Penataan dan Pemerataan Guru untuk Pemerataan Mutu

Penetaan dan Pemerataan

Penataan dan pemerataan guru  menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam meningkatkan mutu pendidikan yang belum terselesaikan dengan baik. Sekali pun hal ini disadari sebagai  bidang permalahan strategis, namun pemerintah belum dapat bersinergi secara efektif untuk memeratakan guru. Penumpukan guru pada daerah perkotaan, kekurangan guru di daerah terpencil dan terluar merupakan  menjadi kendala pemerataan mutu. Keadaan yang tertangani dengan baik berpontensi menjadi salah satu penghambat pemerataan dan peningkatan mutu.

Rasio Guru

Rasio guru di Indonesia cukup besar yaitu 1:15. ‎Tidak seperti di Singapura, Amerika, Inggris, Tiongkok, dan Malaysia. Di Malaysia  memiliki rasio 1:22, sedangkan Tiongkok dengan penduduk lebih banyak 1:18, menurut Indra Charismiadji. Indonesia memiliki tiga juta guru. Penyebaran guru di Indonesia belum merata yang dibuktikan dengan banyaknya daerah yang meneriakan kekurangan guru.

Di  sisi lain, menurut keterangan  yang disampaikan Abu Bakar (UPI) yang  terlibat di kegiatan Usaid yang memprioritaskan Teacher Deployment menyatakan bahwa Indonesia punya guru banyak, tapi tidak merata hingga di pelosok republik ini. Di pelosok guru banyak non pns. Di sebagian besar sekolah swasta di kota-kota pun juga lebih banyak non-PNS. Sebagian dari guru tersebut belum berkualifikasi S1 dan banyak yang belum mengampu pelajaran  relevansi disiplin keilmuan yang dimilikinya. Guru banyak, tetapi  mutunnya memerkukan   peningkatan.

Data tentang rasio guru di Indonesia menurut Prof Hamid, perlu dilihat ulang. Rasio itu perlu dipertanyakan karena realitanya  banyak sekolah kekurangan guru. Kekurangan tidak hanya terjadi di pelosok,  bahkan di kota besar. Data seharusnya dirinci tidak hanya sebatai distribusi aggregate, tetapi haus sampai rasio per mapel.

Kondisi Yang Diharapkan

Harapan seperti yang dilontarkan Prof Hamid, Harapan untuk mingkatkan validitas data pemerataan guru telah dilaksanakan oleh Kemendikbud dalam beberapa tahun belakangan ini. Upaya itu dikemas dalam kegiatan Penataan dan Pemerataan Guru. Pencapaian kegiatan telah meningkatkan  pemahaman tentang betapa pentingnya  guru yang merata dan tertata.

Tanpa itu, perbaikan mutu pendidikan Indonesia sulit diwujudkan. Namun demikian pencapaian  target penataan dan pemerataan belum terwujud. Masalah penataan dan pemerataan tak dapat diisolasi sebagai masalah pendidikan. Pemecahannya terkait pada banyak dimensi. Sebaran guru bisa ditahan banyak pihak karena terkait pada bidang kehidupan  lain. Banyaknya guru yang ibu-ibu juga semakin sulit memeratakan kerena kepentingan keutuhan keluarga. Apalagi penataan antar daerah pasti tak kalah sulit.

Prof. Fakry mengingatkan agar data sebaran guru terus diperbaharui. Jangan teledor dalam memperbaharui data. Jangan sampai data lama digunakan untuk mengambil keputusan, hasilnya bisa tak sesuai dengan yang diharapkan.

Masalah Utama

Semoga dengan berubahnya tata kelola SMA dan SMK yang segera akan beralih ke Provinsi dapat mengurangi tingkat kesulitan dalam  penataan dan pemerataan guru. Jika proses penataan dan pemerataan tak bergulir, maka peningkatkan dan pemerataan mutu pendidikan Indonesia pasti akan terkendala. Kita melihat gejalanya yang sangat jelas. Birokrasi tak memiliki daya untuk meretribusi guru sesuai kebutuhan. Akar masalahnya sistem distribusi untuk memeratakan guru dan memaksa guru tunduk pada aturan belum ada. Yang ada sekarang birokrasi  tunduk pada tekanan guru.

Solusi

Indonesia memerlukan aturan yang dapat menguatur dengan tegas sehingga seluruh guru mematuhi aturan main bermutasi, namun tetap memperhatikan kepentingan keluarga, Seperti tentara memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas di tempat tertentu dengan batas waktu yang  terukur.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments