Siap Menjadi Pemimpin, Siap Menghadapi Masalah

supervisionMasalah itu menjadi masalah kalau orang menyadarinya. Jika orang sedang tidur di kendaraan  tiba-tiba kendaraan yang ditumpanginya mendapat musibah, bisa jadi krisis itu tidak menjadi masalah dalam sesaat. Namun, peristiwa itu benar-benar menjadi masalah saat ia terjaga, ia menyadari bahwa ia baru saja berada dalam bahaya yang mengancam jiwanya.

Kemunculan masalah jika seseorang menyadari sedang menghadapi kesulitan, ketidaktahuan, keraguan, ketidakjelasan, serta mendadak harus memecahkan persoalan. Orang yang tidak tahu apa-apa tentang sesuatu tentu tidak menyadari permasalahan tentang sesuatu itu. Muncul masalah itu jika ia mulai bertanya, dalam dirinya muncul dorongan ingin tahu atau harus mencari solusi.

Masalah  dapat dikelompokkan dalam tiga klasifikasi. Pertama dalam bentuk krisis. Orang sedang berkendaraan, tiba-tiba karena kelalaiannya,  menabrak orang. Kakinya patah. Yang ditabrak masuk rumah sakit. Ia terluka, untuk mengobatinya tidak punya biaya. Krisis ini benar-benar tidak terduga sehingga problem yang satu memunculkan problem yang lain, krisis melahirkan krisis yang lain. Semua berangkai dalam keterkaitan sistem.

Kedua, masalah itu muncul jika kondisi nyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi nyata tidak punya uang, harapannya  punya uang. Ini benar-benar masalah. Kondisi nyatanya tidak tahu, harapannya tahu. Ini juga benar-benar sebagai masalah.

Ketiga, masalah merupakan produk berpikir, mengarahkan rasa ingin tahu. Dalam proses berpikir seperti dalam rangkaian krisis di atas, masalah menjadi penyebab munculnya masalah yang lain. Di situ ada hubungan sebab akibat atau hubungan kausal. Manusia yang berilmu tidak berhenti bertanya untuk menggali pengetahuan. Seorang praktisi selalu bertanya untuk memilih mana masalah yang benar-benar harus dipecahkan dan mana yang dapat diabaikan.

Di sini harus disadari bahwa tak ada pemecahan masalah yang tidak bermasalah. Dilihat dari sisi hubungan kausal, pernyataan memecahkan masalah yang tidak bermasalah adalah nyata-nyata sebagai masalah.

Besar kecilnya masalah dalam konstruk adanya perbedaan antara kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan sangat bergantung pada tinggi rendahnya harapan dan tinggi rendahnya kondisi nyata. Semakin besar keinginan, di tengah rendahnya realita nyata, semakin memperbesar masalah. Itulah sebabnya dalam menetapkan harapan, tujuan, atau target harus memperhitungkan kekuatan yang dimiliki. Pemimpin yang tinggi  cita-citanya, tetapi tidak mengembangkan  kekuatannya harus dicurigai, jangan-jangan ia bukan hanya pemimpi…

Pemimpin yang efektif pada hakekatnya sebagai ahli mendefinisikan, menganalisis penyebab dan ahli dalam memecahkan masalah. Dalam pikirannya selalu muncul pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, kapan, di mana, dengan siapa keunggulan memecahkan masalah berproses. Konstruk pertanyaannya dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.

  • Apa sebabnya guru tidak menjadi pengguna internet sehandal siswa?
  • Mengapa produk belajar sekolah kami tidak sebaik produk sekolah yang lain?
  • Bagaimana sekolah mengembangkan kompetensi guru dalam berbahasa Inggris?
  • Kapan sebaiknya pembaharuan dimulai?

Di samping konstruk masalah dapat dikembangkan dalam bentuk pertanyaan, juga dapat dideskripsikan dalam bentuk pernyataan negatif seperti;

  • Hasil pertandingan dalam berbagai cabang olah raga sekolah kami belum sebaik yang kami harapkan.
  • Lingkungan sekolah kami belum bersih, corat-cotet tip ex ada di setiap meja siswa.
  • Kami belum bisa menyajikan informasi dalam web secara rutin.

Bentuk masalah yang terakhir sering dinyatakan dalam pernyataan perintah. Lihat pada contoh situasional berikut.

  • Hasil ulangan siswa tolong ditingkatkan karena belum sesuai KKM.
  • Siswa kita  tawuran, tolong segera tangani.

Contoh masalah dalam bentuk krisis benar-benar akan menjadi masalah yang besar jika penanganannya ditunda-tunda. Dengan demikian masalah juga dapat diklasifikan dalam bentuk krisis yang mendesak, belum mendesak, dan bisa ditangani nanti saja. Di sini muncul masalah jika semua masalah ditunda dengan alasan saya akan putuskan nanti.

Pemimpin yang efektif adalah yang selalu mendefinisikan masalah, menganalisis penyebabnya, dan menetapkan solusi dengan cerdas sehingga memilih solusi yang paling kecil resikonya, namun mendatangkan maslahat yang berbanyak.

(Dr. Rahmat)

Referensi :

http://www4.uwm.edu/cuts/ce790/problem.pdf

http://dictionary.reference.com/browse/problem

http://www.wikid.eu/index.php/Problem_definition

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments

4 comments

asalamualaikum,bapak saya sangat setuju bahwa seorang pemimpin harus siap menerima segala resiko, bahkan tantangan. Seorang pemimpin seharusnya bijak dalam menyikapai segala masalah.Seorang pemimpin tidak seharusnya mengeruk keuntungan dari segala situasi. dan sebagai pemimpin tidak diperkenankan membuat blok senior dan yunior dalam suatu pendelegasian tugas. Saya setuju Pak Rahmat bisa menjadi kepala sekolah di sekolah kami.

Ass. Bu Ira, saya menangkap kelapangan hati Ibu saat menulis komentar. Setuju jadi kepala sekolah, tapi jangan lama-lama, sebentar saja, he..he, Ibu bisa saja…

Assalamu’alaikum Wr Wb.Pa Rahmat Yth,Memang setiap pemimpin harus siap menghadapi masalah. Berbahaya apabila pemimpin tidak menyadari bahwa dirinya sedang menghadapi masalah, tapi yang lebih berbahaya lagi adalah pemimpin yang bermasalah atau suka membuat masalah yang membahayakan yang dipimpinnya. Gmn kalau pemimpinnya merasa nyaman ? Wah bisa celaka semuanya! Gmn cara mengubahnya pak ?

Pak Hernan, cara mengubah pemimpin, menurut kaidah keilmuan ya dilatih agar peminpin itu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kepemimpinannya. Namun batas keterlatihan juga ada karena sangat bergantung pada bahan baku. Oleh karena itu mengangkat pemimpin harus memenuhi syarat kepribadian, pengetahuan, keterampilan dan potensi kepemimpinan. Jika sistem rekrutmen dan pembinaan kacau, maka pasti kemungkinan gagal menjalankan tugas menjadi lebih besar. Akibatnya yang menyelesaikan masalah tidak lagi di tangan atasannya, melainkan gerakan bawahannya….pasti macam-macam. Di antaranya pembiaran, apriori, sampai demo.Salam.