<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guru Pembaharu</title>
	<atom:link href="http://gurupembaharu.com/home/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gurupembaharu.com/home</link>
	<description>Forum komunikasi, interaksi dan kolaborasi pendidik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 22:10:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kado dari Konferensi Kepala Sekolah ASEAN :  Merit dan Traffic Light</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/kado-konferensi-kepala-sekolah-dari-bali/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/kado-konferensi-kepala-sekolah-dari-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 13:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13714</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman sukses menerapkan Time Token Ekonomi, Sistem Merit, dan Pendekatan Lampu Lalulintas dari Brunei Darussalam. Ini terungkap dari rangkaian presentasi kepala sekolah negara-negara ASEAN hari kedua, tiap delegasi mendapat peluang untuk unjuk kebolehan dalam mengelola ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/kado-konferensi-kepala-sekolah-dari-bali/asean-5/" rel="attachment wp-att-13715"><img class="alignleft  wp-image-13715" style="margin: 5px;" title="Asean" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/05/Asean2-150x150.jpg" alt="" width="112" height="112" /></a>Pengalaman sukses menerapkan Time Token Ekonomi, Sistem Merit, dan Pendekatan Lampu Lalulintas dari Brunei Darussalam. Ini terungkap dari rangkaian presentasi kepala sekolah negara-negara ASEAN hari kedua, tiap delegasi mendapat peluang untuk unjuk kebolehan dalam mengelola sekolah.<span id="more-13714"></span></p>
<p>Delegasi dari Brunei Darussalam Hj Susilawati dan  Hjh Sarifah menyajikan best practice tentang bagaimana mengintegrasikan dua pendekatan untuk membangun karakter siswa yang kompetitif melalui penerapan sistem merit dan pendekatan lampu lalulintas.</p>
<p>Sistem merit disajikan oleh Hj Susilawati yang mengangkat pengalaman sukses di sekolahnya, Secondary School-sekolah menengah Mengkalait, yang telah sukses mengembangkan karakter  siswa melalui pemberian penghargaan yang dirancang secara bersistem dengan siklus tahunan.</p>
<p>Sementara Hj. Sarifah menyajikan pengalaman sukses melalui pendekatan lampu lalu lintas. Secara berkala di sekolahnya siswa dikelompokan dalam tiga kategori.  Kelompok hijau adalah siswa yang secara faktual mencapai hasil belajar yang melebihi harapan. Kelompok kuning adalah siswa yang mendapatkan hasil belajar memenuhi batas minimal atau standar, dan kelompok merah  meliputi sejumlah siswa yang mendapatkan hasil belajar kurang memuaskan alias belum memenuhi standar.</p>
<p>Penerapan keduanya memerlukan komitmen kepala sekolah dan guru secara berkelanjutan. Sekolah memantau perkembangan secara berkala. Dalam penerapan sistem merit sistem pemantauan focus pada perkembangan  prilaku siswa yang memenuhi target yang diharapkan. Setiap perkembangan positif diberi penghargaan. Setiap penghargaan terhadap siswa dicatat dan dihitung dalam setiap waktu tertentu.  Pada tiap bulan, penghargaan yang siswa peroleh dihitung. Siswa yang memperoleh penghargaan  yang melebihi target diberi medali emas, yang masuk dalam kelompok di bawahnya diberi medali perak, dan selanjunya perunggu, sampai yang belum memperoleh medali.</p>
<p>Agar peluang mendapatkan medali terbuka untuk seluruh siswa, maka criteria keberhasilan yang diberikan variatif. Dimulai dari partisipasi siswa dalam bentuk kehadiran, berpakaian, kerja sama dengan teman, disiplin, sampai pada kegiatan akademik –nonakademik menjadi bahan pengamatan guru. Dengan cara ini setiap siswa mendapat pelung untuk memenuhi prilaku yang berpeluang mendapatkan penghargaan. Secara empiric menurut  Hj Susilawati, teknik ini telah meningkatkan semangat siswa memperbaiki prilakunya berbagai aspek kehidupan sehingga dapat membentuk pribadi yang baik.</p>
<p>Sistem merit yang biasanya diterapkan dalam sistem pembinaan pegawai  suatu lembaga, ia buktikan efektif untuk mengembangkan pribadi siswa. Model ini sebenarnya dapat diintegrasikan dengan metode yang populer di Amerika, yaitu time token ekonomi. Dalam pendekatan time token ekonomi, penghargaan diberikan kepada siswa tidak sekedar  sertifikat, namun dapat diberikan dalam bentuk hadiah yang memiliki nilai ekonomi. Misalnya, setelah sekolah  menentukan siswa yang mengumpulkan penghargaan terbanyak , ia mendapatkan bea siswa.</p>
<p>Dalam periode tertentu siswa mendapatkan hadiah dalam bentuk buku, alat tulis, seragam, atau bentuk penghargaan lain yang bernilai.</p>
<p>Sistem merit, menurut pengalaman H. Susilawati telah meningkatkan nilai kepedulian, kerja sama, tanggung jawab, perhatian, bahkan dukungan  di antara pelajar sehingga semangat itu dapat ia manfaatkan untuk mendorong prestasi dalam bidang akademik dan nonakademik.</p>
<p>Menurut catatannya sistem merit telah meningkatkan pencapaian hasil belajar dalam banyak bidang dan sekaligus berdampak pada menguatnya nilai-nilai yang sekolah dambakan. Stragegi  penerapan merit telah  meningkatkan semangat siswa untuk medapatkan penghargaan yang terukur, semua siswa berpeluang untuk mendapatkan penghargaan atas setiap prilaku yang sekolah harapkan. Menurut pengalamannya, setiap siswa terbaik dapat meraih penghargaan hingga 450 jenis. Mereka yang mendapatkan yang terbanyak  mendapat predikat “anugrah pelajar terbaik”</p>
<p><strong> </strong>Hjh Sarifah Binti Hj Matsawali kepala sekolah dari Rimba Secondary School mengungkap pengalaman sukses yang berbeda dalam menerapkan sistem lampu lalu lintas.</p>
<p>Pengkategorian siswa hijau,kuning, dan merah berdasarkan pelung mereka untuk memperoleh keberhasilan dalam ujian akhir telah membangkinkan karakter siswa yang pembelajar. Kelompok katergori hijau mendapat perlakuan belajar untuk mendapatkan keunggulan tertinggi yang paling mungkin mereka raih, kelompok kuning mendapatkan perlakuan belajar untuk meningkatkan pencapaiannya, dan kelompok merah mendapat peringatan untuk belajar lebih bersungguh-sungguh..</p>
<p>Beda perlakuan telah meningkatkan kesadaran siswa untuk mendapatkan hasil terbaik dalam ujian. Oleh karena itu  beda perlakuan tidak dipersepsikan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan sebagai pemecahan dari masalah kebutuhan belajar yang berbeda.</p>
<p>Menurut pengalamannya, program ini dapat dijalankan dengan baik jika melalui empat langkah utama, yaitu:</p>
<ul>
<li>Sosialisasi</li>
<li>Implementasi</li>
<li>Analsis, reviuew, dan perbaikan berkelanjutan</li>
<li>Penghargaan atas prestasi yang dicapai.</li>
</ul>
<p>Dalam implementasi menurut pengalaman Syarifah memerlukan langkah yang berhati-hati, artinya memerlukan data yang akurat tentang  (1) profil prestasi belajar siswa ( 2) target yang proporsional untuk tiap kelompok (3) bentuk intervensi belajar yang sesuai dengan kebutuhan tiap kelompok.</p>
<ul>
<li>Profiling students</li>
<li>Target setting</li>
<li>Intervention</li>
</ul>
<p>Dalam intervensi pembelajaran, menurut pengalamannya perlu memperhatikan:</p>
<ul>
<li>Klasifikasi siswa yang dikategorikan kelompok hijau, kuning, dan merah.</li>
<li>Refleksi diri siswa dan meningkatkan kebutuhan pelayanan belajar,</li>
<li>Penentuan target setiap individu pada setiap mata pelajaran</li>
<li>Menetapkan target bersama dalam tiap kelompok dengan focus orientasi pada pencapaian mutu hasil belajar.</li>
<li>Mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran ekstra dari tiap kelompok untuk mencapai target tertinggi.</li>
</ul>
<p>Menutup prsentasinya yang  menarik, menurutnya, semua itu dapat berhasil jika semua warga sekolah konsisten dalam memperjuangkan targetnya. Yang lebih utama, kepala sekolah harus menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran yang tangguh.</p>
<p>Tentu kita tidak bisa menyatakan bahwa mungki hal itu dapat mereka lakukan karena jumlah siswa pada sekolah mereka terbatas. Ternyata tidak, menurut keterangan mereka, pada tiap sekolah yang mereka kelola, tidak kurang dari 1200 siswa. Jadi, betapa banyak data yang mereka olah. Semua bisa lebih mudah karena mereka menggunakan teknologi.</p>
<p>Penulis : Rahmat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/kado-konferensi-kepala-sekolah-dari-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konferensi Internasional Kepala Sekolah ASEAN di Bali</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/seaspf-international-conference-ketiga-terselenggara-di-bali/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/seaspf-international-conference-ketiga-terselenggara-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 23:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13692</guid>
		<description><![CDATA[Konferensi tentang best practice pembinaan kepemimpinan kepala sekolah sebagai ajang pertemuan Forum Kepala Sekolah ASEAN (SEASPF) Ke-3 dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan pada tanggul 14 Mei hari Senin di Aston, Denpasar Bali.
Konferensi mengambil tema “ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/seaspf-international-conference-ketiga-terselenggara-di-bali/asean-3/" rel="attachment wp-att-13694"><img class="alignleft  wp-image-13694" style="margin: 6px;" title="Asean" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/05/Asean1.jpg" alt="" width="113" height="114" /></a>Konferensi tentang best practice pembinaan kepemimpinan kepala sekolah sebagai ajang pertemuan Forum Kepala Sekolah ASEAN (SEASPF) Ke-3 dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan pada tanggul 14 Mei hari Senin di Aston, Denpasar Bali.<span id="more-13692"></span></p>
<p>Konferensi mengambil tema “ The roles of the school principal on the implementation of Character Based Education in Facing 21’Century Challenges; ideas and Innovvations”. Hadir dalam kegiatan ini  para kepala sekolah dari 11 negara Asean serta perwakilan kepala sekolah dari Korea Selatan.</p>
<p>Diawali dengan para siswa SMAN 4 Denpasar dengan menampilkan tari Prabha Sastra yang melukiskan  pengabdian, kegigihan , dan dedikasi  siswa untuk meraih kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial. Tarian yang mengekpresikan sifat Dewi Saraswati sebagai simbul ilmu pengetahuan, music, dan science, ditarikan 9 orang sebagai symbol penjaga 9 penjuru arah angin memukau seluruh peserta konferensi.</p>
<p>Dalam pidato laporan ketua panitia M Mohammad Hatta, Ph.D, Kepala Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud menyatakan kebahagiannya atas partisiapasi delegasi 11 perwakilan Negara.  Harapannya semua kegiatan dapat berjalan lancer dan kegiatan ini akan  terus dapat dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya untuk mempererat kerja sama pengembangan kepala sekolah ASEAN. Harapan selanjutnya hasil konferensi akan bermanfaat dalam menunjang perbaikan mutu pendidikan.</p>
<p>I Ana Agung Sujaya, Kepala Dinas Pendidikan dan Pemuda Bali yang mewakili Gubernur Bali menyambut baik kegiatan dan menyatakan bahwa ada tantangan geografis dan ekonomi masih banyaknya siswa yang sulit bersekolah. Penyediaan bea siswa pemerintah sediakan. Untuk peningkatan mutu juga sedang bergiat menuhi kualifikasi pendidikan para guru terutama untuk meningkatkan relevansi pembelajaran dengan kebutuhan peningkatan keterampilan siswa agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.</p>
<p>Dalam sambutan pembukaan Wakil Menteri Pendidikan Prof. Dr. Musliar Kasim menyatakan bahwa agenda ini merupakan kegiatan penting dalam membangun kerja sama kepala sekolah dalam membangun pendidikan yang  dapat membangun kecerdasan dan karakter yang terpuji. Pendidikan karakter yang tidak hanya menekankan pembelajaran, namun juga memberikan contoh melalui pembinaan yang terencana.</p>
<p>Pembinaan siswa di sekolah begitu penting, demikian tegasnya, karena sebagian besar waktu para siswa dihabiskan dalam kelas. Karena itu kita harus mengisi kegiatan mereka dengan aktivitas yang baik. Konsep yang baik dalam konteks kerja sama ASEAN adalah mendorong pendidikan yang lebih efektif dalam mengembangkan keterampilan yang siswa perlukan dalam kehidupan di abad 21 seperti yang dinyatakan Tony Wagner.</p>
<p>Keterampilan yang siswa perlukan adalah keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, mengembangkan jejaring berkolaborasi dan keterampilan memimpin yang berpengaruh, supel dan memiliki daya adaptasi, menulis dan bicara  efektif dalam berkomunikasi, mengakses dan menganalisis informasi, memiliki rasan ingin tahu dan keterampilan berimajinasi.</p>
<p>Di sela kegiatan ditampilkan pula paduan suara dari para siswa SMAN 4 yang menyuguhkan Mars ASEAN yang mukau dengan seruan untuk mengembangkan persatuan, kebersamaan, dan harmoni.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/seaspf-international-conference-ketiga-terselenggara-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penilaian Kinerja Kepala Sekolah</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/rancangan-disain-kebijakan-pembinaan-kepala-sekolah/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/rancangan-disain-kebijakan-pembinaan-kepala-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 23:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengelolaan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13630</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mengembangkan pilar mutu pendidik dan tenaga kependidikan, yaitu Uji Kompetensi, Penilaian Kinerja, dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.  Masalah utama kebijakan adalah   &#8220;Bagaimana meningkatkan mutu kepala sekolah melalui sistem ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/rancangan-disain-kebijakan-pembinaan-kepala-sekolah/workshop-3/" rel="attachment wp-att-13633"><img class="alignleft  wp-image-13633" style="margin: 6px;" title="workshop" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/05/workshop.jpg" alt="" width="165" height="125" /></a>Pada saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mengembangkan pilar mutu pendidik dan tenaga kependidikan, yaitu Uji Kompetensi, Penilaian Kinerja, dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.  Masalah utama kebijakan adalah   &#8220;Bagaimana meningkatkan mutu kepala sekolah melalui sistem rekrutmen dan pembinaan yang memenuhi standar agar  kompetensi dan kinerja profesional kepala sekolah memenuhi kebutuhan peningkatan mutu lulusan?&#8221;. Artinya,  kepala sekolah  mampu mewujudkan  keunggulan mutu lulusan sekolahnya. <span id="more-13630"></span></p>
<p>Kepala sekolah yang profesional mampu merumuskan mutu lulusan yang ideal untuk satuan pendidikan yang dipimpinnnya. Dan, keunggulan profesinya ditentukan dengan kesanggupan untuk mewujudkan cita-cita terbaik sekolahya.</p>
<p>Untuk itu, setiap kepala sekolah harus memiliki keterampilan untuk  mendeskripsikan indikator dan kriteria mutu lulusan yang dicita-citakannya sebagai landasan pengembangan visi, misi, tujuan, dan strategi untuk  mewujudkannya.</p>
<p>Terdapat lima kebutuhan utama peserta didik agar adaptif dalam kehidupan di Abad 21 adalah <strong>(1)  memiliki karakter</strong> yang mudah diarahkan dan dapat mengembangkan potensi diri  sehingga menjadi pribadi yang mandiri <strong>(2) menguasai materi pelajaran</strong>  yang ditandai dengan keterampilan dalam penguasaan data, fakta, informasi, konsep, prinsip, prosedur, dan merumuskan kesimpulan <strong>(3) memiliki keterampilan belajar</strong>, peserta didik terampil menerapkan pengetahuan  dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis, menerapkan ilmu pengetahuan dalam situasi baru, menganalisis informasi, menggagas ide baru, berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. <strong>(4) penggunaan teknologi</strong> sebagai perangkat belajar, terampil menggunakan teknologi infomasi dan komunikasi <strong>(4)  sesuai dengan konteks</strong>, peserta didik memperoleh pengalaman belajar  yang relevan kekbutuhan hidup di dunia yaitu, pada tingkat lokal, nasional, maupun global hingga kehidupan di akhirat <strong>(5) memperoleh penilaian dengan instrumen yang mengukur keterampilan pada abad ke-21</strong>, instrumen otentik yang menantang siswa dapat berinovasi.</p>
<p>Kepala sekolah pada abad 21 mendapat tantangan yang sangat kompleks dalam memfasilitasi guru, mengasah kemampuannya  dalam menguasai materi dan mengembangkan potensi  pserta didik  agar:</p>
<ul>
<li>Melek teknologi dan  informasi</li>
<li>Terampil berkolaborasi, kompromis, dan membangun kerja sama tim.</li>
<li>Terampil berkomunikasi yang didukung dengan keuatan daya baca, menulis, mengekspesikan pikiran melalui berbagai media untuk berbagai orang.</li>
<li>Kreatif dan inovatif,  terampil mengeksplorasi imajinasi, menemukan gagasan baru, serta memperbaharui ide pribadi secara berkelanjutan.</li>
<li>Terampil menggunakan ilmu pengetahuan dan informasi terbaru untuk memcahkan masalah.</li>
<li>Mendemostrasikan berwawasan global, smembangun kapasitas diri di luar kelas, menjadi pribadi yang berdisiplin, memiliki daya inisitif yang tinggi, serta bertanggung jawab terhadap pribadi kepentingan bangsa.</li>
</ul>
<p>Tantangan tersebut mengarahkan kepala sekolah agar dapat  mengembangkan kapasitas dirinya sebagai pemimpin pembelajaran. Keunggulannya ditandai dengan perannya dalam mengarahkan pendidik sehingga mampu menjadi dirigen pembelajaran yang memenuhi kebutuhan pengembangan siswa. Kepala sekolah dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam menggunakan pengetahuan tentang siswa, tentang materi pelajaran sebagai modal dalam persaingan hidup yang makin mengglobal.</p>
<p>Atas dasar pemikiran itu pula, maka seorang kepala sekolah yang profesional harus memenuhi syarat berikut;</p>
<ul>
<li> visioner sehingga mampu menyelaraskan pelaksanaan pembelajaran dengan kebutuhan hidup siswa dalam konteknya.</li>
<li>menguasai materi pelajaran yang diampunya dan menguasai prinsip umum materi pelajaran yang lainnya, dan membangun sistem penilaian yang menantang sehingga siswa lebih inovatif.</li>
<li>mengembangkan kapasitas dan kapabelitas guru dalam memfasilitasi siswa mengembangkan potensi dirinya secara optimal.</li>
<li>Kepala sekolah memerlukan kapasitas dan kapabelitas dalam mengintegrasikan sumber daya internal dan eksternal sekolah untuk mewujudkan keunggulan mutu lulusan secara terencana, mampu merealisasikan strategi, memantau efektivitas pelaksanaan, dan mengukur keberhasilan sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan mutu berkelanjutan.</li>
</ul>
<p>Berdasarkan sejumlah asumsi itu, dapat dinyatakan bahwa seorang kepala sekolah profesional harus menguasai kompetesi sebagai guru yang profesional. Oleh karena itu kepala sekolah harus teruji kompetensinya sebagai guru dan pada tugas tambahannya sebagai kepala sekolah. Jika seorang kepala sekolah tidak menguasi kompetensi sebagai guru, maka kelayakannya belum memenuhi standar sebagai kepala sekolah, namun bisa jadi memenuhi standar sebagai calon bupati atau walikota.</p>
<p>Sistem pembinaan kepala sekolah memerlukan indikator dan target pencapian tujuan pendidikan yang terukur sebagai dasar untuk menentukan kelayakan seorang kepala sekolah.  Seorang kepala sekolah yang profesional jika menurut hasil pengukuran telah memenuhi kapasitas dirinya dalam penguasaan ilmu  pengetahuan dan kinerja dalam melaksanakan tugasnya sehingga dapat mewujudkan tujuan pendidikan.</p>
<p>Untuk memenuhi kebutuhan pengukuran dan pembinaan, maka pada saat ini Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan sedang menyiapkan tiga pilar sistem pembinaan dan pengembangan kepala sekolah yaitu;</p>
<ul>
<li>Uji kompetensi  (UK) kepala sekolah</li>
<li>Penilaian kinerja (PK) kepala sekolah</li>
<li>Pengembangan keprofesian berkelanjutan</li>
</ul>
<p><strong>Uji kompetensi kepala sekolah</strong> merupakan bentuk pengujian untuk mengetahui kapasitas pengetahuan kepala sekolah, terutama  kompetensi pedagogis dan profesional sebagai guru, serta kompetensi manajerial dan supervisi  sebagai kepala sekolah. Asumsi yang mendasari pengujian ini ialah kepala sekolah yang profesional memiliki pengetahuan dan terampil menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam pelaksanaan tugas sebagai guru dan sebagai kepala sekolah yang berperan untuk membantu memecahkan masalah yang guru hadapi dalam pelaksanaan pembelajaran.</p>
<p>Penilaian kinerja merupakan  proses pengumpulan informasi, data, dan fakta otentik tentang kapasitas kepala sekolah dalam memenuhi standar pada tiap unsur pelaksanaan tugas dan fungsinya yang dinilai.  Penilaian kinerja fokus pada fungsi manajerial perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi; serta mengukur daya kepemimpinan pembelajaran, dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi.</p>
<p>Hasil penilaian uji komptensi maupun penilaian kinerja menjadi dasar untuk menentukan sistem pelayanan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Jika hasil pengujian kepala sekolah rendah dalam penguasaan kompetensi sebagai guru, maka pemerintah menyediakan diklat peningkatan pengetahuan pedagogis dan profesional. Jika hasil pengujian membuktikan bahwa kepala sekolah lemah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, maka pemerintah menyediakan diklat peningkatan kapasitasnya dalam bidang manajerial dan supervisi. Jika keduanya sudah memenuhi syarat, maka pemerintah menyediakan peluang untuk meningkatkan kapasitasnya melalui diklat lanjutan.</p>
<p>Hasil dari upaya pementaan mutu pada tiga pilar di atas berimplikasi terhadap sistem penghargaan bagi kepala sekolah baik dalam bentuk angka kredit maupun untuk melanjutkan karirnya sebagai kepala sekolah sehingga mendapat penghargaan untuk berperan sebagai kepala sekolah dalam beberapa periode.</p>
<p>Kepala sekolah yang belum memenuhi standar menurut hasil  UK dan PK belum berhak untuk mendapatkan kenaikan pangkat dan golongan yang pada akhirnya berpengaruh pada pemenuhan kriteria  boleh tidaknya melanjutkan karir sebagai kepala sekolah. Jika dalam periode tertentu seseorang tidak lulus UK, batas waktu saat ini direncanakan dalam dua tahun, maka sesorang dapat diberhentikan sebagai kepala sekolah.</p>
<p>Pertanyaan yang muncul di sini, mengapa batas itu dua tahun? Jawabannya tegas, negara tidak mungkin memberikan tugas kepada orang yang jelas menurut hasil pengukuran dan setelah mendapat pembinaan tetap tidak mampu memperbaiki kinerjanya.</p>
<p>Namun semua itu, pada akhirnya  masih memerlukan perangkat pendukung kebijakan, yaitu perturan yang kita harap  tidak lama lagi akan menyesuaikan.</p>
<p><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3043" title=" downloaded 71 times" >Materi Presentasi tentang Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (71)</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/rancangan-disain-kebijakan-pembinaan-kepala-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menguji Keterampilan Berpikir dengan Soal Objektif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/kecakapan-berpikir-kognitif-dalam-penyusunan-soal/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/kecakapan-berpikir-kognitif-dalam-penyusunan-soal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 12:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13564</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat mengembangkan soal-soal pilihan ganda  untuk menguji  kecakapan berpikir level tinggi dengan menggunakan model Taxonomi Bloom, kami menghadapi kesulitan dalam menentukan memenuhi atau tidak memenuhi kriteria berpikir  pada tiap level.  Kesulitan bertambah karena pengklasifikasian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13566" rel="attachment wp-att-13566"><img class="alignleft  wp-image-13566" style="margin: 5px;" title="Berpikir kreatif" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/05/Berpikir-kreatif1.jpg" alt="" width="219" height="165" /></a>Pada saat mengembangkan soal-soal pilihan ganda  untuk menguji  kecakapan berpikir level tinggi dengan menggunakan model Taxonomi Bloom, kami menghadapi kesulitan dalam menentukan memenuhi atau tidak memenuhi kriteria berpikir  pada tiap level.  Kesulitan bertambah karena pengklasifikasian level kecakapan berpikir menggunakan model revisi buah pikiran Lorin Andersen dengan menambah level  berkreasi.<span id="more-13564"></span></p>
<p>Kita pahami bahwa Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 sebagai Revisi Taksonomi Bloom. Perbedaan dari konsep sebelumnya adalah pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dilihat dari sisi jumlah tidak berubah dari sebelumnya. Namun, Lorin memasukan kategori baru yaitu creating  yang sebelumnya tidak ada <span style="color: #0000ff;">1)</span>.  Juga, pada konsep baru semua keterampilan dinyatakan dalam kata kerja yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganilis, mengevaluasi, dan berkreasi.</p>
<p><strong>Berkreasi</strong></p>
<p>Bagaimana tanda bahwa Anda telah berkreasi. Uraian pada <span style="color: #0000ff;">2)</span> , Anda termasuk dalam kelompok yang berkreasi jika telah mendapatkan hal-hal di bawah ini.</p>
<ul>
<li>Menemukan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya</li>
<li>Menemukan sesuatu yang ada di tempat lain yang belum anda sadari sebagai dasar pembaharuan.</li>
<li>Menciptakan sebuah proses baru untuk melakukan sesuatu</li>
<li>Mengulang kembali proses yang telah ada atau menghasilkan produk lama ke pasar yang baru atau berbeda</li>
<li>Mengembangkan cara baru dalam memandang sesuatu atau menyuntikan  ide baru ke dalam eksistensi tertentu.</li>
<li>Mengubah cara orang lain melihat sesuatu</li>
</ul>
<p>Untuk memperoleh gagasan seperti yang terurai di atas, menurut Stella Ottrell <span style="color: #0000ff;">3)</span> , perlu malukan lima langkah berpikir kreatif, yaitu:</p>
<ul>
<li>Tundalah keinginan untuk menlai ketika Anda mencari ide-ide</li>
<li>Galilah ide sebanyak mungkin</li>
<li>Bualah daftar ide yang telah Anda dapat dengan mencatatnya.</li>
<li>Lanjutkan dengan menguraikan ide atau memperbaiki ide-ide</li>
<li>Biarkan pikiran bawah sadar Anda untuk menghasilkan ide-ide dengan menginkubasinya atau menyimpan ide baru Anda dalam pengeraman yang memungkinkan ide terus tumbuh.</li>
</ul>
<p>Dari mana Anda peroleh ide-ide itu? Menurut Yodia Antariksa, ada empat pilar keterampilan berpikir kreatif, inovatif, seperti yang dinyatakannya dalam <span style="color: #0000ff;">4)</span> , yaitu:</p>
<p><strong>Elemen 1 : Associating. </strong>Keterampilan asosiasi adalah sejenis kemampuan untuk menghubungkan sejumlah perspektif dari beragam disiplin yang berbeda guna membangun satu gagasan baru yang bersifat kreatif.</p>
<p><strong>Elemen 2 : Questioning. </strong> “Kecerdasan seseorang tidak diukur dari seberapa bagus ia memberikan jawaban, namun dari ketrampilannya meracik pertanyaan”.</p>
<p>Contoh keterampilan yang dikembangkan: Pertanyaan mana yang paling sesuai dengan pernyataan di atas?</p>
<p><strong>Elemen 3 : Observing.</strong> Dari kemampuan untuk melakukan observasi inilah, sesungguhnya telah banyak ide kreatif dilahirkan.</p>
<p><strong>lemen 4 : Experimenting. </strong>Kita mengenal kisah indah dari Thomas Alva Edison puluhan tahun silam : ia telah melakukan eksperimen sebanyak dua ribu kali sebelum akhirnya menemukan bohlam.</p>
<p>Setiap penyusun soal perlu mempertimbangkan setiap penyataan pikiran dari tiga dimensi, yaitu</p>
<p>Pertama: langkah atau proses berpikir.</p>
<ul>
<li>Kedua:  kompleksitas materi</li>
<li>Ketiga : Kebenaran isi.</li>
<li>Berikut enam level berpikir dalam ranah kognitif. <strong></strong></li>
</ul>
<p><strong>Level 6: Berkreasi</strong></p>
<p><strong>Berkreasi artinya </strong>berimajinasi atau mencipatakan ide, bentuk, disain, metode,  menggunakan alat baru, pelayanan baru, atau mendapatkan hasil yang baru. Bisa juga menerapkan cara lama namun digunakan dalam lingkungan baru sehingga menghasilkan hal baru di tempat yang berbeda. Menerapkan ide lama dalam pekerjaan yang barbeda sehingga ada penyempurnaan gagasan sehingga tujuan, target menjadi berbeda daripada sebelumnya.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan singkat dapat diidentifikasi bahwa berkreasi dapat menggunakan kata kunci berikut:</p>
<ol>
<li>Memilih cara baru</li>
<li>Mengkombinasikan&#8230;.</li>
<li>Mengembangkan struktur baru&#8230;.</li>
<li>Mendisain peraga baru..</li>
<li>Mendisaian cara baru&#8230;</li>
<li>Mengintegrasikan cara baru dengan yang telah ada&#8230;..</li>
<li>Menemukan hal baru&#8230;..</li>
<li>Mengmoles dengan warna baru&#8230;.. pakaian yang berbeda&#8230;.</li>
<li>Mengorganisasikan ide lama dengan cara baru&#8230;.</li>
<li>Menggantikan tim lama dengan tim baru&#8230;.</li>
</ol>
<p><strong>Contoh pertanyaan:</strong></p>
<ol>
<li>Mengapa Anda perlu mengubah tujuan?</li>
<li>Mengapa Anda menetapkan target yang lebih tinggi?</li>
<li>Alternatif  pikiran manakah yang paling mungkin yang dapat Anda pilih?</li>
<li>Pikiran mana yang perlu Anda ubah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik?</li>
<li>Manakah cara yang paling Anda sukai?</li>
<li>Memilih cara baru&#8230;?,</li>
<li>Mengkombinasikan&#8230;.</li>
<li>Mengembangkan struktur baru&#8230;.?</li>
<li>Mendisain strategi baru..?</li>
<li>Mendisaian cara baru&#8230;?</li>
</ol>
<p><strong> Level 5: Evaluasi </strong></p>
<p>Keterampilan berpikir pada level ini merefleksikan kemampuan menyajikan atau mempertahankan pendapat berdasarkan penilaian atau pengukuran informasi, validitas ide, atau kualitas kerja berdasarkan  <strong><em>seperangkat</em></strong><strong><em> kriteria</em></strong>.  Mengevaluasi berarti mengukur atau menilai kekuatan, keunggulan, kelemahan; membandingkan dua atau beberapa hal sehingga diperoleh kesimpulan yang paling kuat, paling lemah, paling profektif dsb.</p>
<p><strong>Model pertanyaan:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Apakah Anda setuju dengan tindakan? Argumentasi mana yang paling sesuai dengan pikiran Anda?</li>
<li>Setelah membaca pernyataan di atas, opini mana yang paling Anda pertimbangkan paling sesuai . . . ?</li>
<li>Jika Anda tidak setuju dengan pernyataan di atas, Alasan mana yang paling sesuai dengan kriteria yang seharusnya Anda terapkan?</li>
<li>Tindakan mana yang paling sesuai dengan asas pengembangan&#8230;..?</li>
<li>Jika anda menyutujui itu, Mengapa Anda memilihnya?</li>
<li>Setelah Anda membaca pernyataan di atas, menurut Anda rekomdasi mana yang paling tepat &#8230;.?</li>
<li>Untuk mendapatkan kesimpulan argumentasi tersebut kuat atau lemah, teknik evaluasi mana yang Anda pilih?</li>
<li>Dari beberapan itu mana yang Anda priritaskan, mangapa?</li>
<li>Berdasarkan pengetahuan yang Anda kuasai tentang penilaian&#8230;..penjelasan mana yang argumentasinya paling kuat?</li>
<li>Perhakan kesimpulan, informasi mana yang paling menunjang  kesimpulan di atas?</li>
<li>Jika dua pernyataan itu dibandingkan, maka mana yang paling baik argumentasinya?</li>
</ol>
<p><strong>Level 4:  Analysis </strong></p>
<p>Pada level ini soal menguji kemampuan mengurai informasi ke dalam beberapa bagian, mengidentifikasi motif, dan penyebab; merumuskan kesimpulan, menyusun bukti-buktu  yang mendukung kesimpulan. Kemampuan sitesis adalah lebih menekankan pada kemampuan untuk mengintegrasikan informasi yang tersebar, menghimpun berbagai penemuan sehingga dapat dirangkai menjadi kesimpulan atau alternatif solusi.</p>
<p>Dalam  kecakapan berpikir analisis-sintesis menggunakan kata analisis, mengurai, membagi, menginspeksi, survey, membedakan, menyusun daftar, menggambarkan hubungan,  merumuskan kesimpulan,dsb.</p>
<p><strong>Contoh pertanyaan: </strong></p>
<ol>
<li>Bagian mana yang menurut Anda paling menentukan hasil&#8230;.?</li>
<li>Bagimana hubungannya sehingga hal itu berpengaruh&#8230;?</li>
<li>Mengapa anda pikir bahwa tema itu menjadi faktor utama&#8230;?</li>
<li>Motif utama ada pada pernyatan mana?</li>
<li>Perhatikan pernyataan di atas, mana yang masuk dalam kategori&#8230;?</li>
<li>Skema mana yang paling sesuai dengan pernyataan di atas?</li>
<li>Perhatikan tabel, bagian  mana yang paling penting untuk mendapat perhatian?</li>
<li>Bagaimana hubungan antara&#8230;&#8230;.dengan ,,,,,,?</li>
<li>Dapatkan Anda dapat membedakan antara&#8230;.dengan ,,,,?</li>
<li>Apakah antara&#8230;.dengan &#8230;..menunjkan fungsi yang berbeda?</li>
</ol>
<p><strong>Level 3: </strong></p>
<p><strong>Aplikasi –</strong> pada level ini soal menguji kemampuan memecahkan masalah melalui penerapan ilmu pengetahuan, teori, pnsip, prosedur dengan menggunakan fakta, data, informasi, dan berbagai teknik dalam berbagai kondisi yang berbeda.</p>
<p>Kata kunci yang dalam keterampilan ini meliputi; menerapkan, membangun, memilih, menyusun, mengembangkan, mengorganisasikan, mengaplikasikan, mencoba&#8230;., merencanakan untuk &#8230;., menyeleksi, memecahkan,,,, membuat model, dan mengidentifikasi berdasarkan&#8230;.</p>
<p><strong>Contoh pertanyaan;</strong></p>
<ol start="1">
<li>Contoh mana yang dapat Anda pilih&#8230;&#8230;dari sejumlah alternatif berikut ?</li>
<li>Bagaimana anda memecahkan masalah &#8230;&#8230;..dengan menggunakan pengetahuan yang telah Anda peroleh?</li>
<li>Bagaimana mengintegrasikan &#8230;&#8230;.agar lebih mudah dipahami?</li>
<li>Cara mana yang Anda gurnakan agar materi itu lebih mudah dipahami?</li>
<li>Bagaimana cara mengembangkan keterampilan &#8230;&#8230;.agar rencana lebih mudah diterapkan. ?</li>
<li>Apa hasilnya jika anda menerapkan&#8230;&#8230;&#8230; ?</li>
<li>Penggunaan teori mana yang menurut Anda paling efisien  . . . ?</li>
<li>Elemen apa yang akan anda tambahkan untuk mendapat hasil terbaik?</li>
<li>Penggunaan informasi yang mana yan gpaling sesuai  untuk menunjukkan bahwa tindakan itu perlu segera?</li>
<li>Pertanyaan seperti apa jika dalam interview . . . ?</li>
</ol>
<p><strong>Level 2:  Memahami </strong></p>
<p>Pada level ini soal menguji kecakapan berpikir sehingga seseorang dapat menjelaskan, membandingkan, membedakan, menterjemahkan, menafsirkan, mendeskripsikan, mengilustrasikan konsep atau ide.</p>
<p><strong>Contoh pertanyaan: </strong></p>
<ol>
<li>Yang mana pengelompokkan &#8230;&#8230; yang paling tepat?</li>
<li>Apa beda antara &#8230;.dengan &#8230;&#8230;?</li>
<li>Penafsiran yang paling sesuai dari data itu?</li>
<li>Apa ciri pembeda yang palinga kontras antara&#8230;.dengan ,,,,,?</li>
<li>Pernyatan yang paling sesuai dengan &#8230;. adalah&#8230;?</li>
<li>Apa masalah utama dalam pernyataan di atas?</li>
<li>Pernyataan mana yang paling mendukung pernyataan di atas?</li>
<li>Dapatkah anda menjelaskan apa yang sesungguhnya yang terjadi?</li>
<li>Dapatkan Anda pilih pernyatan mana sebenarnya yang sebaiknya Anda pilih?</li>
<li>Pertanyaan mana yang paling tepat untuk merumuskan masalah dalam pernyatan di atas &#8230;?</li>
<li>Bentuk ringkasan mana yang paling sesuai . . . ?</li>
</ol>
<p><strong>Level 1: Mengingat </strong></p>
<p>Pada level ini menguji kemampuan untuk menyatakan ulang materi yang dipelajari sebelumnya, mengingat kembali definisi, fakta, pernyataan, atau konsep dasar dengan mengandalkan daya ingat.</p>
<p>Contoh pertanyaan:</p>
<ol>
<li>Apakah &#8230;..?</li>
<li>Bagaimana prinsipnya</li>
<li>Berapa banyak syarat yang Anda ingat</li>
<li>Kapan itu dimulai&#8230;?</li>
</ol>
<p><strong>Berikut Contoh Soal C6</strong> untuk menguji kecakapan berpikir menentukan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya sehingga pekerjaan itu menjadi model pembaharuan yang akan dilakukannya.</p>
<p><em>Bapak X  memimpin sekolah di desa yang berjarak 7 kilometer dari ibu kota kecamatan. Tidak semua lulusan dari sekolahnya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian besar lulusan mencari nafkah di kota-kota besar. Karena itu, Bapak X selalu berusaha mengarahkan guru di sekolahnya agar mengajar dengan penuh keihlasan untuk membekali siswanya dengan pengetahuan  sama dengan murid di perkotaan. &#8220;Kita gunakan sumber belajar yang sama&#8221;, begitulah yang sering dia katakan.</em></p>
<p><em>Lain lagi dengan Ibu Y, ia menjadi kepala sekolah di pusat kota, berjarak 2 kilometer saja dari kantor gubernur. Di sekolahnya belajarlah anak-anak terpandai di kotanya. Harapan kepala sekolah dan guru-guru pada sekolah ini sangat tinggi. Dalam dua tahun terakhir mereka berjuang membantu siswanya agar dapat meraih juara matermatika dalam olimpiade tingkat nasional, namun prestasi yang sekolah dambakan belum dapat mereka  raih.</em></p>
<p><em>Strategi pembaharuan yang paling penting yang dapat Saudara rekomendasikan kepada kedua  kepala sekolah sesuai dengan prinsip pencapaian standar dalam mewujudkan cita-citanya  ialah&#8230;..</em></p>
<p><em>A.  menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang meliputi kegiatan pemenuhan delapan standar nasional pendidikan dengan berlandaskan pencapaian program pada tahun sebelumnya. </em></p>
<p><em>B. menentukan tujuan  RKAS dengan indikator target pencapaian yang terukur, meenggunakan instrumen pengukuran, dan mengolah data yang terhimpun untuk memastikan proses belajar dan hasil belajar memenuhi target.</em></p>
<p><em>C. mengembangkan visi-misi sekolah yang dirumuskan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan serta hasilnya disosialisasikan sehingga seluruh kegiatan pembaharuan yang sekolah laksanakan mengarah pada pencpaian visi-misi.</em></p>
<p><em>D. merencanakan dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa mengembangkan kompetensi dan potensi dirinya sehingga dapat beradaptasi dengan tantangan kehidupan yang nyata pada lingkungannya.</em></p>
<p>Analsis soal:</p>
<p>Pengetahuan yang perlu seorang kepala sekolah adalah menguasai cara memenuhi standar yaitu menetapkan target pada tiap indikator pencapaian tujuan  dan mengukur pencapaian target. Untuk mengukur pencapaian, kepala sekolah wajib memiliki instrumen dan menggunakan instrumen pengukuran. Daya analisis dua kasus yang sama-sama memiliki target yang berbeda menguji kecakapan berpikir untuk mengenali fakta, menganalisis kesamaan dan perbedaan, menarik kesimpulan, dan menerapkan konsep dalam pelaksanaan tugas. Kompleksitas berpikir yang ditunjukkan mendapat tantangan untuk memiliki jawaban yang paling sesuai dari kasus yang berbeda.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><a href="http://www.hilman.web.id/posting/kat/14/design.htm">1) http://www.hilman.web.id/posting/kat/14/design.htm</a><a href="http://www.%20brainstorming.co.uk/%20tutorials/creativethinking.html">2) http://www. brainstorming.co.uk/ tutorials/creativethinking.html</a>,<br />
3) <a href="http://www.palgrave.com/skills4study/studyskills/thinking/creative.asp">http://www.palgrave.com/skills4study/studyskills/thinking/creative.asp</a>4) <a href="http://strategimanajemen.net/2009/12/21/4-pilar-creative-thinking-skills">http://strategimanajemen.net/2009/12/21/4-pilar-creative-thinking-skills</a></p>
<div style="text-align: left;" align="center">
<hr align="center" size="3" width="100%" />
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/kecakapan-berpikir-kognitif-dalam-penyusunan-soal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet Indonesia Paling Lambat Se-Asia</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/internet-indonesia-paling-lambat-se-asia/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/internet-indonesia-paling-lambat-se-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 02:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13544</guid>
		<description><![CDATA[Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring (2/5/2012), seperti dipublikasikan Kompas 5 Mei 2012 yang mengutip berdasarkan data dari lembaga riset Alkamai, Amerika Serikat, kecepatan koneksi internet rata-rata di Indonesia sekitar 772 kbps. Kecepatan koneksi internet tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13545" rel="attachment wp-att-13545"><img class="wp-image-13545 alignleft" style="margin: 5px;" title="Tifatul Sembiring" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/05/Tifatul-Sembiring.jpg" alt="" width="170" height="127" /></a>Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring (2/5/2012), seperti dipublikasikan Kompas 5 Mei 2012 yang mengutip berdasarkan data dari lembaga riset Alkamai, Amerika Serikat, kecepatan koneksi internet rata-rata di Indonesia sekitar 772 kbps. Kecepatan koneksi internet tersebut masih jauh dari kecepatan internet  global yaitu 2,3 mbps<span id="more-13544"></span>Data itu membuktikan bahwa internet Indonesia paling lambat di Asia. Menurut menteri hal itu bukan urusan pemerintah, namun urusan operator karena merekalah yang berjualan.</p>
<p>Ketika masalah itu dikonfirmasi kepada salah satu perantara perdagangan perangkat teknologi informasi dari China, mengapa di Indoneseia internet paling lambat, tetapi paling mahal. Jawabannya karena opertor Indonesia ingin untung besar. Masalah lainnya kami, China membuat semuanya sedangkan Indonesia beli semuanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/internet-indonesia-paling-lambat-se-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompetensi Pengawas Lebih Rendah daripada Kompetensi Guru</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/kompetensi-pengawas-lebih-rendah-daripada-guru/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/kompetensi-pengawas-lebih-rendah-daripada-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 15:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Pengawas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13534</guid>
		<description><![CDATA[Kinerja pengawas sekolah belum memenuhi standar. Kepala Badan Pembinaan SDM Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud RI;  Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd; pada pembukaan kegiatan Sinkronisasi Koordinator Pengawas Sekolah tingkat kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia tanggal 3 Mei ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13537" rel="attachment wp-att-13537"><img class=" wp-image-13537 alignleft" style="margin: 5px;" title="thinking" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/05/thinking.jpg" alt="" width="119" height="110" /></a>Kinerja pengawas sekolah belum memenuhi standar. Kepala Badan Pembinaan SDM Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud RI;  Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd; pada pembukaan kegiatan Sinkronisasi Koordinator Pengawas Sekolah tingkat kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia tanggal 3 Mei 2012 menegaskan adanya permasalah itu. <span id="more-13534"></span></p>
<p>Masalah itu memang cukup memprihatinkan, namun lebih jauh Pak Syawal menyatakan tidak usah terlalu dirisaukan. Nilai kompetensi yang rendah membuktikan bahwa kita memerlukan sistem pembinaan  pengawas melalui kegiatan pelatihan dan pengujian yang terencana dan tersistem. Ke depan pengawas  harus teruji dan terlatih yang penanganannya dalam sistem.</p>
<p>Hasil uji kompetensi (UK) yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2012, kompetensi pengawas paling rendah dibandingkan guru-guru yang mereka awasi. Rata-rata nilai ujian para pengawas yang ikut dalam UKA 32,58, sedangkan rata-rata nasional 42,25. Rata-rata Guru TK 58,9; guru SD 36, guru SMP 46, dan guru SMA 51,35.</p>
<p>Uji UK pengawas merupakan alat ukur penguasaan ilmu pengetahuan pengawas sebagai dasar untuk melaksanakan tugasnya. Jika tingkat penguasaan pengetahuan yang mendasari pekerjaan rendah, maka tidak perlu  lagi dinilai kinerjanya karena sudah pasti rendah.  Yang diperlukan untuk mengatasi masalah itu tersebut adalah pelatihan untuk meningkatkan pengetahuannya.</p>
<p>Pada saat ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyiapkan  program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang intergratif dengan  peningkatan kinerja, dan pengembangan karir dalam upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dalam rangka menunjang peningkatan mutu pendidikan yang lebih kompetitif dalam persaingan mutu secara global.</p>
<p>Dalam kegiatan sinkronisasi pengawas sekolah terungkap bahwa salah satu penyebab rendahnya mutu pengawas adalah sistem rekrutmen. Idealnya, proses rekrutmen pengawas melalui tahap yang selektif dan melalui persiapan yang baik. Pada saat ini rekrutmen pengawas belum melalui proses pemilihan dan pelatihan sebagaimana mestinya.  Pengawas sekolah semestinya diangkat dari guru-guru dan kepala sekolah berkualitas, namun yang terjadi banyak pengawas yang diangkat karena dipengawaskan.</p>
<p>Menurut pernyataan sebagian Korwas, pengangkatan saat ini bukan karena pertimbangan kemampuan profesional, melainkan lebih karena politis. Pengawas menjadi tempat parkir kepala sekolah yang habis masa tugasnya dan guru-guru yang sudah bosan melaksanakan tugas mengajar.</p>
<p>Menurut Kepala Badan, peran pengawas sangat penting untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru. Tantangan besar bagi pengaws adalah menurut hasil pengukuran kompetensi pengawas lebih rendah yang dibinanya. Menanggapi malah tersebut koodinator pengawas sekolah menyampaikan harapannya agar sistem pembinaan pengawas sebagaimana yang sedang dikembangkan segera dapat diwujudkan.</p>
<p>Jumlah pengawas sekolah di Indonesia pada saat ini sekitar 23.000 orang. Setiap pengawas seharusnya bertugas paling sedikit mengawasi 10 sekolah dan/atau 60 guru di TK dan SD,</p>
<p>7 satuan pendidikan dan/atau 40 orang guru pada sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kerjuan. paling sedikit 5 satuan pendidikan dan/atau 40 guru pada SLB, atau 40 guru bimbingan konseling.</p>
<p>Sementara itu, di beberapa daerah jumlah pangawas terus membengkak sehingga ada kabupaten yang memiliki pengawas sama dengan jumlah sekolah yang dibina sehingga 1:1. Karena jumlah pengawas semakin meningkat, maka pelaksanaan tugas menggunakan model pelaksanaan kelompok kerja, atau beberapa sekolah dikeroyok beberapa pengawas.</p>
<p>Keberadaan pengawas sekolah juga sering dikeluhkan  karena dinilai kurang efektif dalam menjaring data otentik dari kinerja kepala sekolah dan guru. Validitas data yang dihimpun kurang sesuai dengan kondisi nyata sekolah. Kemampuan mengolah, menganalisis, menafsirkan, menyimpulkan, hingga merumuskan rekomendasi belum sesuai dengan kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran maupun manajerial sehingga belum menghasilkan laporan yang bernilai sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan pendidikan.</p>
<p>Pengembangan ide-ide kreatif atau inprovisasi dalam pengembangan urikulum terhabat pula dengan rendahnya apresiasi pemerintah daerah terhadap peran pengawas. Selain dipandang sebelah mata, pemerintah kurang peduli terhadap peningkatan mutu pengawas yang dapat berdaya sebagai pilar penjminan mutu pendidikan. Kondisi pengawas saat ini semakin dijauhkan dari pemenuhan standar kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan sekolah karena sistem pembinaan dan penghargaanya yang kurang proforsional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/kompetensi-pengawas-lebih-rendah-daripada-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengawas Belum Optimal Mengelola Informasi Hasil Supervisi</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pengawas-belum-berhasil-mengelola-informasi-laporan-pelaksanaan-tugas/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pengawas-belum-berhasil-mengelola-informasi-laporan-pelaksanaan-tugas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 22:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengawas]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13499</guid>
		<description><![CDATA[Dalam percakapan para pengawas sering terungkap bahwa apresiasi dinas pendidikan  terhadap pekerjaan pengawas tidak sebagaimana yang pengawas harapkan. Posisi pengawas dalam pengambilan kebijakan kurang dihargai. Sebaliknya tidak jarang pihak dinas pendidikan menyatakan bahwa peran pengawas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13510" rel="attachment wp-att-13510"><img class="alignleft  wp-image-13510" style="margin: 5px;" title="Informasi" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/04/Informasi.jpg" alt="" width="189" height="166" /></a>Dalam percakapan para pengawas sering terungkap bahwa apresiasi dinas pendidikan  terhadap pekerjaan pengawas tidak sebagaimana yang pengawas harapkan. Posisi pengawas dalam pengambilan kebijakan kurang dihargai. Sebaliknya tidak jarang pihak dinas pendidikan menyatakan bahwa peran pengawas kurang optimal. Dinas pendidikan kurang puas dengan unjuk kerja pengawas.<span id="more-13499"></span></p>
<p>Pengawas yang pernah menikmati tugas sebelum reformasi, memiliki sikap pikir yang berbeda. Sebagian menanggung beban psikologis yang tidak jarang mencuat dalam  gejala <em>post power sindrom, </em>  menganggap masala lalu lebih baik. Hal seperti ini cenderung membanding- bandingkan masa lalu dengan masa sekarang. Kondisi masa lalu pasti dalam pandangan mereka lebih baik.</p>
<p>Gejala &#8216;<em>excuse sindrom&#8217;</em> terjadai secara berbalasan. Kepala dinas kurang puas atas unjuk kerja sebagian pengawas dan pengawas juga kurang puas dengan penghargaan dinas pendidikan atas perannya. Kedua belah pihak mencari kelemahan di luar diri masing-masing seperti sindrom yang salah bukan saya.</p>
<p>Dengan menggunakan asumsi bahwa informasi menjadi sumber daya yang paling strategis dalam mengembangkan interaksi dalam organisasi, maka patut diduga bahwa permasalah yang paling esensial terletak dalam kegagalan pengawas dalam mengelola  informasi hasil pelaksanaan tugasnya.</p>
<p>Karena kelemahan itu, maka pengawas hingga saat ini belum berperan sebagai sumber informasi dinas pendidikan sebagaimana didambakan oleh para kepala dinas untuk bahan pengambilan keputusan. Kelamahan ini menjadi semakin berarti dalam menurunkan citra pengawas karena kita tahu bahwa pengawas merupakan salah satu pilar penjamin mutu pendidikan yang strategis yang mendapat tugas untuk memantau langsung proses pendidik berinteraksi dengan  di dalam kelas. Pengawaslah yang dapat mengamati setiap tindakan kepala sekolah melaksanakan tindakan manajerial sehari-hari di sekolah.</p>
<p>Oleh karena itu, pengawaslah yang paling tepat dalam mensuplai  informasi yang paling akurat  kepala dinas pendidikan mengenai:</p>
<ol start="1">
<li>Data kinerja kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya dalam  merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi program yang efektif</li>
<li>kinerja pendidik dalam merencanakan, melaksanakan, menilai, dan mengevaluasi pembelajaran</li>
<li>kinerja seluruh sekolah dalam pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan.</li>
</ol>
<p>Karena itu pula, sistem pengelolaan informasi hasil pengawasan harus menjadi perhatian utama pengawas. Kesungguhan dalam penyediaan informasi yang berkelanjutan akan berpengaruh juga pada kesehatan komunikasi organisasi antara dinas pendidikan dengan pengawas. Kesehatan komunikasi kita tahu bergantung pada  dua dimensi yaitu &#8220;<em>deeply dan frequent communication</em>&#8220;  mendalam dan sering.</p>
<p>Penyediaan informasi yang dalam, karena diperoleh langsung dari sumbernya yaitu kegiatan belajar dalam kelas, maka akan berdampak pengawas akan semakin mediperlukan. Bahkan kepala dinas secara logis akan membutuhkan pengawas sebagai penghimpun informasi bahan kebijakan dan sebagai pasukan terdepan dalam meningkatkan motivasi, kompetensi, dan kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lain pada setiap satuan pendidikan</p>
<p>Penyediaan informasi tentu tidak dapat diperankan oleh pengawas sendiri-sendiri, namun perlu ditangani secara kolektif. Di sini peran korwas menjadi sangat strategis, terutama dalam mengebangkan inisatif penentuan program, tujuan, target dan strategi. Di samping itu, korwas memiliki arti penting dalam mengolah data hasil pelaksanaan tugas, menyimpulkan, dan menyusun rekomendasi tingkat dinas pendidikan.</p>
<p>Perhatian kordinator pengawas selayaknya fokus pada pengolahan informasi yang berkenaan dengan hal di bawah ini.</p>
<ol start="1">
<li>Dokumen program pengawasan tingkat kabupaten kota.</li>
<li>Data  hasil supervisi  akademik yang pengawas himpun dari tiap satuan pendidikan.</li>
<li>Data  hasil suprvisi manajerial  yang mendeskripsikan kinerja kepala sekolah melaksanakan tugas pokoknya.</li>
<li>Data pelaksanaan pembinaan: menilai, membimbing, melatih, guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya untuk melihat kesesuaian antara sistem pengembangan sumber daya manusia pendidikan dengan kebutuhan pemenuhan kebutuhan belajar siswa.</li>
<li>Data  pemenuhan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) hasil EDS, dan Akreditasi yang mencerminkan data perkembangan sekolah secara berkelanjutan.</li>
<li>Proses analisis data pengawasan tingkat kabupaten/kota yang dilakukan pengawas melalui temu kerja di dinas pendidikan.</li>
<li>Data refleksi dan evaluasi  kekuatan dan kelemahan  kompetensi dan kinerja pendidik, tenaga kependidikan, dan sekolah dalam pemenuhan standar.</li>
<li>Evaluasi  keterlaksanaan dan ketercapaian target , laporan, dan tersusunnya  rekomendasi kebijakan.</li>
</ol>
<p>Jika penyediaan data itu dapat terpenuhi maka kesehatan komunikasi antara pengawas akan semakin meningkat dan pekerjaan pengawas menjadi  interaksi yang bersistem. Keuntungan dari model penyediaan informasi seperti ini akan berdampak pada penguatan tim dalam melaksanakan tugas karena setiap orang dikendalikan oleh sistem. Sementara pada saat ini pengawas bekarya dengan mengandalkan kapasitas dirinya, dengan sedikit bantuan sistem.</p>
<p>Untuk meningkatkan penjaminan mutu pelaksanaan tugas, maka model <em>Plan, do Check,  Act</em>  (rencanakan, kerjakan, pantau, dan tindaklanjuti) yang sangat terkenal dari Deming dapat diterapkan dengan model siklus pengelolaan informasi  yang <a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3031" title=" downloaded 12 times" >Siklus Pengelolaan Informasi (12)</a></p>
<p>Gambar dalam siklus memperlihatkan bahwa efektivitas pengelolaan informasi  hasil pelaksanaan tugas pengawas bergantung pada efektivitas pengelolaan pada tingkat koordinasi antar pengawas pada tingkat dinas pendidikan dan koodinasi pengelolaan informasi pada saat melaksanakan tugas di sekolah. Hasil pelaksanaan tugas pengawas dari tiap satuan pendidikan merupakan bahan mentah yang harus diolah pada tingkat musyawarah pengawas di dinas pendidikan sebagai proses peningkatan penjaminan mutu informasi.</p>
<p>Tanpa dukungan  penjaminan mutu pada dua siklus itu dan kegigihan untuk sukses mengelola informasi hasil pelaksanaan tugasnya, maka citra kurang efektifnya pengawas tidak akan berubah. Dan, ke depan kapasitas pengawas dalam mengelola data, informasi dan fakta serta dukungan penguasaan konsep sistem pengukuran akan semakin menentukan produktivitasnya.</p>
<p>Oleh karena itu, menjelang rapat koordinasi dan sinskronisasi pengawas tingkat nasional di Jakarta pada tahun 2012, sebaiknya lebih fokus pada membangun kolaborasi pengawas dalam menguasai dan mengelola informasi hasil pelaksanaan tugas supervisi. Jika tidak, maka standar yang akan didapat pengawas adalah bukan ISO tetapi RA-ISO.</p>
<p>Materi:</p>
<ul>
<li><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3036" title=" downloaded 72 times" >Materi tentang Laporan Pengawas (72)</a></li>
<li><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3037" title=" downloaded 55 times" >Model Format Pelaksanaan Supervisi (55)</a></li>
<li><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3038" title=" downloaded 52 times" >Model Format Laporan Kepengawasan (52)</a></li>
<li>Slide Pendukung<a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3039" title=" downloaded 108 times" >Slide Pendukung (108)</a></li>
</ul>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li>Manuel London, 2001. <em>Learderhip Development Paths to Self-Insight and Professional Growt,</em> Edwin A. Fleishman, ‘George Mason University Jeanette N. Cleveland, Pennsylvania State University Series Editor.</li>
<li>http://en.wikipedia.org/wiki/PDCA</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pengawas-belum-berhasil-mengelola-informasi-laporan-pelaksanaan-tugas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Perbaikan RKJM dan RKAS Berkelanjutan</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 16:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13449</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.
Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/guru-2/" rel="attachment wp-att-13450"><img class="alignleft  wp-image-13450" style="margin: 6px;" title="guru" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/04/guru.jpg" alt="" width="151" height="112" /></a>Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.<span id="more-13449"></span></p>
<p>Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada penguasaan ilmu dan keterampilan yang baik dalam merencanakan program sekolahnya sehingga dapat  meraih <strong>keunggulan</strong>. Dalam mewujudkan cita-cita kepala sekolah hendaknya menempuh empat langkah stategis; yaitu <strong>pertama</strong> menganalisis konteks eksternal dan internal; <strong>kedua </strong>merumuskan visi, misi, tujuan dan strategi, <strong>ketiga </strong>menerapkan strategi dalam pelaksanaan program, dan <strong>keempat</strong> memonitor dan mengevaluasi program (Thomas L. Wheelen and I David Hungger:1995).</p>
<p>Keempat langkah strategis itu, ujungnya adalah mewujudkan keunggulan mutu siswa atau lulusan. Lulusan  berkeunggulan adalah yang memiliki dapat menguasai materi pelajaran, terampil menerapakan ilmu yang diperolehnya,  menguasai cara belajar sehingga penguasaannya dapat siswa gurunakan dalam memecahkan masalah kehidupannya.</p>
<p>Pengembangan kapasitas sekolah untuk mewujudkan mutu lulusan merupakan proses yang tidak pernah berakhir selama sekolah berdiri dan proses pembelajaran berjalan. Oleh karena itu, peningkatan mutu merupakan proses yang bersiklus tanpa henti dari tahun ke tahun. Targetnya pun harus berubah karena segala sesuatuyang ada sekitar hidup siswa terus berubah.</p>
<p>Untuk menuntun kepala sekolah meraih mimpinya sebaiknya  kepala sekolah merumuskan visi-misi yang disertai dengan tujuan yang jelas. Jelas artinya  harus diuraikan dalam sejumlah target yang <strong>realistis</strong> dan <strong>terukur</strong>. Penegasan tersebut mengarahkan kepala sekolah  agar dapat menjamin pelaksanaan keempat langkah strategis di atas mengarah pada tujuan yang direalisasikan dalam target yang selalu diukur pencapaiannya dari waktu ke waktu.</p>
<p>Selain empat langkah strategis, terdapat empat langkah utama menjamin mutu yang wajib kepala sekolah tunaikan. <strong>Pertama</strong> merumuskan strategi atau metode dalam perencanaan (plan) berdasarkan pencapaian program sebelumnya. Dalam perencanaan kepala sekolah perlu memperhitungkan kekuatan sumber daya yang sekolah miliki sehingga target selalu disesuaikan dengan kemampuan nyata untuk mewujudkannya.  <strong>Kedua, </strong>menerapkan strategi atau melaksanakan kegiatan sesuai dengan program<strong>. Ketiga</strong>, memonitor dan mengevaluasi proses dan hasil pekerjaan, melaksanakan perbaikan proses pekerjaan untuk memperbaiki pencapaian. <strong>Keempat</strong>, menggunakan hasil monitoring datan evaluasi sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan berkelanjutan. Siklus kegiatan itu sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh Edward Sallis (1993) yang sangat terkenal dengan model <em>plan, do, check, act</em>.</p>
<p><strong>Target kompetensi  </strong></p>
<p>Pelatihan ini memiliki target agar kepala sekolah mampu memperbaiki Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan/RKAS  secara berkelanjutan sehingga program berkembang sesuai kebutuhan pembaharuan mutu. Target kompetensi umum tersebut selanjutnya dijabarkan dalam target khusus, yaitu agar kepala sekolah mampu</p>
<ol>
<li>Memetakan pemenuhan standar berdasarkan analisis konteks.</li>
<li>Merumuskan dokumen RKJM dan RKAS secara sistematis.sesuai dengan kebutuhan pengembangan sekolah yang realistik dan terukur.</li>
<li>Penentuan skala prioritas</li>
<li>Mengembangkan RKJM dan RKAS yang mengintegrasikan seluruh program  pemenuhan delapan SNP.</li>
<li>Mengembangkan program RKJM dan RKAS secara inovatif sehingga memenuhi prinsip pembaharuan mutu berkelanjutan.</li>
<li>Menggunakan instrumen evaluasi program sekolah</li>
</ol>
<p><strong>Bentuk Tagihan yang diharakan dapat dihimpun seusai pelatihan sebagai berikut:<br />
</strong></p>
<ol>
<li>Dokumen analsis konteks internal dan eksternal sekolah.</li>
<li>Rumusan visi-misi sekolah.</li>
<li>Rumusan tujuan sekolah</li>
<li>Perumusan Skala Prioritas</li>
<li>Model Perumusan   RKJM dan RKAS</li>
<li>Model Instrumen evaluasi program.</li>
</ol>
<p><strong>Materi Pelajaran</strong></p>
<ol>
<li>Analisis konteks</li>
<li>Penetapan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)</li>
<li>Analisis Skala Prioritas Pemenuhan Standar</li>
<li>Model pengembangan RKJM dan RKAS yang mencakup delapan standar nasional pendidikan dengan fokus pemenuhan target mutu lulusan.</li>
<li>Model Instrumen evaluasi program.</li>
</ol>
<p>Kelima topik materi selanjutnya diurai dalam deskripsi singkat materi pelajaran sebagai berikut;</p>
<p><strong>Materi Kesatu: Analisis konteks.</strong></p>
<p>Untuk menetapkan target mutu lulusan yang realistik, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah maka kepala sekolah perlu menguasai prinsip-prinsip dalam melaksanakan analisis konteks dan menggunakan hasil analisis sebagai salah satu dasar penentuan standar. Dengan melakukan analisis konteks eksternal kepala sekolah akan dapat memperhitungkan peluang yang sekolah miliki dan ancaman nyata yang sekolah hadapi. Hasil analisis internal akan memberikan informasi nyata tentang kekuatan dan kelemahan sekolah yang sekolah miliki.</p>
<p>Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang  dapat memanfaatkan setiap kekuatan untuk meraih keunggulan, dan dapat memperbaiki setiap kelemahan melalui proses perbaikan. Kepala sekolah pembelajar selalu melakukan langkah perbaikan dengan cara belajar.</p>
<ol>
<li><strong>Analisis lingkungan eksternal</strong></li>
</ol>
<p>Kepala sekolah perlu memfasilitasi seluruh pemangku kepentingan mengetahui posisi mutu sekolahnya di tengah-tengah persaingan dengan sekolah lain yang sejenis; misalnya pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota dan terus dapat diperluas wilayahnya  sehingga dengan cara itu warga sekolah  dapat mengidentifikasi kekuatan maupun kelemahan yang menggambarkan kondisi nyata sekolah.</p>
<p>Berdasarkan pemahaman yang dalam mengenai posisi sekolahnya, maka kepala sekolah dapat metakan kebutuhan mutu lulusannya. Keunggulan yang perlu sekolah wujudkan perlu kepala sekolah gambarkan agar dapat menjadi panduan kerja seluruh warga sekolah. Misalnya, siswa memiliki keimanan yang tangguh; berpengetahuan sesuai perkembangan kehidupan pada ruang lingkup lokal, nasional, dan global; memiliki keterampilan membaca, menulis dan berhitung; memiliki keterampilan hidup yang  adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai modal dasar untuk  mendapatkan pekerjaan yang bermartabat secara ekonomi; sehat jasmani dan rohani; dan cakap berkomunikasi, berkolaborasi dan berkompetisi dalam kehidupan nyata di masyarakat (Lihat SKL).</p>
<p>Banyak informasi yang berkaitan dengan konteks, namun ada hal lain yang sangat perlu yaitu, kepala sekolah mengenal kamampuan akademik, bakat, minat, latar belakang sosial ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, latar belakang agama, budaya, karakteristik pekerjaan masyarat sekitar. Kepala sekolah yang  bijak adalah kepala sekolah yang dapat memanfaatkan pengenalan siswanya untuk kepentingan menetapkan target dan strategi belajar siswa sehingga potensi diri siswa dapat sekolah kembangkan secara optimal dan kontekstual.</p>
<p>Dalam analisis eksternal pada prinsipnya kepala sekolah akan memperoleh pengetahuan mengenail <strong>peluang dan ancaman</strong>.</p>
<p><strong>2.   </strong><strong>Analisis lingkungan internal, </strong></p>
<p>Analisis lingkungan internal pada dasarnya merupakan proses untuk mengidentifikasi kondisi nyata sekolah yang dikelompokkan dalam keuatan dan kelemahan. Kondisi yang telah memenuhi harapan diklasifikasikan dengan keunggulan, sedangkan kondisi yang belum memenuhi harapan diklasifikasikan dalam kelemahan.</p>
<p>Agar kepala sekolah dapat menggambarkan kondisi nyata sekolah diperlukan data dari hasil evaluasi kinerja seperti hasil akreditasi atau evaluasi diri sekolah.</p>
<p><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3030" title=" downloaded 51 times" >Format Analisis Konteks (51)</a></strong></p>
<p><strong>Materi Kedua: Perumusan SKL</strong></p>
<p>Menetapkan mutu lulusan secara definitif merupakan bagian penting dalam pemenuhan delapan standar. Alasannya adalah tinggi rendah mutu lulusan menentukan tinggi rendahnya sumber daya manajemen yang diperlukan. Semakin tinggi mutu lulusan yang sekolah harapkan, menentukan kurikulum, pendidik, proses pembelajaran, penilaian,sarana dan prasarana yang dapat menunjang terwujudnya mutu lulusan.</p>
<p>Sekolah yang efektif  mampu mengelola sumber daya yang ada sehingga sekolah dapat mewujudkan tujuan. Agar sekolah memiliki patokan pengarah yang baku maka kepala sekolah wajib menggunakan SKL sebagai patokan baku sehingga sebaiknya target mutu lulusan tidak lebih rendah daripada standar nasional.</p>
<p>Oleh karena itu, selayaknya kriteria pencapaian SKL kepala sekolah perlakukan sebagai poros penentuan target seluruh kegiatan pemenuhan standar yang terstruktur secara sistematis.</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3028" title=" downloaded 52 times" >SKL Satuan Pendidikan (52)</a></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3029" title=" downloaded 98 times" >SKL Mata Pelajaran (98)</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>Materi Ketiga: Analsis Skala prioritas</strong></p>
<p>Kepandaian untuk menentukan program prioritas merupakan bagian dari daya kewirausahaan kepala sekolah. Di sini kepala sekolah dapat memilih program mana yang  menurut pertimbangan logis dan intuitifnya sangat penting dan perlu didahulukan dan program mana yang dapat disisihkan  pengerjaanya. Pemilihan program prioritas  pada prinsipnya menggunakan model pertimbangan mana yang paling mendesak dan paling tidak mendesak untuk dilakukan. Semakin mendesak suatu program dan yang paling bermakna terhadap penentuan keberhasilan sekolah, maka dapat dinyatakan bahwa program harus menjadi prioritas.</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3027" title=" downloaded 48 times" >Format Latihan Analisis Skala Prioritas (48)</a></strong><br />
<strong></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3026" title=" downloaded 47 times" >Format Analisis Skala Prioritas (47)</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>Materi Keempat:  RKJM dan RKAS</strong></p>
<p>Pengembangan RKJM dan RKAS dapat menggunakan strategi ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi. Prinsip ini menyiratkan kita dapat menggunakan model yang telah ada dan memodifikasi untuk memperoleh struktur baru. Lihat model RKJM dan RKAS untuk dimodifikasi</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3025" title=" downloaded 48 times" >Model RKJM SD (48)</a></strong></li>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3024" title=" downloaded 60 times" >Model RKJM SMA (60)</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>Materi Kelima:  Model Instrumen Evaluasi Program</strong></p>
<p>Instrumen evaluasi program dapat dibuat sederhana. Namun demikian harus memenuhi syarat mengukur yang seharusnya diukur. Instrumen merupakan alat untuk menghimpun data yang dibutuhkan untuk membuktikan apakah tujuan tercapai atau tidak tercapai. Bentuk alat ukur yang sederhana dapat dilihat dalam bentuk model instumen yang dapat didownload.</p>
<ul>
<li><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3023" title=" downloaded 35 times" >Instrumen Pengukuran (35)</a></strong></li>
</ul>
<p>Demikian materi yang telah disusun secara ringkas sebagai bahan pelatihan kepala sekolah melaksanakan perbaikan RKJM dan RKT secara berkelanjutan untuk mengendalikan perubahan sekolah agar adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang siswa butuhkan untuk mengarungi hidupnya.</p>
<p>Referensi</p>
<ul>
<li>Permendiknas 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan</li>
<li>Pemendiknas 19 Tentang Standar Pengelolaan</li>
<li>Edward Sallis, 1993. <em>Total Quality Management in Education</em><strong>, </strong>Kogan Page Ltd, 120 Pentonville Road London N1 9JN UK</li>
<li>Thomas L. Wheelen and I David Hungger (1995) <em>Strategic Management and Business</em> Policy, Fifth Edition, California, New York etc. Addison Wesley Publishing Company.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pelatihan-perbaikan-rkjm-dan-rkas-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Cukupkah Tugas Kepsek dengan Supervisi Akademik?</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/perlukan-kepala-sekolah-tidak-wajib-mengajar-melainkan-mensupervisi-pembelajaran/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/perlukan-kepala-sekolah-tidak-wajib-mengajar-melainkan-mensupervisi-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 16:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13371</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang menyebabkan guru baik di sekolah ini menjadi baik? Pertanyaan itu pernah saya lontarkan kepada kepala sekolah ketika saya mendapatkan tugas menilai kinerja kepala sekolah. Jawabannya ternyata sangat beragam. Lalu, pertanyaan saya sederhanakan, siapa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13385" rel="attachment wp-att-13385"><img class="alignleft  wp-image-13385" style="margin: 6px;" title="tim pengembang kurikulum" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/04/tim-pengembang-kurikulum.jpg" alt="" width="209" height="126" /></a>Apa yang menyebabkan guru baik di sekolah ini menjadi baik? Pertanyaan itu pernah saya lontarkan kepada kepala sekolah ketika saya mendapatkan tugas menilai kinerja kepala sekolah. Jawabannya ternyata sangat beragam. Lalu, pertanyaan saya sederhanakan, siapa di antara guru sekolah ini yang paling baik? Saya memperoleh jawaban namun informasinya tidak berbasis data supervisi kelas.<span id="more-13371"></span>Masalahnya adalah mengapa kepala sekolah harus mengajar, sementara mengenali guru potensial di sekolahnya  tidak dapat dilakukan. Hingga saat ini, proses pengenalan guru pada umumnya tidak melalui pengamatan kinerja guru dalam kelas melainkan melalui penampilan pribadinya sehari-hari, tanggung jawabnya, cara berkomunikasi kepada siswa yang terpantau dalam aktivitas sehari-sehari, cara mempengaruhi siswa, kemampuan intelektualnya yang terepleksikan dalam prilaku profesionalnya sehari-hari di sekolah.</p>
<p>Kepala sekolah mengenali  tingkat kecerdasan guru, cara berkomunikasi, kedisiplinan berpikir, sistematika pada umumnya melalui forum rapat. Keruntutan berpikirnya guru-guru tunjukkan dalam pertemuan atau rapat-rapat  kerja di sekolah. Fakta yang diperoleh dari kegiatan seperti ini penting, namun lebih baik lagi jika setiap kepala sekolah mengetahui bukti-bukti lain yang menunjang mengapa seorang guru itu dinyatakan baik atau kurang baik dalam proses pembelajaran.</p>
<p>Jika pemahaman kepala sekolah digali lebih dalam tentang apa yang menyebabkan guru yang baik menjadi baik dalam kelas pada proses mengajar, saat ini jawaban sulit diperoleh. Masalahnya sederhana, sebagian besar kepala sekolah belum melaksanakan observasi secara mendalam terhadap prilaku profesional guru dalam kelas. Supervisi akademik secara umum belum terpenuhi sesuai dengan kriteria standar. Bahkan yang sudah melaksanakan supervisi biasanya terikat pada format ceklis yang digunakan secara masal sehingga pengumpulan data tidak fokus pada data yang sesungguhnya kepala sekolah ingin kumpulkan dalam pelaksanaan observasi.</p>
<p>Guru yang amat baik dalam kelas adalah guru yang mampu membangkitkan inspirasi siswa sehingga siswa belajar. Guru yang baik adalah guru yang dapat mendemostrasikan sesuatu sehingga membuat siswa memahaminya tidak hanya sebatas verbal, namun meningkat pemahaman karena terdapata bukti visual. Guru yang kurang kemampuannya adalah guru yang hingga kini hanya menerangkan. Siswa menguasai materi pelajaran karena guru pandai mengolah komunikasi verba.Guru yang sangat rendah mutunya adalah guru yang hanya bisa menyampaikan informasi secara lisan, ia sendiri bisa jadi kurang memahami materi yang disampaikannya. Dan, dengan cara itu, siswa belajar dengan cara mendengarkan.</p>
<p>Itulah sebabnya orang menyatakan bahwa <em>saya dengar</em> maka <em>saya lupa</em> &#8230; <em>saya</em> lihat maka <em>saya</em> ingat &#8230; <em>saya</em> coba maka <em>saya</em> mengerti. Guru yang inspiratif adalah guru yang ada atau tidak ada di sisi siswa selalu memdorong siswa belajar dengan tidak sekedar mendengaqr, namun memberi ruang yang luas untuk mencoba merumuskan pikiran, menyatakan pikiran, dan mengubah pikiran menjadi perbuatan dan karya.</p>
<p>Guru yang efektif dalam kelas adalah guru yang paling menguasi materi pelajaran. Ia pandai mengenali fakta, data, informasi yang sesuai dengan teori yang dijelaskannya. Indikator itu membuktikan pula bahwa guru menguasai prinsip-prinsip materi yang diajarkan. Pikirannya terstruktur sehingga materi yang dikuasainya menjadi isi pikirannya yang terstruktur secara sistematis. Ketika guru menjelaskan cara menerapkan teori atau prinsip, ia mengguanakan cara berpikir kritis dan logis. Ia pandai mencari contoh dari kehidupan nyata tentang prosedur penerapan teori dalam memcahkan berbagai masalah  dan pandai merumuskan kesimpulan.</p>
<p>Kepala sekolah menguasai fakta yang menjadi bukti terpenuhi  indikator kebaikan guru mengenali siswa sehingga tahu nama, orang tua, tingkat sosial ekonomi, prestasi belajar, bakat, minat, kesehatan atau pribadi siswa. Kepala sekolah tahun bahwa pemahaman guru mengenai pribadi siswa menjadi dasar pertimbangan untuk mementukan perlakukan belajar.</p>
<p>Kepala sekolah menganali tingkat penguasaan materi pelajaran oleh guru-gurunya. Menentukan indikator untuk mengukur kemampuan guru menguasi konsep dan prinsip ilmu pengetahuan mengenai mata pelajaran yang diampunya. Kepsek juga memahami bagaimana guru menggunakan data, fakta, informasi dalam menerapkan ilmu pengetahuan dalam berargumentasi atau menyusun kesimpulan sehingga terlihat pula kecakapan guru dalam memecahkan masalah.</p>
<p>Lebih dari itu guru yang baik memiliki kompetensi yang dapat ia tunjukkan dalam kelas sehingga dapat mendorong siswanya menguasi konsep dan prinsip ilmu pengetahuan yang guru sampaikan.  Guru menggunakan data, fakta, informasi untuk mengembangkan kecakapan berpikir sistematis, ilmiah dan logis sehingga dapat menerangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan. Guru mempasilitasi siswa membaca, menuliskan isi pikiran dan berargumentasi atau menyusun kesimpulan dan terampil menerapkan ilmu pengetahuannya untuk memecahkan masalah dan berkarya.</p>
<p>Kepala sekolah juga mengenai guru-guru yang pandai membuat pertanyaan sehingga kapasitas dan kapabelitas berpikir siswa berkembang. Di samping itu kepala sekolah mengenali cara guru berkomuniasi dan bekerja sama secara efektif dengan siswa, bahkan dapat menyusun instrumen evaluasi yang membuat siswa meningkatkan kapasitas belajarnya, berpikirnya, dan berkarya inovatif. Itulah guru yang inspiratif sehingga kepala sekolah menyatakan itulah guru yang baik.</p>
<p>Karena pemahamannya itu akhirnya kepala sekolah dapat menyatakan bahwa guru A-lah paling baik di sekolah kami. Argumentasinya jelas. Guru itu yang paling mengenali peserta didik, yang paling pandai menggunakan pengenalan peserta didiknya untuk mengembangkan strategi pemelajaran yang paling sesuai dengan kekbutuhan siswa, guru yang paling pandai berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa sehingga siswa mengembangkan potensi dirinya secara optimal.</p>
<p>Guru itulah yang paling baik karena paling menguasai materi palajaran dan paling pandai mengantarkan materi pelajaran. Kepandaiannya terlihat dari kemampuan untuk menyampaikan sedikit saja dan siswa menggali dan memperluas pengetahuannya secara mandiri, siswa tidak hanya menguasai materi pelajaran, namun belajar terus tentang bagaimana cara belajar.</p>
<p>Pekerjaan kepala sekolah untuk mendalami semua itu tidak mudah dan memerlukan waktu. Akan tetapi mengapa kepala sekolah harus mengajar juga. Bayangkan jika secara matematis kepala sekolah harus mengajar enam jam pelajaran dan di samping itu ia juga membina 50 guru. Maka, kepala sekolah mendapat beban tugas menyiapkan pelajaran yang volume pekerjaannya sama dengan menyiapkan 24 jam pelajaran, melaksanakan pelajaran, dan mengevaluasi setidaknya dua tau tiga rombongan belajar dan mengevaluasi kinerja 50 orang guru.</p>
<p>Belum lagi melaksanakan tugas manajerialnya. Wah, betapa beratnya tugas kepala sekolah di Indonesia jika harus menangani sumua itu. Dan, karena berat, maka kebijakan kepala sekolah sebagai tugas tambahan ternyata kurang terealisasikan secara efektif. Masalahnya adalah tepatkah kebijakakan yang menentukan kepala sekolah harus mengajar?</p>
<p>Semantara ini para pengambil kebijakan berargumen. Guru harus mengenali bagaimana cara mengajar yang efektif. Jika seseorang berhenti dari kepala sekolah harus kembali jadi guru. Itu sebabnya kepala sekolah harus mengajar. Argumentasi itu benar, namun tidak cukupkah pengalaman sebagai guru untuk dapat menjadi supervisor? Tidak cukupkah pengalaman sebagai guru untuk disela menjadi kepala sekolah yang dijejali pula dengan tugas supervisi untuk tetap menguasai kompetensi guru? Jawabannya kepala sekelah kecil kemungkinannya kehilangan kompetensi gurunya jika ia selalu melaksanakan tugas supervisinya.</p>
<p>Atas dasar berbagai pertimbangan banyak hal, kepala sekolah banyak yang tidak melaksanakan tugas mengajar dan tugas mensupervisi maka dalam sistem pendidikan pemerintah perlu menentukan pilihan. Karena tugas melaksanakan supervisi seluruh guru penting untuk memastikan bahwa perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran memenuhi standar dan sesuai dengan tujuan bagi kepala sekolah, maka tidakkah sebaiknya kepala sekolah tidak perlu dibebani tugas mengajar.</p>
<p>pelaksanaan pengukuran mutu dengan menggunakan instrumen  untuk mengukur metode efektivitas struktur materi pelajaran, metode mengajar, alat peraga, teknik evalauasi masih sangat kurang, maka pengetahuan sebagaian sekolah mengenai efektivitas profesional guru masih sangat rendah.</p>
<p>Pastikan saja bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu dan sungguh-sungguh melakukan supervisi pembelajaran. Untuk itu diperlukan program peningkatan kompetensi kepala sekolah untuk melaksanakan suvisi, terkontrol untuk melakukannya dengan baik, dan dipastikan pula menggunakan hasil supervisi untuk meningkatkan perbaikan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.</p>
<p>Oleh karna itu, tidakkah sebaiknya aturan kepala sekolah wajib mengajar dan mensupervisi  ini diubah agar sistem pembinaan sekolah lebih pragmatis dengan cara memastikan secara lebih tegas bahwa seluruh proses pendidikan kita mengarah pada pencapaian target mutu lulusan. Dan, yang paling bertanggung jawab untuk memastikan adalah kepala sekolah yang didukung oleh para pengawas.</p>
<p>Sungguh pada saat ini pendidikan kita berada dalam posisi yang serba canggung. Kepala sekolah tetap diikat dengan tugas mengajar, namun tidak berjalan baik, dan yang seharusnya kepala sekolah dapat menjalankan tugas supervisi pun belum terkontrol.  Jadi wajar kalau banyak keputusan yang dibuat untuk perbaikan pembelajaran tidak berdasarkan pengetahuan yang cukup mengenai fenomena belajar dalam kelas, melainkan atas dasar asumsi yang menggunakan pikiran seharusnya&#8230;.seharusnya.</p>
<p>Jadi akhirnya kita bertanya benarkah kita sudah melakukan pengukuran pemenuhan standar? Apakah benar hasil pengukuran pemenuhan standar isi, proses, dan penilaian telah digunakan untuk memperbaiki mutu pembelaran? Jawabnnya sudah, tapi belum menjadi gerakan masif di seluruh sekolah. Jadi perbaikan yang selama ini berjalan masih banyak yang bergerak di seputar perbaikan berlandaskan asumsi dan opini.</p>
<p>Rahmat,  Published on: <strong>Apr 20, 2012</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/perlukan-kepala-sekolah-tidak-wajib-mengajar-melainkan-mensupervisi-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PK Guru: Sudahkah Menilai Yang Seharusnya Dinilai?</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/mencermati-pk-guru-agar-menilai-yang-seharusnya-dinilai/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/mencermati-pk-guru-agar-menilai-yang-seharusnya-dinilai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 19:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13428</guid>
		<description><![CDATA[Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.  Konsekuensi dari pengaturan ini guru wajib  menunaikan tujuh tugas utama. Jika salah satu tugas tidak terpenuhi berarti guru tidak memenuhi tugas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13429" rel="attachment wp-att-13429"><img class="alignleft  wp-image-13429" style="margin: 6px;" title="Pembelajaran" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/04/Pembelajaran.jpg" alt="" width="136" height="103" /></a>Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.  Konsekuensi dari pengaturan ini guru wajib  menunaikan tujuh tugas utama. Jika salah satu tugas tidak terpenuhi berarti guru tidak memenuhi tugas utamanya.<span id="more-13428"></span></p>
<p>Pengaturan lanjutan seperti yang dituangkan dalam Pemendiknas 35 tahun 2010 yang mengatur peniaian angka kredit guru mereduksi tugas utama itu dalam tugas mengajar dan membimbing. Tugas mengajar dibebankan kepada guru mata pelajaran dan guru kelas, sementara tugas membimbing menjadi tanggung jawab guru bimbingan konseling.</p>
<p>Dalam melaksanakan tugasnya guru guru wajib merencanakan, melaksanakan, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Untuk menngkatkan kompetensinya dalam menjalankan fungsi manajerial pembelajaran dan pembimbingan guru wajib pula meningkatkan kompetensinya agar memiliki kapasitas dan kapabelitas yang memenuhi kebutuhan meningkatkan kapasitas dan kapabelitas siswa sehingga memenuhi standar kompetensi lulusan.</p>
<p>Analisis lebih lanjut dapat dilakukan melalui pendekatan enam dimensi gugus tugas guru profesional yang mencakup lintas dimensi seperti di bawah ini.</p>
<p><strong>Dimensi pertama</strong> dapat menunjukkan  kapasitasnya dalam menguasai ilmu pengetahuan  yang meliputi indikator di bawah ini.</p>
<ol>
<li>Menguasai materi pelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.</li>
<li>Menguasai teori, prinsip dan prosedur mentransfer ilmu pengetahuan yang dikuasainya kepada peserta didik atau mengajar.</li>
<li>Menggunakan pengetahuan tentang kapasitas akademis, tingkat sosial ekonomi, bakat dan minat siswa serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk kepentingan pembelajaran.</li>
<li>Menguasi pengetahuan  tentang cara mengintegrasikan tugas medidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,  melatih, menilai dan mengevaluasi dalam pelaksanaan pembelajaran dan proses pendidikan di sekolah.</li>
<li>Menguasai pengatahuan tentang cara mendisain persiapan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran menilai hasil belajar.</li>
<li>Menggunakan  keterampilan mengendalikan proses pembelajaran sesuai dengan rencana.</li>
<li>Menganalisis insturmen dan hasil penilaian sebagai dasar pebaikan insturmen, melaksanakan remedial dan pengayaan.</li>
<li>Menguasai pengetahuan melalui pengembangan daya baca tulis dan mengarahkan pembelajar yang efektif sehingga siswa menguasai materi pelajaran, menerapkan ilmu pengetahuan untuk berkarya, memecahkan masalah</li>
<li>Menguasai pengetahuan dalam mengembangkan kecakapan  berpikir kritis, kreatif, inovatif, logis dan imajinatif melalui kegiatan belajar mandiri, kolaboratif, dan interaktif.</li>
<li>Menguasai cara mengembangkan kapasitas  potensi, daya kolaborasi,  daya kreasi, dan  prestasi diri siswa yang berkontribusi terhadap perwujudan keunggulan.</li>
</ol>
<p><strong>Dimensi kedua,</strong>  menunjang pengembangan kapasitas pengetahuan yang diperlukan sebagai guru dan memperbaiki keterampilan dalam menunaikan tugas sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan evaluator, maka guru wajib  menuaikan tugas belajar dan berlatih. Dalam hal ini guru dapat melakukan tugas berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Belajar mandiri baik secara individual maupun dalam kolaborasi tim.</li>
<li>Melaksanakan tugas belajar seperti mengikuti pelatihan, temu kerja, dan mengikuti pendidikan lanjutan diri  melalui  membaca, riset, dan kerja sama serta mampu mengekspresikan pikiran dalam bentuk lisan, tulisan atau karya inovatif.</li>
<li>Mengembangkan kerja sama melalui perluasan jejaring profesional dan sosial.</li>
<li>Menggunakan ilmu  pengetahuan dalam kegiatan penelitian dan mengembangkan karya inovatif untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pekerjaan.</li>
</ol>
<p><strong> Dimensi ketiga</strong>, guru mengembangkan diri melalui proses belajar berkelanjutan yang meliputi indikator berikut:</p>
<ol>
<li>Belajar secara  mandiri baik secara individual maupun dalam kolaborasi tim.</li>
<li>Melaksanakan tugas belajar seperti mengikuti pelatihan, temu kerja, dan mengikuti pendidikan lanjutan</li>
<li>Mengembangkan kerja sama melalui perluasan jejaring profesional dan sosial.</li>
<li>Melaksanakan penelitian atau mengembangkan karya inovatif.</li>
</ol>
<p><strong>Dimensi keempat</strong> guru mampu menunaikan tugas dalam mengimplementasikan  manajemen pembelajaran kinerja yang diukur dengan berbagai  indikator berikut:</p>
<ol>
<li>Menggunakan kalender pendidikan, peraturan akademik dan prinsip-prinsip penyusuanan KTSP</li>
<li>Merencanakan pembelajaran  yang penunaikan tugasnya berwujud silabus dan RPP yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan siswa pda tingkat satuan pendidikan.</li>
<li>Mengembangkan instrumen penilaian yang mengukur ketercapaian target mutu pada tiap indikator hasil belajar yang memenuhi standar kompetensi lulusan.</li>
<li>Melaksanakan pembelajaran  sesuai dengan skenario yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.</li>
<li>Melaksanakan penilaian yang ditindaklanjuti dengan melakukan analisis butir soal, menilai kinerja belajar siswa dalam tujuan pembelajaran, melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan, selanjutnya melaksanakan evaluasi dan tindaklanjut perbaikan</li>
</ol>
<p><strong>Dimensi kelima</strong> guru menunaikan tugas birokratis yang dapat direkam dalam bentuk portofolio yang  dapat dilihat dalam berbagai indikator pemenuhan tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memenuhi tugas 37,5 jam per minggu atau memenuhi tugas 24 jam.</li>
<li>Hadir sesuai jadwal,  tepat waktu, menggunakan waktu efektif, dan mengahiri tugas tepat waktu.</li>
<li>Menghasilkan karya ilmiah atau karya inovatif</li>
<li>Memiliki stabilitas emosi  dalam berinteraksi di kelas maupun di luar kelas.</li>
<li>Disiplin menggunakan bahasa yang komunitkatif dan santun.</li>
<li>Berpakaian rapih untuk  menunjang penampilan sebagai pendidik  yang menjadi  teladan.</li>
<li>Mengikuti kegiatan resmi, upacara bendera, memenuhi perintah terpat waktu.</li>
<li>Melaksanakan kerja sama peningkatan mutu diri melalui kegiatan organisasi profesi</li>
<li>Partisipatif dalam memecahkan masalah sekolah maupun masyarakat.</li>
<li>Memenuhi standar prestasi kerja.</li>
</ol>
<p><strong>Dimensi Keenam,</strong> yaitu akuntabilitas guru dalam menunaikan tugas mengajar dan membimbing siswa agar memenuhi standar kompetensi lulusan.  Produktivitas guru perlu dilihat dari pengaruh penunaian tugasnya terhadap hasil belajar siswa yang ditunjukkan dangan;</p>
<ol>
<li>Kesuaian nilai yang siswa peroleh dengan kriteria ketuntasan minial (KKM) dan target nilai UN tingkat satuan pendidikan.</li>
<li>Menunjukkan kecakapan berpikir kritis, kreatif, logis, dan imajinatif yang dibuktikan dengan produk belajar siswa atau bukti penilaian otentik yang terlihat pada RPP, hasil karya siswa, dan instrumen penilaian yang guru gunakan.</li>
<li>Kesesuaian target pembinaan dengan realitas yang dicapai dalam prestasi seperti proposal kegiatan, produk kompetisi, penghargaan, atau karya inovatif lain yang siswa pamerkan.</li>
<li>Kesuaian pencapaian  hasil belajar dalam pengembangan karakter dengan target pada tingkat satuan pendikan yang ditunjukkan dengan tingkat ketidakhadiran, tingkat penyimpangan prilaku, dan pembiasaan hidup seperti dalam cara memelihara kebersihan, ketertiban siswa masuk kelas dsb.</li>
<li>Kesesuaian target pengembangan keterampilan dengan realitas yang dicapai melalui proses pembelajaran yang dilihat dari karya inovatif siswa yang menunjang meningkatnya keunggulan sekolah.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan uraian mengenai berbagai kegiatan yang wajib guru tunaikan maka nilai kinerja guru seharusnya dilihat dengan lima dimensi penilaian sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Fortofolio guru yang dihimpun sekurang-kurangnya dalam dua tahun terakhir, yang meliputi pemenuhan tugas 24 jam atau 37’5 jam per minggu, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas.</li>
<li>Hasil uji kompetensi yang mengukur penguasaan pengetahuan yang mendasari pelaksanaan tugas guru.</li>
<li>Hasil penilaian kinerja bidang manajemen pembelajaran dan penunaian tugas utama dalam bentuk angka kredit.</li>
<li>Rekaman kinerja dalam pelaksanaan PKB dan pengembangan profesi.</li>
<li>Produktivitas kinerja belajar siswa yang menjadi tanggung jawabnya.</li>
</ol>
<p>Apabila pada saat  ini terdapat pemikiran angka kredit  dijadikan satu-satunya bahan pertimbangan untuk memberikan sanksi bagi guru dalam jabatan fungsional  dengan angka kredit yang diperolehnya, maka akan berdampak pada kinerja guru ke depan yang hanya fokus kepada peroleh angka kredit. Angka kredit sebenarnya hanya merupakan salah satu dimensi prestasi guru yang tidak menilai keseluruhan kebaikan yang guru miliki.</p>
<p>Jika portofolio guru tidak dipertibangkan seperti disiplin guru dalam bentuk kehadiran, keteladanan,  prestasi sebagai pengarah dan pelatih, dan kedisiplinan lainnya sebagai tenaga pendidik tidak menjadi bahan pertimbangan maka orientasi penunaian tugas guru  hanya akan fokus pada  pelaksanaan tugas yang berdampak terhadap angka kredit, sementara pemenuhan tugas lain guru jadikan prioritas berikutnya..</p>
<p><em>Tulisan disusun sebagai bahan pembahasan rancangan pemberian sanksi bagi guru berkinerja rendah oleh Rahmat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/mencermati-pk-guru-agar-menilai-yang-seharusnya-dinilai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

