TOPIK UTAMA »

October 5, 2014 – 10:09 pm | 590

Dalam proses pergeseran dari kurikulum 2006 ke pelaksanaan kerikulum 2013 kepala sekolah memegang peran yang sangat penting. Kepala sekolah dapat menentukan bidang perubahan yang perlu segera perlu penanganan.  Dalam menjalankan peran pimpinan perubahan kepala sekolah …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PEMBELAJARAN, TOPIK UTAMA

Empat Belas Prinsip Pembelajaran Kurikulum 2013

Submitted by on August 22, 2013 – 6:20 am5 Comments | 18,172

Pelaksanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2013 memiliki karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2006. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi yang diharapkan terdapat maka dipeloleh 14 prinsip utama pembelajaran yang perlu guru terapkan.

Ada pun 14 prinsip itu adalah:

  1.  Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran mendorong siswa menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak berusaha untuk meberitahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final. Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan. Jika biasanya kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyampaian informasi dari guru sebagai sumber belajar, maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013 kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena atau fakta tertentu. Oleh karena itu guru selalu memulai dengan menyajikan alat bantu pembelajaran untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan dengan alat bantu itu guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
  2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber; pembelajaran berbasis sistem lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran membuka peluang kepada siswa  sumber belajar seperti informasi dari buku siswa,  internet, koran, majalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek, pemecahan masalah, atau inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di luar kelas. Dianjurkan pula untuk materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas.
  3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk teks. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, disain program, mind maping, gambar, diagram, tabel, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mempraktikan sesuatu yang dapat dilihat dari lisannya, tulisannya, geraknya, atau karyanya.
  4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
  5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata pelajaran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu. Semua materi pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama, menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran bersama-sama, agar beban belajar siswa dapat diatur sehingga tugas yang banyak, aktivitas yang banyak, serta penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi beban belajar berlebih yang kontraproduktif terhadap perkembangan siswa.
  6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; di sini siswa belajar menerima kebenaran tidak tunggul. Siswa melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika ada sejumlah siswa yang melukiskan awan pada jam yang sama dari tempat yangberjauhan, mereka akan melukiskannya berbeda-beda, semua benar tentang awan itu, benar menjadi beragam.
  7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; pada waktu lalu pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan guru, fakta disajikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus lihat faktanya, gambarnya, videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat, meraba, merasa dengan panca indranya. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar, namun dengan menggunakan panca indra lainnya.
  8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); hasil belajar pada rapot tidak hanya melaporkan angka dalam bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangku perkembangan sikapnya dan keterampilannya. Keterampilan yang dimaksud bisa keterampilan membacan, menulis, berbicara, mendengar yang mencerminkan keterampilan berpikirnya. Keterampilan bisa juga dalam bentuk aktivitas dalam menghasilkan karya, sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun, keterampilan menghargai pendapat dan yang lainnya.
  9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan  dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat; ini memerlukan guru untuk mengembangkan pembiasaan sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa, bahkan memiliki kemampuan untuk menyesusaikan dengan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global. Kebiasaan membaca, menulis, menggunakan teknologi, bicara yang santun  merupakan aktivitas yang tidak hanya diperlukan dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk berkompetisi dalam ruang lingkup global.
  10. 10.    Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo),  membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); di sini guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, meberi contoh bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain. Guru di depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di belakang selalu mendorong semangat siswa tumbuh mengembangkan pontensi dirinya secara optimal.
  11. Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan waktu dalam kelas.
  12. Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. Prinsip ini menadakan bahwa ruang belajar siswa tidak hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang sangat ideal untuk mengembangkan kompetensi siswa. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan sistem yang terbuka.
  13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (tIK) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; di sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat belajar dari siapa pun. Yang paling penting mereka harus dapat menguasai TIK sebabab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak memfasilitasi pasti daya kompetisi siswa akan jomplang daripada  siswa yang memeroleh pelajaran menggunakannya.
  14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman. Hargai semua siswa, kembangkan kolaborasi, dan biarkan siswa tumbuh menurut potensinya masing-masing dalam kolobarasi kelompoknya.

Demikian materi tentang prinsip pembelajaran yang disarikan dari materi pelatihan implementasi kurikulum 2013.

5 Comments »

  • Panggabean says:

    Kurikulum 2013 bisa menjadi awal kebangkitan dunia pendidikan. Namun perlu dipahami Guru tidak bisa semena-mena menempatkan jurusan anak didik. Seperti yg terjadi di SMU 84 Jakarta. Anak minat di IPA tapi ditempatkan di IPS tanpa konfirmasi dgn argumentasi. Dalam hal penempatan ini sendiri sudah tdk nyambung dgn cita2 dari kurikulum 2013 itu sendiri. Dimana anak didik yg berperan aktif. Mohon tanggapannya….

  • admin says:

    Istilah peminatan menegaskan bahwa penempatannya lebih mementingkan minat dan potensi akademik siswa. Atas dasar keduanya sekolah menempatkan siswa dengan memanfaatkan kapasitas pelayanan yang mungkin dapat sekolah berikan. Kapasitas pelayanan sekolah ditentukan dengan ketersediaan sumber daya guru, ruangan, dan waktu yang tersedia. Bisa terjadi dengan mempertimbangkan sumber daya yang sekolah miliki, sekolah tidak dapat memenuhi seluruh peminatan siswa, misalnya yang berminat ke IPA melebihi kapasitas ketersediaan pelayanan sekolah sehingga harus terjadi seleksi. Oleh karena itu, sekolah perlu mengumumkan kapasitas pelayanan peminatan secara terbuka sebelum proses penempatan dilakukan. Jika terjadi siswa ditempatkan tidak sesuai dengan minatnya, maka yang perlu adalah sekolah menyampiakan informasi kepada yang terkait yaitu siswa dan ortu. Solusinya, siswa belajar di IPS serta mengikuti pelajaran biologi dan kimia atau fisika (dua mata pelajaran di kelas 10) dan berlanjut memilih satu mata pelajaran saja yang IPA di kelas 11-12. Jadi jika siswa berminat kuliah kelak di Fak. kedokteran tetap dapat dikejarnya, meskipun belajar di peminatan ilmu sosial. Jika masih dipandang kurang, tambah kegiatan belajar ekstra di luar sekolah. …

  • Ine Fadillah says:

    Anak sy sekarang naik kelas 4 SD Pak..melihat tulisan bapak d atas sy bs memahami output apa yg d harapkan bisa d hasilkan anak-anak kmi kelak.. tetapi pak sy melihat justru kesiapan dari sekolah dan bapak ibu gurunya jauh sekali dari siap. Beliau;beliau ini masih bingung dengan tuntutan kreativitas pas krn sdh trbiasa dengan modul-modul yg sdh d tentukan. Jika demikian bagaimana dengan anak-anak kami donk pak..mereka kebanyakan tidak apaham dengan apa yg d ajarkan oleh bapak ibu guru nya. sy mohon saran apa yg bisa kmi lakukan d rumah utk memberi pemahaman dan pengajaran ya pak.. Terima kasih

  • admin says:

    Terima kasih atas pertanyaan Ibu. Dalam pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 seyogyanya guru menentukan kemampuan (kompetensi) siswa yang ingin diwujudkan. Kompetensi itu meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan guru ajarkan, sikap diharapkan muncul sebagai dampak pengiring yang harus guru perhatikan perkembangannya. Pembelajaran selalu berbasis aktivitas berupa kegiatan mengamati data, menanya tentang data atau materi pelajaran, mencoba menghimpun informasi untuk mendalami data atau konsep yang dipelajari, menalar melalui proses menghubung-hubungkan data untuk memperoleh kesimpulan dan berkarya, mengomunikasikan karya. Dengan demikian pembelajaran selalu mengandung dua unsur esensial, beraktivitas dan berkarya. Di dalam proses itu terdapat usaha mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menggunakan pengetahuan, keterampilan berkomunikasi, keterampilan bekerja sama, keterampilan menghasilkan karya inovatif, dan keterampilan bersikap dalam menempatkan diri.
    Kemampuan yang guru harapkan, materi yang diajarkan, aktivitas yang dinilai, karya yang hendak siswa wujudkan, perlu orang tua himpun dari guru. Jadi, berkomunikasilah dengan gurunya, ada baiknya sebelum kedua belah pihak bertemu, ibu baca dulu buku siswa. Dengan cara ini kedua belah pihak diharapkan dapat mendukung dan membantu siswa belajar mengembangkan potensinya. Salam

  • EDY HARY says:

    Luar biasa cita-cita dan tujuan yang diharapkan dari penerapan kurikulum 2013. Sebuah kurikulum yang lengkap dan mumpuni dalam mengembangkan pendidikan di indonesia.
    Tetapi…
    Apakah peserta didik akan terlayani?
    Apakah Guru-gurunya siap?
    Apakah siswa-siswanya siap?
    Apakah masyarakat kita siap
    dan
    Apakah pemerintah Juga siap?
    Saya sebagai pendidik di daerah, dari pengalaman dan cerita murid ataupun guru di sekolah lain… bahkan sekolah besar di surabaya, membuat saya berani menyimpulakan bahwa KITA SEMUA BELUM SIAP.
    Guru-guru yang telah dibekali metode saintific, ternyata tidak semuanya (Bahkan hampir tidak ada) yang menerapkannya dalam pembelajaran..Saya yang semula bersemangat ingin melakukan perubahan pengajaran (meskipun tidak mendapat pelatihan K13 seperti guru-guru di sekolah negeri), pada akhirnya menyerah juga dan kembali ke pakem semula…
    Demikian juga siswa dan masyarakat (orang tua).
    Apalagi Pemerintah kita… contoh konkrit : BUKU K13

    … hingga kini saya bertanya, BAGAIMANA “BENTUK” UJIAN NASIONALNYA NANTI?. Jika memang alat ukur dan cara ukurnya seperti UAN atau UN selama ini… Buat apa kita mengharap siswa bisa MENGAMATI, MENANYA, MENGASOSIASI, MENGKOMUNIKASI, DLL. Yang penting peserta didik BISA MENGERJAKAN SOAL.
    dan yang membuat saya sedih dan terenyu, di mata siswa dan orang tua, K13 membuat guru sekolah menjadi santai, siswa menjadi sibuk, dan guru bimbel menjadi super sibuk (karena membantu mengerjakan PR siswa).
    Saya berharap, kegalauan kami terjawab dan pendidikan indonesia semakin maju. Hidup Guru-guru Indonesia!

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments