Observasi Lesson Study Siklus Satu

Hari Rabu taggal 13 Maret 2013 di SMA 1 Bogor kami bersiap melaksanakan kegiatan observasi pembelajaran dalam pelaksanaan Lesson Study dengan fokus kajian penerapan pendekatan ilmiah dengan dukungan penerapan metode STAD dan TGT pada materi pelajaran Tajuk Rencana di Kelas 11. Pelaksanaan praobservasi berlangsung mulai pukul 9.30. Pelaksanaan observasi direncanakan mulai pukul 10.30 sampai dengan pukul 12.00.

Kegiatan praobservasi  melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan tujuh orang guru. Lima orang guru bahasa Indonesia dan dua orang guru kimia sebagai peninjau. Dalam kegiatan pra obserasi kami membahas beberapa hal penting untuk mengingatkan semua pihak agar mengarahkan perhatiannya pada hal berikut:

  1. Leson Studi sebagai strategi meningkatakan mutu kompetensi pendidik melalui proses pembelajaran. Kegiatan bertujuan untuk menghimpun informasi tentang prilaku belajar siswa dalam mencapai tujuan.
  2. Prilaku belajar yang menjadi fokus perhatian adalah bagaimana siswa mengikatkan keterampilan berpikir ilmiah melalui kegiatan mengamati melalui kegiatan menghimpun data, menanya, menalar, menyaji, menyimpulkan, dan berkarya.
  3. Prilaku siswa dalam melakukan kerja sama dalam kelompok, berinteraksi dalam antar kelompok, dan berkompetisi untuk menjadi kelompok yang terbaik dalam proses berlajar dan mencapai hasil belajar.Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan kami memilih penggunaan pendekatan ilmiah  yang ditunjang dengan memberdayakan metode STAD dan TGT. Pendekatan ilmiah kami jabarkan dengan meningkatkan aktivitas siswa berpikir melalui menghimpun data, menanya, menalar, menyaji, menyimpulkan, dan berkarya.
  4. Karena diperhitungkan selama dua jam pelajaran tidak cukup waktu untuk menghasilkan karya tulis dalam bentuk Tajuk Rencana, maka siswa setelah pelajaran selesai mendapat tugas terstruktur menyusun karya secara individu.

Pilihan metode STAD (Students Team Achievement Division)   kami nilai penting untuk mengatasi masalah dalam kerja sama kelompok selalu terdapat sejumlah siswa yang tidak mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Dalam penerapan metode ini seluruh siswa wajib mengikuti kegiatan karena hasil belajar diperoleh dari dua dimensi yaitu kapasitas individu dan kerja salam dalam kelompok. Untuk meningkatkan semangat belajar maka metode divariasikan dengan TGT (Team Games Tournament). Di sini pembelajaran didorong agar lebih kompetitif dengan cara mengkompetisikan hasil karya kelompok.

Agar lebih ramai, maka karya siswa dinilai oleh mreka sendiri dengan menggunakan format acuan penilaian. Setiap kelompok menilai hasil karya kelompok lain. Jumlah nilai kelompok dihimpun sehingga menjadi peroleh nilai kelompok. Guru tentu memberikan penilain juga. Teknik penilaain yang guru terapkan adalah otentik assessment.

Disepakati bersama bahwa pembelajaran menggunakan skenario sesuai dengna rumusan kegiatan yang terdapat dalam RPP yang telah dipersiapkan dalam beberapa pertemuan sebelumnya.

[download id=”3097″]

Secara teknis skenario  kegiatan terstruktur sebagai berikut:

Prapembelajaran:

  • siswa dibagi kelompok maksimal 5 orang per kelompok, tiap kelompok memilih tajuk rencana yang menarik perhatiannya dari beberapa media sebagai bahan studi.
  • siswa menghimpun informasi tentang  tanjuk rencana dan  perbedaan antara opini dengan fakta.
  •  posisi duduk dalam kelas diatur siswa menurut kelompoknya serta disediakan tempat untuk para pengamat agar tidak mengganggu aktivitas belajar siswa dengan mempertimbangkan kemudahan mengamati seluruh aktivitas belajar siswa.
  • menyediakan seluruh instrumen yang diperlukan.
  • menyiapkan siswa mengikuti skenario pembelajaran dengan menunjukkan potensi optimalnya.
  • guru memegang catatan tentang skenario pembelajaran dan perangkat penilaian otentik.
Observasi:

Mengawali pembelajaran : Pembelajaran dimulai. Guru mengkondisikan kelas. Para siswa memusatkan perhatian pada pokok materi yang akan mereka pelajari, tujuan yang hendak dicapai, dan prosedur pelaksanaan kegiatan belajar yang ditayangkan di depan kelas selama 10 menit pertama. Siswa dapat bertanya tentang teknis kegitan yang akan dilakukannya selama dua jam pelajaran. Seluruh siswa dalam kelas menaruh perhatian besar.

Kegiatan inti: Diskusi kelompok. Tiap kelompok diberi nama, A, B, C, dst. Tugas mereka merumuskan pertanyaan dan jawaban tentang:

  1. Definisi tajuk rencana
  2. Merumuskan pertanyaan untuk mengeksplorasi data atau fakta yang penulis gunakan.
  3. Mengembangkan pertanyaan untuk mengeksplorasi sudut pandang penulis atau opini.
  4. Menganalisis membedakan opini dengan fakta berdasarkan informasi pada tajuk rencana yang menjadi bahan diskusi kelompok.
  5. Menganalisis sasaran yang dituju oleh penulis.
  6. Merumuskan argumen tentang kekuatan atau kelemahan tajuk rencana yang dibacanya.
  7. Menuliskan pikiran yang diukapkan oleh tiap individu dalam kelompok.
  8. Menyusun hasil diskusi pada karton.
  9. Menayangkan hasil karya kelompok di dalam kelas.
  10. Tiap kelompok memberikan penilaian terhadap hasil kelompok lain.
  11. Menghimpun nilai yang dilakukan oleh seluruh siswa.
  12. Menjumlahkan nilai tiap kelompok
  13. Mengumumkan kelompok yang memperoleh nilai terbaik.
  14. Menyampaikan tanggapan dan penilaian terhadap karya kelompok lain.
  15. Menyimpulkan hasil diskusi.
  16. Pelaksanaan tes individual
  17. Penutupan

Tujuh belas  langkah kegiatan ini  dilakukan dalam proses yang cukup riuh dan para siswa antusias mengikutinya. Namun demikian ada hal yang menarik yang diperoleh dari pengalaman observasi ini yaitu, sangat tidak mudah guru mengendalikan agar setiap siswa dalam kelompok berpartipasi optimal dan mereka dapat mengembangkan pertanyaan untuk mengeksplorasi gagasan yang lebih mendalam.

Kesulitan lain adalah menggerakan siswa melalui penilaian otentik. Para siswa memahami benar bahwa guru sulit menilai proses belajar. Dan, catatan ini menjadi bagian menerik untuk diperbaiki dalam pelaksanaan pada siklus yang kedua. Setelah UN.

[download id=”3098″]

Kesimpulan dari pelaksanaan refleksi. Belum semua prilaku belajar yang diharapkan dapat siswa tampilkan karena keterbatasan peluang yang tersedia dalam proses pembelajaran. Perlu pelaksanaan pengulangan pembelajaran untuk memperoleh strategi yang paling pas dalam mengembangkan keterampila berpikir siswa yang ilmiah. Namun demikian, penerapan model ini telah mewujudkan target siswa dapat memahami tajuk rencana, membedakan data dan opini serta melihat sasaran yang dituju oleh penulis secara kritis dan ditungkan dalam tulisan.

Salam

 

 

 

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments