Penggunaan Model Pelatihan Grow-me

New Picture (6)Model pelatihan Grow-me sangat populer di Indonesia setelah disosialisasikan sebagai salah satu materi dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Materi tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut supervisi akademik oleh kepala sekolah dan pengawas  dalam mengantisipasi  kemungkinan munculnya masalah keterbatasan keterampilan guru pada kegiatan pembelajaran.

Grow-me adalah kependekan dari G – Goal (tujuan), R – reality (keadaan saat ini), O – obstacles (kendala untuk mencapai tujuan) atau O – option (pilihan cara untuk mencapai tujuan), Way Forward – Cara yang dipilih untuk mencapai tujuan, M – Monitoring  –  E – Evaluation.

Model ini populer sejak 1980-an. Informasi siapa yang mencipta model ini tidak jelas, namun demikian melihat keterangan di Wikipedia Graham Alexander,  Alan Fine, dan Sir John Whitmore masing-masing dinyatakan telah berkontribusi.

Semula model dikembangkan dalam pelatihan olah raga agar dapat membantu  atlit memecahkan masalah dengan   mengembangkan prestasi melalui daya insiatif nya sehingga atlid berdaya memecahkan masalahnya sendiri. Bersamaan dengan itu, pelatih dapat mengurangi memberi instruksi karena terlalu banyak instruksi semakin  tidak efektif  pelatihan. Terlalu banyak instruksi   menghambat daya inisiatif atlit untuk mengembangkan kapasaitas dirinya secara optimal.

Contoh berikut dapat membedakan antara model pelatihan tradisional pelatih dengan model Grow-me. Instruksi pelatih  “Fokuskan mata ke gerak bola!” Instruksi semacam ini terus berulang. Hasilnya konsentrasi atlit berganggu. Sementara  dalam menerapkan model ini, instruksi sedapat mungkin tidak digunakan. Sebelum pelatihan berlangsung, atlit harusnya apa masalah yang dihadapinya, bagaimana mengatasinya, dan pelatih pada saat pelatihan berlangsung melihat usaha yang dilakukan atlit, jika belum berhasil atlit terus mencoba memperbaiki keterampilannya.

Penerapan model grow-me membangkitkan motivasi peserta pelatihan dari dalam dirinya karena digerakan dengan tujuan yang ingin diraihnya. Motivasi digerakan untuk mengatasi masalah. Karena itu pelatih menjadi pendamping untuk menyelesaikan masalah, mengasah keterampilan dengan memperbanyak pengalaman belajar, dan membantu mengatasi masalah dengan cara yang tepat. Setiap langkah penyelesaian masalah diharapkan dilakukan dengan penuh kesungguhan serta terhindar dari paksaan pihak mana pun.

Dalam perkembanganselajutnya, Grow-me banyak diterapkan dalam berbagai bidang pelatihan termasuk bidang pendidikan. Para guru, kepala sekolah,  dan pengawas dapat menerapkan model  ini untuk mengatasi masalah  dalam meningkatkan kemampuan profesinya.

Bagaimana Grow-me dalam meningkatkan keterampilan guru?

Sebelum mengikuti kegiatan pelatihan peserta hendaknya sudah menguasai konsep melaksanakan pembelajaran sesuai karakteristik kurikulum yang diterapkan.  Mereka juga sudah terlatih menerapkan pengetahuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran serta berpengalaman melaksanakan penilaian. Mereka juga sudah memiliki pengalaman menerapkan konsesp pelaksanaan  tugas sehari-hari. Setelah mendaat pengalaman bertugas barulah pelatihan dipersiapkan. Dengan demikian memasuki proses pelatihan pikiran dan pengalaman sudah terbentuk sehingga dapat mendeskripsikan sesulitannya dalam proses melaksanakan tugas serta mengetahui pula hasil yang dicapainya.

Setelah mendapatkan pengalaman bekerja, pelatihan dapat direcanakan. Peserta pelatihan bisa hanya terdiri atas  satu orang atau beberapa, atau banyak orang. Seperti atlit seorang guru bisa dilatih secara individu. Dapat pula latihan dilakukan dalam kelompok, seperti dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Tentu saja pelatih harus orang yang menguasai teori dan berpengalaman menerapkan terori agar dapat memahami kesulitan peserta dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

Sebaiknya topik pelatihan sebaiknya telah ditentukan sebelum pelaksanaan berdasarkan pemantauan pelaksanaan tugas nyata, Jika peserta para guru, misalnya, telah diketahui bahwa guru dalam merancang perencaanbelajar menghadapi masalah dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi pada keteampilan berpikir tinggi. Maka topik latihan dapat dibuat seperti contoh : Peningkatan Kompetensi Guru Merumuskan Indikator  Pencapaian Kompetensi yang Memenuhi Kriteria Keterampilan Berpikir Tinggi (Hots – High order thinking skill);

Pertama G (goal) –  menetukan tujuan : Untuk menentukan tujuan guru perlu mereviu konsep tentang perumusan dan pengembangan keterampilan berpikir tinggi serta menentukan kriteria yang harus dipenuhi siswa. Dengan menguasai itu, maka guru menetukan tujuan pelatih yang hendak diwujudkan selama mengikuti pelatihan. Pelatih memfasilitasi agar guru dapat dengan cepat merumuskan harapan yang hendak mereka capai dan membantu guru menilai bahwa tujuan yang ditetapkan realistis atau dapat dicapai dalam waktu yang ditentukan.

Dalam langkah ini guru perlu menentukan pengetahuan dan keterampilan baru yang hendak dikuasinya. Contoh rumusan tujuan: Dalam pelatihan ini saya dapat meningkatkan keterampilan merumuskan indikator pencapaian kompetensi keterampilan berpikir pada level analisis, evaluasi, dan kreasi.

 R – reality (keadaan saat ini): Pada langkah ini pelatih memfasilitasi guru untuk menghimpun fakta indikator pencapaian kompetensi, menilai keterpenuhan kriteria sehinggi terpetakan antara realita yang ada dengan yang seharusnya. Hasil dari proses analisis diharapkan  guru dapat memetakan kekuatan dan  kelemahannya, serta merumuskan kesenjangan antara fakta dengan yang seharusnya atau merumuskan masalah pada kemampuannya merumuskan indikator pencapaian kompetensi.

O – obstacle – option ( kendala – alternatif ):  guru  pada langkah ini menentukan kendala yang dihadapinya dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi pada keterampilan berpikir kritis level analisis, evaluasi, dan kreasi. Apa yang belum guru ketahui? Apa kendalanya sehingga guru belum mengetahui? Pelatih pada langkah ini hendaknya dapat memfasilitasi guru mengembangkan daya analisisnya, mencoba bekerja sama, mencoba mengeksplorasi pengalamannya sehingga ditemukan kendala serta mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk menangani kendala dirinya. Bantuan hanya diberikan jika untuk mencapai tangga yang diharapkan peserta latihan sudah menyerah.

W – (Way Forward – Cara yang dipilih untuk mencapai tujuan). Kini saatnya peserta pelatihan memilih satu cara yang dipilihnya. Mencoba mengembangkan daya kreasinya untuk mencapai tujuan. Pelatih diharapkan tidak memastikan prosedur yang akan  dilakukan, tidak memberikan instruksi, melainkan hanya melihat yang sudah sesuai dengan kriteria untuk mendapat penguatan, serta menunjukan hal yang belum sesuai kriteria untuk terus dicoba diperbaiki sampai kondisi yang diharapkan terwujud.

Sebenarnya kegiatan inti  grow-me sudah selesai. Namun demikian agar proses penjaminan setiap langkah berproses sesuai dengan yang diharapkan maka diperlukan proses yang kelima dan yang keenam, yaitu:

M – (Monitoring) : sasaran pelaksanaan monitoring meliputi dua aspek, yaitu keterlaksanaan kegiatan dan keberhasilan perbaikan kompetensi peserta latihan. Keterlaksanaan dapat dilihat dari pemenuhan prosedur kegiatan dan kesesuaian peran pelatih dan peserta latihan dalam menerapkan model. Untuk keperluan pemantauan diperlukan instrumen dan pemantau yang berkompeten. Pemantau dapat dilakukan oleh seorang individu atau tim. Pemantau juga harus dapat menilai ketercapaian kompetensi oleh para peserta. Untuk meningkatkan objektivitas penilaian maka penilai diri oleh para peserta pelatihan dapat digunakan sebagai penyeimbang.

E – Evaluation : Kegiatan evaluasi  merupakan proses untuk menilai dan mengukur keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian kompetensi. Data yang harus dihimpun seperti data peran pelatih, aktivitas peserta, kreativitas peserta, keterampilan berpikir peserta, serta produk hasil pelatihan yang membuktikan bahwa tujuan tercapai dengan adanya bukti fisik hasil kegiatan.

Hasil evaluasi direfleksi, dan ditutup dengan perayaan pencapaian mutu dengan memberikan penghargaan kepada pelatih dan yang dilatih. Kegiatan ditutup dengan rekomendasi tindak lanjut.

Semoga uraian singkat ini dapat dipraktikan dengan seksama di sekolah sehingga model pelatihan tradisional dapat diubah dan ditingkatkan keberdayaannya untuk pendikdikan yang lebih baik.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments