<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guru Pembaharu</title>
	<atom:link href="http://gurupembaharu.com/home/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gurupembaharu.com/home</link>
	<description>Forum komunikasi, interaksi dan kolaborasi pendidik</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Jun 2013 00:05:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tiga Pilar Utama Pelaksanaan Kurikulum 2013</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/tiga-pilar-utama-pelaksanaan-kurikulum-2013/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/tiga-pilar-utama-pelaksanaan-kurikulum-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Jun 2013 23:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Supervisi]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=15000</guid>
		<description><![CDATA[Kurikulum boleh berubah berulang-ulang, namun apabila guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah tidak berubah maka hasilnya akan sama saja. Seperti yang telah kita alami sebelumnya, perubahan kurikulum hanya sebatas dokumen. Pergeserannya tidak mengubah banyak prilaku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/tiga-pilar-utama-pelaksanaan-kurikulum-2013/belajar-dari-pengalaman/" rel="attachment wp-att-15001"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-15001" style="border: 5px solid black; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" title="belajar dari pengalaman" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/06/belajar-dari-pengalaman-150x80.jpg" alt="" width="150" height="80" /></a>Kurikulum boleh berubah berulang-ulang, namun apabila guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah tidak berubah maka hasilnya akan sama saja. Seperti yang telah kita alami sebelumnya, perubahan kurikulum hanya sebatas dokumen. Pergeserannya tidak mengubah banyak prilaku profesional guru, kepala sekolah, maupun pengawas sekolah. Perubahan menjadi sebatas wacana yang menarik menjadi bahan pelatihan dan diskusi. Pelatihan dan pengarahan cukup menyegarkan pengetahuan dan menjadi informasi baru, namun dalam pelaksanaan tugas kembali ke kebiasaan semula.<span id="more-15000"></span></p>
<p>Pernyataan ini untuk menegaskan bahwa makna perubahan kurikulum akan sangat ditentukan oleh ketiga pilar penyelenggara pendidikan yaitu guru sebagai pemeran utama dalam kelas. Kepala sekolah sebagai penjamin perubahan pada tingkat satuan pendidikan dan pengawas sebagai penjamin guru dan kepala sekolah berubah sebagaimana yang diamanatkan oleh kebijakan nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan.</p>
<p>Guru memiliki peran penting. Penting sekali perannya dalam mengubah pebelajaran dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Siswa aktif, kreatif, dan inovatif. Dalam tiap pergantian kurikulum selalu menjadi titik tekan pembaharuan. Namun realisasinya, sampai kini belum berubah. Dalam dasar rasional perubahan kurikulum 2013 masih menggunakan argumen yang sama dengan sebelumnya. Kurikulum perlu berubah karena pembelajaran dalam kelas masih menerapkan pola lama siswa diberi tahu. Jadi kapan akan berubah?</p>
<p>Sejak kurikulum sebelumnya, setiap insan penyelenggara pendidikan tahu bahwa kopetensi siswa dapat dikembangkan dalam tiga ranah sehingga buah pikiran Bloom melekat dalam setiap pikiran. Namun dalam realisasinya hingga sekarang pendidikan belum dapat bergeser dari sikap nyatanya yang lebih mementingkan kognitif. Wacana untuk menyeimbangkan tiga ranah kognitif, apektif, dan psikomotor menjadi materi yang ditegaskan ulang agar dapat direalisasikan.</p>
<p>Dari pengalaman perubahan kurikulum sejak tahun 1975, hal itu tidak pernah berubah. Pendidikan kita masih terus mempertahankan tradisinya yang mementingkan menilai hasil belajar daripada proses. Lebih mementingkan hasil tes daripada karya. Lebih fokus pada output daripada terhadap proses. Bukti kuatnya paradigma itu terlihat pada bentuk rapot yang belum pernah berubah mengikuti target perubahan kurikulum. Nilai matematika dan IPA menjadi perhatian banyak pihak. Bagaimana pun pengajarannya, pada akhirnya yang muncul sebagai hasil akhir adalah nilai rapot dan nilai UN. Dan, dikemanakan hasil penilaian keterampilan dan sikap? Informasi tersebut hanya sedikit sekali yang disebarkan kepada orang tua siswa sebagai akuntabilitas sekolah dan catatannya pun menjadi lenyap sejalan dengan kelulusan siswa.</p>
<p>UN telah memenjarakan kreativitas sekolah karena para penyelenggara sekolah berpikir terbalik. Logika yang seharusnya penyelenggara menjadi penentu keberhasilan. UN bukan satu-satunya ukuran sukses yang memutlakan pengetahuan. Hidup siswa masih memerlukan kompetensi lain, yaitu keterampilan berpikir untuk berkarya. Penting pula membangun sikap seperti disiplin, kerja keras, jujur, kolaboratif, terbuka terhadap perubahan, mengembangkan persepsi akan pentingnya berkerja keras, tuntas, dan cerdas. Semua itu tidak bisa diselesaikan dengan latihan soal agar lulus. Pendidikan harus menyiapkan siswa lulus  UN dan meningkatkan kesiapannya sambil mengembangkan kompetensi kesiapan yang lain.</p>
<p>Bagaimana caranya? Tentu harus lebih dari latihan soal. Dalam pendidikan masih terbuka lebar bagaimana siswa difasilitasi agar terampil berpikir melalui penguasaan fakta, penguasaan teori, penguasan keterampilan dalam menerapkan ilmu pengetahuan, serta mampu bekerja  dalam jejaring kerja sama. Pengetahuan siswa dikuatkan dengan belajar menerapkannya dalam bentuk karya bukan hanya dalam bentuk mengerjakan soal.</p>
<p><strong> </strong><strong>Tiga pilar pembelajaran</strong></p>
<p>Pada kurikulum 2013 asas pembelajaran tematik menjadi pusat pusarannya. Tematik integratif menjadi ciri khas pembelajaran di sekolah dasar. Penyelenggaraan pembelajaran berporos pada tema sehingga materi pada tiap mata pelajaran dikembangkan atas dasar kompetensi yang melekat dalam jering tema. Model berpikir seperti ini merefleksikan pembelajaran kontekstual.</p>
<p>Kita bisa melihat contoh anak kecil yang bermain boneka. Dia timbang boneka dengan kasih saya dengan lagu. Ia elus boneka dengan kalimat tanya dan perintah lebut untuk tidur. Dia main masak-masakan untuk memenuhi kebutuhan makanan virtual boneka. Boneka menjadi pusat pusaran berpikir aktivitasnya tumbuh dalam lagu, membangun sikap kerja sama, menyusun kalimat, menghitung, mengembangkan keterampilan sosial, membaca dan lain sebaginya. Secara empikir semua langkah belajarnya dilakukan melalui bekerja sehingga mendapatkan pengalaman. Karena itu selain tematik integratif, asas penting kurikulum 2013 adalah berbasis aktivitas. Pernyataan ini sekaligus menjadi ciri pergeseran dari siswa menerima ilmu menjadi siswa bekerja untuk memperoleh ilmu.</p>
<p>Tematik-terpadu menjadi bagian penting di SMP. Peminatan menjadi bagian penting dalam perubahan kurikulum di SMA dan SMK. Namun jika ditarik dalam asas konteks, maka belajar dalam jejaring tema yang kontekstual menjadi roh dari semuanya. Alasannya sederhana siswa secara faktual tidak menjawab masalah hidupnya dengan argumentasi yang dipilah-pilah dalam berbagai mata pelajaran. Kemampuan untuk mensinergikan seluruh informasi dalam berbagai pengetahuan menjadi kebutuhan nyata yang sesungguhnya. Pengetahuan yang terpadu dalam merespon fenomena dalam tema-tema.</p>
<p><strong>Tiga pilar utama dalam pelaksanaan dalam kurikulum 2013 adalah pendekatan saintifik, inquiri, dan metode proyek sebagai pilar proses. Tiga pilar belajar itu untuk menguatkan tiga pilar kompetensi  sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pilar hasil. </strong></p>
<p>Pilar-pilar utama itu, perlu menjadi fokus dalam pengembangan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan  dalam ketiga pilar itu diharapkan akan berdampak pada pemenuhan standar SKL, isi, proses, dan penilaian.</p>
<p>Ada pun pergeseran yang diharapkan di antaranya. Pembelajaran dapat mengembangkan kemampuan berpikir tinggi yang diasah dengan penguasan ilmu pengetuhuan yang didukung pula dengan kematangan sikap dalam keterampilan terutama keterampilan berpikir.</p>
<p>Pembelajaran berbasis aktivitas. Pembelajaran memfasilitasi siswa mencari tahu. Karena itu, siswa memerlukan lingkungan sebagai sumber belajar, perpustakaan, nara sumber, labolatorium, internet, dan pengalaman belajarnya sendiri. Pokoknya guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Lebih jauh dari itu, perubahan kurikulum harus tercermin dalam aktivitas guru mengajar, dalam aktivitas siswa belajar, dalam materi yang dipelajarinya, dalam buku yang digunakan sebagi sumber serta aksi dalam bentu aktivitas siswa dalam kelas menghasilkan karya.</p>
<p>Aktivitas belajar dikembangkan secara menyeluruh pada ranah sikap, keterampilan, dan pengetuan yang terpetakan dalam ketiga jalur yang berbeda. Kebervariasian ini diperlukan mengingat semua ranah memiliki cara mengembangkannya sendiri-sendiri. Misalnya keterampilan siswa tidak dapat dikembangkan melalui pengembangan pengetahuannya. Begitu juga penguatan pengetahuan belum tentu menguatkan sikap dan karekternya.</p>
<p>Ileh karena itu setiap kompetensi harus tercermin dapat indikator proses dan hasil belajar, pada materi pelajaran, pada buku teks, dan tercermin pula dalam teknik penilaian. Sistem evaluasi menjadi harus berbeda tidak hanya menekankan pada output dan tes tetapi dalam bentuk portofilio.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa yang harus pengawas lakukan?</strong></p>
<p>Dalam menunajang pelaksanaan kurikulum 2013 pengawas sekolah memiliki peran penting untuk meningkatkan penjaminan bahwa kepala sekolah dapat memfasiltasi guru dalam pokok-pokok kegiatan berikut<strong>:</strong></p>
<ol>
<li>mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan <strong>prinsip-pinsip tematik-integratif</strong>  sesuai dengan karakteristik keunggulan siswa yang diharapkan pada tingkat satuan pendidikan</li>
<li>menyeimbangkan tiga pilar kompetensi sikap, ketermpilan, dan sikap dalam peta sebaran yang terukur sebagai dasar penyusunan rencana pembelajaran.</li>
<li>mengembangkan <strong>RPP yang selaras dengan Silabus, Buku Guru, Buku Siswa, dan prinsip-pinsip pembelajaran, dan penilaian</strong>.</li>
<li> <strong>menilai kesesuaian kompetensi siswa pada RPP dengan SKL, KI, KD, materi pelajaran, dan penilaian </strong>sehingga kompetensi siswa yang diharapkan menjadi dasar pengembangan perencanaan pembelajaran.</li>
<li> mengembangkan kompetensi dengan <strong>menggunakan peta sebaran kompetensi</strong> yang menggambarkan keseimbangan antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan.</li>
<li>mengembangkan strategi pembelajaran berpilar saintifik, inquiri, dan metode proyek untuk menunjang pembelajaran berbasis aktivitas.</li>
<li><strong>menggunakan alam sekitar sebagai sumber belajar dengan dukungan teknologi tepat guna</strong> termasuk teknologi informasi dan komunikasi</li>
<li>mengembangkan instrumen penilaian dan melaksanakan penilaian otentik, PAP dan portofolio.</li>
</ol>
<p>Delapan fokus utama penerapan kurikulum 2013 ini perlu mendapat perhatian cermat agar perubahan kurikulum tidak terjerembab dalam lobang yang sama, hanya sebatas wacana dan dokumen.</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3113" title=" downloaded 34 times" >Model Program Supervisi Akademik (34)</a></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3115" title=" downloaded 19 times" >Bukti Fisik Pelaksanaan Tugas Pengawas (19)</a></strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/tiga-pilar-utama-pelaksanaan-kurikulum-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengawasan Akademik Perlu Lebih Transformatif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pengawasan-akademik-oleh-pengawas-harus-lebih-transformatif/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pengawasan-akademik-oleh-pengawas-harus-lebih-transformatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jun 2013 07:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Supervisi]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14985</guid>
		<description><![CDATA[Pelaksanaan supervisi akademik sebagai bagian penting tugas pengawas sekolah pada saat ini menghadapi tantangan untuk berubah sehubungan dengan kurikulum sekolah sedang dalam proses perubahan. Sebagai salah salah satu pilar penjamin mutu penerapan kurikulum 2013, pengawasan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/pengawasan-akademik-oleh-pengawas-harus-lebih-transformatif/report-2/" rel="attachment wp-att-14986"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14986" title="report" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/06/report-150x112.jpg" alt="" width="150" height="112" /></a>Pelaksanaan supervisi akademik sebagai bagian penting tugas pengawas sekolah pada saat ini menghadapi tantangan untuk berubah sehubungan dengan kurikulum sekolah sedang dalam proses perubahan. Sebagai salah salah satu pilar penjamin mutu penerapan kurikulum 2013, <strong>pengawasan akademik  jelas tujuannya bukan untuk </strong> menilai unjuk kerja guru, namun bagaimana pengawas dapat membantu guru mengelola pembelajaran supaya lebih efektif, membantu guru mengembangkan kemampuan profesinya dengan cara memecahkan masalah, dan melakukan perbaikan proses pelaksanaan pembelajaran.<span id="more-14985"></span></p>
<p>Namun demikian, seperti yang diungkapkan oleh Sergovanni (1987) kegiatan menilai kinerja guru  tidak bisa dihindarkan dalam prosesnya. Pernyataan ini untuk menegaskan bahwa penilaian kinerja merupakan tahap antara untuk memetakan masalah yang guru hadapi dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat dirumuskan pemecahannya agara sesuai dengan fakta yang guru perlukan.</p>
<p>Supervisi akademik pada dasarnya, selain dapat memetakan masalah sehingga dengan dasar itu pengawas dapat menentukan bantuan yang paling guru perlukan, juga dapat memetakan keunggulan yang dapat guru wujudkan. Berdasarkan data yang terhimpun pengawas dapat merekomendasikan jenis dan level latihan yang guru perlukan agar dapat meningkatkan kompetensinya.</p>
<p>Dalam menghadapi tantangan perubahan kurikulum  agar dapat berperan sebagai penjamin mutu pelaksanaan pembelajaran pengawas perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta bersikap  terbuka terhadap perubahan. Pengetahuan yang pengawas perlukan adalah mengenali fakta tentang pelaksanaan tugas yang telah pengawas lakukan dalam memerankan diri sebagai pengawas pelaksanaan KTSP.</p>
<p>Pertanyaan terbuka untuk mengeksplorasi informasi yang perlu di antaranya:</p>
<ol>
<li>Apa yang sesungguhnya pengawas programkan dalam pelaksanaan pengawasan akademik pada pelaksanaan kurikulum 2013?</li>
<li>Apakah pengawas telah bekerja sesuai dengan program pengawasan akademik yang disusunnya?</li>
<li>Apakan berhasil atau belum berhasil mewujudkan target dalam programnya?</li>
<li>Mengapa berhasil atau mengapa belum berhasil?</li>
</ol>
<p>Informasi yang dapat digali dengan empat pertanyaan terbuka dapat membantu pengawas untuk mengidentifikasi fakta tentang pelaksanaan tugas pengawas dalam usaha membantu guru meningkatkan motivasinya, meningkatkan efektivitas merencanakan pembelajaran terutama dalam menyusun silabus, RPP, materi pelajaran, dan sistem penilaian untuk mewujudkan target kompetensi lulusan yang menjadi target mutu tiap satuan pendidikan.</p>
<p>Menyinggung keberhasilan pengawas pada umumnya dalam melaksanakan tugas pengawasan akademik sebagai realisasi tugas utamanya jelas dapat dinyatakan belum mencapai efektivitas yang diharapkan. Sumber permasalahannya cukup kompleks. Menurut sebagian pengawas bahwa pengawas belum memiliki kapasitas dan kapabelitas yang memenuhi kebutuhan guru dalam mengembangkan silabus dan RPP sebagaimana yang ditetapkan dalam standar. Pengakuan ini mengemuka karena dalam pelaksanaan KTSP pengawas menilai pemerintah belum memberikan bekal pengetahuan  dan keterampilan yang cukup. Pengawas kurang terlatih sehingga tidak dapat mengawal peningkatan mutu kurikulum secara efekttif.</p>
<p>Kondisi nyata menunjukkan pengawas berlum berperan optimal untuk memfasilitasi guru dalam mengembangkan silabus, rpp, menyusun materi pelajaran, bahkan dalam menjamin penilaian yang menyeimbangkan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Persoalan ini tentuk bukan hanya karena kurang berdayanya pengawas, namun lebih besar karena pemerintah telah menetapkan target dalam perancangan kurikulum dalam bentuk silabus dan RPP, materi pelajaran, dan sistem penilaian kepada satuan pendidikan. Tugas itu secara faktual belum dapat diwujudkan oleh kekuatan sinergis guru-kepala sekolah dan pengawas. Oleh karena itu, jika dilihat dari fakta ini, memang seharusya KTSP diganti. Dan, kini menyusun silabus dan materi pelajaran diambil alih Kemendikbud. Guru mendapat kapling utuk menentukan RPP dan perangkat penilaiannya.</p>
<p>Fakta lain menunjukkan bahwa rendahnya mutu hasil belajar siswa yang dapat dunia pendidikan wujudkan tampak nyata pada hasil uji siswa Indonesia bidang sains dan matematika tingkat internasional yang tidak berkembang selama pelaksanaan KTSP tidak berkembang. Data hasil uji menunjukkan bahwa hasil kreativitas siswa Indonesia jauh di bawah Cina, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. Padahal dengan anak-anak bangsa sekawasan ini  generasi muda Indonesia harus bersaing.</p>
<p>Sumber masalah utamanya dapat kita duga yaitu pelaksanaan pembelajaran kurang efektif. Salah satu akar dari masalah itu, superivisi akademik yang seharusnya dapat berfungsi sebagai penjamin mutu, tidak dalam kondisi seperti yang diharapkan. Oleh karena itu meningkatnya efektivitas pengawasan bidang akademik merupakan bagian penting yang tidak dapoat ditawar-tarwar. Harus. Pengawas harus melakukan agar sistem penjaminan mutu pembelajaran dapat direalisasikan dengan baik.</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3110" title=" downloaded 21 times" >Pengawasan akademik (21)</a></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3111" title=" downloaded 12 times" >Pergeseran dalam perubahan kurikulum (12)</a></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3112" title=" downloaded 16 times" >Apa yang pengawas programkan? (16)</a></strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pengawasan-akademik-oleh-pengawas-harus-lebih-transformatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Untuk Eks-RSBI: Menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/tantangan-untuk-eks-rsbi-menjadi-badan-layanan-umum-daerah-blud/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/tantangan-untuk-eks-rsbi-menjadi-badan-layanan-umum-daerah-blud/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 14:17:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengelolaan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14971</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 8 Januari 2012 nasib RSBI berakhir pada palu Mahkamah Konstitusi. Keputusan MK nomor 5/PUU-X/2012 yang dibacakan oleh Ketua MK Moh. Mahfud MD “Menyatakan mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya. Pasal 50 ayat (3) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/tantangan-untuk-eks-rsbi-menjadi-badan-layanan-umum-daerah-blud/layanan/" rel="attachment wp-att-14972"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14972" style="border: 6px solid black; margin-top: 6px; margin-bottom: 6px;" title="layanan" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/06/layanan-150x131.jpg" alt="" width="150" height="131" /></a>Pada tanggal 8 Januari 2012 nasib RSBI berakhir pada palu Mahkamah Konstitusi. Keputusan MK nomor 5/PUU-X/2012 yang dibacakan oleh Ketua MK Moh. Mahfud MD “Menyatakan mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya. Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak mempunyai keuatan hukum mengikat”.<span id="more-14971"></span></p>
<p>Dengan keputusan itu, maka 329 SD, 356 SMP dan 615 SMA/SMK harus melepaskan statusnya sebagai RSBI. Namun pemberhentian itu tidak serta merta menghentikan program peningkatan mutunya. Dalam kesempatan terpisah Ketua MK menyatakaan bahwa putusan pembubaran RSBI berbeda dengan putusan penghentian jabatan-jabatan atau putusan lainnya. “Ini urusan pendidikan, harus ada terminal peralihan,”</p>
<p>Menanggapi itu, hal itu Kemdikbud menyatakan bahwa karena ini adalah bagian dari proses pendidikan yang tengah berjalan, maka perlu waktu transisi. Penghapusannya secara total akan dilakukan sampai akhir tahun ajaran. Proses kegiatan belajar-mengajar di eks-RSBI harus tetap berjalan.</p>
<p>Dalam merespon perubahan sebagian pemerintah daerah menetapkan eks-RSBI menjadi sekolah unggul dengan tetap melanjutkan peningkatkan mutu sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Sebagian yang lain menunggu petunjuk menteri. Namun tragisnya, banyak sekolah yang telah kehilangan dukungan finansial dari orang tua murid. Di samping keterbatasan finansial, kini sebagian sekolah diubah statusnya menjadi SSN alias sekolah berstandar nasional sehingga model penerimaan siswanya, dukungan finansialnya, bahkan programnya kembali menjadi sekolah reguler. Fenomena sekolah dalam penantian ini masih berjalan sampai pada penghujung akhir tahun pelajaran ini.</p>
<p><strong>Eks-RSBI  Menjadi BLUD</strong></p>
<p>Pada hari Rabu tanggal 12 Juni 2013 telah dilaksanakan rapat koordinasi antara Kemendikbud yang digagas oleh Dirjen Pendidikan Menengah, dengan perwakilan Kemendagri dan Kementrian Keuangan yang menangani pengembangan BLUD untuk membahas kemungkinan mengembangkan sekolah eks RSBI menjadi BLUD.</p>
<p>Dalam diskusi terungkap pemikiran tentang pentingnya menindaklanjuti rapat dengan melalukukan pembahasan lebih lanjut tentang peluang sekolah bertransformasi menjadi BLUD. Tentu saja melalui kajian yang lebih mendalam dan bertahap. Untuk menerapkannya secara masif memerlukan pengkajian terlebih dahulu yang didahului dengan perumusan peraturan, mengembangkan kesiapan program, meningkatkan mutu sumber daya manusia, menyiapkan pedoman, dan piloting.</p>
<p>Pelaksanaan BLUD merupakan bagian dari pelaksanaan program reformasi keuangan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2003. Beberapa peraturan yang  terkait dengan pengelolaan keuangan, yaitu Undang-Undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Peraturan itu diterbitkan dengan harapan agar pola keuangan negara bisa berjalan lebih transparan dan akuntabel dengan melakukan transformasi dari penganggaran tradisional ke penganggaran berbasis kinerja.</p>
<p>Terkait dengan itu, pemerintah pun menerbitkan peraturan tentang  Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Daerah) yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.</p>
<p>Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Dalam hal ini yang disebut dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dapat berupa sekolah, rumah sakit, puskesmas, akademi, layanan pariwisata dan lain sebaginya.</p>
<p>Reformasi ini terkait dengan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD) yaitu pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.</p>
<p>Inti dari pelaksanaan BLUD adalah;</p>
<ul>
<li>Menjadikan sekolah sebagai perangkat kerja pemerintah daerah untuk memberikan layanan umum secara lebih efektif dan efisien sejalan dengan praktek bisnis yang sehat.</li>
<li>Sekolah yang telah menjadi BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah yang dibentuk untuk membantu pencapaian tujuan pemerintah daerah, dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah.</li>
<li>Dalam pelaksanaan kegiatan, sekolah pelaksana BLUD harus mengutamakan efektivitas dan efisiensi serta kualitas pelayanan umum kepada masyarakat tanpa mengutamakan pencarian keuntungan.</li>
</ul>
<p>Sekolah dapat ditetapkan menjadi pelaksanaan Pola Pengelola Keuangan BLUD (PPK-BLUD) harus memenuhi tiga <strong><em>syarat </em></strong><strong><em>substantif, teknis, dan admlnistratif</em></strong>. Sekolah dalam hal ini memenuhi syarat <strong>substantif</strong> karena bersifat operasional dalam menyelenggarakan pelayanan umum yang menghasilkan jasa publik <em>(quasipublic goods). </em>Sekolah juga sebagai penyedia jasa layanan umum untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kepada masyarakat. Persyaratan substantif melekat pada fungsi sekolah sebagai penyedia jasa layanan pendidikan.</p>
<p>Persyaratan teknis yang wajib sekolah penuhi untuk menjadi BLUD adalah yang memiliki kinerja pelayanan pendidikan yang layak dikelola dan ditingkatkan</p>
<p>pencapaiannya melalui BLUD atas rekomendasi sekretaris daerah untuk SKPD atau kepala SKPD untuk Unit Kerja. Kelayanan ini tentu terkait pada hasil penilaian akreditasi.  Di samping itu, sekolah dapat mengajukan diri menjadi BLUD jika memiliki kinerja keuangan  yang sehat.</p>
<p>Kriteria layak kelola berarti memiliki potensi untuk meningkatkan penyelenggaraan pelayanan secara efektif, efisien, dan produktif. Hal tesebut harus dibuktikan dengan hasil penilaian kinerja. Sementara kriteria kinerja keuangan yang sehat ditunjukkan dengan tingkat pendapatan dari layanan cenderung meningkat dan efisien dalam membiayai pengeluaran.</p>
<p>Persyaratan administratif untuk menjadi menjadi BLUD sekolah hendaknya (1) menyatakan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan, dan</p>
<p>manfaat bagi masyarakat; (2) memiliki sistem tata kelola; (3) memiliki rencana strategis bisnis; (4) memenuhi standar pelayanan minimal dalam hal ini memenuhi standar nasional pendidikan (5) memiliki laporan keuangan pokok atau prognosa/proyeksi laporan keuangan; dan (6) laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.</p>
<p>Rencana strategis bisnis (RSB) merupakan rencana strategis lima tahunan yang  mencakup, antara lain pernyataan visi, misi, program strategis, pengukuran pencapaian kinerja, rencana pencapaian lima tahunan dan proyeksi keuangan lima tahunan sekolah. RSB sekaligus menggambarkan rencana kegiatan lima tahunan, pembiayaan lima tahunan, penanggung jawab program, dan prosedur pelaksanaan program.</p>
<p>Laporan keuangan pokok terdiri  atas (1)  laporan realisasi anggaran; (2)  neraca; dan (3) catatan atas laporan keuangan. Laporan kuangan dirumuskan berdasarkan sistem akuntansi yang berlaku pada pemerintah daerah.</p>
<p>Prognosa atau proyeksi laporan keuangan terdiri atas (1) prognosa/proyeksi laporan operasional; dan (2) prognosa/proyeksi neraca. Keduanya berpedoman pada standar akuntansi yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa Keuntungan Sekolah Menjadi BLUD&gt;</strong></p>
<p>Menjadi BLUD memungkikan sekolah untuk meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan lembaganya dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyediaan sumber dana dan alokasi dana untuk meningkatkan mutu pelayanan. Peningkatan dapat dilakukan melalui penetapan standar mutu pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mutu yang memenuhi kepuasan pelanggan sehingga pelanggan dapat membayar sesuai dengan tingkat kepuasan yang diperolehnya.</p>
<p>Untuk mencapai target standar pelayanan tiap satuan pendidikan dapat mengembangkan (1) struktur organisasi (2) prosedur kerja, (3)  pengelompokan fungsi yang logis; (4) pengelolaan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan peningkatan mutu.  Untuk menunjang efektivitanya maka sekolah perlu memperhatikan prinsip  transparansi, akuntabilitas,  responsibilitas, dan  independensi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bagaimana Memulainya?</strong></p>
<p>Untuk menyiapkan pelaksanaan BLUD sekolah perlu memulai dengan meningkatkan tertib administrasi sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meningkatkan mutu tata kelola program jangka menengah dan tahunan sebagai dasar untuk mengembangkan rencana strategis bisnis (RSB) sebagai dasar pengembang visi, misi, program strategis, pengukuran pencapaian kinerja, rencana pencapaian lima tahunan dan proyeksi keuangan lima tahunan sekolah.</li>
<li>Sistem administrasi berupa anggaran dan pertanggung jawaban keuangan yang realistik yang didukung dengan sistem tata kelola dalam bentuk (1)  laporan realisasi anggaran; (2)  neraca; dan (3) catatan atas laporan keuangan yang dirumuskan berdasarkan sistem akuntansi yang berlaku pada pemerintah daerah sebagai  dasar untuk mengembangkan sistem keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia</li>
<li>Mengembangkan mutu sumber daya manusia yang mengelola administrasi program dan keuangan. Untuk menyiapkan ini pasti harus mereformasi sistem tata usaha sekolah yang tradisional menjadi dapur penunjang bisnis layanan yang sehat dan dukungan sistem akuntasi sekolah yang memenuhi standar akuntansi Indonesia.</li>
<li>Meningkatkan kompetensi kepala sekolah sebagai pengembang dan penyelenggara rencana strategi sekolah sebagai rencana strategi bisnis layanan pendidikan yang memenuhi kepuasan publik.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/tantangan-untuk-eks-rsbi-menjadi-badan-layanan-umum-daerah-blud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Perbaikan RKAS</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 03:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13449</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.
Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/guru-2/" rel="attachment wp-att-13450"><img class="alignleft  wp-image-13450" style="margin: 6px;" title="guru" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/04/guru.jpg" alt="" width="151" height="112" /></a>Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.<span id="more-13449"></span></p>
<p>Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada penguasaan ilmu dan keterampilan yang baik dalam merencanakan program sekolahnya sehingga dapat  meraih <strong>keunggulan</strong>. Dalam mewujudkan cita-cita kepala sekolah hendaknya menempuh empat langkah stategis; yaitu <strong>pertama</strong> menganalisis konteks eksternal dan internal; <strong>kedua </strong>merumuskan visi, misi, tujuan dan strategi, <strong>ketiga </strong>menerapkan strategi dalam pelaksanaan program, dan <strong>keempat</strong> memonitor dan mengevaluasi program (Thomas L. Wheelen and I David Hungger:1995).</p>
<p>Keempat langkah strategis itu, ujungnya adalah mewujudkan keunggulan mutu siswa atau lulusan. Lulusan  berkeunggulan adalah yang memiliki dapat menguasai materi pelajaran, terampil menerapakan ilmu yang diperolehnya,  menguasai cara belajar sehingga penguasaannya dapat siswa gurunakan dalam memecahkan masalah kehidupannya.</p>
<p>Pengembangan kapasitas sekolah untuk mewujudkan mutu lulusan merupakan proses yang tidak pernah berakhir selama sekolah berdiri dan proses pembelajaran berjalan. Oleh karena itu, peningkatan mutu merupakan proses yang bersiklus tanpa henti dari tahun ke tahun. Targetnya pun harus berubah karena segala sesuatuyang ada sekitar hidup siswa terus berubah.</p>
<p>Untuk menuntun kepala sekolah meraih mimpinnya sebaiknya  kepala sekolah merumuskan visi-misi yang disertai dengan tujuan yang jelas. Jelas artinya  harus diuraikan dalam sejumlah target yang <strong>realistis</strong> dan <strong>terukur</strong>. Penegasan tersebut mengarahkan kepala sekolah  agar dapat menjamin pelaksanaan keempat langkah strategis di atas mengarah pada tujuan yang direalisasikan dalam target yang selalu diukur pencapaiannya dari waktu ke waktu.</p>
<p>Selain empat langkah strategis, terdapat empat langkah utama menjamin mutu yang wajib kepala sekolah tunaikan. <strong>Pertama</strong> merumuskan strategi atau metode dalam perencanaan (plan) berdasarkan pencapaian program sebelumnya. Dalam perencanaan kepala sekolah perlu memperhitungkan kekuatan sumber daya yang sekolah miliki sehingga target selalu disesuaikan dengan kemampuan nyata untuk mewujudkannya.  <strong>Kedua, </strong>menerapkan strategi atau melaksanakan kegiatan sesuai dengan program<strong>. Ketiga</strong>, memonitor dan mengevaluasi proses dan hasil pekerjaan, melaksanakan perbaikan proses pekerjaan untuk memperbaiki pencapaian. <strong>Keempat</strong>, menggunakan hasil monitoring datan evaluasi sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan berkelanjutan. Siklus kegiatan itu sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh Edward Sallis (1993) yang sangat terkenal dengan model <em>plan, do, check, act</em>.</p>
<p><strong>Target kompetensi  </strong></p>
<p>Pelatihan ini memiliki target agar kepala sekolah mampu memperbaiki Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan/RKAS  secara berkelanjutan sehingga program berkembang sesuai kebutuhan pembaharuan mutu. Target kompetensi umum tersebut selanjutnya dijabarkan dalam target khusus, yaitu agar kepala sekolah mampu</p>
<ol>
<li>Memetakan pemenuhan standar berdasarkan analisis konteks.</li>
<li>Merumuskan dokumen RKJM dan RKAS secara sistematis.sesuai dengan kebutuhan pengembangan sekolah yang realistik dan terukur.</li>
<li>Penentuan skala prioritas</li>
<li>Mengembangkan RKJM dan RKAS yang mengintegrasikan seluruh program  pemenuhan delapan SNP.</li>
<li>Mengembangkan program RKJM dan RKAS secara inovatif sehingga memenuhi prinsip pembaharuan mutu berkelanjutan.</li>
<li>Menggunakan instrumen evaluasi program sekolah</li>
</ol>
<p><strong>Bentuk Tagihan yang diharakan dapat dihimpun seusai pelatihan adalah menyempurnakan templet RKAS terlampir</strong></p>
<p>[<strong>download id="3109"]<a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3109" title=" downloaded 311 times" >Rencana Kegiatan Tahunan dan Rencana Anggaran Sekolah (311)</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Komputer</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 May 2013 02:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14953</guid>
		<description><![CDATA[
Mulai tahun 1990-an komputer masuk sekolah di Indonesia. Program microsoft word, lotus, DOS yang mulai populer pada tahun 1980-an mulai dipergunakan di sekolah. Disket merupakan perangkat wajib bagi setiap pengguna persoanal komputer pada saat itu. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/pencil/" rel="attachment wp-att-14955"><img class="alignleft  wp-image-14955" title="pencil" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/05/pencil-84x150.jpg" alt="" width="84" height="130" /></a><a href="http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/pencil/" rel="attachment wp-att-14955"><br />
</a>Mulai tahun 1990-an komputer masuk sekolah di Indonesia. Program microsoft word, lotus, DOS yang mulai populer pada tahun 1980-an mulai dipergunakan di sekolah. Disket merupakan perangkat wajib bagi setiap pengguna persoanal komputer pada saat itu. Di awal tahun 1990 mulailah banyak sekolah yang menyediakan komputer sebagai pendukung pembelajaran dan pada waktu yang tidak terlalu lama, muncul kebutuhan menyelanggarakan mata pelajaran komputer dan labolatorium komputer di banyak sekolah.<span id="more-14953"></span></span></p>
<p>Beberapa sekolah berjalan pada penghujung tahun 1990-an karena telah mengantarkan siswanya menjadi juara olimpiade bidang komputer, hingga tahun 2012 olimpiade infrmatics yang ke 24. Pada bidang ini Indonesia. Contohnya, dalam International Olympiad in Informatics (IOI) ke-24 di Milan, Italia, 23-30 September 2012, berhasil mempersembahkan satu medali perak dan tiga medali perunggu. Tim Indonesia menempati posisi ke-19 dari klasemen umum negara-negara peserta.</p>
<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Bersamaan dengan berkembangnya prestasi siswa beberapa guru komputer pun diangkat menjadi pegawai negeri sehingga peluang pekerjaan sebagai guru komputer memberikan harapan yang besar. Namun pada tahun 2013 dengan rencana pergantian kurikulum mata pelajaran komputer pun hilang dari struktur.</span></p>
<p>Kini struktur kurikulum pada persekolahan di Indonesia sama dengan kurikulum di negara lain. Tidak memasukan keterampilan komputer sebagai mata pelajaran. Komputer harus menjadi bagian keterampilan pada seluruh mata pelajaran. Semua guru tak bisa mengelak untuk menjadi guru komputer dalam meningkatkan kompetensi siswa pada substansi yang digelutinya.</p>
<p>Pertannyaan berikutnya adalah bagaimana dengan guru komputer yang sudah ada di sekolah menjelang pemberlakuan kurikulum 2013? Masalah ini akan dibahas dalam pertemuan guru kompter Kota Bogor pada tanggal 4 Mei 2013.</p>
<a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3108" title=" downloaded 195 times" >Kurikulum 2013 (195)</a>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/guru-komputer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendalami Penerapan Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 17:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14926</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific aproach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik akhir-akhir ini. Yang menjadi latar belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/saintifik/" rel="attachment wp-att-14929"><img class="alignleft  wp-image-14929" style="margin: 5px;" title="saintifik" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/saintifik-150x86.jpg" alt="" width="200" height="100" /></a>Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau <em>scientific aproach</em> pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik akhir-akhir ini. Yang menjadi latar belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang <span style="font-size: 13px;">mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.<span id="more-14926"></span> </span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Disadari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan strategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga. </span><span style="font-size: 13px;"> </span></p>
<p>Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 telah merintis pengembangan program prestisius ini dalam  Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) di Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasi di sejumlah daerah dan dikembangkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia. Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun <span style="font-size: 13px;">2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang lebih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. </span></p>
<p>Dalam perancangan kurikulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latar belakang pemikiran yang menyatakan bahwa secara faktual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan daripada  fakta dalam kelas. Produktivitas pembelalaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi madek alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita  yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu. Memang, ini kondisi yang sangat memprihatinkan.</p>
<p><strong>Apakah Pendekatan Ilmiah?</strong></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pendekatan ilmiah berarti konep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (</span><em style="font-size: 13px;">scientific teaching</em><span style="font-size: 13px;">) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah. </span></p>
<p>Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.</p>
<p>Menurut  majalah <strong>Forum Kebijakan Ilmiah</strong> yang terbit di Amerika pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan  bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi perbedaan kemampuan siswa.</p>
<p>Pada penerbitan majalah selanjutnya pada tahun 2007 tentang <strong><em>Scientific Teaching</em></strong> dinyatakan terdapat tiga prinsip utama dalam menggunakan pendekatan ilmiah; yaitu:</p>
<ul>
<li><strong>Belajar siswa aktif</strong>, dalam hal ini  termasuk <em>inquiry-based learning </em>atau belajar berbasis penelitian, <em>cooperative learning</em> atau belajar berkelompok, dan belajar berpusat pada siswa.</li>
<li><strong>Assessment </strong>berarti  pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar<strong>.</strong></li>
<li><strong>Keberagaman </strong>mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan keragaman.  Pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks.</li>
</ul>
<div>
<p>Metode Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan. Dalam penerapan metode ilmiah terdapat aktivitas yang dapat diobservasi seperti mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pelaksanaan metode ilmiah tersusun dalam tujuh langkah berikut:</p>
<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/berpikir-ilmiah-compres/" rel="attachment wp-att-14945"><img class="alignleft size-medium wp-image-14945" title="Berpikir Ilmiah compres" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Berpikir-Ilmiah-compres-222x300.jpg" alt="" width="222" height="300" /></a></p>
<ol start="1">
<li>Merumuskan pertanyaan.</li>
<li>Merumuskan latar belakang penelitian.</li>
<li>Merumuskan hipotesis.</li>
<li>Menguji hipotesis melalui percobaan.</li>
<li>Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan.</li>
<li>Jia hipotesis terbukti benar maka daapt dilanjutkan dengan laporan.</li>
<li>Jika Hipotesis terbukti tidak benar atau benar sebagian maka lakukan pengujian kembali.</li>
</ol>
<p>Penerapan metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai. Karena itu kemampuan bertanya merupakan kemampuan dasar dalam mengembangkan berpikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.</p>
<p>Oleh karena itu, penguasaan teori dalam sebagai dasar untuk menerapkan metode ilmiah. Dengan menguasi teori maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah. Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarahkan perumusan pertanyaan penelitian.</p>
<p>Uraian singkat buah pemikiran Rawcett J and Downs F. 1986. <a href="http://www.indiana.edu/%20~educy520/%20readings/fawcett86.pdf">http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf</a> menyatakan bahwa teori dengan penelitian memiliki hubungan yang sangat erat. Pola hubungannya dialektik sehingga teori ditentukan oleh data yang dikoleksi sebagai perolehan penelitian. Pada tahap selanjutnya pengolahan data menentukan peluang diterimanya suatu teori.</p>
<p>Disain penelitian dapat menghasilkan tiga ragam teori  yaitu deskriptif, korelasi, dan eksperimen. <strong><em>Penelitian deskriptif</em></strong> menghasilkan <strong><em>teori deskriptif</em></strong> yang menggambarkan atau mengklasifikasi karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa yang disusun secara ringkas dari hasil  atau  temuan obeservasi. Yang termasuk pada tipe ini adalah <em>studi kasus</em>, <em>survey, studi etnografi, dan studi gejala</em>. Jadi, teori deskriptif diperoleh dari penelitian deskriptif. <span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Penelitian deskriptif menjawab pertanyaan;</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apakah ini?</span></li>
</ul>
<p><strong><em>Penelitian dan teori relasional</em></strong> yang mempelejari hubungan antara berbagai dimensi atau <strong><em>karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa</em></strong>. Pada tipe ini dijelaskan  bagaimana hubungan bagian dari suatu gejala dengan yang lainnya. Teori dapat dibangun setelah karakteristik atau gejala benar-benar diketahui. Pada riset tipe ini  digunakan  pertanyaan:</p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apa yang terjadi di sini?</span></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apa yang terjadi jika beberapa karakteristik muncul bersamaan?</span></li>
</ul>
<p><strong><em>Penelitian dan Teori eksperimental</em></strong> bergerak pada prediksi hubungan sebab-akibat antara dimensi atau karakteristik  suatu gejala atau perbedaan antar kelompok. Tipe ini berkaitan dengan <em>penyebab dan pengaruh</em> yang mengeksplorasi persoalan mengapa  ada perubahan gejala atau suatu keadaan. Teori eksplanatori menguji kebenaran dengan riset eksperimen dengan  menggunakan pertanyaan:</p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apa yang akan terjadi jika&#8230;?</span></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Apakah perlakuan A berbeda dengan perlakuan B?</span></li>
</ul>
<p>Kemampuan menguasai teori menurut Krathwohl dapat dipetakan dalam tabel Taksonomi seperti di bawah ini.</p>
<p>Dimensi proses kognitif menggambarkan tingkat kecakapan berpikir dari mulai mengingat, mengerti atau memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.  Istilah berkreasi sama dengan mencipta. Pada dimensi penguasaan ilmu pengetahuan atau teori meliputi  penguasaan ilmu pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognif.</p>
<p>Kita mengetahui bahwa dalam rancangan kurikulum 2013 membedakan siswa sekolah dasar yang diberi target untuk mengembangkan kompetensi faktual dan konseptual, dan sekolah menengah mendapat target untuk mengembangkan kemampuannya sampai prosedural dengan puncak kompetensi  pada mencipta.</p>
</div>
<div><strong style="font-size: 13px;">Bagaimana penerapan metode ilmiah?</strong></div>
<p>Yang paling penting dalam penerapan metode ilmiah adalah menentukan kompetensi siswa yang hendak siswa kuasai. Sebagaiamana diuraikan sebelumnya bahwa guru dapat memfasilitasi siswa pada tiga tipe pilihan yaitu model <strong>deskriptif, relasional, atau eksperimen. </strong>Ketiga tipe tersebut memerlukan teknik eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang berbeda sehingga menghasilkan tipe teori yang berbeda yaitu teori deskriptif, relasional, dan hasil eksperimen.</p>
<p>Secara umum urutan penerapan metode ilmiah meliputi enam langkah utama berikut:</p>
<ol>
<li>Rumuskan masalah; pada langkah ini mengungkap apa yang sesungguhnya ingin anda ketahui.</li>
<li>Himpun informasi; untuk menjawab sejumlah pertanyaan masalah anda perlu mengimpun informasi, data, atau fakta yang menjadi latar belakang pemikiran. Karena itu  pertanyaan masalah sesungguhnya muncul dari proses perluasan atau pendalaman pengetahuan yang telah anda miliki sebelumnya. Tanpa memiliki pengetahuan tentang sesuatu anda tidak dapat bertanya tentang sesuatu.</li>
<li>Rumuskan hipotesis; apa yang sesungguh Anda pikirkan sehingga ingin mengetahuinya dan apa yang ingin anda amati. Berdasarkan teori yang telah diketahui sebelumnya anda dapat menyusun kesimpulan sementara atau hipotesis. Selanjutnya hipotesis dapat diuji, dengan melakukan pengamatan, membangun sebuah model hubungan dan membuktikan melalui kegiatan percobaan atau observasi.</li>
</ol>
<p>Dalam pelaksanaan pekerjaan hipotesis kerja dapat anda tetapkan dalam masalah seperti dengan menggunakan pertanyaan: Bagaimana penggunaan metode ilmiah dapat meningkatkan hasil belajar siswa?</p>
<ol>
<li>Materi; tentukan materi yang akan siswa eksplorasi dalam kegiatan belajar dengan memilih satau satu dari tipe deskriptif, relasional, atau eksperimen.</li>
<li>Prosedur; susunlah langkah rinci yang akan siswa lakukan dalam melaksanakan penelitian.</li>
<li>Hasil; tentukan apa yang akan siswa pelajari pada pelaksanaan observasi. Data apa yang akan siswa himpun, diolahnya dan yang siswa tafsirkan.</li>
<li>Simpulkan hasilnya,  informasi yang anda peroleh dari hasil observasi gunakan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi masalah sebelum anda melakukan percobaan atau penelitian. Apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis atau menjawab pertanyaan?</li>
</ol>
<p>Penilaian hasil belajar dapat dilihat dalam tiga dimensi. Keterampilan berpikir terepleksi pada aktivitas ; Mengamati,  Menanya, Mencoba, Mengolah, Menyaji , Menalar dan Mencipta. Level kecakapan berpikir terpetakan dalam model Taksonomi : mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Sedangkan dalam penguasaan teori meliputi faktual, konseptual, dan proseduran.  Pada pelakanaannya tidak semua aktivitas dinilai pada tiap pelaksanaan pembelajaran. Guru dapat memilih prioritas yang  berdasarkan peta Krathwohl seperti di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/diagram-krathwohl-2/" rel="attachment wp-att-14946"><img class="aligncenter  wp-image-14946" title="Diagram Krathwohl 2" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Diagram-Krathwohl-2-300x198.jpg" alt="" width="400" height="298" /></a></p>
<p>Pelaksanaan kegiatan belajar, misalnya, dalam dua jam pelajaran dibatasi pada kegiatan kelompok dalam penguasaan fakta, konsep, dan mencipta pada ranah kognitif level tinggi yaitu analisis, evaluasi, dan berkreasi pada materi pelajaran yang telah guru tentukan.</p>
<p><strong>Model Penerapan Pendekatan Kuntitatif dan Kualitatif </strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Penerapan metode ilmiah dalam pembelajaran dapat memilih menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan adalah  pendekatan yang ilmiah dan sistematis mengembangkan dan menggunakan <a title="Model matematis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Model_matematis&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000;">model-model matematis</span></a>, <a title="Teori" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teori"><span style="color: #000000;">teori-teori</span></a> dan/atau <a title="Hipotesis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis"><span style="color: #000000;">hipotesis</span></a> yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses <a title="Pengukuran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengukuran"><span style="color: #000000;">pengukuran</span></a> menjadi ciri khas pada penelitian kuantitatif menggambarkan  hubungan yang fundamental antara <a title="Pengamatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan"><span style="color: #000000;">pengamatan</span></a> <a title="Empiris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Empiris"><span style="color: #000000;">empiris</span></a> dan ekspresi matematis pada hubungan-hubungan yang dinyatakan dalam bentuk angka (Wikipedia)</span></p>
<p>Contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka dalam menghadapi masa depan  sejak  setahun yang lalu hingga hari ini.</p>
<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Pendekatan  kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).</span></p>
<p>Model penerapan metode dapat dilihat dalam gambar berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/sosial/" rel="attachment wp-att-14940"><img class="aligncenter  wp-image-14940" title="sosial" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/sosial.bmp" alt="" width="400" height="400" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan bersiklus yang bermula dari indentifikasi masalah, membatasi masalah, menetapkan fokus kajian, menghimpun data, mengolah dan membahas data, mencocokkan dengan teori atau hipotesis, dan menyusun serta menyajikan laporan. Pada model ini dapat mengelola data tidak dengan menggunakan angka-angka.</p>
<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.  Peneliti pergi ke lokasi, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti meng­amati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubung­annya dengan peristiwa yang terjadi saat itu.  Peneliti mendatangi suatu lingkungan kemudian menggali informasi yang menjadi fokus yang telah ditentukan.</span></p>
<p>Data yang diperoleh seperti hasil peng­amatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya. Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai gejala yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif.</p>
<p>Hakikat pema­paran data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan me­ngapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan me­nguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan penjelasan  mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. <span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. </span></p>
<p>Prinsip-prinsip itulah yang seharusnya guru terapkan dalam proses pembelajaran sehingga dipastikan siswa tidak hanya aktif dalam kelas, namun mereka dapat mendatangi alam sekitar untuk melakukan kegiatan belajar di luas kelas.</p>
<p><strong><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Referensi: </span></strong></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Kemendiknas  208.  Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta</span></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Rawcett J and Downs F. 1986. </span><a style="font-size: 13px; line-height: 19px;" href="http://www.indiana.edu/%20~educy520/%20readings/fawcett86.pdf">http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf</a></li>
<li><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Sugiyono. 2005. </span><em style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Memahami Penelitian Kualitatif</em><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">. Bandung: Alfabeta.</span></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempertajam Fokus Program UN Satuan Pendidikan</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 15:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Supervisi]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14897</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah hiruk-pikuk agenda Ujian Nasional pada tahun ini sehubungan dengan penyelenggaraan yang unik dan pantastis. Unik karena penyelenggaraan ujian sekolah negara kita telah menjadi ritual pendidikan yang tiada taranya di dunia. Syarat nilai lulus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/ujian-nasional-3/" rel="attachment wp-att-14900"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14900" style="margin: 5px;" title="ujian nasional" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/ujian-nasional-150x92.jpg" alt="" width="150" height="92" /></a>Di tengah hiruk-pikuk agenda Ujian Nasional pada tahun ini sehubungan dengan penyelenggaraan yang unik dan pantastis. Unik karena penyelenggaraan ujian sekolah negara kita telah menjadi ritual pendidikan yang tiada taranya di dunia. Syarat nilai lulus UN 5,5 yang dipadukan dengan nilai yang patastis. Penyelenggaraannya tidak kalah pantastis karena soalnya dicetak dalam 30 jenis soal.<span id="more-14897"></span></p>
<p>Yang terlibat dalam penyelenggaraan tidak hanya guru, tetapi melibatkan polisi. Pemendahan soal dikawal senjata dan menggunakan mobil tentara. Penyimpanan soal dikunci  dalam ruang dengan kunci rangkap. Sampul soal dilak dan diberi kode khusus. Yang lebih pantastis lagi perpindahan soal juga menggunakan jasa pesawat terbang. Tapi&#8230;.masih terlambat tiba di sekolah. Ini baru ujian yang paling unik di dunia, karena di televisi disiarkan pula siswa yang saling menyontek jawaban di tengah pembiaran para pengawas ruangan.</p>
<p>Dari sisi substansi penyelenggaraan evalusi terdapat hal penting yang terlupakan karena semua pihak silau dengan masalah besar. Yang saya maksud adalah sekolah kurang fokus untuk memperhatikan penyelenggaraan UN yang merujuk pada Permendiknas No. 20 tahun 2007 tentang penilaian pendidikan.</p>
<p>Sebagai program seharusnya sekolah menyiapkan tujuan dengan dilengkapi indikator pencapian yang terukur,  rencana yang dapat diaplikasikan, melaksanakan kegiatan secara terkontrol, bahkan kegiatan evaluasi yang mengukur yang seharusnya diukur. Hasil pemantauan pengawas menunjukkan sekolah kurang fokus dalam memperhatikan prinsip penyelenggaraan yang sistematis. Salah satu kelemahan yang mencolok  yaitu kejelasan tujuan pelaksanaan dan alat ukur keberhasilan.</p>
<p><span style="font-family: TimesNewRoman, serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;">Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan penilaian oleh pemerintah dilakukan melalui UN dengan langkah-langkah yang diatur dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Merujuk pada Permendiknas Nomor 20 tahun tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan dapat dirumuskan tujuan UN sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terselenggara UN sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS) UN.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terukurnya kompetensi peserta didik dalam beberapa mata pelajaran sebagai dasar penilaian ketercapaian standar nasional pendidikan.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terhimpunnya data hasil UN sebagai<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>dasar penilaian ketercapaian program satuan pendidikan.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terhimpunnya data hasil UN sebagai dasar untuk memetakan mutu satuan pendidikan.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Terhimpunnya data hasil UN sebagai penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan sesuai dengan kriteria kelulusan.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Tujuan tersebut selanjutnya dapat diurai dalam sejumlah indikator dan target yang sekolah tetapkan berdasarkan kondisi yang paling mungkin satuan pendidikan capai seperti pada contoh berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif';">Indikator pencapaian tujuan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif';">Tujuan ke-1; penyelenggaraan:</span></strong></p>
<ol>
<li><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menetapkan program pembinaan kompetensi siswa secara berkelanjutan dengan program intensif selama siswa berada di kelas akhir.</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola buku data buku induk yang lengkap sebagai sumber informasi pendukung UN</span></li>
<li><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Merencanakan penyelenggaran UN yang mencakup:</span></li>
</ol>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">1)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan rumusan tujuan</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">2)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>indikator dengan target pencapaian tujuan yang terukur.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">3)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>strategi sukses penyelenggaraan UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">4)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan jadwal penyelenggaran</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">5)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan panitia pelaksana dalam bentuk surat keputusan.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">6)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menentukan pangawas ruangan sesuai POS.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">7)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Melengkapi data peserta UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;"> <img src='http://gurupembaharu.com/home/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> <span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menyiapkan nilai hasil ujian sekolah</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">9)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">          </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengirim nilai sekolah ke penyelenggara UN tingkat kabupaten/kota</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">10)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola naskah soal</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">11)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memastikan lembar jawab memenuhi kriteria pada POS UN.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">12)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menghimpun data kehadiran siswa, panitia, pengawas ruang, dan kepala sekolah</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">13)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola pelaksanaan sesuai dengan tata tertib UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">14)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Merumuskan tata tertib panitia, pengawas ruangan, dan peserta UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">15)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memantau pengawas ruangan bekerja sesuai tata tertib pengawas</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">16)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola nilai peserta</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">17)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola Belangko STTB</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">18)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mengelola arsip </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">19)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menyusun himpun ijazah peserta dari satuan pendidikan satu tingkat sebelumnya</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">20)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Melengkapi administrasi penyelenggaran </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">21)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Melaksanakan evaluasi keberhasilan UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">22)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Menyusun laporan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif';"> Indikator Tujuan Ke-2; Hasil UN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Sekolah menetapan target dan realisasi pencapaian pada tiap mata pelajaran UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">23)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Peserta mencapai nilai tertinggi 10</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">24)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Peserta IPA mencapai rata-rata nilai &#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">25)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Peserta IPS mencapai rata-rata nilai &#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">26)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Nilai terendah&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';"><strong> Indikator Tujuan Ke-3,4,5; menggunakan hasil UN untuk</strong><br />
</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">27)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">memetakan data kinerja sekolah dalam pemenuhan program satuan pendidikan</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">28)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">memetakan data posisi kinerja sekolah pada tingkat kabupaten kota berdasarkan hasil UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">29)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memetakan  data posisi kinerja sekolah pada tingkat provinsi berdasarkan hasil UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">30)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Memetakan data posisi kinerja sekolah pada tingkat nasional berdasarkan hasil UN</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">31)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mencapai kelulusan 100%</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">32)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mencapai posisi siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi sebanyak&#8230;&#8230;<br />
</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; text-indent: -1.0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><span style="mso-list: Ignore;">33)<span style="font: 7.0pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Mencapai target pencapaian siswa yang terserap dunia kerja&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';">Sejumlah indikator seperti pada model di atas selanjutnya dapat sekolah gunakan untuk melakukan evaluasi. Instumen evaluasi penyelenggaraan yang mudah diterapkan seperti pada model berikut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3106" title=" downloaded 52 times" >Instrumen evaluasi pelaksanaan UN (52)</a></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;">Tulisan ini merupakan hasil refleksi supervisi oleh pengawas yang dapat sekolah gunakan untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan UN tahun 2013.</p>
<p><span style="font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-fareast-font-family: 'Arial Unicode MS';"> </span>Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/kurang-fokus-program-un-tingkat-satuan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Langkah Metode Jigsaw</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2013 11:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14855</guid>
		<description><![CDATA[Data hasil pelaksanaan supervisi pelaksanaan pembelajaran pada beberapa sekolah SMA menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil guru yang berpengalaman menerapkan metode jigsaw  secara mandiri. Sebagian besar guru memiliki pengetahuan yang cukup tentang metode ini, namun belum mencoba ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/integras-konsep/" rel="attachment wp-att-14856"><img class="alignleft  wp-image-14856" style="margin: 5px;" title="Integras Konsep" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Integras-Konsep.jpg" alt="" width="130" height="130" /></a>Data hasil pelaksanaan supervisi pelaksanaan pembelajaran pada beberapa sekolah SMA menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil guru yang berpengalaman menerapkan <strong><em>metode jigsaw  </em></strong>secara mandiri. Sebagian besar guru memiliki pengetahuan yang cukup tentang metode ini, namun belum mencoba untuk menerapkannya karena belum yakin terampil melaksanakan pembelajaran dengan metode tersebut.<span id="more-14855"></span><span style="font-size: 13px;">Menyikapi kondisi seperti itu,  dipandang perlu untuk menyusun panduang praktis menerapkan metode ini terutama untuk meningkatkan inisiatif siswa mengembangkan pengetahuannya secara mandiri serta mengintegrasikan pemahaman berberapa konsep melalui kegiatan pada satu waktu yang dieksplorasi oleh siswa secara mandiri. Prosedur penerapannya melalaui delapan tahap berikut.</span></p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Langkah Pertama</strong></p>
<p>Guru merencanakan pembelajaran yang akan menghubungkan beberapa konsep dalam satu rentang waktu secara bersamaan. Misalnya, pada mata pelajaran IPA di SMP, siswa akan memperlajari <strong><em>energi dalam kehidupan</em></strong>. Konsep yang akan siswa pelajari: (1) bentuk energi, (2) sumber energi, dan (3) transformasi energi. Tentu saja perlu menyiapkan RPP dengan menerapkan metode Jigsaw.</p>
<p><strong> </strong><strong style="font-size: 13px;">Langkah Kedua:</strong></p>
<p>Siapkan handout materi pelajaran untuk masing-masing konsep sehingga guru memiliki tiga jelas handouts tentang (1) bentuk energi, (2) sumber energi, dan (3) transformasi energi.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/handouts/" rel="attachment wp-att-14857"><img class="aligncenter  wp-image-14857" title="Handouts" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Handouts.bmp" alt="" width="300" height="100" /></a></p>
<p><strong>Langkah Ketiga</strong></p>
<p>Guru menyiapkan kuis sebanyak tiga jenis sesuai materi yang akan siswa pelajari.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/quiz/" rel="attachment wp-att-14858"><img class="aligncenter  wp-image-14858" title="quiz" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/quiz.bmp" alt="" width="300" height="100" /></a></p>
<p><strong>Langkah Keempat:</strong></p>
<p>Bagilah kelas dalam tiga kelompok. Guru menyampaikan pengantar diskusi kelompok dengan menjelaskan secara sangat singkat (1) topik yang akan dipelajari masing-masing kelompok, (2) tujuan dan indikator belajar yang diharapkan (3) bentuk tagihan tiap kelompok (4) prosedur kegiatan (5) sumber belajar yang dapat siswa gunakan. Diskusi dimulai, siswa aktif mempelajari materi, guru menjadi pemantau dan fasilitator.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Masing-masing kelompok bersiap untuk mempelajari tiga konsep yang telah ditentukan. Tiap kelompok terbagi dalam sub kelompok masing-masing mempelajari satu hand out. Pada saat diskusi setiap sub kelompok mendalami satu konsep dan sub kelompok lain berhak bertanya kepada sub kelompok lain untuk memahaminya.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Kelompok ini dalam bahasa Inggris disebut </span><em style="font-size: 13px;">home groups</em><span style="font-size: 13px;">, istilah itu dapat diterjemahkan secara  bebas dengan menggunakan istilah </span><strong style="font-size: 13px;">kelompok <em>belajar (KB)</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/kb/" rel="attachment wp-att-14859"><img class="aligncenter  wp-image-14859" title="KB" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/KB.bmp" alt="" width="400" height="150" /></a></p>
<p>Pada bagian akhir sesi ini setiap kelompok mendalami satu konsep agar dapat menyampaikan materi kepada sub kelompok lain. Setelah memenuhi target waktu dan berdasarkan pemantauan guru siswa telah cukup memahami materi maka diskusi ditutup sementara.</p>
<p><strong>Langkah Kelima: <em></em></strong></p>
<p>Setiap sub kelompok mendalami materi pada hand out yang menjadi pegangannya. Mendalami fakta, konsep dan prosedur penerapan konsep agar ilmu yang mereka pelajari dapat mereka sampaikan kembali kepada teman-temannya. Pada fase ini  tidak ada interaksi antar sub kelompok. Kegiatan refleksi ini merupakan proses <span style="font-size: 13px;">peningkatan penguasaan materi untuk menghadapi babak diskusi tim ahli.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/new-picture-1-14/" rel="attachment wp-att-14860"><img class="aligncenter  wp-image-14860" title="New Picture (1)" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/New-Picture-1.bmp" alt="" width="400" height="200" /></a></p>
<p><strong>Langkah Keenam</strong></p>
<p>Setiap subkelompok yang ahli mengenai konsep ke-1 bergabung dengan ahli konsep ke-1 dari  kelompok lain. Begitu juga dengan subkelompok ke-2 dan ke-3 sehingga membentuk struktur kelompok ahli.</p>
<p>Pada langkah ini siswa kembali berdiskusi. Tiap kelompok membahas satu hand out materi yang menjadi bidang keahliannya. Di sini terdapat masa kritis yang perlu guru pantau pada tiap kelompok, memastikan bahwa konsep yang siswa kembangkan sesuai dengan yang seharusnya atau tidak mengandung kekeliruan.</p>
<p><strong>Langkah Ketujuh</strong></p>
<p>Selesai mendalami materi melalui diskusi kelompok ahli, siswa kembali ke kelompo awal atau kelompok belajar. Hasil dari diskusi pada kelompok ahli dibahas kembali dalam kelompok awal. Pada tahap akhir kegiatan belajar setiap sub kelompok menyampaikan hasil diskusi pada kelompok ahli. Dengan cara ini seluruh siswa mengulang telaah seluruh materi yang harus dikuasainya. Setiap anggota kelompok memiliki catatan hasil diskusi pada tahap satu, tahap dua diskusi tim ahli dan kembali ke kelompok semula.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/kb-2/" rel="attachment wp-att-14861"><img class="aligncenter  wp-image-14861" title="KB" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/KB1.bmp" alt="" width="400" height="150" /></a></p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Langkah kedelapan</strong></p>
<p>Guru mengukur hasil belajar siswa dengan tes atau kuis. Guru dapat menilai tingkat ketuntasan belajar dengan cara membandingkan hasil yang siswa capai dengan target yang ditetapkan dalam RPP.</p>
<p>Semoga bermanfaat untuk para pengawas dan guru untuk menunjang pelaksanaan tugas yang lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/delapan-langkah-metode-jigsaw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Pembelajaran</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/14881/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/14881/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Apr 2013 22:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepala Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14881</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan yang sekarang sering mengemukan tentang peran kepempimpinan pembelajaran menunjukkan adanya perubahan  paradigma tetang pentingnya tindakan kepala sekolah dalam mengerahkan keuatannya sebagai personal kunci di sekolah. Pembahasan ini menggeser perhatian terhadap manajemen berbasis sekolah. Kajian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/14881/migration/" rel="attachment wp-att-14882"><img class="alignleft  wp-image-14882" style="margin: 5px;" title="migration" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/migration.jpg" alt="" width="200" height="140" /></a>Pembahasan yang sekarang sering mengemukan tentang peran kepempimpinan pembelajaran menunjukkan adanya perubahan  paradigma tetang pentingnya tindakan kepala sekolah dalam mengerahkan keuatannya sebagai personal kunci di sekolah. Pembahasan ini menggeser perhatian terhadap manajemen berbasis sekolah. Kajian ini memandu kepala sekolah dalam  memadukan dan meningkatkan kekuatan dengan melibatkan dan menggerakan warga sekolahnya untuk mencapai tujuan.<span id="more-14881"></span><span style="font-size: 13px;">Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran berbeda dengan peranny sebagai administrator atau manajer. Telaah kepemimpinan pembelajaran lebih fokus pada pengkajian tindakan atau pendelegasian wewenang  yang kepala sekolah lakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas belajar siswa. Masalah utama kepemimpinan adalah bagaimana kepala sekolah bertindak sehingga berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran?</span></p>
<p>Dalam realitasanya, kepemimpinan pembelajaran lebih dari sekedar  keterampilan mempengaruhi orang-orang,  namun mencakup proses moral. Sergiovanni (1996) menyatakan kepemimpinan pembelajaran mencakup  moral atau kode etik yang dipahami dan diterima warga sekolah yang dibangun berdasarkan tujuan, nilai-nilai dan keyakinan.</p>
<p>Potensi kepala sekolah diukur dengan kemampuan mengintegrasikan seluruh kekuatan  organisasi secara formal, juga mepersatukan  emosi atau psikologi warganya sehingga terbangun kolegialitas yang kuat, semangat bekerja sama dan menggerakan orang-orang agar saling bergantung dan saling menghargai satu sama lain.</p>
<p>Dalam memberdayakan pengaruhnya pemimpin pembelajaran, seperti halnya pemimpin organisasi yang lain, dibedakan dalam dua tipe yaitu tipe pemimpin &#8220;transaksional&#8221; dan &#8220;transformasional&#8221;.</p>
<p>Tipe kepemimpinan transaksional bersikap responsif. Mereka mengemban tugas berasakan kultur lembaga, memotivasi bawahan dengan memberikan  penghargaan dan hukuman. Kepemimpinan berlandaskan asumsi (1) bawahan tidak memotivasi dirinya (2) motivasi bawahan meningkat jika digerakan dengan penghargaan dan hukuman (3) bawahan harus mematuhi perintah atasan. Tiga asumsi ini melahirkan pikiran lanjutan bahwa bawahan harus dipantau bahkan dikendalikan. Dengan dasar itu, maka  pemimpin harus mengembangkan daya inisiatif dan interaktifnya agar bawahan bergerak untuk mewujudkan tujuan organisasi.</p>
<p>Kepemimpinan tipe transaksional sesuai untuk mewujudkan tujuan jangka pendek, maupun dalam pemenuhan standar dan prosedur. Pemimpin tidak memerlukan banyak daya inisiatif dan kreativitas bawahan karena target dan prosedur kerja telah ditetapkan dengan ketat.</p>
<p>Kepemimpinan transformasional berperan sebaliknya, pemimpin dengan bawahan berinteraksi dan berintegrasi. Kesadaran bersamanya meningkatkan motivasi dan keuatan moral  yang mempersatukan kekuatannya. Dalam peran kepemimpinan transformasional,  pimpinan dan bawahan memiliki motif bersama berlandaskan nilai-nilai dan tujuan yang dikuatkan dengan pengakuan bahwa pemimpinnya “benar”. Pemimpin dan bawahan menjadi dua pihak yang saling membutuhkan. (James MacGregor Burns : 1979.p36)</p>
<p>Pemimpin transformasional bersikap proaktif, meningkatkan budaya organisasi melalui kreasi ide-ide baru,  memotivasi bawahan  untuk mencapai tujuan yang lebih bernilai dengan motivasi yang dilandasi moral dan idelisme yang tinggi pula. Semangatnya tidak hanya didasari atas kepentingan diri sendiri malainkan karena mereka bergerak atas kepentingan bersama.</p>
<p>Peran utama kepemimpinan pembelajaran adalah mengembangkan proses pengintegrasian kekuatan pendidik, meningkatkan kompetensi pendidik, mengembangkan kurikulum, dan melaksanakan penelitian tindakan untuk melakukan perbaikan proses (Glickman, 1985).</p>
<p>Menurut Andrew J. Rotherham dan Daniel Willingham, dikaitkan dengan kepentingan pendidikan abad ke-21, kepala sekolah hendaknya memperhatikan tiga komponen kegiatan utama, yaitu mengembangkan kurikulum terbaik, meningkatkan kompetensi pendidik, dan mengembangkan sistem penilaian terbaik.</p>
<p>Berdasarkan kajian di atas dapat dinyatakan secara singkat bahwa pimpinan pembelajaran memiliki peran penting dalam (1) menentukan arah pengembangan sekolah (2) menyelaraskan jalinan hubungan kerja untuk meningkatkan semangat kebersamaan  3) menggerakan seluruh kekuatan sekolah untuk meningkatkan kompetensi pendidik untuk menujang efektivitas pembelajaran (4) meningkatkan motivasi seluruh warga sekolah untuk mewujudkan keunggulan. Keempat pilar kegiatan kepemimpinanya adalah untuk menunjang efektivitas pembelajaran.</p>
<p>Hubungan antara pokok kegiatan dapat digambarkan pada diagram peran kepemimpinan pembelajaran berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/14881/pimpinan/" rel="attachment wp-att-14884"><img class="aligncenter  wp-image-14884" title="Pimpinan" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Pimpinan.bmp" alt="" width="500" height="350" /></a></p>
<p>Peran utama kepemimpinan pembelajaran yang pertama menentukan arah pengembangan sekolah. Dalam hal ini sekolah hendaknya menetapkan visi-misi, tujuan, dan indikator pencapaian agar memudahkan seluruh pemangku kepentingan mengukur ketercapaian tujuan. Untuk mencapai visi-misi sekolah mengembangkan sejumlah rencana dan pengaturan pembelajaran  atau kurikulum. Dalam menentukan arah pengembangan, kepala sekolah hendaknya dapat mengembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan pengemban yang tetapkan dalam kebijakan sekolah. Kebutuhan untuk menentukan arah pengembangan sekolah adalah kemampuan kepala sekolah menentukan keputusan berbasis data.</p>
<p>Peran utama kedua adalah menyeleraskan hubungan kerja semua pemangku kepentingan sehingga tumbuh suasana pisikologis, interaksi sosial, dan interaksi akademik yang kondusif. Turunan dari kegiatan ini ialah membangun komunikasi yang sering dan mendalam, mengembangkan kerja sama, meningkatkan koordinasi dan siskronisasi pekerjaan secara terprogram.</p>
<p>Peran ketiga adalah menggunakan pengaruhnya  untuk meningkatkan kompetensi pendidik. Peningkatan kopetensi yang paling penting adalah kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran sehingga tujuan penerapan kurikulum terwujud. Yang diperlukan dalam hal ini adalah pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah sehingga dapat menjadi model yang didukung pembiasaan belajarnya. Peran terutama untuk menunjang pengembangan kompetensi adalah kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi dengan mengerahkan sumber daya dirinya maupun tim.</p>
<p>Peran keempat adalah membangun motivasi warga sekolah agar mengerahkan kekuatan dari dalam diri tiap individu sehingga menjadi kekuatan internal sekolah untuk mewjudkan tujuan yang lebih bernilai. Dengan kekuatan yang tumbuh dari dalam akan mendorong tumbuhnya daya insiatif yang tumbuh berkelanjutan. Namun demikian, peningkatan motivasi dapat didorong dengan memanfaatkan rangsangan dari luar. Target mensejajarkan keunggulan dengan lembaga pesaing yang sejenis,  mengembangkan daya kompetisi dengan sekolah lain bahkan berusaha mengunggulinya dapat menjadi strategi dalam mengobarkan semangat dan daya juang tim dalam  peningkatan mutu.</p>
<p>Sejumlah tindakan praktis dalam meningkatkan pengaruh dalam menggerakan warga sekolah kepala sekolah perlu melakukan tindakan praktis seperti contoh berikut:</p>
<ul>
<li>Berdialog dengan guru, siswa, atau tenaga kependidikan lain dalam interaksi personal dalam aktivitas sehari-hari.</li>
<li>menjadi pendengar yang baik dalam pertemuan formal maupun nonformal,</li>
<li>berbagi pengalaman dengan guru atau siswa; bertindaklah menjadi kepala sekolah yang dominan, namun tidak mendominasi.</li>
<li>menggunakan contoh yang terkait langsung dengan pelaksanaan tugas sehari-hari</li>
<li>memberikan peluang untuk memilih atau menyediakan beberapa alternatif sehingga mendorong tumbuhnya inisiatif.</li>
<li>menyikapi dengan arif kebijakan terdahulu</li>
<li>mendorong pendidik berani mengambil resiko</li>
<li>menyediakan sumber belajar untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan ;</li>
</ul>
<p>Indiktor utama keberhasilan kepala sekolah adalah dalam memantau atau melaksanakan supervisi. Berkaitan dengan itu,  menurut Joseph Blase and Jo Blase (1999), kepala sekolah perlu merealisasikan strategi berikut:</p>
<ul>
<li>Memberikan saran;</li>
<li>Memberikan umpan balik terhadap aktivitas pendidik;</li>
<li>Mengembangkan model;</li>
<li>Menggunakan hasil riset,</li>
<li>Meminta pendapat;</li>
<li>Memberikan pujian atau penghargaan.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Dari telaahan pada akhirnya dapat kita peroleh kesimpulan bahwa  tugas kepala sekolah dalam perannya sebagai pemimpin pembelajaran adalah mengembangkan tindakan yang muncul dari daya inisiatif dan interaktif dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah membangun kekuatan moral yang terintegrasi dengan nilai-nilai, tujuan, dan keyakinan bersama dalam merencanakan, melaksanakan, mensupervisi, dan mengevaluasi program dalam bentuk tindakan yang terukur.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Referensi: </strong></p>
<p>Anderson, D. &amp; Anderson, LA 2001. <em>Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders</em>. San Francisco: Jossey-Bass.</p>
<p>Bradford, D.L. and Burke, W.W. 2005. <em>Reinventing Organization Development. New Approaches to Change in Organizations</em> San Francisco, CA: Pfeiffer.</p>
<p>MacGregor Burns, James. 1978. <em>Leadership</em>, Harper &amp; Row, London.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Glickman, C.D., Gordon, S.P. and Ross-Gordon, J.M. 1995. </span><em style="font-size: 13px;">Supervision of Instruction: A Developmental Approach</em><span style="font-size: 13px;">, 3rd ed., Allyn and Bacon, Boston, MA.</span></p>
<p>Gordon Mitchell. 1999. <em>Change Management: Best Practice in Whole School Development</em>, Danida, Denmark.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Kooter, John P. 1990. </span><em style="font-size: 13px;">A Force For Change: How Leaders Differs From Management.</em><span style="font-size: 13px;"> The Free Press. New York.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Sergiovanni, T.J. 1996. </span><em style="font-size: 13px;">Moral Leadership</em><span style="font-size: 13px;">, Jossey-Bass, San Francisco, CA</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/14881/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Perubahan Mengantisipasi Pelaksanaan Kurikulum 2013</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 08:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepala Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14794</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan serius bagi kepala sekolah di Indonesia dalam menghadapi rencana pelaksanaan kurikulum 2013 adalah menguasai keterampilan menerapkan manajemen perubahan. Menurut kajian manajemen  stratejik (Wheelen, Thomas L , Hunger David. 1995) implementasi perubahan dapat dilakukan  melalui empat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/keterampilan-berpikir/" rel="attachment wp-att-14802"><img class="alignleft  wp-image-14802" style="margin: 5px;" title="Keterampilan Berpikir" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/Keterampilan-Berpikir.png" alt="" width="150" height="150" /></a>Tantangan serius bagi kepala sekolah di Indonesia dalam menghadapi rencana pelaksanaan kurikulum 2013 adalah menguasai keterampilan menerapkan manajemen perubahan. Menurut kajian manajemen  stratejik (Wheelen, Thomas L , Hunger David. 1995) implementasi perubahan dapat dilakukan  melalui empat tahap.<span id="more-14794"></span><strong style="font-size: 13px;">Pertama</strong><span style="font-size: 13px;"> menganalisis lingkungan atau  konteks perbuhan. Berdasarkan hasil analisis konteks  kepala sekolah menentukan kebutuhan pengembangan kompetensi  siswa agar yang sekolah rencanakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata pada saat ini maupun pada masa depan.</span></p>
<p><strong>Kedua</strong>, merumuskan strategi  yang meliputi penentuan visi-misi, tujuan, indikator, dan cara untuk mecapai tujuan.  Pada tahap ini  perencana perlu memahami apa yang akan dikerjakan, apa tujuannya dan indikator keberhasilan apa yang ditetapkannya. Masalah utama di sini adalah dengan cara bagaimana mewujudkan target? Di sini berlaku kaidah, kepala sekolah yang memilih cara lama akan mendapatkan hasil yang sama pula dengan yang pernah dicapai.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, menentukan program dan anggaran, serta melaksanakannya. Pada tahap ini kepala sekolah memastikan bahwa rencana kegiatan yang terpilih ditulis dalam dokumen program dan direalisasikan dalam kegiatan nyata. Yang kepala sekolah lakukan sesuai dengan skenario yang tertuang dalam program. <strong>Keempat</strong>, menjamin bahwa pelaksanaan program memenuhi target proses dan hasil yang telah ditentukan. Kepastian ini dibuktikan dengan mengolah data supervisi dan evaluasi. Karena itu, pelaksanaan supervisi merupakan bagian terpenting setelah rencana ditetapkan dan pelaksanaannya berproses.</p>
<p>Perubahan pada dasarnya untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Di sini berurusan dengan perbaikan mutu. Berkaitan dengan perbaikan mutu  dijelaskan  Prof. Deming sebagai proses yang tidak pernah berhenti. Konesenya terkenal dengan  PDCA (Plan, Do, Check, dan Act), yaitu renanakan, laksanakan, pantau, dan lakukan perbaikan.  PDCA digambarkan dalam lingkar siklus  berikut:</p>
<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/pdca/" rel="attachment wp-att-14805"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14805" title="PDCA" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/PDCA-139x150.jpg" alt="" width="139" height="150" /></a></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pengelolaan kurikulum 2013, selain memerlukan rencana stratejik juga merupakan sistem pembaharuan mutu. Operasional teknisnya perlu  menetapkan program dalam empat langkah strategis, yaitu (1) merencanakan kegiatan  (2) melaksanakan kegiatan (3) melakukan telaah atau mengecek apakah proses kegiatan sesuai prosedur dalam rencana, (4) melakukan perbaikan proses. Langkah perencanaan selayaknya berangkat dari data pelaksanaan kurikulum sebelumnya. </span></p>
<p>Dalam menghimpun data sebagai dasar pijakan program kepala sekolah dapat mengeksplorasi informasi dengan lima pertanyaan berikut:</p>
<ol>
<li><strong>Apa yang kepala sekolah rencanakan dalam meningkatkan mutu pelayanan belajar pada pelaksanaan KTSP?</strong></li>
<li><strong>Apa yang sesungguhnya kepala sekolah lakukan? Sesuai dengan rencanakah atau belum sesuai?</strong></li>
<li><strong>Apakah kepala sekolah berhasil atau belum berhasil mencapai target program?</strong></li>
<li><strong>Mengapa berhasil atau belum berhasil?</strong></li>
<li><strong>Tindak lanjut apa yang sebaiknya kepala sekolah rencanakan melalui pelaksanaan kurikulum 2013?</strong></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 13px;">Dari beberapa kali melaksanakan pelatihan kepala sekolah diperoleh informaasi sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px;">Para kepala sekolah, perserta pelatihan, menyatakan bahwa kandungan pada program jangka menengah dan program tahunan sekolah belum mecakup semua kegiatan strategis kepala sekolah. Para kepala sekolah menyatakan bahwa banyak hal yang kepala sekolah lakukan belum tertuang dalam program. Sebaliknya, beberapa komponen kegiatan belum tentu kepala sekolah realisasikan. Diakui banyak kepala sekolah bahwa program sekolah hanya untuk pemenuhan syarat formal administrasi.</span></li>
<li>Program yang direncanakan dan dapat direalisasikan sering tidak disertai dengan instrumen penilaian pencapaiannya. Banyak peserta menyatakan bahwa program berhasil jika telah dilaksanakan. Sementara analisis dampak melalui pelaksanaan pemantauan atau supervisi belum efektif dilaksanakan.</li>
<li>Para peserta menyatakan bahwa belum banyak program, seperti pengembangan kurikulum; peningkatan kompetensi pendidik dalam merencanan kurikulum, mengembangkan skenario penggunaan metode pembelajaran, menerapkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran, dan penilaian; pemantauan pelaksanaan tugas guru melalui kegiatan supervisi belum mencapai target yang kepala sekolah harapkan.</li>
<li>Ketika informasi tentang bukti berhasil atau belum berhasil para peserta menyatakan bahwa data tentang hal itu tidak terekam dengan cermat. Namun demikian, secara empirik merekan menyatakan bahwa target belum terwujud karena kepala sekolah belum terampil menerapkan konsep pelaksanaan tugas seperti yang seharusnya.</li>
<li> Karena tiga hal di atas, maka para peserta pelatihan  kepala sekolah menyatakan belum puas dengan kinerja sekolahnya dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa. Para kepala sekolah menyadari bahwa hingga saat ini belum berusaha optimal menjadi kepala sekolah yang baik.</li>
</ul>
<p>Dengan adanya perubahan kurikulum berkembang pemikiran baru tentang kepentingan sekolah untuk beradaptasi terhadap berbagai bidang perubahan berikut:</p>
<p><strong>Pertama: Perubahan Standar Kompetensi Lulusan</strong></p>
<p>Standar Kompetensi Lulusan (SKL) terstruktur dalam empat komponen, yaitu (1) <span style="font-size: 13px;">SKL (2) </span><span style="font-size: 13px;">Kompetensi Inti (KI) (3) </span><span style="font-size: 13px;">Kompetensi Dasar (4) </span><span style="font-size: 13px;">Indikator Pencapaian Kompetensi</span></p>
<p>Struktur KI meliputi (1) <span style="font-size: 13px;">KI 1, Sikap keagamaan (2) </span><span style="font-size: 13px;">KI 2,  Sosial kepribadian dan ahlak (3) </span><span style="font-size: 13px;">KI 3,   Pengetahuan (4) K</span><span style="font-size: 13px;">I 4,  Penerapan Pengetahuan. Dalam implementasinya KI 1, dan 2 tidak perlu diajarkan secara verbal tetapi guru gunakan untuk pedoman pengembangan ahlak dan karakter. KI 1, dan 2 mengarahkan guru dalam mengelola pembelajaran yang  mementingkan pembentukan ahlak dan karakter melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pengetahuan  dikembangkan penguasaan  fakta, konsep, prosedur, metakognitif. Konsep ini mengacu pada buah pikiran Krathwohl (2000). </span><span style="font-size: 13px;">Dilihat dari level kematangan berpikir, maka tingkat penguasaan terori dipetakan sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li>SD: menguasai fakta dan konsep</li>
<li>SMP: menguasasi fakta, konsep, dan prosedur.</li>
<li>SMA/SMK: menguasai fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif.</li>
</ul>
<p><strong style="font-size: 13px;">Perubahan Standar Isi</strong><span style="font-size: 13px;">:</span></p>
<p>Kuriulum baru dikembangkan secara holistik yang terintegasi pada lingkunan maupun kebutuhan hidup siswa. Penyajian materi pembelajaran menggunakan pendekatan tematik integratif pada semua jenjang kelas SD. Pada SMP terdapat perubahan khas IPA menjadi IPA terpadu dan IPS terpadu. Secara umum penyajian materi menggunakan pendekatan sainstifik dengan menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir.</p>
<p>Pengembangan kompetensi menyeimbangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang diwujudkan dalam aktivitas belajar yang dapat diobservasi dalam sejumlah aktivitas berikut:</p>
<ul>
<li><strong>sikap</strong>  meliputi indikator operasional: menerima, mejalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.</li>
<li><strong>keterampilan meliputi indikator operasional </strong>: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.</li>
<li><strong>pengetahuan yang meliputi indikator operasional m</strong>engetahui, memahami, menerapkan, menganalisis,  dan mengevaluasi.</li>
</ul>
<p>Jumlah mata pelajaran dikurangi, tetapi jam belajar untuk setiap mata pelajaran maupun keseluruhan ditambah. Jumlah mata  pelajaran di SD menjadi 6 MP dan untuk   SMP  menjadi 10 MP. Jam belajar di SD untuk kelas I, II, III masing masing 30, 32, dan 34 jam, dan untuk kelas IV,V dan VI adalah 36 Jam Pelajaran</p>
<p>Pembelajaran kontekstual dan terpadu mengandung makna bahwa materi yang siswa pelajari terintegrasi dengan pengalaman keseharian siswa. Proses ini menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya. Masalah dikembangkan dari fenomena terkini sehingga masalah yang siswa hadap adalah hal baru dan bisa jadi belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Dengan cara itu mereka mendapatkan pengalaman belajar mengenai masalah nyata dalam hidupnya. Berdasarkan pengalaman itu, siswa mengintegrasikan pengetahuan yang mereka terima di sekolah dengan tantangan hidupnya yang nyata pada lingkungannya.</p>
<p>Ditekankan pula bahwa dii SMP, SMA, SMK menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran pada semua pelajaran. Informasi ini menyiratkan bahwa seluruh laboratorium komputer di sekolah  akan berubah fungsi dari tempat praktik menjadi media belajar. Perubahan ini mengubah komputer sebagai mata pelajaran menjadi media pembelajaran.</p>
<p><strong>Ketiga Elemen Perubahan Proses Pembelajaran</strong></p>
<p>Pembelajaran berpusat pada siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa aktif berinteraksi, beragumen, berdebat, dan berkolaborasi.  Guru menjadi fasilitator. Guru berusaha membuat kelas semenarik mungkin dengan menggunakan pendekatan tematik-integratif di SD, pendekatan sains, dan kontekstual yang terencana pada jenjang berikutnya.</p>
<p>Proses pembelajaran berpusar sekitar tema sehingga memenbentuk jejaring pemikiran yang terintegrasi. Pikiran siswa dikembangkan secara terpadu dengan dukungan berbagai sumber; dari siapa saja, dari mana saja, dari internet, dari perpustakaan sekolah, dari hasil praktik di luar kelas, dari praktik di dalam kelas, dari pengalaman teman-teman, dari pengalaman orang-orang sukses.</p>
<p>Aktivitas siswa dipertajam dengan meningkatkan kemampuan bertanya dan mereka mencari sendiri jawabannya. Guru menggunakan contoh yang diperoleh dari analisis bacaan, kenyataan dan  yang  diangkat dari hasil  pengamatan maupun dan pengalaman belajar siswa.</p>
<p>Aktivitas dikembangkan dalam kerja sama tim. Guru mengembangkan kapasitas belajar individu melalui kerja sama dalam kelompok. Belajar merupakan proses interaksi sosial dengan sesama siswa yang saling mengasah, saling membantu untuk meraih keberhasilan kelompok  dan keberhasilan individu.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Pembelajaran merangsang seluruh panca indra, komponen jasmani dan rohani terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Lebih dari itu guru memberdayakan perilaku khas dengan menggunakan kaidah keterikatan dengan menyederhanakan kurikulum, mengurangi mata pelajaran, dan menambah jam belajar.</span></p>
<p><strong style="font-size: 13px;">Keempat; Elemen Perubahan Penilaian</strong></p>
<p align="left">Penilaian menggunakan pendekatan otentik, menggunakan penilaian acuan patokan (PAP),  yaitu penilaian pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperoleh siswa terhadap skor ideal berbasis kompetensi, m<strong>emanfaatkan portofolio </strong>sebagai  gambaran perkembangan hasil belajar dalam pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk.</p>
<p><strong>Mengelola Perubahan</strong></p>
<p>Sekolah telah mendapat pelajaran dari pengalaman menerapkan KTSP yang terintegrasi dengan upaya pemenuhan standar. Otonomi sekolah yang besar dalam menentukan kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan siswa tidak kunjung terwujud. Paradigma pembelajaran masih terikat pada tradisi sebelumnya. Pembelaran yang seharusnya berpusat pada siswa tetap tidak kunjung bergeser dari pembelajaran berpusat pada guru. Semua gejala tersebut menunjukkan bahwa sekolah belum berhasil mengelola perubahan. Oleh karena itu, kepala sekolah kini tertantang untuk lebih memusatkan perhatian pada penerapan manajemen perubahan.</p>
<p><strong>Apakah manajemen perubahan? </strong></p>
<p>Dean Anderson dan Linda Anderson (2010) menyatakan bahwa mengelola perubahan merepresentasikan pengembangan keterampilan, metode, standar kinerja yang ada pada saat ini. Esensi perubahan adalah meningkatkan kesadaran yang disertai dengan aksi pada tataran praktis agar keadaan saat ini menjadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Fokus utama perubahan adalah memperbaiki keadaan sekarang serta menjamin adanya meningkatnya kinerja, perbaikan berkelajutan, dan  pemenuhan kepuasan (p.52).</p>
<p>Perubahan dapat dilakukan atas dua <span style="font-size: 13px;">asumsi utama. Pertama, orang-orang memiliki kemampuan untuk berubah. Kedua, mereka melakukan perubahan sehingga menjadi lebih baik karena memiliki argumen yang tepat, tersedia sumber daya, memiliki motivasi dan terlatih. (p.55). </span></p>
<p>Dari pernyataan tersebut kita memperoleh gambaran bahwa perubahan memerlukan argumen yang tepat, ketersediaan sumber daya , keterlatihan, dan motivasi yang kuat. Oleh karena itu kepala sekolah perlu memahami bahwa perubahan tidak hanya menyangkut masalah teknis, namun jauh menukik pada perubahan prilaku.</p>
<p>Prilaku kepala sekolah sendiri perlu berubah sehingga pada dirinya melekat sejulah karakter sebagaimana h<span style="font-size: 13px;">asil studi yang dipimpin Gordon Mitchell (1999) menyatakan bahwa keberhasilan menerapkan manajemen perubahan memerlukan dukungan karakteristik kepala sekolah yang memenuhi indikator berikut:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size: 13px;">Berprilaku konstruktif.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Berpikir positif tentang masa depan.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Membangun persepsi pemangku kepentingan; pendidik, orang tua, dan siswa sehingga meyakini kepemimpinan kepala sekolah.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Mengembangkan keterampilan interpersonal sebagai hal yang penting.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Memiliki kedekatan hubungan dan bersikap koperatif dengan pemerintah.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">Memiliki dan memainkan peran :</span></li>
</ol>
<ul>
<ul>
<li><span style="font-size: 13px;">sebagai pengendali yang memiliki integritas moral yang tinggi.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">sebagai manajer krisis.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">sebagai manajer multibudaya.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">menjadi manajer partisipatif.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px;">menjadi pelopor dalam mengembangkan berbagai alternatif. (p.1)</span></li>
</ul>
</ul>
<div>
<p>Hasil pemikiran Dean Anderson dan Linda Anderson menegaskan bahwa perubahan yang berhasil jika memenuhi lima kriteria, yaitu: (1) memiliki perencanaan baru (2) mengimplementasikan rancangan baru sebagai solusi (3) meraih target keberhasilan sesuai dengan yang diharapkan (4) mengubah budaya organisasi sehingga mendukung perbaikan proses secara berkelanjutan (5) kapasitas perubahan organisasi berproses tanpa menimbulkan guncangan dengan menghasilkan pencapaian yang terbaik (p. 22)</p>
<p>Berikut model langkah praktis yang dapat kepala skeolah lakukan untuk mengembangkan 8 langkah praktis mengembangkan manajemen perubahan.</p>
</div>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/new-picture-18/" rel="attachment wp-att-14830"><img class="aligncenter  wp-image-14830" title="New Picture" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2013/04/New-Picture.bmp" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Dengan menggunakan 8 langkah di atas, para kepala sekolah dapat mencoba menerapkannya dalam pelaksanaan kegiatan dengan mengisi lembar analisis seperti pada <strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3105" title=" downloaded 42 times" >Format Analisis Rencana Tindakan (42)</a> </strong>terlampir.</p>
<p><strong>Materi ini sebagai bahan pelatihan kepala sekolah Provinsi Jawa Barat di Bandung pada tanggal 2 April 2013.</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><span style="font-size: 13px;">Anderson, D. &amp; Anderson, LA 2001. </span><em style="font-size: 13px;">Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders</em><span style="font-size: 13px;">. San Francisco: Jossey-Bass.</span></p>
<p><span style="font-size: 13px;">David R. Krathwohl, 2000. A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview. http://rt3region7.ncdpi.wikispaces.net/file/view/8+Perspectives+on+RBT.pdf</span></p>
<p>Gordon Mitchell. 1999. <em>Change Management: Best Practice in Whole School Development</em>, Danida, Denmark.</p>
<p>http<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/PDCA">://en.wikipedia.org/wiki/PDCA</a>,</p>
<p>Thomas L , Hunger David, Strategic Management and Business Policy. 1995. Addison-Wesley Publishing Company. California.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/manajemen-perubahan-antipasi-penerapan-kurikulum-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
