Standar kompetensi lulusan yang tinggi, memerlukan pendidik yang semakin baik

Ditulis 10 August 2009 pukul 07:09 oleh admin

harapanPerluasan kewenangan sekolah sebagai konsekuensi pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah dalam menggunakan kekuatannya untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dengan memanfaatkan sumber daya manajemen pada tingkat satuan pendidikan secara optimal untuk mewujudkan mutu lulusan yang dapat (1) meraih nilai ujian nasional dengan rata-rata lebih tinggi daripada standar nasional, (2) bersaing berebut peluang melanjutkan pendidikan pada sekolah atau perguruan tinggi favorit, meraih sukses dalam (3) berkompetisi pada berbagai lomba atau pertandingan internasional, dan (4) berkolaborasi dalam pergaulan siswa dalam ruang lingkup global; telah menjadi indikator besar penyelenggaraan pendidikan.

Standar Kompetensi Pendidik

Berapa standar rata-rata nilai UN matematika yang sekolah targetkan? Berapa banyak target siswa yang masuk perguruan tinggi favorit yang sekolah ingin capai? Berapa siswa yang sekolah targetkan yang dapat menjadi anggota delegasi provinsi dalam olimpiade tingkat nasional? Berapa banyak siswa yang  sekolah harapkan dapat berkolaborasi dalam kegiatan internasional yang sekolah dambakan? Berbagai masalah tersebut memerlukan jawaban yang dilakukan secara simultan oleh banyak sekolah di Indonesia. Sebagiannya memperoleh berkah mendapat calon siswa yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan mutu daya saing lulusannya dengan memanfaatkan mutu input, sebagian besar lainnya belum memperoleh jawaban strategi jitu apa yang sebaiknya sekolah lakukan.

Makin tinggi standar Semakin tinggi mutu lulusan secara logis semakin tinggi pula mutu kompetensi guru yang sekolah butuhkan.  Standar kompetensi utama yang perlu meningkat mutu lulusan  adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan terbaik dalam pengelolaan kelas dan  memfasilitasi siswa belajar tentang bagaimana mereka belajar secara aktif mengembangkan potensi dan prestasinya.

Kompetensi guru terkait pada dua ranah yang berbeda. Ranah pertama terkait pada mengoptimalkan fungsi perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi pembelajaran.   Kompetensi ini berkaitan dengan pengelolaan manajemen belajar. Fokus utamanya adalah mengembangkan sistem perencanaan mutu, pelaksanaan peningkatan mutu, monitoring proses dan hasil, dan melakukan perbaikan. Manajemen  belajar pada dasarnya membantu guru untuk mewujudkan keunggulan yang diharapkannya sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pembelajaran.

Penyelenggaraan sekolah melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, sekolah memerlukan guru yang memiliki standar kepribadian dan kecakapan sosial untuk melakukan kerja sama dalam mengoptimalkan  produk  dalam rangka mewujukan tujuan. Proses belajar adalah proses interaksi sosial. Proses belajar adalah proses berpikir yang terkait pada hati dan perasaan. Logika akan bekerja jika hati setuju dan menerimanya. Sebaliknya sesuatu yang dapat diterima oleh logika, namun ditolak oleh hati, seperti pada kasus siswa yang hatinya dalam keadaan tertekan atau suasana belajar yang tidak menyenangkannya, logikanya tidak dapat menerima pula. Oleh karena itu, suasana belajar perlu dibangun dengan modal dasar kepribadian yang didukung dengan potensi sosial pendidik.

Kompetensi pendidik yang esensial berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan menerapkan prinsip-prinsip pedagogik.  Pendidik perlu menguasai  pengetahuan dan keterampilan dalam memfasilitasi siswa belajar secara serentak. Jadi, tidak bisa nya menguasai pengetahuan saja atau keterampilan saja. Kedua-duanya harus serentak tampil untuk memanfaatkan minat dan bakat siswa dan seluruh potensi pribadinya untuk meningkatkan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya. Pendidik perlu memahami tipe-tipe belajar siswa agar dapat memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif dalam membantu siswa dapat belajar.

Potensi pribadi siswa yang guru kembangkan dijabarkan dalam berbagai indikator pada disiplin akademis yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memenuhi kriteria lulus UN, lolos dalam ujian masuk perguruan tinggi, menunjukkan potensi persaingan dalam lomba akademik dan nonakademik pada tingkat nasional dan internasional, serta mampu melakukan interaksi sosial pada taraf internasional.

Sifat kompetensi yang terukur ditandai dengan mutu pada indikator tiap satuan program pada tiap mata pelajaran yang ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dalam mengembangkan potensi dirinya. Dalam hal ini sekolah wajib meningkatkan kompetensi guru yang memiliki pengetahuan tentang tiap indikator hasil belajar siswa dan mampu mewujudkan menjadi pengetahuan dan keterampilan yang dapat siswa tunjukkan sebagai hasil belajar. Guru yang efektif mampu menunjukkan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, dan memastikan melalui evaluasi bahwa keseluruhan proses pengelolaan belajar dapat memfasilitasi siswa lulus UN dengan nilai di atas standar nasional, lolos seleksi perguruan tinggi, menunjukkan prestasi dalam lomba ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan menunjukkan daya komunikasinya dalam pergaulan internasional.

Strategi seperti apa yang perlu sekolah lakukan?

Sekolah pada umumnya memiliki tiga masalah utama dalam meningkatkan standar kompetensi pendidik.   Pertama, sekolah belum mendeskripsikan secara  rinci kompetensi siswa seperti apa yang hendak sekolah wujudkan. Bagaikan dalam membangun kendaraan, rancang bangun dan seluruh spesifikasi teknis harus  dan performa produk sudah dibuat sebelum proses kegiatan produsi dimulai. Sekolah sering kurang peduli pada  bangun  akhir  objek yang diharapkannya, materi seperti apa, keahlian seperti apa yang diperlukan untuk mengelola prosesnya, teknologi seperti apa yang akan digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.  Spesifikasi teknis untuk mewujudkan lulusan memerlukan rancang bangun yang lengkap seperti performa hasil belajar pada bidang matematika, kimia, fisika dan sebagainya.

Dengan belum jelasnya bangun profil lulusan, sekolah pada umumnya kurang memahami kompetensi guru seperti apa yang sungguhnya yang siswa butuhkan.  Apa yang guru harus  analisis, harus guru rencanakan, harus guru laksanakan  agar siswa dapat  masuk Universitas Indonesia, ITB, UGM dan berbagai perguruan tinggi favorit lainnya. Pengetahuan dan keterampilan apa yang pendidik perlukan dan bagaimana mengembangkan kompetensinya.

Peningkatan Mutu Guru Tanpa Penataran

Menggantungkan harapan peningkatan kemampuan profesi hanya pada penyelenggaraan penataran bukan strategi melainkan tragedi. Ada beberapa alasan mengapa itu berbahaya, pertama semakin banyak penataran yang guru ikuti sesungguhnya kontra produktif pada peningkatan efektivitas belajar siswa. Semakin banyak penataran semakin banyak kegiatan belajar siswa terganggu.  Alasan lain jumlah guru pada masa otonomi ini semakin banyak. Karena itu, jika pembinaan peningkatan mutu bergantung pada sistem penataran, maka akan semakin tinggi biaya yang dibutuhkan. Secara empirik terbukti bahwa tidak pernah penataran dapat dinikmati oleh seluruh guru, hanya guru-guru yang memiliki kompetensi tertentu yang banyak mendapatkan peluang.

Pengalaman menunjukkan pula penyebarluasan hasil penataran kepada guru-guru lain di sekolah sebagai produk pemusatan latihan guru secara nasional mapun lokal pada umumnya tidak berjalan efektif. Pelatihan yang selama ini dilaksanakan telah meningkatkan kompetensi guru namun belum tentu berpengaruh pada meningkatnya komptensi siswa.

Kelemahan utama sekolah adalah belum menidentifikasi standar kompetensi apa yang perlu ditetapkan agar sekolah dapat mengantarkan siswa mengembangkan kompetensi yang teridentifikasi serta menentukan jenis kompetensi yang perlu guru kuasai yang penguasaannya melalui kegiatan belajar dari pengalaman melaksanakan tugas.  Berkolaborasi mengidentifikasi berbagai kelemahan dan keunggulan empirik dalam rangka melaksanakan perbaikan mutu pekerjaan secara berkelanjutan. Meningkatkan kompetensi dari pelaksanaan tugas sehari-hari dengan dilandasi disiplin akademik yang berbasis teori. Memanfaatkan kemudahan memperoleh informasi melalui jaringan internet.

Share

Oleh Dwi Ariyani (Arien) pada tanggal 21 September 2009, 13:59

setuju sekali, saya sebagai guru yunior jarang ditugaskan penataran-penataran.dan penataran ituk idak berarti apa apa jika tidak mengimplementasikan di sekolah kita maka tidak akan memberikan pembaharuan di dunia pendidikan. jadi memang