Membangun Kultur Mutu : Gantungkan Cita-citamu Setinggi Satelit
Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pernyataan itu sangat populer pada tahun 1960-an. Semula Karno menggunakannya untuk membangkitkan semangat juang bangsa. Kini boleh jadi banyak di antara kita telah melupakannya sehigga sekolah lupa mengawali suksesnya dengan cita-cita yang tinggi. Sekolah membiarkan semua berjalan seadanya.
Pernyataan Cita-cita yang Tinggi
Secara empirik bangsa yang sudah maju sangat memahami apa artinya menggantungkan cita-cita yang tinggi. Pandangan antagonis tentang nilai relatif tingginya cita-cita yang sesuai, didapat dari satelit, dari internet, yang menggambarkan bagaimana membangun keyakinan yang tinggi, namun realistis.
Yang unik pikiran semacam itu kita dapatkan di Departemen Pendidikan Illinois. Mereka membangun mutu pendidikan dari penguatan keyakinan sebelum melakukan tindakan pada hal-hal yang praktis. Penetapan standar (http://www.isbe.net /profprep/PDFs/ipts.pdf) professional pendidik dilandasi dengan tujuh keyakinan, yaitu yakin bahwa:
- Seluruh siswa memiliki potensi dapat mempelajari materi ajar yang disusun dengan ketat serta dapat mencapai prestasi yang tinggi.
- Seluruh siswa terjamin mendapat lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar.
- Seluruh siswa menadapat pelayanan belajar unggul dengan jaminan seluruh pendidik menerapkan pembelajaran berstandar dan peluang berkembangnya pengetahuan dan keterampilan siswa.
- Aktivitas pembelajaran yang berdisiplin mengaitkan ide dengan pengalaman personal, loingkungan, dan komunitas siswa.
- Pendidik yang professional dapat berperan dalam kelas, bertanggung jawab dalam bekerja bekerja sama dengan profesi lain, dengan orang tua siswa, mengembangkan sekolah sebagai organisasi belajar, dan menggunakan berbagai sumber daya belajar sehingga menjadi teladan para siswa.
- Pendidik yang professional dapat mengembangkan proses yang dinamis dari mulai perencanaan hingga melaksanakan sampai pada kegiatan memantau hasil belajar bersama sejawat dalam menerefleksikan pelaksanaan tugas berbasis ilmu pengetahuan.
Keyakinan yang berubah jadi prestasi
Pada saat mengujungi SMAN 1 Singaraja Bali, penulis ingat pernah membaca teks itu pada dokumen standar salah satu negara bagian di Amerika, Keunikan lain adalah nilai-nilai keyakinan seperti yang ditulis di Illinois, muncul dalam tataran praktis di Singaraja. Keyakinan itu tidak ditulis oleh SMA Singaraja, namun mucul dari kata-kata Nyoman Darta ketika menuturkan kebersahasilannya sebagaimana ditulis Bali Pos pada bulan Septermber 2007.
Di sekolah ini tergambarkan bagaimana menerapkan standar keyakinan pendidik dan warga sekolah. Indikator bahwa sekolah mememiliki harapan yang tinggi tergambar pada prestasi nyata yang dapat diwujudkannya.
Menurut keterangan kepala sekolah dirinya sebagai kepala sekolah meraih juara satu dalam pemilihan Kepala Sekolah berprestasi tingkat nasional untuk kelompok SMA/SMK. Penghargaan diterimanya pada HUT ke-62 RI di Jakarta, Agustus lalu. Pada saat yang sama, seorang guru SMN 1 Singaraja Putu Eka Wilantara, S.Pd., M.Pd. juga mendapat juara kedua guru berprestasi tingkat nasional.
Wilantara adalah guru fisika yang banyak melahirkan siswa berprestasi dalam lomba-lomba fisika di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Dalam ajang kompetisi di tingkat provinsi, Iska Novi Udayani dan Ketut Ariadi mengukuhkan diri sebagai juara untuk siswa berprestasi. Iska meraih juara satu, dan Ariadi berada di tempat kedua untuk kategori siswa putra. ”Dua siswa ini tak diikutkan dalam lomba sejenis di tingkat nasional karena keterbatasan dana,” kata Darta.
Prestasi terbaru yang diaraih siswa-siswanya dalam Olimpiade Sains tingkat nasional di Surabaya 2-8 September 2007. SMAN 1 Singaraja mengirimkan 13 peserta, yakni bidang fisika 3 siswa, matematika 4, kimia 3, biologi 2 dan astronomi 1 siswa. Dari ajang olimpiade itu, dua siswa berhasil memperoleh medali perunggu atas nama Made Adi Satria Darma di bidang fisika dan Andika Metrisiawan bidang kimia.
Yang paling prestisius adalah perolehan medali emas di bidang biologi dalam Pesta Sains yang digelar di IPB Bogor 7-9 September 2007. Atas prestasi itu, tim SMAN 1 Singaraja yang terdiri atas Kadek Yuda Prawira, Gede Wirata dan Nyoman Agus Setiawan berhak membawa pulang Piala Menteri Pendidikan Nasional yang cukup megah itu.
Pada kesempatan terakhir penulis mengunjungi SMAN 1 Singarja tahun 2009, kepala sekolah menyampaikan bahwa tiap tahun sekolahnya meraih prestasi tingkat nasional dalam bidang karya tulis. Yang membanggakannya adalah prestasi itu diraih oleh kepala sekolahnya, pendidiknya, dan pasti oleh siswa. Di samping itu, ada 11 siswa yang mewakili provinsi Bali yang dalam olimpiade sains tingkat nasional.
Budaya yang unik adalah dalam pengembangan sekolah berbasis data. Pengalaman saat berkunjung yang pertama ketika saya melakukan monitoring adalah data kinerja sekolah dengan menggunakan alat ukur instrument evaluasi kinerja tahun 2007, lengkap dengan laporan kemajuan yang dicapai hingga saat itu.
Data itu pula yang sekolah gunakan untuk menguatkan keyakinan. Catatan prestasi yang dapat sekolah wujudkan yang didukung dengan data perkembangan proses telah menjadi modal pengembangan semangat membangun cita-cita yang tinggi. Hasilnya kepuasan dan kebanggaan.
Sekolah Tanpa Keyakinan Yang Tinggi
Secara empirik dari hasil kunjungan ke berbagai sekolah bahwa tingkat keyakinan dalam bentuk optimisme mencapai target tinggi sangat bergantung pada tinggi rendahnya kebiasaan kepala sekolah mengumandangkan cita-citanya.
Pada sekolah yang daya bangkitnya rendah terdapat kepala sekolah yang rendah pula cita-citanya, banyak berkeluh kesah tentang sumber daya yang sekolah miliki. Pada beberapa kasus kepala sekolah tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa di atara sekian banyak siswanya dapat berprestasi tinggi. Ditemukan pula kepala sekolah yang berargumentasi bahwa rendahnya standar prestasi sekolah akibat dari input siswanya yang rendah juga guru-gurunya yang kurang kreatif.
Cara pandang seperti itu cenderung merata di sekolah yang menerima murid pada level bawah memiliki stigma bahwa siswa yang memiliki nilai akademik rendah kecil kemungkinannya berprestasi tinggi.
Stigma berpikir seperti itu cenderung memiliki karakter seperti virus. Kondisinya menular dengan cepat sehingga sekolah cenderung menetapkan target selalu rendah. Memiliki ketakutan untuk menetapkan target tinggi. Kondisi yang memprihatinkan ini diperparah dengan karakter umum guru. Menurut hasil penelitian (Ross Miller, 2009- http: //www. greaterexpectations.org/briefing_papers/ImproveStudentLearning.html) harapan yang selalu dikumandangkan itu berpengaruh pada prilaku guru maupun siswa.
Hasil studi Personal author, compiler, or editor name(s); click on any author to run a new search on that name.Rubie-Davies, Christine M. yang dipublikasikan pada British Journal of Educational Psychology menyatakan dengan tegas bahwa keyakinan guru terhadap siswa dalam kelas berpengaruh pada prestasi siswa.
Stigma negative yang muncul dalam bentuk pernyataan pimpinan sekolah yang pesimistik berpengaruh pada rendahnya target mutu yang sekolah tetapkan, rendahnya keyakinan guru dan siswa yang akhirnya berpengaruh pada rendahnya prestasi siswa.
Keyakinan yang tinggi berpengaruh pada raya percaya diri, seperti atlit bulu tangkis atau tenis, kemenangan harus diperjuangkan dalam kondisi yang sangat kritis pada adu kekuatan fisik dan mental yang sangat ketat, saat posisi angka masing-masing sama pada mendekati game point, maka di sini rasa percaya diri dan sekaligus keyakinan untuk menang.
Masalahnya di sini adalah “Bagaimana kita dapat mengetahui tinggi rendahnya keyakinan sekolah terhadap berbagai hal yang diprogramkannya?”. Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah ” sekolah sebaiknya melaksanakan evaluasi”. Pengawas atau tim yang dibentuk sekolah menerapkan sistem penjaminan dengan menggunakan instrumen penjaminan budaya mutu. Instrumen itu digunakan untuk memantau tinggi rendahnya standar keyakinan dengan tujuannya untuk mengetahui seberapa tinggi target mutu ditetapkan. Melalui hasil pemantauan itu sekolah dapat mengetahui seberapa tinggi keyakinan sekolah terhadap prestasi yang dapat pendidik dan siwa wujudkan.
Kesimpulan
Salah satu hal yang amat penting dalam meningkatkan standar mutu, sekolah perlu membangun keyakinan bahwa siswa, guru, bahkan kepala sekolah dapat berprestasi tinggi. Keyakinan itu harus secara sistematis dikembangkan melalui perlakuan manajemen. Tentu keyakinan yang tinggi yang tercermin pada target mutu harus didukung dengan tindaklajut pada keyakinan bahwa sekolah dapat menjadi organisasi pembelajar dan memperjuangkan pernyataan yang diyakininya dalam bentuk tindakan praktis dan realistis.
Referensi:
- Arizona Professional Teaching Standard, http://www.ade. state.az.us/ CERTIFICATION /downloads/Teacherstandards.pdf
- Catatan tentang SMAN 1 Singaraja Bali
- Illinois Professional Teaching Standards, http://www.isbe.net /profprep/ PDFs/ipts.pdf
- http://www.ade.state.az.us/CERTIFICATION/downloads/Teacherstandards.pdf
- Ross Miller, 2009- http: //www. greaterexpectations.org/briefing_papers/ mproveStudent Learning.html
- Rubie-Davies, Christine M. British Journal of Educational Psychology, v77 n2 p289-306 Jun 2007
Share