Pelatihan Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas

Dari beberapa proses mengikuti, melatih, atau menjadi pemerhati kegiatan pelatihan penelitian tindakan kelas yang diikuti para guru dalam beberapa tahun terakhir saya mendapat pengalaman bahwa hanya sebagian kecil guru yang berhasil mewujudkan harapannya dapat melaksanakan PTK dan menyusun laporannya.

Dari pengalaman melatih peserta untuk meningkatkan kompetensinya dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas menunjukkan bahwa  para  menghadap kesulitan yang bervariasi. Di antaranya;

  • minat membaca teori pendidikan maupun  panduan penerapan standar belum sesuai dengan tingkat kebutuhan pengembangan karya tulis ilmiah.
  • keterampilan menerapkan kebiasaan berpikir ilmiah dalam melaksanakan perbaikan mutu pekerjaan belum berkembang efektif.
  • adanya kesenjangan kebutuhan untuk mewujudkan karya ilmiah dengan kecapan berpikir ilmiah. Yang peserta perlukan adalah melaksanakan dan menghasilkan karya, padahal kompetensi yang peserta miliki belum sesuai dengan yang diharapkan  sehingga banyak peserta yang enggan berjuang karena melihat pekerjaan ini sulit.

Sebagai solusi dari berbagai kendala tersebut, maka dalam menghadapi pelatihan ini para peserta dihadapkan pada tantangan yang tidak terlalu tinggi.  Pendekatan yang digunakan adalah menggunakan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Jika tiga tahap itu efektif, maka pelatihan dapat dikembangkan ke tahap selanjutnya, peserta mengembangkan inisiatif dan inovasi untuk mendapatkan penemuan baru.

Kali ini saya mendapat tantangan untuk melatih guru-guru meningkatkan keterampilan melaksanakan PTK. Jumlah peserta dalam pelatihan ini dipastikan lebih dari seratus orang. Sungguh ini menjadi tantangan yang sangat tinggi. Diprediksi bekal ajar peserta sangat variatif. Oleh karena itu model pelatihan menggunakan model STAD (Student Team Achivement Division) yang di-blended dengan model TTE (Time Token Ekonomi), dan model WBI (Web Based Instructional).

Pelaksanaan kegiatan dengan model STAD memungkinkan setiap peserta ada dalam kelompok kecil yang anggotanya pasti variatif. Jumlah anggota pada tiap kelompok akan membengkak  lebih dari sepuluh orang. Oleh karena itu tiap kelompok akan dipecah lagi dalam sub kelompok kecil yang terdiri atas  5-6 orang.

Penerapan STAD memungkinkan tiap peserta berinteraksi dan saling memberlajarkan, namun penilaian akan dilakukan terhadap hasil yang dicapai secara individual. Oleh karena itu, setiap peserta dalam pelatihan ini harus menghasilkan karya sendiri yang dinilai. Nilai yang diperoleh oleh kelompok merupakan komulatif dari nilai setiap anggota kelompok. dengan cara ini diharapkan setiap anggota kelompok bekerja keras untuk saling membantu untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Agar lebih seru, maka pendekatan pembelajaran juga akan dikuatkan dengan model Time Token Ekonomi. Kelompok yang terbaik akan medapatkan hadiah yang berharga. Dengan pendekatan ini tiap kelompok diharapkan akan meningkatkan produktivitasnya karena ada dalam suasana berkompetisi.

Pendekatan WBI untuk meningkatkan ketersedia contoh-contoh PTK dan sumber belajar untuk dalam memenudahkan tiap kelompok dalam berkarya.

Dalam kegiatan awal akan saya coba mengeksplorasi informasi yang telah peserta kuasai dengan menggunakan pertanyaan seperti ini.

  1. Apa yang sesungguhnya sudah calon peserta lakukan dalam rangka PTK?
  2. Apakah sebelumnya mereka sudah pernah melaksanakan PTK?
  3. Apakah mereka sudah berhasil atau belum berhasil melaksanakan dan menulis laporan PTK?
  4. Apa yang menyebabkan mereka belum berhasil?

Ada pun keterampilan berpikir yang akan dikembangkan meliputi empat siklus proses berpikir ilmiah yang meliputi;

  1. Melaksanakan observasi.
  2. Merumuskan masalah atau hipotesis.
  3. Melaksanakan penelitian tindakan.
  4. Mengevaluasi tindakan.

Siklus digambarkan dalam diagram berikut:

Pada diagram di atas, selain menjalankan siklus aplikasi berpikir ilmiah, peserta juga mendapat tantangn untuk merumuskan hasil karya berupa karya tulis ilmiah dan mempresentasikan hasil karya dalam forum karya ilmiah.

Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelatihan saya akan mencoba menerapkan prosedur pelatihan dengan skenario seperti di bawah ini.

Kegiatan akan dilakukan dalam lima bagian tujuan pelatihan dapat  meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta melaksanakan dan menyusun laporan PTK secara efektif untuk seluruh peserta.

Materi untuk seluruh tahap kegiatan dapat diunduh  dalam urutan di bawah ini.

  • [download id=”2952″]
  • [download id=”2946″]
  • [download id=”2947″]
  • [download id=”2948″]
  • [download id=”2949″]
  • [download id=”2950″]
  • [download id=”2951″]
  • [download id=”2944″]
  • [download id=”2945″]

Demikian yang dapat GP sajikan, semoga ada manfaatnya untuk teman-teman.

Catatan: Tulisan ini disiapkan sebagai bahan pelatihan para guru di BATAM  pada tanggal 5 Januari 2012.

Referensi:

Artikel terkait:

Published on: 3 Januari 2012

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments

6 comments

Terimakasih pak Rahmat sudah memberikan pelatihan di Batam hari ini, karena keterbatasan waktu, rasanya materi yang disampaikan hari ini belum tuntas sepenuhnya, tapi mudah-mudahan apa yang kami dapat hari ini, dapat membuka cakrawala berfikir lebih luas lagi, demi untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan mudah-mudahan juga berkat dukungan dari teman-teman sejawat, kami bisa mewujudkan untuk membuat PTK tersebut..amien.

betul hanya sebagian kecil yang berhasil, kenapa sebabnya?, krn ada biro jasa pembuat PTK dan siap jadi sk, kasihan yang sudah susah payah membuatnya malah dalam pengurusan pengajuan pangkatnya dipersulit……sepertinya g adil, ini hanya keluhan saja