Tiga Juta Guru Berpikir Ilmiah, Bertindak Logis, Berkarya Inovatif

berpikir-ilmiah

Mari kita bayangkan apabila terdapat tiga juta orang guru tiap hari melaksanakan tugas mendidik, mengajar, dan melatih siswa di dalam dan di luar kelas, aktivitas mereka secara formal beru terhenti jika hari libur. Di luar itu mereka mengamati siswa aktif belajar. Menghimpun fakta dalam catatannya  sehingga sebagian besar data yang penting tercatat.

Bayangkan jika tiga juta guru mennyusun kebali catatannya sehingga himpunan fakta yang teramati tersusun rapih. Catatan terpilah pada sisi kanan dan kiri. Kuadran kanan berisi aktivitas siswa berkembang sebagaimana yang guru harapakan. Kolom kirinya berisi catatan tentang kondisi yang berkembang tidak seperti yang guru harapkan.

Bayangkan jika tiga juta guru bertanya. Mengapa terdapat siswa yang berkembang sebagaimana yang diharapkannya. Apa gerangan yang menyebabkan itu terjadi? Bayangkan jika ada tiga juga guru yang tersenyum melihat itu. Mereka sedang berpikir logis tentang sebab akibat. Mereka puas mengingat pikiran dan tenaga yang dicurahkannya berhasil membuat perilaku siswa menjadi lebih baik. Semangatnya, aktivitasnya, ilmunya, keterampilanya, karyanya berbeda dari sebelumnya. Lebih meningkat.

Bayangkan jika catatan di kolom kanan itu jauh lebih sedikit. Data yang tampak di kolom kiri lebih suram. Kecepatan berpikirnya lebih lambat, aktivitasnya tak seperti yang guru harapkan, karyanya belum sehebat anak-anak yang terbaik. Pertanyaan yang didorong dengan rasa ingin tahunya pun menggerus semangatnya karena masalah dirasnya menjadi lebih berat. Apa gerangan yang menyebabkan siswa belum seperti yang mereka harapkan? Bagaimana mereka dapat membantu siswa agar dapat menyelesaikan masalahnya.

Bayangkan jika guru bagaikan dokter yang rajin menyentuh pikiran siswanya seperti dokter mengenali gejala, mendeteksi penyebabnya, dan mencoba mengobatinya. Saat tindakannya dirasakan berguna oleh siswa, bagaikan pasien yang mengalami perubahan psikologis, semangat hidupnya bangkit, percaya dirinya menguat karena siswa yang tak paham benar dengan masalahnya kini berubah kondisinya menjadi lebih baik.

Bayangkan kijak tiga juga guru mengangkat catatan kerja hariannya dituliskan menjadi rangkaian pengalaman baik yang diperolehnya dari dalam kelas sebagai  materi pelajaran yang dikemasnya sendiri menjadi fondasi untuk mencoba hal baru yang lebih baik lagi. Pikiran,  pengetahuan, dan pengalaman mempraktikan gagasan mereka tuangkan ke dalam bentuk tulisan yang sederhana, praktis, dan mereka kaitkan dengan kaidah standar dan ditambah teori yang sederhana saja, maka dinamika pendidikan akan gaduh dengan guru yang belajar. Mengapa guru baik menjadi baik, jawabannnya adalah karena mereka pembelajar, karena mereka tak pernah berhenti bertanya….bagaimana dapat memebantu siswa menyelesaikan masalahnya.

Bayangkan seandainya tiga juga guru optimis bisa melakukan itu…alangkah Indonesia ini terlalu besar, terlalu kaya, terlalu kuat, untuk menjadi negara yang pendidikannya tidak sedahsyat kemampuan bangsa lain…..

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments