Anggaran Pendidikan Belum Berfokus Pada Pembentukan Insan Berdaya Saing

Kepastian kehidupan yang lebih baik di masa depan kini terusik dengan banyaknya warga negara asing bekerja di Indonesia. Daya tahan internal Indonesia untuk menangkal atau mengurangi kelombang itu tidak sepadan dengan arus perubahan. Permasalahannya, meningkatnya arus masuk tenaga kerja asing ke Indonesia menyatu dengan masuknya modal asing.
 
Kondisi ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Betapa tidak, kecepatan pertumbuhan pembangunan fisik pada berbagai bidang kehidupan, tak disertai dengan pertumbuhan kebanggan sebagai bangsa. Berkembangnya infrastruktur dalam bidang perhotelan, perdagangan, transfortasi.komunikasi dan yang lainnya yang belakangan ini semakin menguat, nyatanya tak memperkuat peran warga negara dalam pengelolaan sumber daya yang Indonesia milliki. Yang terjadi malah sebaliknya, akses warga negara dalam pengelolaannya makin terbatas.
 
Menigkatkan bertumbuhnya peran tenaga kerja asing dalam berbagai bidang pembangunan kini menjadi kerisauan banyak pihak. Hal itu tidak hanya dipandang sebagai ancaman terhadap eksistensi ketenagakerjaan, namun kini berubah menjadi ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Inilah salah satu sisi gelap yang kini menjadi ancaman akibat dari menguatnya penanam modal asing. Yang punya uang lebih berkuasa, daya tawarnya kuat sehingga mereka bisa menentukan pekerjaan mana saya yang harus ditangani oleh pekerja dari negaranya.
 
Persoalan besar di tengah krisis ini, sistem pendidikan tak cukup kuat untuk menopang daya saing tenaga kerja Indonesai. Pendidikan kita belum bertransformasi menghadapi perubahan kebutuhan mutu umber daya insani bangsa. Biaya pendidikan yang sudah dialokasikan untuk meningkatkan mutu pendidik, sarana-prasarana pendidikan, perbaikan kurikulum, belum dapat mendongkrak perbaikan mutu pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah untuk menghasilkan SDM yang berdaya saing. Orientasi perbaikan mutu pendidikan masih memperjuangkan pemenuhan kewajiban minimal bersekolah. Sementara sekolah yang memiliki peluang untuk meningkatkan mutu, disumbat dengan larangan mencari peluang pembiayaan dari masyarakat. Akibatnya, kita tak memiliki sekolah yang dikembangkan dengan menggunakan perangkat pendidikan yang adaptif dengan perubahan bidang pengetahuan dan teknologi. Sekolah negeri semuanya hanya diperlbolehkan menggunakan anggaran untuk menghasilkan mutu lulusan sekedarnya.
 
Sementara itu, daya saing mutu SDM di negara tetangga terus dikembangkan sejalan dengan perubahan pengetahuan dan teknologi di bidang Industri terkini. Mereka memacu persaingan dengan mengolkasikan daya yang besar untuk membangun sekolah-sekolah elit untuk menghasilkan manusia inovatif yang akan memicu pertumbuhan peluang perkerjaan. Akibatnya kita saksikan kedigjayaan lulusan dari sekolah-sekolah sejenis pada negara-negara sekawasan Asia Tenggara dan Timur.
 
Daya saing siswa Indonesia di kancah internasional terlihat pada hasil tes PISA tahun 2012 berada di bawah negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Strategi pembelajaran yang kini dilaksanakan oleh guru-guru di China, Jepang, Korea, dan Singapura telah jauh melampaui kemampuan guru-guru di Indonesia. Murid di negara-negara tetangga Indonesia telah menunjukkan semangat kerja kerasnya dalam belajar, menghasilkan disiplin yang lebih tinggi, karakter yang kuat sesuai dengan ciri khas karakter yang dijunjung tinggi di tiap negara.
 
Lihat karakter siswa di negara sekawasan dalam mematuhi tata tertib, mereka tak hanya menunjukannya di sekolah, akan tetapi terpola baik dalam perilaku sosial di dalam kehidupan yang luas. Ketertiban lalu lintas di berbagai negara itu membuktikan bahwa pendidikan telah berperan efektit dalam membangun nilai-nilai bermakna dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pendidikan di Indonesia kini, telah mempercepat pertumbuhan hotel karena banyaknya sumber daya manusia yang dilatih dengan menggunakan tempat di hotel-hotel. Menumbuhkan dengan cepat sistem penerbangan karena banyaknya pendidik yang dimobilisasi untuk mengikuti pelatihan, diskusi, dan kegiatan pengembangan keprofesian lain. Dinamika yang meningkat dalam memobilisasi pendidik dan tenaga kependidikan, belum berkembang menjadi pergerakan percepatan perbaikan mutu belajar siswa dalam kelas.
 
Hal-hal yang elementer yang amat diperlukan untuk menopang persaingan yang semakin diperlukan para siswa perlukan seperti merumuskan masalah yang tidak mereka kenal sebelumnya, kemampuan menanya sebagai pondasi pertumbuhan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis pada taraf kecakapan berpikir tinggi, kemampuan belajar mandiri dalam menyelesaikan masalah, mengembangkan proyek berbasis masalah dalam kehidupan, kemampuan untuk berkolaborasi, kemampuan untuk mengatur diri sehingga mampu bekerja keras, jujur, dan berdisiplin; tampaknya semuanya belum mampu sekolah fasilitasi secara optimal. Sekolah belum optimal membangun budaya siswa pembelajar yang adaptif dengan perkembangan terkini.
 
Kini, agaknya, tak ada waktu untuk menunda memperbaiki semua itu. Sekali pun upaya itu akan memperlihatkan hasilnya tidak instan, namun kita memerlukan strategi yang berbeda daripada yang selama ini dilaksanakan. Kita tidak mungkin akan mendapatkan mutu sumber daya insani yang lebih baik di masa mendatang apabila pelaksanaan tugas pendidik di kelas-kelas tidak berubah. Cara mengajar yang terpola seperti tradisi di tiap sekolah seperti selama ini dijalankan, jika tak di ubah akan semakin memerosokan daya saing tenaga kerja Indonesia di masa mendatang.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments