Pemberdayaan MGMP Dalam Pemenuhan Standar Mutu Guru

MGMP

Mengapa MGMP?

Para peneliti telah bersepakat menyatakan bahwa jika guru semakin kuat  berkolaborasi   dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Yvonne L. Goddard Roger D. Goddard (2001) menyitir hasil studi Hausman dan Goldring (2001), dalam kolaborsinya guru harus memusatkan perhatian terhadap perubahan yang berarti terhadap sekolah. Karena itu,  kita memiliki keyakinan kegiatan guru dalam  MGMP agar dapat meningkatkan daya kolaborasinya semakin diperlukan agar mereka makin baik dalam melaksanakan pembelajaran.

Namun demikian, menurut   Roger yang menyandarkan pikirannya pada  pernyataan Evans-Stout (1998), menegaskan bahwa kita masih tidak memiliki banyak bukti bahwa kolaborasi guru dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan dan keterampillan melaksanakan mengajarnya, namun tak cukup punya bukti hal itu berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas siswa balajar. Hal ini berarti bahwa kita lebih fokus pada pengembangan program peningkatan keprofesian guru, namun kurang peduli  untuk mengamati guru melaksanakan tugas setelah mereka belajar di MGMP.

Pengembangan profesi menurut Brooks (at all 2012) selalu menjadi komponen terpenting dalam sistem peningkatan profesi guru. Efektivitasnya tidak hanya hanya ditunjukkan dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengelola praktik pembelajaran, namun pembelajaran harus berpengaruh pada proses dan hasil belajr siswa seperti yang diungkap pada Alberta Education, 2010; Blank de las Alas & Smith, 2008; Borko, 2004; Garet, Porter, Desimone, Birman, & Yoon, 2001 Tantangan terbesar dengan Pengembangan Efektivitas pengemangan profesi guru yaitu untuk meningkatkan mutu pembelajaran.Fullan (1991).

Berkaitan dengan pengembangan keprofesian guru dalam meningkatkan melek teknologi informasi dan komunikasi banyak peneliti yang telah melakukan studi tentang penerapan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Kesimpulan mereka tentang penerapannya dapat meningkatkan mutu pembelajaran, meningkatkan motivasi dan minat mereka mempelajari materi pelajaran yang dimuat dalam kurikulum. Hal tersebut dinyatakan Štefan Karolčík1 , Elena Čipková1 & Ian Kinchin. 2010 yang menemukan ada tiga hambatan untuk mengintegrasikan teknologi digital dalam pembelajaran yang mengutip hasil penelitian Bingimlas (2009) yaitu guru kurang percaya, guru kurang berkompeten, dan terbatasnya akses pada sumber belajar.

Apa Tantangan MGMP?

Peran MGMP saat ini semakin strategis. Kemendikbud pada tahun 2016 banyak melibatkan pengurus MGMP dalam pengembangan profesi. Salah satu program yang tak terpisahkan dan yang menggetarkan semua guru adalah program guru pembelajar. Di samping itu, meningkatkan kompetensi untuk menunjang pelaksanaan Kurikulum 2013. Hal penting lain yaitu pengembangan keprofesian seperti meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksikan masalah sebagai dasar penelitian tindakan kelas, merumuskan best practice, dan mengembangkan karya inovatif. Dalam program literasi, para guru juga mendapat tantangan menerapkan teknologi informasi dan komuniasi yang dipuncaki dengan ujian nasional berbasis computer (UNBK). Yang telah menjadi Belakangan tak kalah penting adalah Yang kini tak kalah gencar dihadapi guru adalah penililaian prestasi kerja.Dalam mengembangkan peran MGMP yang semakin bardaya maka pengurus MGMP perlu memperhatikan beberapa kebutuhan strategis yaitu: meningkatkan daya kolaborasi guru merumuskan agenda prioritas dalam meningkatkan:

  1. Kompetensi guru dengan prioritas pada penguatan pengetahuan pedagogik dan profesional, di antaranya, beraktivitas dalam program guru pembelajar.
  2.  Keterampilan mempraktikan kompetensi yang telah dikuasainya pada praktif perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian dalam mendukung keberhasilan implementasi K13.
  3.  Keterampilan mengembangkan kaya tulis ilmiah sebagai tindak lanjut memperbaiki proses perja melalui pemecahan masalah yang muncul dari pelaksanaan tugas dalam kelas.
  4.  Keterampilan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam menunjang peningkatan daya literasi sekaligus melek teknologi.
  5.  Keterampilan mengembangkan sasaran kerja pegawai dan menilai prestasi kerja agar kesungguhan dalam melaksanakan tugasnya berdampak terhadap peningkatan karier.

Setiap tantangan yang dihadapi dalam realitasnya menunjukkan kondisi yang berbeda pada semua daerah. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan hendaknya bersandar pada data yang diangkat dari pengalaman nyata para guru dalam melaksanakan tugasnya pada tiap satuan pendidikan. Keragaman dapat berkembang, namun kegiatan MGMP harus dapat mempersempit kesenjangan kompetensi antar guru sehingga layanan pembelajaran di seluruh sekolah semakin mendekati pada kondisi yang relatif sama baik.

Bagaimana MGMP Berperan?

Arah pengembangan kegiatan MGMP pada dasarnya meningkatkan mutu pendidik dalam pememenuhan standari nasional penddakan. Berdasarkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses perbaikan mutu pendidikan melalui pendekatan problem solving, guru dalam MGMP perlu berkolaborasi untuk mengidentifikasi hal-hal berikut:

  1.  Mengembangkan stuktur organisasi sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan kebutuhan pengembangan program.
  2. Analisis kondisi nyata dalam berbagai tantang nyata dan kondisi yang diharapkan pada tiap bidang prioritas. Dalam hal ini harus tergambar
  3. Mendeskripsikan masalah yang menjadi fokus perbaikan mutu.
  4.  Merumuskan tujuan dan target pencapaian dalam kurun waktu yang terbatas.
  5. Menetapkan lembar instumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan program.
  6. Menganalisis kebutuhan sumber daya manusia, teknologi, sarana prasarana pendukung sesuai dengan kebutuhan mewujudkan tujuan MGMP.
  7. Menetapkan strategi memecahkan masalah yang menjadi fokus penguatan kolaborasi guru dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  8. Menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan yang ditandai dengan tersusunnya bukti fisik seperti administrsi persiapan, proposal, undangan, daftar hadir, materi kegaitan, jurnal kegiatan, dan foto kegaitan, atau video.
  9. Menggunakan instumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan mencapai tujuan.
  10. Merumuskan dan menyampaikan laporan kegiatan

Setiap langkah kegiatan diarahkan pada pencapaian kondisi yang diharapkan  semestinya  ditindaklanjuti dengan perumusan masalah dan alternatif solusi untuk menyelesaikannya melalui pengembangan proyek berbasis masalah. Dalam proses ini sangat penting para guru untuk membedakan antara gejala dengan masalah. Contoh, jika para guru mendapatkan fakta bahwa para siswa sulit  mewujudkan kegiatan menanya dalam proses pembelajaran, maka bisa jadi hal ini bukan masalah melainkan gejalan. Masalahnya  bisa jadi berupa guru belum terampil mengembangkan kompetensi siswa menanya atau merumuskan masalah yang ingin dipelajarinya. Jika muncul maslalah seperti ini, maka MGMP akan menjawab dengan meningkatkan keterampilan guru menerapakan metode problem solving. 

Bagaimana Pelaksanaan Kegiatan MGMP?

Kegiatan yang dilaksanakan oleh MGMP pada prinsipnya seminimal mungkin mengganggu tugas guru melaksanakan tugas mengajar. Oleh karena itu, jadwal kegiatan semestinya pengaturannya setelah kegiatan kegiatan mengajar. Jika hal itu tidak dapat dilaksanakan, maka dipilih waktu yang paling kecil gangguannya terhadap belajar siswa. Oleh karena itu Kemendikbud mengatur kegaitan MGMP paling banyak 12 kali pertemuan dalam setahun dibagi dalam tiga kelompok kegaitan dengan masing-masing terdiri atas 3 pertemuan dengan nilai kredit 1.5.

Untuk meminimalkan gangguan terhadap kegiatan siswa maka kolaborasi guru dengan dukungan akses internet akan sangat membantu guru melakukan kolaborasi dari mana saja, dan kapan saja. Model ini di Indonesia populer dengan istilah moda daring. Kombinasi antara moda daring dengan tatap muka akan membantu guru meningkatkan kolaborasinya.

Bagaimana Meningkatkan Penjaminan Mutu MGMP?

Efektifnya kegiatan MGMP dapat dilihat dari dua faktor yaitu efektif pengelolaan dan dampak terhadap hasil belajar siswa dalam kelas. Efektivitas pengelolaan menyangkut sistem  perumusan rencana yang relevan dengan kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran, implementasi kegiatan sesuai dengan rencana perubahan dalam program, dan target mutu serta kriteria yang direncanakan tercapai. Poros keberhasilan  pengelolaan jika kegaitan MGMP berdampak pada peningkatan kompetensi guru, baik dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Mengukur efektivitas ini menjadid tanggung jawab pengurus sebagai akuntabilitas internal  pelaksana kegiatan.

Akuntabilitas eksternal kegiatan MGMP dapat dilihat dari dampak penguatan kompetensi terhadap peningkatan mutu pelaksanaan kegaitan mengajar yang dilaksanakan guru dalam kelas. Setiap bertambahnya ilmu pengetahuan dan ketampilan, tidak hanya untuk meningkatkan derajat kepandaian guru namun bermanfaat dalam memfasilitasi siswa belajar. Guru pembelajar di yang baik di MGMP adalah yang berpengaruh baik terhadap pencapaian kompetensi siswa dalam pembelajaran.

Selama ini data  tentang data atau informasi  kegiatan MGMP terhadap peningkatan efektivitas belajar siswa dalam kelas belum banyak tersedia. Dorongan terhadap penyelenggaraan lebih fokus pada program yang seharusnya guru berkolaborasi dalam melaksanakan program. Kelamahan tersebut terkait dengan efektivitas supervisi pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah maupun pengawas belum sesuai dengan yang semestinya dilakukan. Oleh karena itu, manfaat yang sesungguhnya dari guru mengikuti kegiatan MGMP baru sampai pada diasumsikan sangat penting, belum terbukti sangat penting.

 

Bermaslahatkah MGMP?
Puncaknya kemaslahatan kegiatan MGMP yang pertama adalah meningkatkan kompetensi guru sehingga menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan menerapkan ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan pembelajaran. Kedua, penguasaan kompetensi tersebut dinyatakan baik jika berdampak pada proses dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Ketiga, meningkatnya daya refleksi guru atas masalah yang muncul dalam pelaksanaan tugas sehingga dapat memecahkan masalah dalam bentuk karya ilmiah dan inovatif. Keempat, meningkatnya penilaian kinerja guru sehingga berdampak terhadap peningkatan kariernya. Semua maslahat dinyatakan terbukti jika dari kegiatan MGMP terhimpun dalam bentuk fakta dan data.

Referensi: 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments