Menumbuhkan Integritas Diri Peserta Didik yang Terampil Beretika

Pembiasaan dalam menumbuhkan karakter mudah dikatakan, namun tak mudah dilaksanakan. Gerakan pembiasaan kini populer sekali menjadi bahan pembicaraan, namun tak begitu dalam gairah penerapannya. Kini makin disadari pendidik, bahwa membangun karakter itu demikian penting. Kesadaran itu menguat setelah kehidupan banyak sekali menampilkan adegan yang mempertunjukkan  keterampilan orang-orang cerdas namun tak berlandaskan etika sehingga membekanan antara yang sebaiknya dengan yang seharusnya.

Mana yang lebih penting? Membangun kecerdasan intelektual atau integritas diri? Pilihan yang pertama berkaitan dengan keterampilan berpikir kritis, rasional, kreatif, dan inovatif. Dasarnya adalah potensi diri yang pandai karena dapat menggunakan akalnya dengan cepat dan tepat. Pandai menghubung-hubungkan fakta, konsep, atau prosedur  sehingga menujukkan keterampilan berpikir dengan benar. Pilihan kedua berkaitan dengan keterampilan berpegang sehingga dapat memantapkan diri menerapkan nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Orang seperti ini bersikap konsisten terhadap nilai yang menjadi pegangan dirinya, beretika, sehingga mendapat sebutan sebagai orang baik.

Dalam kehidupan kita pada saat ini, jika harus memilih satu di antara menjadi peserta didik yang  cerdas dengan peserta didik yang baik, maka kemungkinan pertama yang guru pilih adalah menjadikan murid yang baik jauh lebih penting. Yang cerdas namun tidak baik karena menggunakan kepandaiannya tanda dilandasi dengan kemampuan diri berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan dapat mengganggu ketenangan hidup orang lain. Dalam kehidupan saat ini banyak sekali contoh orang-orang yang sangat pandai, namun tak terampil berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan. Karakter seperti ini tampak pada orang-orang berpengaruh yang sangat pandai menggunakan fakta, kelemahan orang lain, digunakannya sebagai bukti untuk memenjarakan orang lain yang tak sepaham dengan kebenaran dirinya.

Mendidik peserta didik untuk menjadi orang baik, terbukti jauh lebih penting daripada menghasilkan orang cerdas. Inilah kandungan inti dari  pendidikan berbasis revolusi mental. Prosesnya melalui membangun kondisi lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi pribadi tiap peserta didik agar menjadi orang yang berpegang teguh dan terampil menggunakan nilai-nilai kebenaran dalam menampilkan diri dalam hidupnya. Orang seperti ini mendapat sebutan orang baik.

 

Semakin tinggi derajat kecerdasan dan kebaikan, semakin banyak memerlukan pengetahuan. Irisan dari kedua karakter itu adalah ilmu pengetahuan. Karena itu, orang yang berilmu makin tinggi nilai pribadinya. Orang cerdas terampil menggunakan ilmu pengetahuan dalam hidupnya. Orang baik terampil menggunakan pengetahuan untuk membedakan berbagai hal yang boleh dan tak boleh dilakukannya. Pengetahuan yang dimilikinya diolah terlebih dahulu dengan akalnya dan disaring dengan hatinya untuk menghasilkan keyakinan  untuk membedakan yang baik dan yang tidak baik. Keterampilan ini tak datang dengan sendirinya pada diri peserta didik, melainkan harus dilatih, dibiasakan, dan ditingkatkan keterampilannya untuk memegang teguh nilai yang diyakininya.

Kiat Praktis

Bagimana mengolah pengetahuan menjadi keyakinan yang dapat menghasilkan kebenaran yang ditingkatkan tak sekedar tahu, melainkan diyakini kebaikannya? Tentu harus melalui pembiasaan. Banyak contoh pembiasaan dalam pendidikan yang dapat mengubah pengetahuan peserta didik menjadi keyakinan  sehingga melandasi menjadi orang baik. Peserta didik terampil memegang teguh etika, dalam hal berikut:

  • Membiasakan peserta didik menampilkan diri selalu bersih. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan menjadi salah satu contoh.
  • Membiasakan peserta didik berpakaian bersih dan rapih. Tak semua sekolah mampu menumbuhkan kebiasaan seperti ini. Dalam pengalaman melihat penampilan sekolah, keunggulan mutunya dapat dilihat dari kebersihan dan kerapihan warganya sekolah dalam berpakaian.
  • Membiasakan peserta didik untuk bekerja sama, seperti dalam memelihara kebersihan sekolah. Dalam hal ini, banyak sekolah kini menggantikan peran siswa dalam menjaga sekolah oleh tenaga kebersihan. Tanggung jawab sosial siswa tak terbangun. Hal ini merupakan masalah karena penumbuhan sikap mental bos sejak dini tak relevan dengan penguatan tanggung jawab sosial.

Masalah berikutnya adalah: Bagaimana menumbuhkan keterampilan meningkatkan kecerdasan intelektual menjadi integritas diri atau keterampilan beretika? Masalah ini dapat dijawab dengan cara melatih peserta didik bertika. Contoh, sebelum belajar dimulai guru menyediakan permen di dekat pintu kelas.

Sebelum peserta didik masuk guru memberi tahu bahwa pada saat masuk kelas mereka boleh mengambil permen sesuai dengan yang mereka kehendaki. Perintahkan oleh guru, tak seorang pun boleh mengunyahnya sebelum diperintah guru.

Sebelum belajar dimulai siswa diperintah untuk menghitung permen yang telah diambilnya. Bisa terjadi terdapat peserta didik yang tak mendapat permen, namun sebagian dari mereka menguasi permen lebih banyak. Untuk mengetahui itu, guru meminta siswa yang tidak mendapatkan permen beberapa mengacungkan tangan, selanjutnya giliran siswa yang tak mendapat bagian permen mengacungkan tangan juga.

Langkah selanjutnya, siswa mengungkapkan perasaannya. Beri kesempatan peserta didik yang tak mendapatkan bagian mengungkap perasaanya. Giliran berikutnya berikan kesempatan pula siswa yang pegang permen lebih dari satu untuk mengungkapkan perasaannya. Berikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan masalah. Apa sebenarnya masalah yang timbul dari kebebasan mengambil permen. Diskusikan bagaimana seharusnya menurut pengetahuan yang telah mereka miliki? Apa yang seharusnya mereka lakukan? Lakukan proses pendidikan itu dalam waktu yang terlalu lama agar pendidikan menjadi pribadi yang berintegritas karena selalu memegang teguh etika dapat menjadi kebiasaan.

Demikian penyajian sekelumit pengalaman ini, kiranya dapat menggugah inovasi di dalam kelas mengenai latihan meningkatkan keterampilan beretika dalam mendidik peserta didik menjadi orang baik.

Salam pendidikan yang beretika.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments