Pemimpin Pembelajaran Visioner dan Transformatif

Pemimpinan Pembelajaran

Kepala sekolah sudah semestinya menjadi pemimpin pembelajaran.  Dalam menjalankan perannya ia memusatkan perahatian dan kajiannya terhadap tindakan atau pendelegasian wewenangnya untuk meningkatkan efektivitas guru mengajar dan siswa belajar. Pada masa lalu dan hingga sekarang masih relevan, peran kepala sekolah terintegrasi dalam akronim EMASLIM yaitu educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator.

Pada perannya sebagai leader, kepala berperan sebagai pimpinan pembelajaran. Pada peran ini lebih daripada keterampilan mempengaruhi orang-orang,  namun mencakup moral atau pendekatan rasional yang berlandaskan nilai-nilai. Menurut Sergiovanni (1996). Ia menegaskan bahwa kepemimpinannya berpijak pada moral atau kode etik yang dipahami serta diterima  oleh seluruh warga sekolah.

Peran utama pemimpin pembelajaran mengambil keputusan yang tepat dalam proses mengintegrasikan kekuatan dan meningkatkan kompetensi pendidik; mengembangkan kurikulum, dan melaksanakan penelitian tindakan untuk melakukan perbaikan proses (Glickman, 1985).  Dampak dari itu harus terlihat pada keunggulan mutu lulusan. Peran utama sekolah sebagai pemimpin adalah memilih dan memecahkan masalah  yang paling strategis untuk mewujudkan tujuannya.

Aktivitasnya sebagai pemimpin, sebagaimana  pemimin lainnya   yaitu menentukan tujuan, mengarahkan, mempengaruhi, memberdayakan dan mengotrol pergerakan agar berpengaruh terahadap peningkatan efektivitas pembelajaran.

Potensi Kempimpinan

Potensi kepala sekolah mestinya terlihat pada kemampuannya mengambil keputusan, menyelarasakan dan mengintegrasikan seluruh kekuatan   organisasi,  mempersatukan  emosi atau psikologi warga sekolah sehingga terbangun kolegialitas yang kuat, semangat bekerja sama,  dan menggerakan orang-orang agar saling bergantung satu sama lain, saling menghargai, berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam memberdayakan pengaruhnya pemimpin pembelajaran, seperti halnya pemimpin organisasi yang lain, dibedakan dalam dua tipe yaitu tipe pemimpin “transaksional” dan “transformasional”.

Tipe Kepemimpinan Pembelajaran

Kepala sekolah dapat mengembangkan daya kepemimpinannya  dalam  berbagai tipe.

Tipe kepemimpinan transaksional bersikap responsif. Mereka mengemban tugas berasakan kultur lembaga, memotivasi bawahan dengan memberikan  penghargaan dan hukuman. Kepemimpinan berlandaskan asumsi

  1. bawahan tidak memotivasi dirinya
  2. motivasi bawahan meningkat jika digerakan dengan penghargaan dan hukuman
  3. bawahan harus mematuhi perintah atasan.

Berdasarkan tiga asumsi ini melahirkan model tindakan lanjutan bahwa bawahan harus dipantau bahkan dikendalikan. Pemimpin harus mengembangkan daya inisiatif dan interaktifnya agar bawahan bergerak untuk mewujudkan tujuan organisasi. Tipe transaksional sangat sesuai untuk mewujudkan tujuan jangka pendek atau dalam pemenuhan standar maupun prosedur. Pemimpin tidak memerlukan banyak daya inisiatif dan kreativitas bawahan karena target dan prosedur kerja telah ditetapkan dengan ketat.

Tipe Kepemimpinan Transformasional berperan sebaliknya. Pemimpin dengan bawahan berinteraksi dan berintegrasi. Kesadaran bersamanya meningkatkan motivasi dan keuatan moral  yang mempersatukan kekuatannya. Dalam peran kepemimpinan transformasional,  pimpinan dan bawahan memiliki motif bersama berlandaskan nilai-nilai dan tujuan yang dikuatkan dengan pengakuan bahwa pemimpinnya “benar”. Pemimpin dan bawahan menjadi dua pihak yang saling membutuhkan. (James MacGregor Burns : 1979.p36)

Pemimpin transformasional bersikap proaktif, meningkatkan budaya organisasi melalui kreasi ide-ide baru,  memotivasi bawahan  untuk mencapai tujuan yang lebih bernilai dengan motivasi yang dilandasi moral dan idelisme yang tinggi. Semangatnya tidak hanya didasari atas kepentingan diri sendiri malainkan karena mereka bergerak atas kepentingan bersama.

Tipe Pemimpin Visioner yaitu pemimpin yang  memiliki karakteristik selalu berorientasi  pada masa depan. Ciri khas yang paling penting adalah menentukan arah yang jelas dalam menwujudkan  visi untuk kepentingan siswa pada masa kini dan masa depan. Tindakannya berorientasi pada hari esok dengan cara bertindak efektif sebagai pemimpin yang mampu menggerakkan orang-orang yang dapat mendorong organisasi berkembang sehingga meraih keunggulan. Ia juga berperan sebagai manajer yang bertugas memastikan bahwa pembelajaran berlangsung efektif, menselaraskan hubungan kerja sehingga harmonis, serta mengukur hasil yang dicapai untuk melakukan perbaikan-perbaikan mutu pada tahap selanjutnya

Kepala sekolah visioner  mengembangkan pendidik yang menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan pedagogis secara teoritis dan praktis, pengetahuan kurikulum dan penerapkannya, pengetahuan  tentang siswa dan karakteristiknya, pengetahuan konteks pendidikan, serta pengetahuan tentang arah, tujuan, serta nilai pendidikan untuk pertumbuhan siswa agar memiliki kopetensi yang dibutuhkan dalam kehidupannya.

Kepemimpinan Abad Ke-21

Menurut Andrew J. Rotherham dan Daniel Willingham, dikaitkan dengan kepentingan pendidikan abad ke-21, kepala sekolah memperhatikan tiga komponen kegiatan utama, yaitu mengembangkan kurikulum terbaik, meningkatkan kompetensi pendidik sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, dan mengembangkan sistem penilaian terbaik sebagai dasar perbaikan mutu.

Untuk mewujudkan harapan siswa dapat beradaptasi dalam perkembangan jamannya, maka sekolah perlu mendefiniskan kompetensi yang siswa butuhkan, menentukan indikator pencapaian kompetensi tingkat satuan pendidikan sebagai acuan guru-guru merumuskan indikator pencapaian kompetensi pada setiap mata pelajaran.

Berdasarkan kajian tersebut peran penting kepala sekolah dalam menentukan kompetensi abad 21 dalam

  1. menentukan arah pengembangan sekolah berdasarkan konteks abad 21
  2. menyelaraskan jalinan hubungan kerja untuk meningkatkan semangat kebersamaan
  3. menggerakan seluruh kekuatan sekolah untuk meningkatkan kompetensi pendidik untuk menujang efektivitas pembelajaran
  4. meningkatkan motivasi seluruh warga sekolah untuk mewujudkan keunggulan. Keempat pilar kegiatan kepemimpinanya adalah untuk menunjang efektivitas pembelajaran

Keempat bidang kegiatan pokok tersebut dapat dilihat dalam diagram berikut.

new-picture-4

Arah dari seluruh aktivitas kepemimpinan kepala sekolah adalah mewujudkan efektivitas pembelajaran yang dapat membantu siswa belajar mewujudkan keunggulan kompetensinya.

Tindakan Praktis Pemimpin Pembelajaran

Sejumlah tindakan praktis dalam meningkatkan pengaruh dalam menggerakan warga sekolah kepala sekolah perlu melakukan tindakan praktis seperti contoh berikut:

  • berdialog dengan guru, siswa, atau tenaga kependidikan lain dalam interaksi personal dalam aktivitas sehari-hari.
  • menjadi pendengar yang baik dalam pertemuan formal maupun nonformal,
  • berbagi pengalaman dengan guru atau siswa; bertindaklah menjadi kepala sekolah yang dominan, namun tidak mendominasi.
  • menggunakan contoh yang terkait langsung dengan pelaksanaan tugas sehari-hari
  • memberikan peluang untuk memilih atau menyediakan beberapa alternatif sehingga mendorong tumbuhnya inisiatif.
  • menyikapi dengan arif kebijakan terdahulu
  • mendorong pendidik berani mengambil resiko
  • menyediakan sumber belajar untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan ;

Indiktor utama keberhasilan kepala sekolah adalah dalam memantau atau melaksanakan supervisi. Dalam kegiatan supervisi kepala sekolah dapat memperoleh data tentang tingkat efektivitas guru memfasilitasi siswa belajar. Atas dasar itu, kepala sekolah dapat membantu guru memperbaiki proses kerjanya. Karena itu,  menurut Joseph Blase and Jo Blase (1999), kepala sekolah hendaknya menindaklanjuti supervisi dengan beberapa peran berikut:

  • Memberikan saran;
  • Memberikan umpan balik terhadap aktivitas pendidik;
  • Mengembangkan model;
  • Menggunakan hasil riset,
  • Meminta pendapat;
  • Memberikan pujian atau penghargaan.

Dari kajian ini dapat kita peroleh kesimpulan bahwa  tugas kepala sekolah dalam perannya sebagai pemimpin pembelajaran adalah mengembangkan tindakan efektif  yang berangkal dari daya inisiatif dan interaktif untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah membangun kekuatan moral yang terintegrasi dengan nilai-nilai, tujuan, dan keyakinan bersama dalam merencanakan, melaksanakan, mensupervisi, dan mengevaluasi program dalam bentuk tindakan yang dapat mengintegrasikan orang-orang untuk mencapai keunggulan sekolah yaitu  meraih keunggulan mutu lulusan.

Perangkat Kegiatan:

 

Referensi: 

Anderson, D. & Anderson, LA 2001. Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders. San Francisco: Jossey-Bass.

Bradford, D.L. and Burke, W.W. 2005. Reinventing Organization Development. New Approaches to Change in Organizations San Francisco, CA: Pfeiffer.

MacGregor Burns, James. 1978. Leadership, Harper & Row, London.

Glickman, C.D., Gordon, S.P. and Ross-Gordon, J.M. 1995. Supervision of Instruction: A Developmental Approach, 3rd ed., Allyn and Bacon, Boston, MA.

Gordon Mitchell. 1999. Change Management: Best Practice in Whole School Development, Danida, Denmark.

Kooter, John P. 1990. A Force For Change: How Leaders Differs From Management. The Free Press. New York.

Sergiovanni, T.J. 1996. Moral Leadership, Jossey-Bass, San Francisco, CA

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments