Pembelajaran Discovery : Berawal dari Pengetahuan Yang Terbatas

Meneliti, menanya, dan menemukan

Pembelajaran Discovery sebagaimana dijelaskan oleh Bruner (1960) sebagai salah satu contoh penerapan konstruktivisme. Menurutunya terdapat berbagai masalah yang harus ditangani dalam pembelajaran. Beberapa penekanan di antaranya adalah meningkatkan penguasaan, mentransformasi, dan mengevaluasi proses belajar; mendapatkan fakta, memanipulasi atau mengelola, dan memeperhatikan ide orang lain.

Belajar dari Anak Kecil Belajar
Pelaksanakan pembelajaran Discoveri bisa dilihat dalam contoh kasus dapat dilihat pada cara anak kecil belajar yaitu dengan mempehatikan sedikit fakta kemudian mendorongnya memerluas pemahamannya pada segala implikasi yang mungkin terjadi dari sekumpulan fakta tersebut. Belajar anak kecil memulainya dengan penguasaan sedikit informasi, namun dengan didasari itu, mereka bisa memperluas pengetahuannya secara mandiri. Mereka dapat meningkatkan pengetahuannya dengan mengelola data yang sedikit serta dengan memperhatikan pendapat orang lain maka pengetahuannya bertambah luas. Contoh kasus lain yaitu sukses guru IPS yang membelajarkan siswa yang memulainya dari fakta.

Praktik penerapan metode discovery dimulai dari memberi dorongan kepada siswa untuk melakukan observasi agar mendapatkan fakta, mengembangkan masalah, meningkatkan pengetahuan dengan mentransformasi dan memanipulasi atau mengelola fakta, serta memperluasnya dengan memperhatikan ide dari sumber lain. Pada penggunaan metode discovery siswa dapat menghasilkan informasi sendiri, kemudian melihat kebenaran sumbernya, dan menguasai informasi lebih lanjut dari pengalaman belajar yang dillaluinya.

Bagaimana Langkah Discovery?
Dalam pedoman pelatihan K-13 yang diterbitkan Kemendikbud (2016) yang relevan dengan pengarahan Permendikbud 22 Tahun 2016 yang menegaskan metode discovery sebagai salah satu metode utama yang harus guru gunakan. Dijelaskan bahwa sintak atau langkah-langkah pelaksanaannya, mengutif pendapat Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219; sebagai berikut:
1) Pemberian rangsangan (Stimulation);
2) Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);
3) Pengumpulan data (Data Collection);
4) Pembuktian (Verification), dan
5) Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).

Bagaimana Merencanakan Pembelajaran?

Pelaksanaan pembelajaran discovery tak mungkin tanpa diawali dengan tanpa perencanaan. Model mengajar yang dikembangkan guru dalam kelas dengan berbekalkan buku seadanya tak mungkin menukung proses pembelajaran yang efektif. Siswa mengobservasi, menanya, mencoba mengeksplorasi informasi baru dengan menggunakan berbagai sumber, menganalisis informasi yang diperoleh dari proses belajar, dan menguji kebenarannya dengan cara memperhatikan pendapat yang lain harus berawal dari perencanaan yang baik. Dalam proses perencanaan guru hendaknya memperhatikan beberap  yang penting sebagai berikut.

  • Merumuskan indikator pencapaian kompetensi yang hendak diwujudkan pada proses pembelaran baik pada ranah pengetahuan maupun ranah keterampilan.
  • Mempersiapkan materi dan sumber belajar yang akan siswa gunakan selama proses pembelajaran
  • Menentukan instrumen yang akan digunakan selama proses pembelajaran untuk mengukur tingkat penguasaan kompetensi oleh pada siswa.
  • Merancang pertanyaan yang guru harapkan agar mencerminkan masalah yang siswa rumuskan sebagai dasar pelaksanaan pelajaran.
  • Merancang langkah-langkah yang akan siswa jalankan ujntuk menjawab pertanyaan yang mereka susun untuk menjawab keingintahuannya.

Selengkapnya guru perlu memperhatikan pula agar RPP yang disusunnya sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam ketentuan yang berlaku.

Model Langkah-langkah Pembelajaran

Langkah 1  Memberikan Stimulus

Pada kegiatan pendahuluan guru hendaknya melaksanakan langkah-langkah kegiatian  seperti di berikut:

  • Mempersiapkan kelas untuk memulai pelajaran
  • Mengarahkan pikiran siswa pada persipan belajar.
  • Menperhatikan pokok materi pelajaran yang akan dipelajari.
  • Mengajk siswa menentukan target pencapaian kompetensi sesuai RPP
  • Memperhatikan langkah kegiatan belajar yang akan siswa laksanakan

Langkah 2  Mengidentifikasi Masalah

Berbekal  pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya siswa mendapatkan pengarahan untuk mengenali fakta atau informasi yang menjadi bekal awal belajar. Untuk itu guru perlu memeperhatikan langkah berikut.

  • Mengarahkan siswa melakukan observsi
  • Mencatat fakta atau informasi hasil observasi.
  • Mengolah hasil observasi.
  • Mendorong siswa mengenali fakta, data, atau informasi baru yang ingin siswa ketahui lebih lanjut.
  • Mengidentifikasi masalah dengan merumuskan pertanyaan untuk menggali informasi baru.dengan menggunakan kata tanya (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana)
  • Membatasi keinginan guru bertanya siswa, jika perlu gunakan pertnyaan seperti berikut:
  • Apa yang sudah kalian ketahui mengenail…..?
  • Apa yang ingin siswa ketahui berikutnya?
  • Doronglah semua siswa menanya, jika terlalu banyak siswa yang hendak menanya maka perintahkan untuk merumuskan secara tertulis, kumpulkan pertanyaan, arahkan kelas untuk memilih pertanyaan yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penguasaan kompetensi siswa menanya tak boleh diwakilkan kepada beberapa siswa saja.

Langkah 3: Pengumpulan data (Data Collection)

Thomas (2000) dalam  Bright Baron (2001) mengindentifikasi  komponen kunci yang menentukan efektivitas  pembelajaran berbasis proyek. Di antaranya  adalah perumusan pertanyaan pengendali yang mengarah siswa agar dapat menggali konsep atau prinsip-prinsip, fokus penelitian yang  konstruktif  dengan cara mendorong siswa menunjukkan kesungguhan dalam merancang dan mengelola pekerjaannya, mengaitkan pekerjaannya dengan realita kehidupannya atau autentik, serta fokus pada masalah yang disepakati pada awal kegiatan belajar.

Pelaksanaannya dikembangkan dalam kelompok-kelompok kecil. Memecahkan masalah secara realistik; menentukan beberapa solusi serta metode penyelesaiannya,  mengidentifikasi dan memilih strategi untuk mendapatkan solusi yang mereka perlukan. (Barrows, 1996; Hmelo-Silver, 2004). Mereka menerapkan strategi serta  mengevaluasi hasil yang dapat mereka capai, dan terus mengembangkan strategi baru yang berikutnya dalam memecahkan masalah.

Adapun langkah kegiatan pengumpulan data meliputi:

  • Mengarahkan siswa untuk meningkatkan pemahaman terhadap masalah yang akan dipecahkan.
  • Memfasilitasi siswa mengidentifikasi hambatan dalam memecahkan masalah agar tujuan tercapai.
  • Memfasilitasi siswa mengidentifikasi berbagai pilihan sosulsi.
  • Mendorong siswa mencoba mehimpun dan mengolah data atau informasi sebagai bahan penyelesaian masalah..
  • Memfasilitasi siswa mengevaluasi hasil karaya dalam pemecahan masalah.

 Langkah 4: Pembuktian (Verification)

Kegiatan pembuktian kebenaran fakta, data, informasi mengenai tentang penyelesaian masalah mereka kerjakan merupakan bagian yang tidak kalah penting. Mereka hendaknya menguji hasil pemikiran mereka dengan pendapat yang lain.  Pembuktian kebenaran perlu diuji pula dengan pendapat sebelumnya mengenai masalah yang pelajari dengan cara membandingkan dengan pembahasan mengenai masalah yang sama dari sumber lain..

Ada pun langkah kegiatan verifikasi sebagai berikut:

  • Guru mendorong siswa aktif menguji kebenaran hasil pemikiran atau hasil karyanya dengan cara membandingkan dengan pemikiran atau karya yang sudah ada sebelumnya mengenai masalah yang sama.
  • Guru mengarahkan siswa aktif mengomunikasikan hasil pemikiran dan karyanya untuk mendapat tanggapan dari kelompok lain.
  • Guru membimbing siswa aktif melakukan perbaikan hasil pemikiran dan karya

Langkah 5: Menarik simpulan/generalisasi (Generalization)

Penyusunan kesimpulan dalam kegiatan pembelajaran pada dasarnya merupakan proses perumusan pernyataan umum sebagai jawaban atas pertanyaan yang siswa rumuskan pada awal pelajaran. Dalam penyusunan kesimpulan terjadi proses belajar untuk menguatkan perilaku pada satu situasi yang dinyatakan dalam rumusan situasi yang lain. Dinyatakan oleh J.E. Walker (2014) bahwa proses penyusunan kesimpulan  merupakan elemen penting pada proses belajar. Membentuk  perilaku ini tidaklah terjadi secara otomatis, tetapi perlu direncanakan dan diprogram sebagai bagian dari proses pelatihan” (Vaughn, Bos, & Lund, 1986, hlm. 176).

Membimbing siswa merumuskan kesimpulan hasil belajar dapat  menggunakan metode berpikir induktif yang berdasarkan sejumlah kasus-kasus, sejumlah fakta-fakta, sejumlah peristiwa-peristiwa, atau pendapat para ahli yang siswa pelajari yang mereka menghubungkan dalam bentuk penalaran untuk memperoleh pernyataan umum atau kesimpulan. Pada penarikan kesimpulan secara induktif dapat berupa generalisasi, analogi, atau model kausal. Penarikan kesimpulan dapat pula menggunakan metode deduksi, yaitu berpikir dari umum ke khusus seperti dalam bentuk silogisme.

Dalam menghadapi kondisi ini  Vaughn et al. (1986) dalam J.E Walker  merekomendasikan beberapa strategi praktis bagi guru yang ingin membantu siswa mereka mengembangkan keterampilan menyusun kesimpulan seperti berikut:

  • Guru memvariasikan jumlah, kekuatan, dan penguatan agar siswa dapat menggunakan, contoh dalam penguatan ilmu sosial mengubah penguatan dari satu latar ke latar yang berbeda.
  • Variasikan pentunjuk yang diberikan kepada siswa, gunakan berbagai pilihan yang mengarah pada arah yang sama, menggunakan foto atau gambar-gambar sebagai alat bantu.
  • Variasikan media pembelajaran agar siswa dapat melengkapi tugasnya. Dalam mengembangkan kecakapan menulis siswa dapat dibantu dengna menggunakan kertas yang bervariasi ukurannya atau warnya, bisa juga dengan menggunakan warna tinta yang berbeda-beda. Lebih mudah lagi kebervariasian itu ditunjukan pada media computer.
  • Variasikan respon siswa agar siswa dapat melengkapi pekerjaannya, mereka dapat merespon secara lisan atau menggunakan format pertanyaan yang bervariasi.
  • Variasikan rangsangan kepada siswa dengan menyajikan ilustrasi dengan objek yang kongkrit.
  • Variasikan latar pembelajaran, seperti menggunakan tempat yang dapat membantu siswa dapat belajar lebih menyenangkan.

Memberikan contoh kepada siswa merupakan hal penting dalam merumuskan kesimpulan di samping menggunakan penguatan dari situasi masa lalu, misalnya, jika seseorang makan sebuah apel dan  tenggorokan tersendak,  mereka dapat mengambil kesimpulan  bahwa setiap makan buah akan tersendak juga. Itulah model kesimpulan yang harus siswa buktikan kebenarannya.

Dengan menempuh kelima tahap kegiatan belajar dalam menerapkan metode discovery, seperti yang dikemukakan oleh Bruner terbukti siswa dapat aktif mengembangkan pengetahuannya. Siswa memulai belajar dari fakta atau informasi yang dikuasinya  seperti peristiwa belajar pada anak kecil. Dalam model pendekatan saintifik, siswa mengembangkan pikirannya dengan merumuskan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Informasi yang diperolehnya kemudian diverifikasi kebenarannya. Berdsarkan fakta-fakta yang diperolehnya siswa pada akhir pembelajaran membangun kesimpulan.

Referensi:

 

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments