Penguatan Keterampilan Abad 21 Melalui Pengumpulan Fakta Praktik Baik Pembelajaran

Konsep

Istilah keterampilan abad 21 lahir dari kajian kebijakan pendidikan Amerika dalam menyiapkan mutu sumber daya manusia agar adaptif terhadap pekembangan ekonomi global. Orientasi pengembangan keterampilan abad 21  adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang kompeten dan kompetitif  di masa depan. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan generasi muda yang paling kompetitif, kreatif, inovatif untuk menjadi penopang kemajuan perusahaan terkemuka di dunia. Karena hal tersebut menyangkut kepentingan semua negara maka konsep tersebut segera diadopsi pada sistem pendidikan secara luas.

Kehidupan abad 21 saat ini membawa banyak masalah dan tantangan: degradasi lingkungan, keberlanjutan energi, perbedaan ekonomi, dan hilangnya budaya lokal di era globalisasi, untuk menyebutkan beberapa saja. Orang ‘biasa’ melakukan lebih banyak hal untuk mengatasi masalah ini daripada membaca tentang mereka di surat kabar dan online?[1] Kemampuan mengatasi masalah ada di mana-mana baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Keterampilan abad 21 tumbuh hasil analisis kebutuhan meningkatkan daya saing generasi muda dalam perkembangan ekonomi global, maka setelah Amerika menetapkan menjadi kebijakan pendidikannya, maka dengan serta merta banyak negara yang mengadopsi kebijakan itu. Fokus utama kajian  adalah adalah membekali generasi mudanya agar memiliki kompetensi yang paling mereka perlukan di saat ini dan di saat mendatang melalui penumbuhan keterampilan berbasis inquiri, belajar secara digital, dan meningkatkan kesadaran hidup pada konteks global. Untuk mendukung daya competisinya maka siswa perlu mendapat penguatan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, terampilan berkomunikasi dan berkolaborasi, serta terampil berkreasi dalam merekayasa pengetahuan. [2]

Untuk mengembangkan keterampilan abad 21 dalam  mengatasi masalah diperlukan guru-guru yang mengembangkan pembelajaran model inquiri. Belajar tak lagi dimulai dengan menjawab pertanyaan, melainkan dengan merumuskan pertanyaan atau masalah. Proses belajar merupakan proses untuk meneroka alam sekitar, merumuskan masalah, menggunakan pengetahuan yang telah mereka kuasasi untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan baru, membahas bersama, mengolah dan menyeleksi informasi untuk memecahkan permasalahan dalam kelompok, menyimpulakan hasil belajar, mengomunikasikan kepada kelas, menanggapi gagasan teman-teman, dan memperbaiki hasil karya dengan mempertimbangkan saran atau pendapat orang-orang.

Dalam meningkatkan keterampilan abad 21, guru harus dapat membumikan siswa dalam masalah nyata pada kehidupannya. Menarik pikiran siswa secara kreatif untuk menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang tumbuh dari perhatiannya yang diarahkan pada realita hidupnya.

Fondasi penguatan keterampilan abad 21 adalah  adalah bertumbuhnya daya literasi. Makna literasi yang paling penting adalah pertumbuhan kemampuan untuk menghimpun, mengolah, menyeleksi, dan menggunakan inforasi secara cerdas dan kreatif untuk menghasilkan in=formasi baru. Hal tersebut ditunjukkan dengan literasi informasi atau menguasai ilmu pengetahuan pada setiap mata pelajaran yang dipelajarinya, literasi pengolahan angka atau numeri, literasi sains, leterasi TIK, literasi budaya, juga literasi lingkungan.

 

Sepuluh Langkah Kegiatan Penumbuhan Keterampilan Abad 21

Dalam pengembangan keterampilan abad 21 berbasis inquiri guru dapat merancang kegiatan belajar dengan cara menjawab pertanyaan berikut:

  1. Sampaikan tujuan dan materi yang akan siswa pelajari, kaitkan dengan materi sebelumnya dan dengan kehidupan nyata.
  2. Fenomena atau gejala kehidupan apa yang perlu siswa perhatikan dan fakta, data, atau informasi apa yang sebaiknya siswa catat sehingga berdasarkan catatannya siswa merumuskan pertanyaan atau masalah yang hendak dipecahkannya. Setiap siswa menuliskan masalah.
  3. Untuk melaksanakan proses belajar berikutnya, doronglah siswa untuk menyepakati masalah yang akan diselesaikannya. Masalah bisa satu untuk satu kelas, atau setiap kelompok memiliki satu masalah. Hindari siswa diberi masalah oleh guru sehingga dengan cara ini belajar menjadi proses memberikan jawaban. Seharusnya siswalah yang merumuskan dan menyelesaikan masalah.
  4. Guru menyepakati langkah kegiatan belajar, kompetensi yang harus siswa capai dalam tiap kelompok, lama waktu yang dapat siswa gunakan, karya apa yang harus siswa wujudkan, dan cara menyajikan karya di akhir sesi belajar, sebelum melakukan refleksi, dan mengembangkan rencana baru atas perluasan penerapan ilmu yang telah siswa kuasai.
  5. Siswa mencoba mengeksplorasi informasi menghimpun informasi, pada proses ini daya literasi bertumbuh dengan cara siswa membaca di perpustakaan, membaca buku, koran, atau majalah di dalam kelas, membaca lembar informasi yang guru sudah siapkan, mencari informasi dari internet, menghimpun fakta dari lingkungan sekitar. Siswa berdiskusi untuk mengolah informasi dalam kelompok, menyeleksi infomasi, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah dengan merumuskan hasil belajar, dan menarik kesimpulan hasil belajarnya. Dengan langkah tersebut diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman beraktivitas dan berkarya, serta mendapatkan pengetahuan, atau keterampilan baru.
  6. Siswa selanjutnya siswa mengomunikasikan hasil karyanya ke kelompok lain. Proses ini dapat dilakukan dengan cara menempelkan hasil karyanya di dinging kelas, memprentasikan hasil karya, atau mengomunikasikan hasil karya dengan cara setiap kelompok berkunjung ke kelompok lain. Teknik yang guru pilih bergantung pada waktu yang tesedia dengan mempertimbangkan bahwa setiap siswa harus berperan aktif.
  7. Dalam proses mengomunikasikan karya, siswa wajib memperoleh umpan balik berupa pendapat temannya mengenai karya yang telah dihasilkannya.
  8. Mempertimbangkan saran pendapat temannya untuk mereviu atau membahas ulang hasil kerjanya dalam kelompok.
  9. Menyimpulkan hasil belajar dalam kelas. Pengalaman baru apa yang mereka peroleh? Pengetahuan baru apa yang mereka dapat? Keterampilan apa yang mereka asah? Manfaat belajar apa yang mereka dapat?
  10. Langkah mengakhiri pembelajaran, menuliskan rencana baru apa yang akan siswa kembangkan untuk menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajarinya dalam kehidupannya.

Menghimpun Fakta Penumbuhan Keterampilan Abad 21

Upaya sekolah selama ini dalam  meningkatkan mutu pembelajaran, termasuk penerapan model inquiri maupun keterampilan abad 21 dengan cara inhouse training. Work shop,  atau pelatihan.  Cara lain yang menjadi andalah adalah mendukung kegiatan guru untuk memperbaiki proses kerjanya melalui kegiatan MGMP atau KKG.

Yang jarang sekolah lakukan adalah memantau guru dalam melaksanakan  penguatan keterampilan abad 21 dengan cara menghimpun fakta pada pelaksanakan pembelajaran dalam kelas. Kalaupun pelaksanaan pemantauan ke dalam kelas, prosesnya dilakukan dengan cara pemantau menggunakan instrument dengan cara menceklis pada setiap butirnya. Fakta yang teramati tak menjadi bahan pencatatan, melainkan hanya menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan keterpenuhan kriteria yang seharusnya. Dengan cara ini, fakta yang menjadi dasar pemetaan kompetensi tak dapat ditelusuri ulang. Karena itu, cara ini telah mengubah observasi atau pemantauan kelas menjadi ajang penilaian guru.

Untuk mengubah cara klasik dalam mengidentifikasi bukti pelaksanaan pembelajaran yang menumbuhkan keterampilan abad 21 hendaknya dilakukan melalui langkah berikut.

  1. Tentukan tujuan pemantauan dan siapkan isntrumen yang akan digunakan.
  2. Laksanakan pemantauan dengan cara mencatat fakta Pratik baik penumbuhan keterampilan abad 21 berbasis inquiri.
  3. Isilah instrumen dengan menggunakan fakta yang telah terhimpun sebagai dasar menentukan tingkat pencapaian amat baik, baik, atau kurang.Setiap fakta dapat digunakan berulang-ulang untuk beberapa nomor instrumen, asalkan relevan.
  4. Olah data yang diperolah, tafsirkan, dan susunlah kesimpulan.

Cara pemantauan seperti ini dapat melihat perkembangan pengembangan keterampilan abad 21 secara empiris. Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar untuk memetakan dan memperbaiki kemapuan professional guru guru dalam menumbuhkan keteampilan berpikir kritis, mengembangkan kemampuan merumuskan masalah serta memecahkan masalah, menumbuhkan keterampilan berkolaborasi, berkerasi, dan berkomunikasi.

Berikut perangkat:

Referensi :

[1] Christiansen, Ellen Tove; Kuure, Leena; Mørch, Anders; Lindström, Berner, 2013, Problem-Based Learning For The 21st Century, Aalborg University Press Skjernvej 4A, 2nd oor 9220 Aalborg
Denmark
Phone: (+45) 99407140 aauf@forlag.aau.dk forlag.aau.dk

[2] http://www.p21.org/storage/documents/21st_century_skills _education_and_competitiveness_guide.pdf

 

KREASI 

 

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments