China dari Sudut Pandang Pendidikan

Dalam diskusi terfokus para praktisi pendidikan pada media Whatsapp dan Telegram terlintas kekhawatiran atas dominasi China terhadap rakyat Indonesia. Hal ini berkembang setelah memperhatikan tulisan singkat Saudara Nandang Burhanudin, dosen di Kolej Islam Muhammadiyah Singapore. Ia menggambarkan kehidupan etnis Melayu di Singapura yang jumlahnya kurang dari 15%. Sudah sedikit, mereka menempati posisi terendah dalam segala bidang kehidupan. Sementara China Singapore bertingkah superior. Kondisi tersebut dikhawatirkan melanda Indonesia.

Jika saat ini jumlah etnis China 15-20 juta, dipastikan akan melesat tajam di tahun 2020. Dengan kejayaan ekonomi dan uang yang berlimpah negeri induknya, etnis China tak akan terbendung menjajah suku-suku pribumi yang semakin minoritas. Strategi China benar-benar menerapkan strategi Yahudi menyingkirkan rakyat Pribumi Palestina dan strategi Singapore yang menyingkirkan rakyat melayu.

Kekhawatiran ini berasalan jika melihat peta saat ini, seperti diungkap teman dari Singkawang menggambarkan bahwa kelompok entis Tionghoa menguasai banyak akses ekonomi. Pekembangan pembangunan fisik kota ada di tangan mereka. Sementara itu, etnis lain cuma menjadi penonton kemajuan. Mengubah kondisi ini jelas merapakan tantangan yang tidak mudah diperlukan perjuangan yang didukung dengan kebijakan yang berpihak pada kelompok yang hendak dibantu disejajarkan tanpa melukai peran yang sudah ada.

Membidik China dari Indikator Pendidikan di berbagai infomasi terkini menunjukkan bahwa pada tingkat menengah di antara semua negara-negara OECD dengan data pembanding , rata-rata ukuran kelas bervariasi dari 20 siswa atau lebih sedikit di Denmark , Estonia , Finlandia , Islandia , Luxemburg , Slovenia , Swiss ( lembaga-lembaga publik ) dan Inggris , untuk lebih dari 34 siswa di Korea . Kontras bahkan lebih mencolok di negara-negara G20 lainnya ; di Cina , misalnya , jumlah siswa per kelas mencapai tanda 50 siswa.

Saat melancung ke China tahun 2004, Walikota Shenzen menyatakan bahwa daerah otorita mulai dibangun tahun 1970-an. Mereka tidak membuat site plan. Rangcangan pembangunannya mengadopsi sepenuhnya rencana pembangunan Otorita Batam yang digagas Prof. Habibi. Gagasan membangun Batam tiada lain agar Indonesia lebih berdaya saing terhadap Singapura. Sementara itu, China hendak meningkatkan wilayahnya dengan Hongkong. Jika Batam dipisahkan Selat Malaka dengan Singapura, Shenzen berbatasan langsung dengan daratan Hongkong. Batu Ampar di Batam menjadi daerah pertama lokasi pembangunan industri hingga saat ini belum bisa menyaingi Singapura

Shenzen berbeda dengan Batam. Pemerintah China menunjukkan kedigjayaannya
dalam mewujudkan setiap rencana pembangunan model Habibi menjadi nyata. Shenzen tidak hannya menjadi pesaing Hongkong, malah jauh melebihi Hongkong dengan keunggulannya dalam bidang industri, terutama dalam menghasilkan produk bidang teknologi informasi komuniasi. Mengubah rencana menjadi aksi sehingga menjadi realisasi, itu yang tidak kita miliki anak Indonesia, anak bangsa China bisa! Inilah realita yang membedakan anak bangsa China dan Indonesia dilihat dari fakta tersebut.

Saat berkunjung ke Universitas Shenzen, yang paling mengesankan adalah saat berada di ruang lobi depan rektorat. Pada dinding ruang besar ini terepampang poroduk-produk inovatif, pada setiap jenis produk ditempel nama penemunya. Di antara yang ditempel saat itu adalah perangkat teknologi yang digunakan PLN sekarang yaitu meteran listrik, air, dan gas prabayar. Kartu HP saat itu tidak menjadi produk yang dipamerkan di situ, tetapi sudah menjadi salah satu produk industri yang amat besar. Kini kita gunakan untuk HP, ATM, dan kartu e money dalam berbagai bidang. Itu semua produk kota Shenzen. Tentu bukan cuma ini, nyatanya semua perangkat teknologi komunikasi yang digunakan Telkom hampir pasti produk China.

Yang dikerjakan anak-anak muda China tidak hanya hasil kreasi dari universitasnya. Mereka mengerjakan mengerjakan produk pesanan Eropa seperti Philips, Seimen, Nokia, sampai pada teknologi pesanan Amerika untuk mendukung operasional pesawat ulang luar angkasa. Produk Jerman teknologi bidang kesehatan seperti mesin pendukung sistem perawatan gigi, peralatan rontgen mutahir, diproduksi di Shensen. Itu sebabnya kota ini menjadi magnet untuk anak muda China berprestasi untuk bekerja menyaingi Shanghai.

Anak-anak muda China bersaing ketat untuk dapat di terima bekerja di sini. Anak-anak bangsa itu telah terlatih menguasai ilmu dan berkarya di bidangnya sehingga mereka menjadi pekerja intelektual bidang hardware dan shoftware yang mereka pelajari di bangku sekolah hingga perguruan tinggi di China maupun perguruan tinggi terkemuka lain di seluruh penjuru bumi. Mereka cerdas, berdedikasi, dan bekerja keras. Mereka bekerja tanpa batas waktu sehingga meja kerjanya sering berfungsi menjadi tempat tidurnya juga saking asiknya saat mereka berinovasi.

Dominasi China dalam bidang teknologi inoformasi telah menggenggam dunia. Saat pertemuan di Shanghai, terlihat bukan hanya Indonesia yang telah menjadi konsumen besar China, semua Negara di Asia Tenggara adalah konsumennya, kecuali Jepang dan Korea. Amerika hingga Jerman adalah pelanggannya juga. Jadi jika kita melihat kedigjayaan produk China di Indonesia, itu bukan berarti Indonesia telah terkuasai China, tetapi China dominan di mana pun. Produk China dalam bidang apa pun, baik itu kimia makanan, obat-obatan, sandang lengkap sudah, mereka dapat memproduksi dan lebih murah dibandingkan dengan produk Negara mana pun.

Mobil di China lebih banyak daripada di Indonesia. Hebatnya, mereka menggunakan VW hingga Honda, banyak merek lainnya juga, namun tak satu pun mereka impor baik dari Jepang maupun Korsel. Mereka membuatnya di dalam negeri. Internet jauh lebih murah daripada di Indosia sehingga masyarat mereka menjadi pengguna internet sangat besar. Materi untuk belajar apa pun lengkap dan dalam bahasa mereka. Itu sebabnya sekarang bahasa Mandarin sedang dikembangkan menjadi bahasa dunia.

Orang-orang Amerika menyadari bahwa pekerjaan secanggih apa pun dari Amerika, jika mereka serahkan kepada China, pasti anak bangsa China dapat mengerjakannya dengan baik dengan upah lebih rendah. Sebanyak apa pun pekerjaan diberikan kepada China pasti selalu kurang karena China bekerja lebih cepat, lebih keras, lebih murah daripada anak bangsa Amerika. Ketika saya informasikan dengan seorang guru dari Amerika bahwa orang Tionghoa sangat dominan dalam bidang ekonomi di Indonesia, ia menimpali China tidak hanya dominan di Indonesia, akan tetapi di Amerika juga, di Arab, dan di seluruh penjuru bumi.

Mengapa China bisa sedominan itu. Lihat pendidikan mereka. Sekolah China memang luar biasa, di sana mereka tak mengenal kelas kecil. Setiap kelas SD diisi tidak kurang dari 50 orang, ditangani satu guru, disiplin sudah pasti. Selain aktif learning di China dikenal juga model belajar pasif learning. Pada model pasif, siswa harus memperhatikan guru dengan seksama, mencatat dengan rapih, terlatih menghapal dengan kuat sampai tak sanggup lagi sehingga mereka tertidur, dan harus menghasilkan karya sehingga sejak dini mereka dilatih belajar dengan keras dan berkarya, berkarya, dan berkarya.

Itu sebabnya ketika anak bangsa China diberi PR proyek pembangunan Shezen mereka berhasil mewujudkan rencana, bahkan sekarang bisa membuat lebih dari yang diharapkannya semula. Sebaliknya anak bangsa Indonesia gagal membangun Batam karena saat ini hasilnya tidak seperti yang diharapkan, yaitu menjadi pusat kegiatan ekonomi menyaingi Singapura.

Kurikulum 2013 sesungguhnya telah disiapkan untuk mengubah anak bangsa kita menjadi cerdas, bertanggung jawab, dan terampil mewujudan mimpi seperti anak bangsa China. Belajar tidak hanya menghapal dan berloba menguasai teori seperti lomba OSN, sekali pun OSN bukan hal buruk. Akan tetapi belajar adalah mengamati yang orang lain hasilkan, menanya apa yang sebaiknya kita wujudkan, mencoba membuat seperti yang bangsa lain hasilkan, berkarya, berkarya, berkarya, menerapkan ilmu pengetahuan menjadi produk yang dapat dijual mestinya dapat direalisasikan. Jika kita gagal mewujudkannya itu, maka yang kita perlukan bukan hanya IPS dan PKN, tetapi menjadi pendidik yang terampil mewujudkan kurikulum menjadi realitas dalam perilaku siswa dalam bersikap, berpikir, berkaya. Kelumpuhan pendidikan kita jika kita tak dapat menghasilkan anak bangsa yang terampil berkarya.

Diskusi untuk merespon dominasi China kini dan di masa depan.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments