorasi oleh siswa secara mandiri. Prosedur penerapannya melalaui delapan tahap berikut.</span></p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Langkah Pertama</strong></p>
<p>Guru merencanakan pembelajaran yang akan menghubungkan beberapa konsep dalam satu rentang waktu secara bersamaan. Misalnya, pada mata pelajaran IPA di SMP, siswa akan memperlajari <strong><em>energi dalam kehidupan</em></strong>. Konsep yang akan siswa pelajari: (1) bentuk energi, (2) sumber energi, dan (3) transformasi energi. Tentu saja perlu menyiapkan RPP dengan menerapkan metode Jigsaw.</p>
<p><strong> </strong><strong style="font-size: 13px;">Langkah Kedua:</strong></p>
<p>Siapkan handout materi pelajaran untuk masing-masing konsep sehingga guru memiliki tiga jelas handouts tentang (1) bentuk energi, (2) sumber energi, dan (3) transformasi energi.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/handouts/" rel="attachment wp-att-14857"><img class="aligncenter  wp-image-14857" title="Handouts" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Handouts.bmp" alt="" width="300" height="100" /></a></p>
<p><strong>Langkah Ketiga</strong></p>
<p>Guru menyiapkan kuis sebanyak tiga jenis sesuai materi yang akan siswa pelajari.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/quiz/" rel="attachment wp-att-14858"><img class="aligncenter  wp-image-14858" title="quiz" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/quiz.bmp" alt="" width="300" height="100" /></a></p>
<p><strong>Langkah Keempat:</strong></p>
<p>Bagilah kelas dalam tiga kelompok. Guru menyampaikan pengantar diskusi kelompok dengan menjelaskan secara sangat singkat (1) topik yang akan dipelajari masing-masing kelompok, (2) tujuan dan indikator belajar yang diharapkan (3) bentuk tagihan tiap kelompok (4) prosedur kegiatan (5) sumber belajar yang dapat siswa gunakan. Diskusi dimulai, siswa aktif mempelajari materi, guru menjadi pemantau dan fasilitator.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Masing-masing kelompok bersiap untuk mempelajari tiga konsep yang telah ditentukan. Tiap kelompok terbagi dalam sub kelompok masing-masing mempelajari satu hand out. Pada saat diskusi setiap sub kelompok mendalami satu konsep dan sub kelompok lain berhak bertanya kepada sub kelompok lain untuk memahaminya.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Kelompok ini dalam bahasa Inggris disebut </span><em style="font-size: 13px;">home groups</em><span style="font-size: 13px;">, istilah itu dapat diterjemahkan secara  bebas dengan menggunakan istilah </span><strong style="font-size: 13px;">kelompok <em>belajar (KB)</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/kb/" rel="attachment wp-att-14859"><img class="aligncenter  wp-image-14859" title="KB" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/KB.bmp" alt="" width="400" height="150" /></a></p>
<p>Pada bagian akhir sesi ini setiap kelompok mendalami satu konsep agar dapat menyampaikan materi kepada sub kelompok lain. Setelah memenuhi target waktu dan berdasarkan pemantauan guru siswa telah cukup memahami materi maka diskusi ditutup sementara.</p>
<p><strong>Langkah Kelima: <em></em></strong></p>
<p>Setiap sub kelompok mendalami materi pada hand out yang menjadi pegangannya. Mendalami fakta, konsep dan prosedur penerapan konsep agar ilmu yang mereka pelajari dapat mereka sampaikan kembali kepada teman-temannya. Pada fase ini  tidak ada interaksi antar sub kelompok. Kegiatan refleksi ini merupakan proses <span style="font-size: 13px;">peningkatan penguasaan materi untuk menghadapi babak diskusi tim ahli.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/new-picture-1-14/" rel="attachment wp-att-14860"><img class="aligncenter  wp-image-14860" title="New Picture (1)" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/New-Picture-1.bmp" alt="" width="400" height="200" /></a></p>
<p><strong>Langkah Keenam</strong></p>
<p>Setiap subkelompok yang ahli mengenai konsep ke-1 bergabung dengan ahli konsep ke-1 dari  kelompok lain. Begitu juga dengan subkelompok ke-2 dan ke-3 sehingga membentuk struktur kelompok ahli.</p>
<p>Pada langkah ini siswa kembali berdiskusi. Tiap kelompok membahas satu hand out materi yang menjadi bidang keahliannya. Di sini terdapat masa kritis yang perlu guru pantau pada tiap kelompok, memastikan bahwa konsep yang siswa kembangkan sesuai dengan yang seharusnya atau tidak mengandung kekeliruan.</p>
<p><strong>Langkah Ketujuh</strong></p>
<p>Selesai mendalami materi melalui diskusi kelompok ahli, siswa kembali ke kelompo awal atau kelompok belajar. Hasil dari diskusi pada kelompok ahli dibahas kembali dalam kelompok awal. Pada tahap akhir kegiatan belajar setiap sub kelompok menyampaikan hasil diskusi pada kelompok ahli. Dengan cara ini seluruh siswa mengulang telaah seluruh materi yang harus dikuasainya. Setiap anggota kelompok memiliki catatan hasil diskusi pada tahap satu, tahap dua diskusi tim ahli dan kembali ke kelompok semula.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/kb-2/" rel="attachment wp-att-14861"><img class="aligncenter  wp-image-14861" title="KB" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/KB1.bmp" alt="" width="400" height="150" /></a></p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Langkah kedelapan</strong></p>
<p>Guru mengukur hasil belajar siswa dengan tes atau kuis. Guru dapat menilai tingkat ketuntasan belajar dengan cara membandingkan hasil yang siswa capai dengan target yang ditetapkan dalam RPP.</p>
<p>Semoga bermanfaat untuk para pengawas dan guru untuk menunjang pelaksanaan tugas yang lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Pembelajaran</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/14881/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/14881/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Apr 2013 22:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepala Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14881</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan yang sekarang sering mengemukan tentang peran kepempimpinan pembelajaran menunjukkan adanya perubahan  paradigma tetang pentingnya tindakan kepala sekolah dalam mengerahkan keuatannya sebagai personal kunci di sekolah. Pembahasan ini menggeser perhatian terhadap manajemen berbasis sekolah. Kajian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/14881/migration/" rel="attachment wp-att-14882"><img class="alignleft  wp-image-14882" style="margin: 5px;" title="migration" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/migration.jpg" alt="" width="200" height="140" /></a>Pembahasan yang sekarang sering mengemukan tentang peran kepempimpinan pembelajaran menunjukkan adanya perubahan  paradigma tetang pentingnya tindakan kepala sekolah dalam mengerahkan keuatannya sebagai personal kunci di sekolah. Pembahasan ini menggeser perhatian terhadap manajemen berbasis sekolah. Kajian ini memandu kepala sekolah dalam  memadukan dan meningkatkan kekuatan dengan melibatkan dan menggerakan warga sekolahnya untuk mencapai tujuan.<span id="more-14881"></span><span style="font-size: 13px;">Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran berbeda dengan peranny sebagai administrator atau manajer. Telaah kepemimpinan pembelajaran lebih fokus pada pengkajian tindakan atau pendelegasian wewenang  yang kepala sekolah lakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas belajar siswa. Masalah utama kepemimpinan adalah bagaimana kepala sekolah bertindak sehingga berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran?</span></p>
<p>Dalam realitasanya, kepemimpinan pembelajaran lebih dari sekedar  keterampilan mempengaruhi orang-orang,  namun mencakup proses moral. Sergiovanni (1996) menyatakan kepemimpinan pembelajaran mencakup  moral atau kode etik yang dipahami dan diterima warga sekolah yang dibangun berdasarkan tujuan, nilai-nilai dan keyakinan.</p>
<p>Potensi kepala sekolah diukur dengan kemampuan mengintegrasikan seluruh kekuatan  organisasi secara formal, juga mepersatukan  emosi atau psikologi warganya sehingga terbangun kolegialitas yang kuat, semangat bekerja sama dan menggerakan orang-orang agar saling bergantung dan saling menghargai satu sama lain.</p>
<p>Dalam memberdayakan pengaruhnya pemimpin pembelajaran, seperti halnya pemimpin organisasi yang lain, dibedakan dalam dua tipe yaitu tipe pemimpin &#8220;transaksional&#8221; dan &#8220;transformasional&#8221;.</p>
<p>Tipe kepemimpinan transaksional bersikap responsif. Mereka mengemban tugas berasakan kultur lembaga, memotivasi bawahan dengan memberikan  penghargaan dan hukuman. Kepemimpinan berlandaskan asumsi (1) bawahan tidak memotivasi dirinya (2) motivasi bawahan meningkat jika digerakan dengan penghargaan dan hukuman (3) bawahan harus mematuhi perintah atasan. Tiga asumsi ini melahirkan pikiran lanjutan bahwa bawahan harus dipantau bahkan dikendalikan. Dengan dasar itu, maka  pemimpin harus mengembangkan daya inisiatif dan interaktifnya agar bawahan bergerak untuk mewujudkan tujuan organisasi.</p>
<p>Kepemimpinan tipe transaksional sesuai untuk mewujudkan tujuan jangka pendek, maupun dalam pemenuhan standar dan prosedur. Pemimpin tidak memerlukan banyak daya inisiatif dan kreativitas bawahan karena target dan prosedur kerja telah ditetapkan dengan ketat.</p>
<p>Kepemimpinan transformasional berperan sebaliknya, pemimpin dengan bawahan berinteraksi dan berintegrasi. Kesadaran bersamanya meningkatkan motivasi dan keuatan moral  yang mempersatukan kekuatannya. Dalam peran kepemimpinan transformasional,  pimpinan dan bawahan memiliki motif bersama berlandaskan nilai-nilai dan tujuan yang dikuatkan dengan pengakuan bahwa pemimpinnya “benar”. Pemimpin dan bawahan menjadi dua pihak yang saling membutuhkan. (James MacGregor Burns : 1979.p36)</p>
<p>Pemimpin transformasional bersikap proaktif, meningkatkan budaya organisasi melalui kreasi ide-ide baru,  memotivasi bawahan  untuk mencapai tujuan yang lebih bernilai dengan motivasi yang dilandasi moral dan idelisme yang tinggi pula. Semangatnya tidak hanya didasari atas kepentingan diri sendiri malainkan karena mereka bergerak atas kepentingan bersama.</p>
<p>Peran utama kepemimpinan pembelajaran adalah mengembangkan proses pengintegrasian kekuatan pendidik, meningkatkan kompetensi pendidik, mengembangkan kurikulum, dan melaksanakan penelitian tindakan untuk melakukan perbaikan proses (Glickman, 1985).</p>
<p>Menurut Andrew J. Rotherham dan Daniel Willingham, dikaitkan dengan kepentingan pendidikan abad ke-21, kepala sekolah hendaknya memperhatikan tiga komponen kegiatan utama, yaitu mengembangkan kurikulum terbaik, meningkatkan kompetensi pendidik, dan mengembangkan sistem penilaian terbaik.</p>
<p>Berdasarkan kajian di atas dapat dinyatakan secara singkat bahwa pimpinan pembelajaran memiliki peran penting dalam (1) menentukan arah pengembangan sekolah (2) menyelaraskan jalinan hubungan kerja untuk meningkatkan semangat kebersamaan  3) menggerakan seluruh kekuatan sekolah untuk meningkatkan kompetensi pendidik untuk menujang efektivitas pembelajaran (4) meningkatkan motivasi seluruh warga sekolah untuk mewujudkan keunggulan. Keempat pilar kegiatan kepemimpinanya adalah untuk menunjang efektivitas pembelajaran.</p>
<p>Hubungan antara pokok kegiatan dapat digambarkan pada diagram peran kepemimpinan pembelajaran berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/14881/pimpinan/" rel="attachment wp-att-14884"><img class="aligncenter  wp-image-14884" title="Pimpinan" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Pimpinan.bmp" alt="" width="500" height="350" /></a></p>
<p>Peran utama kepemimpinan pembelajaran yang pertama menentukan arah pengembangan sekolah. Dalam hal ini sekolah hendaknya menetapkan visi-misi, tujuan, dan indikator pencapaian agar memudahkan seluruh pemangku kepentingan mengukur ketercapaian tujuan. Untuk mencapai visi-misi sekolah mengembangkan sejumlah rencana dan pengaturan pembelajaran  atau kurikulum. Dalam menentukan arah pengembangan, kepala sekolah hendaknya dapat mengembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan pengemban yang tetapkan dalam kebijakan sekolah. Kebutuhan untuk menentukan arah pengembangan sekolah adalah kemampuan kepala sekolah menentukan keputusan berbasis data.</p>
<p>Peran utama kedua adalah menyeleraskan hubungan kerja semua pemangku kepentingan sehingga tumbuh suasana pisikologis, interaksi sosial, dan interaksi akademik yang kondusif. Turunan dari kegiatan ini ialah membangun komunikasi yang sering dan mendalam, mengembangkan kerja sama, meningkatkan koordinasi dan siskronisasi pekerjaan secara terprogram.</p>
<p>Peran ketiga adalah menggunakan pengaruhnya  untuk meningkatkan kompetensi pendidik. Peningkatan kopetensi yang paling penting adalah kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran sehingga tujuan penerapan kurikulum terwujud. Yang diperlukan dalam hal ini adalah pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah sehingga dapat menjadi model yang didukung pembiasaan belajarnya. Peran terutama untuk menunjang pengembangan kompetensi adalah kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi dengan mengerahkan sumber daya dirinya maupun tim.</p>
<p>Peran keempat adalah membangun motivasi warga sekolah agar mengerahkan kekuatan dari dalam diri tiap individu sehingga menjadi kekuatan internal sekolah untuk mewjudkan tujuan yang lebih bernilai. Dengan kekuatan yang tumbuh dari dalam akan mendorong tumbuhnya daya insiatif yang tumbuh berkelanjutan. Namun demikian, peningkatan motivasi dapat didorong dengan memanfaatkan rangsangan dari luar. Target mensejajarkan keunggulan dengan lembaga pesaing yang sejenis,  mengembangkan daya kompetisi dengan sekolah lain bahkan berusaha mengunggulinya dapat menjadi strategi dalam mengobarkan semangat dan daya juang tim dalam  peningkatan mutu.</p>
<p>Sejumlah tindakan praktis dalam meningkatkan pengaruh dalam menggerakan warga sekolah kepala sekolah perlu melakukan tindakan praktis seperti contoh berikut:</p>
<ul>
<li>Berdialog dengan guru, siswa, atau tenaga kependidikan lain dalam interaksi personal dalam aktivitas sehari-hari.</li>
<li>menjadi pendengar yang baik dalam pertemuan formal maupun nonformal,</li>
<li>berbagi pengalaman dengan guru atau siswa; bertindaklah menjadi kepala sekolah yang dominan, namun tidak mendominasi.</li>
<li>menggunakan contoh yang terkait langsung dengan pelaksanaan tugas sehari-hari</li>
<li>memberikan peluang untuk memilih atau menyediakan beberapa alternatif sehingga mendorong tumbuhnya inisiatif.</li>
<li>menyikapi dengan arif kebijakan terdahulu</li>
<li>mendorong pendidik berani mengambil resiko</li>
<li>menyediakan sumber belajar untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan ;</li>
</ul>
<p>Indiktor utama keberhasilan kepala sekolah adalah dalam memantau atau melaksanakan supervisi. Berkaitan dengan itu,  menurut Joseph Blase and Jo Blase (1999), kepala sekolah perlu merealisasikan strategi berikut:</p>
<ul>
<li>Memberikan saran;</li>
<li>Memberikan umpan balik terhadap aktivitas pendidik;</li>
<li>Mengembangkan model;</li>
<li>Menggunakan hasil riset,</li>
<li>Meminta pendapat;</li>
<li>Memberikan pujian atau penghargaan.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Dari telaahan pada akhirnya dapat kita peroleh kesimpulan bahwa  tugas kepala sekolah dalam perannya sebagai pemimpin pembelajaran adalah mengembangkan tindakan yang muncul dari daya inisiatif dan interaktif dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah membangun kekuatan moral yang terintegrasi dengan nilai-nilai, tujuan, dan keyakinan bersama dalam merencanakan, melaksanakan, mensupervisi, dan mengevaluasi program dalam bentuk tindakan yang terukur.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Referensi: </strong></p>
<p>Anderson, D. &amp; Anderson, LA 2001. <em>Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders</em>. San Francisco: Jossey-Bass.</p>
<p>Bradford, D.L. and Burke, W.W. 2005. <em>Reinventing Organization Development. New Approaches to Change in Organizations</em> San Francisco, CA: Pfeiffer.</p>
<p>MacGregor Burns, James. 1978. <em>Leadership</em>, Harper &amp; Row, London.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Glickman, C.D., Gordon, S.P. and Ross-Gordon, J.M. 1995. </span><em style="font-size: 13px;">Supervision of Instruction: A Developmental Approach</em><span style="font-size: 13px;">, 3rd ed., Allyn and Bacon, Boston, MA.</span></p>
<p>Gordon Mitchell. 1999. <em>Change Management: Best Practice in Whole School Development</em>, Danida, Denmark.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Kooter, John P. 1990. </span><em style="font-size: 13px;">A Force For Change: How Leaders Differs From Management.</em><span style="font-size: 13px;"> The Free Press. New York.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Sergiovanni, T.J. 1996. </span><em style="font-size: 13px;">Moral Leadership</em><span style="font-size: 13px;">, Jossey-Bass, San Francisco, CA</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/14881/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Perubahan Mengantisipasi Pelaksanaan Kurikulum 2013</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 08:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepala Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14794</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan serius bagi kepala sekolah di Indonesia dalam menghadapi rencana pelaksanaan kurikulum 2013 adalah menguasai keterampilan menerapkan manajemen perubahan. Menurut kajian manajemen  stratejik (Wheelen, Thomas L , Hunger David. 1995) implementasi perubahan dapat dilakukan  melalui empat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/keterampilan-berpikir/" rel="attachment wp-att-14802"><img class="alignleft  wp-image-14802" style="margin: 5px;" title="Keterampilan Berpikir" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Keterampilan-Berpikir.png" alt="" width="150" height="150" /></a>Tantangan serius bagi kepala sekolah di Indonesia dalam menghadapi rencana pelaksanaan kurikulum 2013 adalah menguasai keterampilan menerapkan manajemen perubahan. Menurut kajian manajemen  stratejik (Wheelen, Thomas L , Hunger David. 1995) implementasi perubahan dapat dilakukan  melalui empat tahap.<span id="more-14794"></span><strong style="font-size: 13px;">Pertama</strong><span style="font-size: 13px;"> menganalisis lingkungan atau  konteks perbuhan. Berdasarkan hasil analisis konteks  kepala sekolah menentukan kebutuhan pengembangan kompetensi  siswa agar yang sekolah rencanakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata pada saat ini maupun pada masa depan.</span></p>
<p><strong>Kedua</strong>, merumuskan strategi  yang meliputi penentuan visi-misi, tujuan, indikator, dan cara untuk mecapai tujuan.  Pada tahap ini  perencana perlu memahami apa yang akan dikerjakan, apa tujuannya dan indikator keberhasilan apa yang ditetapkannya. Masalah utama di sini adalah dengan cara bagaimana mewujudkan target? Di sini berlaku kaidah, kepala sekolah yang memilih cara lama akan mendapatkan hasil yang sama pula dengan yang pernah dicapai.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, menentukan program dan anggaran, serta melaksanakannya. Pada tahap ini kepala sekolah memastikan bahwa rencana kegiatan yang terpilih ditulis dalam dokumen program dan direalisasikan dalam kegiatan nyata. Yang kepala sekolah lakukan sesuai dengan skenario yang tertuang dalam program. <strong>Keempat</strong>, menjamin bahwa pelaksanaan program memenuhi target proses dan hasil yang telah ditentukan. Kepastian ini dibuktikan dengan mengolah data supervisi dan evaluasi. Karena itu, pelaksanaan supervisi merupakan bagian terpenting setelah rencana ditetapkan dan pelaksanaannya berproses.</p>
<p>Perubahan pada dasarnya untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Di sini berurusan dengan perbaikan mutu. Berkaitan dengan perbaikan mutu  dijelaskan  Prof. Deming sebagai proses yang tidak pernah berhenti. Konesenya terkenal dengan  PDCA (Plan, Do, Check, dan Act), yaitu renanakan, laksanakan, pantau, dan lakukan perbaikan.  PDCA digambarkan dalam lingkar siklus  berikut:</p>
<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/pdca/" rel="attachment wp-att-14805"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14805" title="PDCA" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/PDCA-139x150.jpg" alt="" width="139" height="150" /></a></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pengelolaan kurikulum 2013, selain memerlukan rencana stratejik juga merupakan sistem pembaharuan mutu. Operasional teknisnya perlu  menetapkan program dalam empat langkah strategis, yaitu (1) merencanakan kegiatan  (2) melaksanakan kegiatan (3) melakukan telaah atau mengecek apakah proses kegiatan sesuai prosedur dalam rencana, (4) melakukan perbaikan proses. Langkah perencanaan selayaknya berangkat dari data pelaksanaan kurikulum sebelumnya. </span></p>
<p>Dalam menghimpun data sebagai dasar pijakan program kepala sekolah dapat mengeksplorasi informasi dengan lima pertanyaan berikut:</p>
<ol>
<li><strong>Apa yang kepala sekolah rencanakan dalam meningkatkan mutu pelayanan belajar pada pelaksanaan KTSP?</strong></li>
<li><strong>Apa yang sesungguhnya kepala sekolah lakukan? Sesuai dengan rencanakah atau belum sesuai?</strong></li>
<li><strong>Apakah kepala sekolah berhasil atau belum berhasil mencapai target program?</strong></li>
<li><strong>Mengapa berhasil atau belum berhasil?</strong></li>
<li><strong>Tindak lanjut apa yang sebaiknya kepala sekolah rencanakan melalui pelaksanaan kurikulum 2013?</strong></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 13px;">Dari beberapa kali melaksanakan pelatihan kepala sekolah diperoleh informaasi sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px;">Para kepala sekolah, perserta pelatihan, menyatakan bahwa kandungan pada program jangka menengah dan program tahunan sekolah belum mecakup semua kegiatan strategis kepala sekolah. Para kepala sekolah menyatakan bahwa banyak hal yang kepala sekolah lakukan belum tertuang dalam program. Sebaliknya, beberapa komponen kegiatan belum tentu kepala sekolah realisasikan. Diakui banyak kepala sekolah bahwa program sekolah hanya untuk pemenuhan syarat formal administrasi.</span></li>
<li>Program yang direncanakan dan dapat direalisasikan sering tidak disertai dengan instrumen penilaian pencapaiannya. Banyak peserta menyatakan bahwa program berhasil jika telah dilaksanakan. Sementara analisis dampak melalui pelaksanaan pemantauan atau supervisi belum efektif dilaksanakan.</li>
<li>Para peserta menyatakan bahwa belum banyak program, seperti pengembangan kurikulum; peningkatan kompetensi pendidik dalam merencanan kurikulum, mengembangkan skenario penggunaan metode pembelajaran, menerapkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran, dan penilaian; pemantauan pelaksanaan tugas guru melalui kegiatan supervisi belum mencapai target yang kepala sekolah harapkan.</li>
<li>Ketika informasi tentang bukti berhasil atau belum berhasil para peserta menyatakan bahwa data tentang hal itu tidak terekam dengan cermat. Namun demikian, secara empirik merekan menyatakan bahwa target belum terwujud karena kepala sekolah belum terampil menerapkan konsep pelaksanaan tugas seperti yang seharusnya.</li>
<li> Karena tiga hal di atas, maka para peserta pelatihan  kepala sekolah menyatakan belum puas dengan kinerja sekolahnya dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa. Para kepala sekolah menyadari bahwa hingga saat ini belum berusaha optimal menjadi kepala sekolah yang baik.</li>
</ul>
<p>Dengan adanya perubahan kurikulum berkembang pemikiran baru tentang kepentingan sekolah untuk beradaptasi terhadap berbagai bidang perubahan berikut:</p>
<p><strong>Pertama: Perubahan Standar Kompetensi Lulusan</strong></p>
<p>Standar Kompetensi Lulusan (SKL) terstruktur dalam empat komponen, yaitu (1) <span style="font-size: 13px;">SKL (2) </span><span style="font-size: 13px;">Kompetensi Inti (KI) (3) </span><span style="font-size: 13px;">Kompetensi Dasar (4) </span><span style="font-size: 13px;">Indikator Pencapaian Kompetensi</span></p>
<p>Struktur KI meliputi (1) <span style="font-size: 13px;">KI 1, Sikap keagamaan (2) </span><span style="font-size: 13px;">KI 2,  Sosial kepribadian dan ahlak (3) </span><span style="font-size: 13px;">KI 3,   Pengetahuan (4) K</span><span style="font-size: 13px;">I 4,  Penerapan Pengetahuan. Dalam implementasinya KI 1, dan 2 tidak perlu diajarkan secara verbal tetapi guru gunakan untuk pedoman pengembangan ahlak dan karakter. KI 1, dan 2 mengarahkan guru dalam mengelola pembelajaran yang  mementingkan pembentukan ahlak dan karakter melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pengetahuan  dikembangkan penguasaan  fakta, konsep, prosedur, metakognitif. Konsep ini mengacu pada buah pikiran Krathwohl (2000). </span><span style="font-size: 13px;">Dilihat dari level kematangan berpikir, maka tingkat penguasaan terori dipetakan sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li>SD: menguasai fakta dan konsep</li>
<li>SMP: menguasasi fakta, konsep, dan prosedur.</li>
<li>SMA/SMK: menguasai fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif.</li>
</ul>
<p><strong style="font-size: 13px;">Perubahan Standar Isi</strong><span style="font-size: 13px;">:</span></p>
<p>Kuriulum baru dikembangkan secara holistik yang terintegasi pada lingkunan maupun kebutuhan hidup siswa. Penyajian materi pembelajaran menggunakan pendekatan tematik integratif pada semua jenjang kelas SD. Pada SMP terdapat perubahan khas IPA menjadi IPA terpadu dan IPS terpadu. Secara umum penyajian materi menggunakan pendekatan sainstifik dengan menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir.</p>
<p>Pengembangan kompetensi menyeimbangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang diwujudkan dalam aktivitas belajar yang dapat diobservasi dalam sejumlah aktivitas berikut:</p>
<ul>
<li><strong>sikap</strong>  meliputi indikator operasional: menerima, mejalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.</li>
<li><strong>keterampilan meliputi indikator operasional </strong>: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.</li>
<li><strong>pengetahuan yang meliputi indikator operasional m</strong>engetahui, memahami, menerapkan, menganalisis,  dan mengevaluasi.</li>
</ul>
<p>Jumlah mata pelajaran dikurangi, tetapi jam belajar untuk setiap mata pelajaran maupun keseluruhan ditambah. Jumlah mata  pelajaran di SD menjadi 6 MP dan untuk   SMP  menjadi 10 MP. Jam belajar di SD untuk kelas I, II, III masing masing 30, 32, dan 34 jam, dan untuk kelas IV,V dan VI adalah 36 Jam Pelajaran</p>
<p>Pembelajaran kontekstual dan terpadu mengandung makna bahwa materi yang siswa pelajari terintegrasi dengan pengalaman keseharian siswa. Proses ini menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya. Masalah dikembangkan dari fenomena terkini sehingga masalah yang siswa hadap adalah hal baru dan bisa jadi belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Dengan cara itu mereka mendapatkan pengalaman belajar mengenai masalah nyata dalam hidupnya. Berdasarkan pengalaman itu, siswa mengintegrasikan pengetahuan yang mereka terima di sekolah dengan tantangan hidupnya yang nyata pada lingkungannya.</p>
<p>Ditekankan pula bahwa dii SMP, SMA, SMK menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran pada semua pelajaran. Informasi ini menyiratkan bahwa seluruh laboratorium komputer di sekolah  akan berubah fungsi dari tempat praktik menjadi media belajar. Perubahan ini mengubah komputer sebagai mata pelajaran menjadi media pembelajaran.</p>
<p><strong>Ketiga Elemen Perubahan Proses Pembelajaran</strong></p>
<p>Pembelajaran berpusat pada siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa aktif berinteraksi, beragumen, berdebat, dan berkolaborasi.  Guru menjadi fasilitator. Guru berusaha membuat kelas semenarik mungkin dengan menggunakan pendekatan tematik-integratif di SD, pendekatan sains, dan kontekstual yang terencana pada jenjang berikutnya.</p>
<p>Proses pembelajaran berpusar sekitar tema sehingga memenbentuk jejaring pemikiran yang terintegrasi. Pikiran siswa dikembangkan secara terpadu dengan dukungan berbagai sumber; dari siapa saja, dari mana saja, dari internet, dari perpustakaan sekolah, dari hasil praktik di luar kelas, dari praktik di dalam kelas, dari pengalaman teman-teman, dari pengalaman orang-orang sukses.</p>
<p>Aktivitas siswa dipertajam dengan meningkatkan kemampuan bertanya dan mereka mencari sendiri jawabannya. Guru menggunakan contoh yang diperoleh dari analisis bacaan, kenyataan dan  yang  diangkat dari hasil  pengamatan maupun dan pengalaman belajar siswa.</p>
<p>Aktivitas dikembangkan dalam kerja sama tim. Guru mengembangkan kapasitas belajar individu melalui kerja sama dalam kelompok. Belajar merupakan proses interaksi sosial dengan sesama siswa yang saling mengasah, saling membantu untuk meraih keberhasilan kelompok  dan keberhasilan individu.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pembelajaran merangsang seluruh panca indra, komponen jasmani dan rohani terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Lebih dari itu guru memberdayakan perilaku khas dengan menggunakan kaidah keterikatan dengan menyederhanakan kurikulum, mengurangi mata pelajaran, dan menambah jam belajar.</span></p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Keempat; Elemen Perubahan Penilaian</strong></p>
<p align="left">Penilaian menggunakan pendekatan otentik, menggunakan penilaian acuan patokan (PAP),  yaitu penilaian pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperoleh siswa terhadap skor ideal berbasis kompetensi, m<strong>emanfaatkan portofolio </strong>sebagai  gambaran perkembangan hasil belajar dalam pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk.</p>
<p><strong>Mengelola Perubahan</strong></p>
<p>Sekolah telah mendapat pelajaran dari pengalaman menerapkan KTSP yang terintegrasi dengan upaya pemenuhan standar. Otonomi sekolah yang besar dalam menentukan kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan siswa tidak kunjung terwujud. Paradigma pembelajaran masih terikat pada tradisi sebelumnya. Pembelaran yang seharusnya berpusat pada siswa tetap tidak kunjung bergeser dari pembelajaran berpusat pada guru. Semua gejala tersebut menunjukkan bahwa sekolah belum berhasil mengelola perubahan. Oleh karena itu, kepala sekolah kini tertantang untuk lebih memusatkan perhatian pada penerapan manajemen perubahan.</p>
<p><strong>Apakah manajemen perubahan? </strong></p>
<p>Dean Anderson dan Linda Anderson (2010) menyatakan bahwa mengelola perubahan merepresentasikan pengembangan keterampilan, metode, standar kinerja yang ada pada saat ini. Esensi perubahan adalah meningkatkan kesadaran yang disertai dengan aksi pada tataran praktis agar keadaan saat ini menjadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Fokus utama perubahan adalah memperbaiki keadaan sekarang serta menjamin adanya meningkatnya kinerja, perbaikan berkelajutan, dan  pemenuhan kepuasan (p.52).</p>
<p>Perubahan dapat dilakukan atas dua <span style="font-size: 13px;">asumsi utama. Pertama, orang-orang memiliki kemampuan untuk berubah. Kedua, mereka melakukan perubahan sehingga menjadi lebih baik karena memiliki argumen yang tepat, tersedia sumber daya, memiliki motivasi dan terlatih. (p.55). </span></p>
<p>Dari pernyataan tersebut kita memperoleh gambaran bahwa perubahan memerlukan argumen yang tepat, ketersediaan sumber daya , keterlatihan, dan motivasi yang kuat. Oleh karena itu kepala sekolah perlu memahami bahwa perubahan tidak hanya menyangkut masalah teknis, namun jauh menukik pada perubahan prilaku.</p>
<p>Prilaku kepala sekolah sendiri perlu berubah sehingga pada dirinya melekat sejulah karakter sebagaimana h<span style="font-size: 13px;">asil studi yang dipimpin Gordon Mitchell (1999) menyatakan bahwa keberhasilan menerapkan manajemen perubahan memerlukan dukungan karakteristik kepala sekolah yang memenuhi indikator berikut:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size: 13px;">Berprilaku konstruktif.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Berpikir positif tentang masa depan.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Membangun persepsi pemangku kepentingan; pendidik, orang tua, dan siswa sehingga meyakini kepemimpinan kepala sekolah.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Mengembangkan keterampilan interpersonal sebagai hal yang penting.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Memiliki kedekatan hubungan dan bersikap koperatif dengan pemerintah.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Memiliki dan memainkan peran :</span></li>
</ol>
<ul>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px;">sebagai pengendali yang memiliki integritas moral yang tinggi.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">sebagai manajer krisis.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">sebagai manajer multibudaya.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">menjadi manajer partisipatif.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">menjadi pelopor dalam mengembangkan berbagai alternatif. (p.1)</span></li>
</ul>
</ul>
<div>
<p>Hasil pemikiran Dean Anderson dan Linda Anderson menegaskan bahwa perubahan yang berhasil jika memenuhi lima kriteria, yaitu: (1) memiliki perencanaan baru (2) mengimplementasikan rancangan baru sebagai solusi (3) meraih target keberhasilan sesuai dengan yang diharapkan (4) mengubah budaya organisasi sehingga mendukung perbaikan proses secara berkelanjutan (5) kapasitas perubahan organisasi berproses tanpa menimbulkan guncangan dengan menghasilkan pencapaian yang terbaik (p. 22)</p>
<p>Berikut model langkah praktis yang dapat kepala skeolah lakukan untuk mengembangkan 8 langkah praktis mengembangkan manajemen perubahan.</p>
</div>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/new-picture-18/" rel="attachment wp-att-14830"><img class="aligncenter  wp-image-14830" title="New Picture" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/New-Picture.bmp" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Dengan menggunakan 8 langkah di atas, para kepala sekolah dapat mencoba menerapkannya dalam pelaksanaan kegiatan dengan mengisi lembar analisis seperti pada <strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3105" title=" downloaded 33 times" >Format Analisis Rencana Tindakan (33)</a> </strong>terlampir.</p>
<p><strong>Materi ini sebagai bahan pelatihan kepala sekolah Provinsi Jawa Barat di Bandung pada tanggal 2 April 2013.</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Anderson, D. &amp; Anderson, LA 2001. </span><em style="font-size: 13px;">Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders</em><span style="font-size: 13px;">. San Francisco: Jossey-Bass.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">David R. Krathwohl, 2000. A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview. http://rt3region7.ncdpi.wikispaces.net/file/view/8+Perspectives+on+RBT.pdf</span></p>
<p>Gordon Mitchell. 1999. <em>Change Management: Best Practice in Whole School Development</em>, Danida, Denmark.</p>
<p>http<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/PDCA">://en.wikipedia.org/wiki/PDCA</a>,</p>
<p>Thomas L , Hunger David, Strategic Management and Business Policy. 1995. Addison-Wesley Publishing Company. California.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perancangan Program Pengawas Untuk Supervisi Kurikulum 2013</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/perubahan-program-pengawas-untuk-supervisi-kurikulum-2013/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/perubahan-program-pengawas-untuk-supervisi-kurikulum-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 16:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Supervisi]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14692</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini disusun sebagai bahan bacaan dalam pelatihan supervisi pelaksanaan kurikulum 2013 untuk pengawas yang diikuti oleh para pengawas SMP dan SD se-Jawa Barat pada tanggal 20 Maret 2013 di Lembang, Bandung. 
Sosialisasi akan dibelakukan kurikulum ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Tulisan ini disusun sebagai bahan bacaan dalam pelatihan supervisi pelaksanaan kurikulum 2013 untuk pengawas yang diikuti oleh para pengawas SMP dan SD se-Jawa Barat pada tanggal 20 Maret 2013 di Lembang, Bandung. <span id="more-14692"></span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-size: 13px;">Sosialisasi akan dibelakukan kurikulum kini gencara dilakukan sekali pun wujud dokumen yang selengkapnya belum terlihat. Pada berbagai forum pertemuan dengan para pendidik dan para pemangku kebijakan di berbagai tempat. Menteri Pendidikan menegaskan bahwa kurikulum 2013 akan diterapkan pada awal bulan Juli mendatang. Sekali pun banyak pihak meragukan bahwa kurikulum 2013 siap diterapkan guru pada saat yang direncanakan karena guru hingga kini belum terlatih. </span><span style="font-size: 13px;">Pak Menteri kembali menegaskan bahwa penyelenggara pendidikan memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkannya.</span></p>
<p>Dimuat koran Kompas (11/3/2013) menteri menyatakan bahwa kita akan menerapkan kurikulum itu sebaik-baiknya. Mengapa ini dilakukan karena sudah sepakat kurikulum 2013 ini memang sudah cukup memadai dan mewakili kebutuhan sekarang.</p>
<p>Menyambut rencana tersebut para pengawas memiliki waktu tiga bulan untuk menyiapkan diri mempersiapkan penjaminan mutu melalui kegiatan pemantauan dan supervisi sekolah agar rencana pelaksanaan kurikulum terwujud sesuai dengan yang diharapkan menteri pendidikan. Pengawas perlu mengidentifikasi berbagai masalah sejak saat ini agar lebih mamahami masalah yang timbul akibat perubahan kurikulum sehingga dapat menyiapkan solusi  yang paling mungkin dengan cara menyusun program tahunan pengawas lebih dini.</p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Ruang lingkup Perubahan</strong></p>
<p>Ruang lingkup perubahan kurikulum berkaitan langsung dengan empat standar yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses dan standar penilaian. Namun demikian setiap perubahan pada keempat hal di atas akan berdampak pada perubahan empat standar yang lain. Misalnya, standar pendidik, sarana, biaya, bahkan pengelolaan harus berubah. Dengan demikian perubahan secara umum seharunya menyangkut akademiki maupun manajerial.</p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Elemen Perubahan Bidang Akademik</strong></p>
<p>Hal yang paling mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan adalah menentukan indikator lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Dalam hal ini pengawas perlu meningkatkan kompetensi dalam menentukan indikator mutu lulusan pada tiap satuan pendidik yang dijabarkan dari KI dan KD. Tingkat pemahaman ini merupakan dasar untuk menentukan pemenuhan standar isi. Kecukupan, kedalaman, dan keluasan materi ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat kebutuhan belajar siswa yang digambarkan pada indikator hasil belajar di RPP.</p>
<p>Menyangkut standar isi, dalam kurikulum 2013, karena silabus, buku guru, dan buku siswa telah tersedia, maka yang paling penting di sini pengawas perlu membantu guru untuk menyelaraskan semua komponen itu dengan kebutuhan belajar peserta didik pada tiap satuan pendidikan. Yang perlu diperhatikan di sini  semua perangkat yang telah disediakan oleh Kemendikbud adalah kebutuhan standar. Dengan demikian sekolah dapat meningkatkan mutu lebih unggul daripada yang ada pada model perencanaan pembelajaran yang tersedia.</p>
<p>Yang  perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pernyusunan rencana pembelajaran meliputi sejumlah aspek perubahan seperti yang terurai secara singkat di bawah ini.</p>
<ol>
<li>Menetapkan kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara seimbang sehingga pendidikan tidak hanya diarahkan untuk memantapkan pengetahuan. Yang perlu mendapat perhatian di sini sikap tidak diajarkan secara verbal. Pekerjaan yang timbul dari penyeimbangan ini adalah mendeskripsikan dengan jelas tahapan dan aktivitas yang harus dilakukan untuk menganalisis keterkaitan SKL, KI, KD</li>
<li>Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi. Pernyataan tersebut  mengandung makna bahwa gambaran mutu lulusan menjadi penentu materi yang diberikan.</li>
<li>Pembelajaran di SD menggunakan pendekatan Tematik Integratif. Istilah integratif mengadung makna bahwa pembelajaran tidak lagi dipisah per mata pelajaran. Di SMP mata pelajaran IPA maupun IPS masing-masing diajarkan terpadu. Dengan demikian dalam pelajaran IPA tidak dipilah dalam biologi, kimia, fisika.  Hal ini akan berdampak pada penyusunan jadwal pembelajaran di SD berbeda jauh dari model penjadwalan per mata pelajaran pada tiap semester menjadi jadwal per tema.</li>
<li> Kurikulum holistik, fokus alam, sosial, dan budaya. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa penyusunan kurikulum haruslah kontekstual. Karena kurikulum kontekstual, maka pembelajaran pun perlu menerapkan pendekatan kontekstual pula.</li>
<li>Pendekatan pembelajaran sains digambarkan dalam keterampilan berpikir yang logis dan sistematis.</li>
<li>Jam pelajaran 6 dari 10 (SD) &amp; 10 dari 12 (SMP)</li>
<li>EEK diperkaya mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyaji, menyimpulkan, dan mencipta</li>
<li>Jumlah jam belajar bertambah 4 SD – 6 jam SMP</li>
<li>Belajar dalam kelas dan di luar kelas hal ini akan menyebabkan waktu pembelajaran bertambah karena selain tatap muka dalam kelas juga perlu diatur kegiatan di luar kelas.</li>
<li>Guru bukan satu-satunya sumber, sumber belajar di luar guru pun siswa perlukan. Bahkan, siswa dapat mengeksplorasi informasi dari sumber lain seperti internet.</li>
<li>Memanfaatkan portofolio sebagai dasar penilaian kemajuan belajar siswa.</li>
<li>Penilaian basis kompetensi,  menggunakan model penilaian otentik, menggunakan patokan acuan penilaian (PAP), menggunakan portofiolio yang meliputi SKL, KI, dan KD.</li>
<li>Menggunakan TIK sebagai media pembelajaran</li>
</ol>
<p>Tugas utama pengawas adalah meningkatkan penjaminan bahwa prinsip-prinsip dasar perumusan kurikulum 2013 benar-benar sekolah terapkan dalam menyusun rencana pembelajaran. Penjaminan dilanjutkan dengan melakukan pendampingan dalam proses pembelajaran dalam kelas. Obserasi kelas menjadi bagian terpenting dalam tugas pengawas untuk memastikan bahwa guru melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada pemenuhan SKL, menguasai materi pelajaran, menggunakan pendekatan sains, pembelajaran konteks tual, tematik integratif (di SD), pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, memperlakukan guru bukan satu-satunya sumber dan lain sebagainya.</p>
<p>Sistem pemantauan untuk memastikan semuanya, mungkin tidak dapat dilakukan secara serentak pada semua komponen perubahan. Pengawas perlu merencanakan pentahan kegiatan yang sistematis, terencana, dan berkelanjutan yang terintegrasi dalam kegaiatan tugas rutin pengawas untuk membantu guru memperbaiki kinerjanya secara berkelanjutan. Di sini terdapat tugas utama pengawas yaitu membantu guru meningkatkan efektivitas merencanakan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang efektif.</p>
<p>Yang tidak kalah penting dalam observasi adalah menjamin guru-guru melakukan penilaian proses dengan menggunakan model otentik. Dengan demikian guru perlu mengelola portofolio siswa sebagai acuan utama menentukan pengukuran keberhasilan belajar siswa. Dengan demikian tes hanya merupakan satu bagian yang perlu bukan satu-satunya alat ukur keberhasilan siswa.</p>
<p><strong>Elemen Perubahan Bidang Manajerial</strong></p>
<p>Kepala sekolah adalah penentu utama keberhasilan sekolah dalam menerapkan kurikulum. Keberhasilannya ditentukan dengan peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Menjadi pemimpin yang inspiratif  dan inovatif merupakan poros pergerankannya. Memfasilitasi warga sekolah kreatif dan inovatif menjadi buah dari kepemimpan transformasional. Model kepemimpinan transaksional dalam menentukan target terbaik yang dapat warga sekolah bersama sehingga dapat mendorong semangat juang dalam mencapai tujuan.</p>
<p>Untuk menunjang peran kepala sekolah sebagai pemimpin transformasional maupun transaksional diperlukan pengakuan dari seluruh warga sekolah bahwa kempimpinannya memang benar dan diperlukan. Karena itu, kepala sekolah perlu mebangun pengakuan moral bahwa kepemiminannya mendapat dukungan karena ia dapat menjadi teladan dalam berdisiplin, bekerja keras, komunikasi dan kolaborasi untuk mewujudkan keunggulan sekolah.</p>
<p>Di samping memastikan kepemimpinan pembelajaran, pengawas juga perlu menjamin bahwa kepala sekolah dalam memenuhi standar pengelolaan, mengelola perubahan secara efektif. Menentukan ruang lingkup perubahan, tujuan, indikator keberhasilan. Yang tidak kalah penting adalah menentukan strategi yang lebih unggul karena merupakan hasil perbaikan dari strategi yang sudah pernah ada sebelumnya. Menerapkan strategi baru menjadi kunci utamanya.</p>
<p>Masalahnya di sini sebenarnya sederhana. Kepala sekolah tidak mungkin mengharapkan adanya peningkatan mutu pada waktu berikutnya jika dalam pelaksanaan kegiatannya masih menerapkan strategi yang lama.</p>
<p>Perubahan sehingga menghasilkan yang lebih baik akan terwujud jika budaya belajar berkembang. Kepala sekolah belajar, guru belajar, murid belajar, mereka semua belajar untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Untuk menujang proses ini diperlukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembaharuan kultur sekolah. Menyepakati kegiatan baik yang akan dibiasakan, seperti pembiasaan membaca, menulis, meneliti, mencipta, akan berhasil jika didukung dengan disiplin untuk mengulang-ngulang sehingga mendapatkan tingkat akurasi pencapaian tujuan yang lebih baik.</p>
<p>Dengan demikian pengawas perlu melalukan pemantauan, pengumpulan data, mengolah dan menasirkan data, menyimpulkan, dan mencipta strategi baru untuk mengenal lebih baik  masalah berikut:</p>
<ol>
<li>Bagaimana kepala sekolah memimpin dalam mengawal perubahan sekolah?</li>
<li>Apa yang telah kepala sekolah rencanakan, laksanakan, dan evaluasi dalam bidangn pengelolaan dan pembelajaran?</li>
<li>Apa yang telah kepala sekolah supervisi?</li>
<li>Apakah kepala sekolah berhasil atau tidak berhasil dalam mengelola program?</li>
<li>Mengapa berhasil dan mengapa tidak berhasil?</li>
<li>Tindakan lanjut apa yang  kepala sekolah rencanakan untuk memperbaiki proses dan pencapaian program?</li>
<li>Bagimana strateginya?</li>
</ol>
<p>Tujuh  pertanyaan itu dapat pengawas gunakan dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi tindakan kepala sekolah dalam memerankan dirinya sebagai pemimpin pembelajaran, manajer perubahan, dan pembaharu kultur sekolah.</p>
<p>Akan lebih efektif lagi jika pengawas mencatat data, melaksanakan pendampingan dan memantau pekerjaan itu disusun secara sistematis dalam pendekatan sains sehingga hasilnya menjadi bahan laporan penelitian tindakan sekolah (PTS).</p>
<ul>
<li><strong>Lampiran: <a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3103" title=" downloaded 275 times" >Materi Pelatihan Pengawas Jawa Barat (275)</a></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3104" title=" downloaded 223 times" >Format Catatan Pelaksanaan (223)</a></strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/perubahan-program-pengawas-untuk-supervisi-kurikulum-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Kepala Sekolah Mengelola Pembelajaran Berbasis TIK</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-kepala-sekolah-mengembangkan-pembelajaran-berbasis-tik/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-kepala-sekolah-mengembangkan-pembelajaran-berbasis-tik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 09:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengelolaan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14654</guid>
		<description><![CDATA[
 Lembaga Statistik Pendidikan Amerika  menyatakan bahwa pada tahun 2005  mencapai 100 persen sekolah negeri di AS  telah mengakses internet. Pada tahun 1994 baru 35 persen yang melakukannya. Pada tahun 2005 terdapat 94 persen sekolah negeri menggunakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 1.0cm;"><a style="font-family: 'Arial Unicode MS', sans-serif; font-size: 14pt; line-height: 115%; text-indent: 1cm;" href="http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-kepala-sekolah-mengembangkan-pembelajaran-berbasis-tik/2012-08-01-14-43-42-2/" rel="attachment wp-att-14657"><img class="alignleft  wp-image-14657" style="margin: 5px;" title="2012-08-01 14.43.42" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/03/2012-08-01-14.43.42-150x112.jpg" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p> Lembaga Statistik Pendidikan Amerika  menyatakan bahwa pada tahun 2005  mencapai 100 persen sekolah negeri di AS  telah mengakses internet. Pada tahun 1994 baru 35 persen yang melakukannya. Pada tahun 2005 terdapat 94 persen sekolah negeri menggunakan internet di ruang kelas, bandingkan pada tahun 1994 baru 3 persen saja yang melakukannya.  <span id="more-14654"></span></p>
<p>Indonesia punya potensi sama dengan mereka atau setidaknya dekat dengan mereka. Data pada tahun 2005 rasio siswa dengan komputer dalam pembelajaran yang terakses pada internet adalah 3,8 : 1. Sementara pada tahun 1998 menunjukkan posisi 12,1 : 1. Informasi ini menggambarkan bahwa tingkat perkembangkan penggunaan komputer di  sana meningkat cepat.</p>
<p>Perkembangan di Indonesia pun mengalami kenaikan. Data dari kementrian ekonomi tahun 2007 menyatakan terdapat 20 juta pengguna komputer  dari penduduk sebanyak 224.481.720 orang atau 8,9% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2010 menunjukkan kenaikan, 30 juta orang atau sebanyak 12,3% dari jumlah penduduk 242.968.342 orang. Selama tiga tahun mengalami peningkatan 3,4%.</p>
<p>Situs Kementrian Perindustrian Indonesia mewartakan bahwa Indonesia mengimpor ponsel dan komputer tablet sebanyak 70 juta unit pada tahun 2011. Nilai impor telepon seluler (ponsel) pada 2011 mencapai 3,07 miliar dollar AS atau melonjak 89,51 persen dari realisasi tahun 2009. Hal serupa juga terjadi pada komputer jinjing, nilai impornya naik hingga 96,39 persen menjadi 23,82 juta dollar AS tahun 2011. Impor komputer tablet yang naik 105,75 persen menjadi 1,09 miliar dollar AS pada 2011. Data ini mengisyaratkan bahwa penggunaan komputer mengalami kenaikan yang tinggi.</p>
<p>Fakta dalam kehidupan di masyarakat menunjukkan bahwa generasi muda lebih adaptif terhadap perkembangan TIK. Karena itu, Indonesia menjadi pasar potensial negara industri. Pada kondisi ini sekolah belum menjadi imam yang memimpin  perkembangan. Pengajaran yang diberikan kepada para siswa tertinggal dengan perkembangan praktik di luar sekolah. Kita menyaksikan banyak guru yang jadi makmum perkembangan, bahkan sebagiannya berada dalam barisan belakang.</p>
<p>Menanggapi perubahan ini  banyak sekolah belum manaruh perhatian terhadap kesenjangan ini. Padahal potensi sumber daya yang dapat sekolah gunakan dalam pendayagunaan teknolgi sangat besar untuk meningkatkan daya saing bangsa. Kebijakan yang sekolah tetapkan belum fokus pada usaha mengembangkan komptensi yang akan siswa perlukan di masa depan. Banyak sekolah malah ketinggalan arus perubahan. Banyak siswa yang lebih terampil daripada gurunya. Kini penggunaaan teknologi komunikasi  tidak lagi dipengaruhi langsung dengan status ekonomi kaya miskin, HP kini ada di tangan anak-anak mana pun, mereka menjadi pengguna mengelola teknologi, informasi, dan berkomunikasi yang intensif.</p>
<p>Senyatanya komputer telah menjadi bagian penting dan akan semakin penting dalam kehidupan para siswa di masa depan. Oleh karena itu sekolah perlu mengubah cara membelajarkan siswa dengan strategi baru, mengintegrasikan komputer dalam belajar pada seluruh mata pelajaran. Menjadikan guru sebagai guru komputer di bidang ilmu yang dikuasainya.</p>
<p>Strategi ini penting mengingat  Kemendikbud merespon perkembangan seperti yang kita amati dengan menghapus mata pelajaran komputer sebagai matapelajaran tersediri dalam kurikulum 2013. Pembekalan keterampilan menggunakan komputer untuk menigkatkan kecakapan mengelola informasi, meningkatkan kecakapan berpikir, mengembangkan keterampilan berkomunikasi, hingga penguasaan teknologi akan menjadi tanggung jawab semua guru pada seluruh mata pelajaran.</p>
<p>Dengan demikian, setiap guru perlu mendapat dorongan agar berperan mengembangkan kompetensi yang dipermudah dengan penggunaan komputer dan akses internet. Kondisi ini menjadi isyarat bahwa setiap guru wajib menguasai  data, teori, dan menerapkan teori yang berkaitan dengan mata pelajarannya serta mampu mempermudah siswa mempelajari materi karena dintunjang dnegan teknik penguasan teknologi, informasi, dan komunikasi berbasis komputer. Di sini terdapat dua aspek penting yang perlu menjadi perhatian sekolah yaitu meningkatkan kompetensi menyampaikan materi pelajaran sambil mengembangkan penerapan komputer dalam bidang keilmuannya untuk memudahkan siswa belajar.</p>
<p>Dampak dari kebijakan tersebut, perangkat komputer yang selama ini sudah sekolah sediakan akan berubah fungsi dari perangkat latihan keterampilan menjadi perangkat pembelajaran yang dapat sekolah gunakan untuk meningkatkan efektivitas belajar.</p>
<p>Harapan tersebut tentu bukan perkara yang mudah. Diperlukan perjuangan bertahap dengan memperhatikan berbagai langkah penting seperti di bawah ini:</p>
<ol>
<li>Menganalisis konteks kehidupan sehingga sekolah dapat  mengidentifikasi kempotensi yang siswa perlukan untuk meningkatkan meningkatkan daya saing dalam kehidupannya.</li>
<li>Menentukan tujuan menggunakan komputer yang dijabarkan dalam indikator pencapaian yang terukur.</li>
<li>Menentukan keterampilan yang sekolah akan wujudkan, sebaiknya ruang lingkup pengembangan meliputi kemampuan dalam pengelolaan informasi, komunikasi atau  kolaborasi. Yang tidak kalah penting siswa juga menguasai penggunaan teknologi komputer untuk menunjang efektivitas belajar dan berpikir.</li>
<li>Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan. Permasalahan di sini adalah bagaimana sekolah menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK sehingga siswa mendapatkan dua hal secara bersamaan yaitu meningkatkan penguasaan materi semua mata pelajaran yang terbantu dengan mendayagunakan kompeter dan internet.</li>
<li>Karena itu, sekolah perlu menetapkan target kompetensi pada tingkat satuan pendidikan sebagai acuan yang akan guru-guru jabarkan dalam indikator kompetensi penguasaan TIK pada tiap mata pelajaran. Secara teknis di sini sekolah menetapkan program umum tingkat satuan pendidikan yang dijabarkan dalam sejumlah kompetensi yang dipetakan pada tiap mata pelajaran yang diurai dalam tiap unit RPP.</li>
</ol>
<p><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3101" title="VersionPembelajaran berbasis TIK downloaded 29 times" >Model Analisis Kopetensi TIK (29)</a></strong>  yang dapat kepala sekolah rumuskan sesuai dengan sumber daya yang sekolah miliki.</p>
<ol>
<li>Keberhasilan pembelajaran berbasis TIK ditentukan pula dengan kemampuan sekolah dalam melatih guru-guru. Di samping latihan yang penting adalah mengontrol guru agar dapat menggunakan TIK sebagai pembiasaan sehari-hari.</li>
<li>Menyediakan teknologi yang diperlukan sesuai dengan kemampuan sekolah.</li>
<li>Mengendalikan penyelenggaran pembelajaran melalui supervisi.</li>
<li>Mengevaluasi hasil yang dicapai.</li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menghargai guru dan siswa yang berhasil memenuhi kriteria mutu yang sekolah harapkan.</span></li>
</ol>
<p>Dalam sistem penerapan komputer, kompetensi penguasan teknologi bukan merupakan tujuan akhir, namun kekapan penguasaan teknologi perlu diberdayakan agar siswa berkompeten dala mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, bertindak kreatif untuk mengembangkan karya yang inovatif. Oleh karena itu yang dinilai dalam menggunakan teknologi adalah bagaimana siswa terampil menggunakan dan produk belajar apa yang siswa hasilkan.</p>
<p>Dengan memperhatikan  dasar-dasar pemikiran itu, kepala sekolah perlu menyiapkan sistem manajeman perubahan yang mencakup;</p>
<ul>
<li>Menetapkan ruang lingkup perubahan</li>
<li>Mengembangkan sistem perencanaan program dan sistem perencanaan pembelajaran.</li>
<li>Meningkatkan kemampuan guru</li>
<li>Menyediakan teknologi sesuai dengan kemampuan yang sekolah miliki.</li>
<li>Memantau pelaksanaan program melalui kegiatan supervisi.</li>
<li>Memamerkan hasil karya terbaik,</li>
<li>Menghargai mutu.</li>
</ul>
<p>Melalui pelatihan mengintegrasikan TIK ke dalam pembelajaran selanjutnya kepala sekolah diharapkan dapat mengembangkan kebijakan yang paling siswa perlukan pada tiap satuan pendidikan yang dipimpinnya.</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3102" title=" downloaded 59 times" >Materi Diskusi Pembelajaran Berbasis TIK (59)</a></strong></li>
</ul>
<div>Demikian materi ini telah disajikan dalam pelatihan kepala SMP Provinsi Jawa Barat pada tanggal 15 Maret 2013 di Lembang Bandung.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-kepala-sekolah-mengembangkan-pembelajaran-berbasis-tik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Observasi Lesson Study Siklus Satu</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/observasi-lesson-study-siklus-satu/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/observasi-lesson-study-siklus-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 16:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14645</guid>
		<description><![CDATA[Hari Rabu taggal 13 Maret 2013 di SMA 1 Bogor kami bersiap melaksanakan kegiatan observasi pembelajaran dalam pelaksanaan Lesson Study dengan fokus kajian penerapan pendekatan ilmiah dengan dukungan penerapan metode STAD dan TGT pada materi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13px;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/observasi-lesson-study-siklus-satu/foto-ls-1/" rel="attachment wp-att-14648"><img class="alignleft  wp-image-14648" style="margin: 5px;" title="Foto LS 1" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/03/Foto-LS-1-150x107.jpg" alt="" width="150" height="107" /></a>Hari Rabu taggal 13 Maret 2013 di SMA 1 Bogor kami bersiap melaksanakan kegiatan observasi pembelajaran dalam pelaksanaan Lesson Study dengan fokus kajian penerapan pendekatan ilmiah dengan dukungan penerapan metode STAD dan TGT pada materi pelajaran Tajuk Rencana di Kelas 11. Pelaksanaan praobservasi berlangsung mulai pukul 9.30. Pelaksanaan observasi direncanakan mulai pukul 10.30 sampai dengan pukul 12.00.<span id="more-14645"></span><!--more--></span></p>
<p>Kegiatan praobservasi  melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan tujuh orang guru. Lima orang guru bahasa Indonesia dan dua orang guru kimia sebagai peninjau. Dalam kegiatan pra obserasi kami membahas beberapa hal penting untuk mengingatkan semua pihak agar mengarahkan perhatiannya pada hal berikut:</p>
<ol>
<li>Leson Studi sebagai strategi meningkatakan mutu kompetensi pendidik melalui proses pembelajaran. Kegiatan bertujuan untuk menghimpun informasi tentang prilaku belajar siswa dalam mencapai tujuan.</li>
<li>Prilaku belajar yang menjadi fokus perhatian adalah bagaimana siswa mengikatkan keterampilan berpikir ilmiah melalui kegiatan mengamati melalui kegiatan menghimpun data, menanya, menalar, menyaji, menyimpulkan, dan berkarya.</li>
<li>Prilaku siswa dalam melakukan kerja sama dalam kelompok, berinteraksi dalam antar kelompok, dan berkompetisi untuk menjadi kelompok yang terbaik dalam proses berlajar dan mencapai hasil belajar.<span style="font-size: 13px;">Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan kami memilih penggunaan pendekatan ilmiah  yang ditunjang dengan memberdayakan metode STAD dan TGT. Pendekatan ilmiah kami jabarkan dengan meningkatkan aktivitas siswa berpikir melalui menghimpun data, menanya, menalar, menyaji, menyimpulkan, dan berkarya.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Karena diperhitungkan selama dua jam pelajaran tidak cukup waktu untuk menghasilkan karya tulis dalam bentuk Tajuk Rencana, maka siswa setelah pelajaran selesai mendapat tugas terstruktur menyusun karya secara individu.</span></li>
</ol>
<p>Pilihan metode STAD (<em>Students Team Achievement Division</em>)   kami nilai penting untuk mengatasi masalah dalam kerja sama kelompok selalu terdapat sejumlah siswa yang tidak mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Dalam penerapan metode ini seluruh siswa wajib mengikuti kegiatan karena hasil belajar diperoleh dari dua dimensi yaitu kapasitas individu dan kerja salam dalam kelompok. Untuk meningkatkan semangat belajar maka metode divariasikan dengan TGT (<em>Team Games Tournament)</em>. Di sini pembelajaran didorong agar lebih kompetitif dengan cara mengkompetisikan hasil karya kelompok.</p>
<p>Agar lebih ramai, maka karya siswa dinilai oleh mreka sendiri dengan menggunakan format acuan penilaian. Setiap kelompok menilai hasil karya kelompok lain. Jumlah nilai kelompok dihimpun sehingga menjadi peroleh nilai kelompok. Guru tentu memberikan penilain juga. Teknik penilaain yang guru terapkan adalah <em>otentik assessment.</em></p>
<p>Disepakati bersama bahwa pembelajaran menggunakan skenario sesuai dengna rumusan kegiatan yang terdapat dalam RPP yang telah dipersiapkan dalam beberapa pertemuan sebelumnya.</p>
<p><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3097" title=" downloaded 133 times" >RPP tenang Tajuk Rencana (133)</a></strong></p>
<p>Secara teknis skenario  kegiatan terstruktur sebagai berikut:</p>
<p>Prapembelajaran:</p>
<ul>
<li>siswa dibagi kelompok maksimal 5 orang per kelompok, tiap kelompok memilih tajuk rencana yang menarik perhatiannya dari beberapa media sebagai bahan studi.</li>
<li>siswa menghimpun informasi tentang  tanjuk rencana dan  perbedaan antara opini dengan fakta.</li>
<li> posisi duduk dalam kelas diatur siswa menurut kelompoknya serta disediakan tempat untuk para pengamat agar tidak mengganggu aktivitas belajar siswa dengan mempertimbangkan kemudahan mengamati seluruh aktivitas belajar siswa.</li>
<li>menyediakan seluruh instrumen yang diperlukan.</li>
<li>menyiapkan siswa mengikuti skenario pembelajaran dengan menunjukkan potensi optimalnya.</li>
<li>guru memegang catatan tentang skenario pembelajaran dan perangkat penilaian otentik.</li>
</ul>
<div>Observasi:</div>
<p><strong></strong>Mengawali pembelajaran : Pembelajaran dimulai. Guru mengkondisikan kelas. Para siswa memusatkan perhatian pada pokok materi yang akan mereka pelajari, tujuan yang hendak dicapai, dan prosedur pelaksanaan kegiatan belajar yang ditayangkan di depan kelas selama 10 menit pertama. Siswa dapat bertanya tentang teknis kegitan yang akan dilakukannya selama dua jam pelajaran. Seluruh siswa dalam kelas menaruh perhatian besar.</p>
<p>Kegiatan inti: Diskusi kelompok. Tiap kelompok diberi nama, A, B, C, dst. Tugas mereka merumuskan pertanyaan dan jawaban tentang:</p>
<ol>
<li><span style="font-size: 13px;">Definisi tajuk rencana</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Merumuskan pertanyaan untuk mengeksplorasi data atau fakta yang penulis gunakan.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Mengembangkan pertanyaan untuk mengeksplorasi sudut pandang penulis atau opini.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menganalisis membedakan opini dengan fakta berdasarkan informasi pada tajuk rencana yang menjadi bahan diskusi kelompok.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menganalisis sasaran yang dituju oleh penulis.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Merumuskan argumen tentang kekuatan atau kelemahan tajuk rencana yang dibacanya.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menuliskan pikiran yang diukapkan oleh tiap individu dalam kelompok.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menyusun hasil diskusi pada karton.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menayangkan hasil karya kelompok di dalam kelas.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Tiap kelompok memberikan penilaian terhadap hasil kelompok lain.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menghimpun nilai yang dilakukan oleh seluruh siswa.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menjumlahkan nilai tiap kelompok</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Mengumumkan kelompok yang memperoleh nilai terbaik.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menyampaikan tanggapan dan penilaian terhadap karya kelompok lain.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Menyimpulkan hasil diskusi.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Pelaksanaan tes individual</span></li>
<li>Penutupan</li>
</ol>
<p>Tujuh belas  langkah kegiatan ini  dilakukan dalam proses yang cukup riuh dan para siswa antusias mengikutinya. Namun demikian ada hal yang menarik yang diperoleh dari pengalaman observasi ini yaitu, sangat tidak mudah guru mengendalikan agar setiap siswa dalam kelompok berpartipasi optimal dan mereka dapat mengembangkan pertanyaan untuk mengeksplorasi gagasan yang lebih mendalam.</p>
<p>Kesulitan lain adalah menggerakan siswa melalui penilaian otentik. Para siswa memahami benar bahwa guru sulit menilai proses belajar. Dan, catatan ini menjadi bagian menerik untuk diperbaiki dalam pelaksanaan pada siklus yang kedua. Setelah UN.</p>
<p><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3098" title=" downloaded 140 times" >Instrumen Lesson Study (140)</a></strong></p>
<p><strong></strong>Kesimpulan dari pelaksanaan refleksi. Belum semua prilaku belajar yang diharapkan dapat siswa tampilkan karena keterbatasan peluang yang tersedia dalam proses pembelajaran. Perlu pelaksanaan pengulangan pembelajaran untuk memperoleh strategi yang paling pas dalam mengembangkan keterampila berpikir siswa yang ilmiah. Namun demikian, penerapan model ini telah mewujudkan target siswa dapat memahami tajuk rencana, membedakan data dan opini serta melihat sasaran yang dituju oleh penulis secara kritis dan ditungkan dalam tulisan.</p>
<p>Salam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/observasi-lesson-study-siklus-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
