Pembelajaran Yang Berkesetaraan dan Berkeadilan Gender

Kesetaraan gender

Pengertian

Kesetaraan gender adalah keadilan dalam pembagian peran,  kedudukan, dan tugas antara laki-laki dan perempuan ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas sesuai norma-norma, adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan masyarakat. Kepantasannya mendapat penafsiran berbeda-pada pada setiap kelompok masyarakat sesuai dengan nilai, adat, kepercayaan, atau kebudayaan setempat.

Mengapa  Gender

Pemahaman masyarakat tentang gender berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan  berkembangnya pengetahuan, nilai-nilai dan norma-norma masyarakat, dan budaya yang berkembang  pada setiap masyakat. Pandangan tentang peran laki-laki dan perempuan  dalam kehidupan menentukan perbedaan peran yang seharusnya dilakukan. Namun demikian, para  aktivitivis gender melihat kenyataan kesetaraan dan keadilan belum terwujud. Dalam keluarga, hak-hak perempuan dalam ekonomi, politik, kedudukan dalam perusahan melihat perempuan belum diperlukan setera dengan hak-hak yang diperoleh keseteranan.

Dalam budaya masyarakat kita sering muncul ketaksetaraan gender. Terjadi ketidakadilan, perilaku tidak manusia. Oleh karena itu isu ini harus menjadi perhatianpendidkan.  Menegakan kesederajatan, misalnya istri dan suami saling membantu di area domestik rumah tangga maupun area publik agar perempuan dan laki-laki yang memaslahatkan kehidupan. Untuk mewujudkan harapan seperti itu, tiap warga masyarakat harus mendapat akses pendidikan untuk meningkatkan kualitas diri. Dengan seluruh anggota masyarakat yang terdidik diharapkan dapat mengembangkan akses, tanggung jawab, dan peran dalam pembangungan semua orang menjadi subyek pembangunan.

Kondisi nyata kesetaraan dan keadilan gender sampai kini belum menunjukkan kondisi yang memenuhi harapan. Banyak contoh  yang dapat dilihat, seperti,  pengeroyokan terhadap siswi SD yang terjadi di jam belajar beberapa tahun lalu. Penyekapan dan penganiayaan terhadap siswi. Siswa di menebas lengan temannya karena cemburu. Atau, ugal-ugalan geng motor yang belakangan memunculkan istilah cabe-cabean yang disertai dengan pelecehan gender.

Tujuan Pendidikan Gender

Kesetaraan dan keadilan gender menurut Prof. Dr.Siti Musdah Mulia (Youtub) adalah bagaimana menjadikan manusia saling menghargai, menghilangkan ketidak adilan,tak ada prilaku kekerasan dan diskriminatif. Untuk mewujudkan  kesetaraan dan keadilan gender harus diwjudkan dalam kesetraan hak akses pendidikan, peluang belajar yang sama, meraih kompetensi yang sama serta hak-hak yang sama dalam berperan dalam kehidupan keluarga, sosial,  ekonomi, politik, maupun pemerintahan.

Pendidikan gender seharusnya dikembangkan untuk mencapai kesetaraan, juga  meningkatkan kesadaran gender agar dapat memproteksi dirinya termasuk para siswi agar tak diperlakukan secara tidak adil atau  diskriminatif. Karena itu, perlu mengembangkan potensi siswa dengan mengedepankan tumbuhnya kesadaran saling menghargai antara laki-laki dan perempuan.  Laki-laki dapat memerankan diri dalam kehidupan sesuai kodratnya untuk menguasai kompetensi hidup yang setara yang mendukung  kedudukan gender yang setara dan berkeadilan dalam kehidupan.

Kompetensi Peserta Didik

Kompetensi yang sekolah tetapkan sebagai poros pengembangan program harus sekolah kembangkan dengan memperhatikan keperluan hidup siswa dalam lingkungan yang terdekat, untuk kepentingan siswa pada ruang lingkup nasional dan global.  Sesuai dengan konteks itu, siswa  laki-laki dan perempuan dapat membangun hubungan yang  sehat dan harmonis  sesuai dengan kodratnya.

Keterampilan yahng  perlu untuk dapat hidup beretika  sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat yang bersumber pada nilai-nilai luhur agama, memerlukan kompetensi  pengetahuan yang cukup. Pengetahuan  agama, etika kehidupan, dan norm-norma hidup dalam masyarakat merupakan komponen penting yang perlu guru pilih. Lebih dari itu, siswa terlatih untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi yang dikembangkan di antaranya, belajar mengamati fakta, merumuskan, dan memecahkan masalah  agar  siswa dapat mengembangkan pikiran kritisnya sebagai dasar untuk mengembangkan pola hidup yang diharapkan.

Keterampilan dalam pengembangan sistem gender  tentu tak sebagai keterampilan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan keterampilan dalam bersikap. Di antaranya adalah terampil membedakan antara yang boleh dan tak boleh dilakukan. Penguasaan pengetahuan selanjutnya dikembangkan sebagai perilaku, yang ditunjukkan dengan kemampuan mengendalikan diri, menghindari sikap  menyakiti, melecehkan, atau  diskriminatif gender.

Materi Pengajaran

Materi pelajaran yang berkitan langsung dapat dilihat pada pelajaran agama. Sementara, model pemecahan masalah sosial yang dikaitkan dengan gender dapat dilakukan pada semua mata pelajaran sosial. Ada pun kasus-kasus khas bisa juga diintegrasikan dalam kasus di matematik.

Materi gender yang diintegrasikan pada berbagai mata pelajaran sangat berkaitan dengan kompetensi yang diharapkan pada tingkat satuan pendidikan yang disepakati oleh dewan guru. Oleh karena itu peran kepala sekolah dalam menentukan kompetensi tingkat satuan pendidikan menduduki posisi yang sangat penting.

Bias Gender

Hasil studi Ali Murfi tahun 2014 menyatkan bahwa dalam buku teks pembelajaran bias gender sering terjadi. ayah/laki-laki digambarkan bekerja di kantor, di kebun, dan sejenisnya (sektor publik), sementara itu ibu/perempuan digambarkan di dapur, memasak, mencuci, mengasuh adik, dan sejenisnya(domestik). Seharusnya buku teks harus diupayakan untuk mampu memuat nilai-nilai gender;kesetaraan, keadilan dan hak asasi. Mengapa demikian? Karena buku teks akan terlihat fungsional apabila mampu memberikan pencerahan sebagai pendorong perubahan cara berpikir dan bertindak bagi  siswa.

Dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas, perempuan biasanya identik dengan keterampilan “pekerjaan ibu rumah tangga”. Mereka dituntut untuk bersikap tenang, bersifat menghargai, penuh perhatian, dapat dipercaya, serta mau bekerja sama. Untuk laki-laki harapan lebih didasarkan pada kriteria kemampuan akademik seperti pengetahuan, kecakapan intelektual, dan kebiasaan kerja. Hasil penelitian di SMA Kota Bekasi menunjukkan bahwa pada mata pelajaran Fisika, perempuan mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada mata pelajaran Sosiologi dan Bahasa Indonesia, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini adanya perkembangan pola pikir atau perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakat berkaitan posisi perempuan dalam masyarakat (Sucahyono dan Sumaryana, 1996)

Mengajarkan Kesetaraan Gender

Gender sebagai materi yang dibutuhkan dalam peningkatan kompetensi pengetahuan dan keterampilan berkaitan erat dengan pelajaran agama, PKN, dan sosiologi. Penyampaian materi dapat menggunakan salah satu pilar yaitu pendekatan ilmiah atau saintifik. Metode pemecahan masalah, belajar berbasis proyek, seminar, diskusi, dan metode lainnya dapat guru gunakan dalam kegiatan tatap muka. Sementara itu, pengembangan sikap dapat dilakukan melalui pembiasaan yang dipandu dengan indikator pencapaian kompetensi tingkat satuan pendidikan sebagai penggerak.

Di samping tatap muka, penguatan kesetaraan dan keadilan gender dapat integrasikan pada seluruh mata pelajaran. Yang tidak boleh diabaikan adalah setiap program yang dikembangakan untuk penguatan perlu dibangun secara sistematis dengan memperhatikan kompetensi yang diharapkan, strategi mengembangkannya, dan evaluasi keberhalannya.

Demikian yang dapat disajikan sebagai referensi dalam pelatihan kepala sekolah untuk meningkatkan kompetensinya dalam  dalam bentuk materi penayangan berikut: Mengelola pendidikan dan pengajaran yang berkesetaraan dan berkeadilan gender.

 Referensi

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments