Mencegah Penyimpangan Perilaku Perlu Kolaborasi Sistem Sekolah

Koaborasi Sekolah

Penyimpangan Perilaku Yang Memprihatinkan

Penyimpangan perilaku pada hari Jumat akhir bulan Oktober 2016 terjadi. Seorang siswa menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia anak ke-8 dari delapan bersaudara. Tiga hari sebelumnya sepulang sekolah berada pada tempat yang tidak tepat saat menunggu kendaraan umum yang akan membawanya pulang. Naas di tempat ia berdiri terjadi tawuran antar pelajar. Tiba-tiba ia menjadi sasaran keberingasan, perutnya tercabik. Setelah roboh, ia masih menerima tendangan berkali-kali. Peristiwa itu, terekam video, tersebar di media sosial menjadi  dokumen penanda kemanusiaan yang kelam.

Penyimpangan perilaku yang membawa naas itu diduga ada hubungannya dengan geng tertentu yang telah menorehkan grafiti  HBD …. (happy birthday) di sebidang dinding di pinggir jalan. Patut dicurigai bahwa setiap kali kelompoknya merayakan ulang tahunnya bisa memakan korban. Tentu, jatuhnya korban hingga menimbulkan hilangnya nyawa siswa bukan hanya dalam menyambut ulang tahun kelompok tertentu, peristiwa dapat berulang kali dalam tiap tahun, tanpa dapat dihindarkan.

Upaya pencegahan telah dilakukan. Pada tingkat wilayah telah dibentuk satuan tugas pengamanan  untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Kerja sama satgas dengan pihak polisi ditingkatkan. Pelibatan peran ulama dalam penguatan keimanan digalang. Siswa yang termasuk berperilaku menyimpang dihimpun dalam pelatihan, seperti out bond training, namun seluruh upaya itu hingga saat ini belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Peristiwa tawuran pelajar, kini menjalar di beberapa kota besar. Yang terlibat tak hanya siswa sekolah menengah atas, tetapi menimpa anak-anak SMP, dan tak jarang mahasiswa. Senjata tajam mereka siapkan, perang pentungan, tongkat,  rantai baja, hingga batu mereka gunakan. Saling serang bisa terjadi di kerumunan kendaraan yang sedang mengalami kemacetan. Akibatnya banyak kaca mobil yang pecah dalam suasana kekacauan.

Penyimpangan Perilaku Pelajar

Penyimpangan perilaku pelajar atau  disorganisasi sosial pada siswa secara umum menggambarkan kondisi  yang tidak sesuai dengan norma umum yang berlaku atau yang diharapkan. Batasan tersebut menekankan pada pelanggaran norma. Ditinjau dari dimensi psikologi penyimpangan perilaku bersinonim dengan gangguan mental  atau disorganisasi kepribadian. Dilihat dari dimensi sosial, penyimpangan perilaku sama dengan perilaku yang tak bernilai, atau cacat mental. Pengakuan menyimpang bisa datang dari keluarga atau sekolah yang mencap  seseorang tak mematuhi norma sosial. Karena itu, bisa terjadi sebenarnya tak ada perilaku menimpang pada diri siswa, melainkan kondisi yang sesungguhnya adalah melanggar norma sosial.

Dikutip dari beberapa definisi dan prinsip tentang penyimpangan perilaku sebagai berikut:

  • Bruce J. Cohen : Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
  • Gillin : Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tak sesuai dengan  norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok.
  • Lewis Coser:  Perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.
  • James Vander Zenden: Perilaku menyimpang  perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
  • Edwin M. Lemert: penyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepadanya.
  • Emile Durkheim menyatakan kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak dimungkinkan disamakan karena setiap individu berbeda satu sama lain. Karena itu, orang yang berwatak keras akan selalu ada, dan kejahatanpun juga akan selalu ada. Durkheim bahkan berpandangan bahwa kejahatan perlu bagi masyarakat, karena dengan adanya kejahatan, maka moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal.
  • Robert K. Merton menyatakan bahwa struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku yang konformis saja, tetapi juga menghasilkan perilaku menyimpang. Dalam struktur sosial dijumpai tujuan, bentuk penyimpangan di antaranya karena siswa tak mampu menyeleraskan hidupnya dengan tujuan yang menurut struktur sosial baik.

Atas dasar berbagai definisi itu, dapat dinyatakan di sini bahwa  perilaku  menyimpang merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di keluarga  atau masyarakat sehingga dianggap sebagai orang yang melampaui batas tolerasi karena tidak mematuhi norma yang berlaku dalam masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah sesuai dengan pendapat Robert K Merton, penyimpangan karena tak mampu beradaptasi untuk mencapai tujuan yang  dipandang baik oleh masyarakat.

Penyimpangan perilaku pelajar berkembang sejalan dengan perubahan jaman seperti penyalahgunaan obat terlarang, bentrokan fisik, meninggalkan forum belajar di kelas, bolos sekolah, sering terlambat masuk sekolah, menyalahgunakan uang untuk sekolah, melakukan tindak kekerasan kepada guru atau sesama pelajar, dan  tawuran sadis yang disertai kekerasan untuk menghilangkan nyawa orang.

Tawuran Pelajar 

Tawuran pelajar yang semakin marak terjadi di kota besar menjadi fokus perhatian pada tulisan ini. Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebagaimana dikutip dalam Wikipedia, penyebab penyimpangan perilaku dapat terjadi karena dua faktor utama

  1. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
  2. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.

Pembawaan sejak lahir menjadi  seseorang pemberang dan emosional sulit untuk diubah, kecuali pendidik berusaha untuk meningkatkan daya kendali diri. Begitu juga dengan faktor kedua, perkembangan orang tua dan lingkungan yang kurang kondusif bukan lahan kewenangan lembaga pendidikan. Atas dasar kenyataan itu, maka penyimpangan perilaku  tak mungkin dikikis habis. Pengurangan sampai pada titik yang dapat dikendalikan penuh pada prinsipnya merupakan usaha sekolah yang tak akan pernah berhenti.

Penyimpangan Perilaku : Tawuran Pelajar 

Hasil diskusi dalam rangka penaggulangan tawuran pelajar mengidentifikasi  karakter khas yang melibatkan siswa yang dominan berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi.  Kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat rasa percaya dirinya untuk dapat meraih penghidupan yang baik serta keyakinan dalam menentukan cita-cita hidupnya. Dalam kondisi kepribadian yang labil seperti ini, siswa berhimpun pada sekolah yang memiliki kultur mutu yang rendah yang ditandai dengan beberapa karakter berikut:

  • Siswa berhimpun dalam sekolah yang belum memberikan pelayanan belajar yang efektif.
  • Nilai-nilai religius, kemandirian, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi tak terkembangkan secara optimal karena orientasi sekolah lebih mementingkan banyak siswa asuhannya daripada berorientasi pada mutu layanan.
  • Iklim sekolah kurang kondusif  yang ditandai dengan kurang berdisiplin, contohnya, membiarkan siswa nongkrong di sekolah, berpakaian kurang rapih, dibiarkan merokok, dan sampai pada kurang optimal dalam mengikuti pelajaran.
  • Efektivitas siswa dalam mengembangkan tujuan hidup tak banyak dibantu sekolah sehingga siswa tak terbantu mengarahkan dirinya untuk membangun masa depannya yang baik.
  • Penegakan disiplin tak tegas siswa leluasa untuk melakukan tindakan tercela karena pihak sekolah mentolelir tindakan kekerasan.
  • Siswa berkolaborasi dalam kelompok menyimpang di luar sekolah, karena kehadiran sekolah  sebagai akibat dari rendahnya peran sekolah dalam membangun kolaborasi dalam aktivitas yang positif.
  • Sikap sekolah dalam menghadapi konflik lebih defensif daripada kolaboratif.

Dengan melekatnya beberapa karakter seperti itu, dapat dinyatakan bahwa daya kendali siswa terhadap siswa kurang efektif sehingga berkembanglah penyimpangan perilaku.

Peningkatan Efektivitas Sekolah

Keith Devis dalam bukunya, “Discipline is management action to enforce organization standarts” menyatakan bahwa sekolah perlu menegakan disiplin preventif dan korektif. Disiplin preventif, yakni upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Disiplin korektif, yakni upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada.

Disipin preventif dan korektif harus didukung dengan efektivitas pelaksanaan pembelajaran yang bermutu dan kegiatan siswa yang optimal sesuai dengan kecukupan agar siswa berkurang dalam melakukan kolaborasi di luar kendali sekolah. Pemenuhan mutu pembelajaran perlu didorong oleh fungsi pengawas sekolah yang efektif dan sistem penjaminan mutu akreditasi yang lebih objektif. Dengan sistem akreditasi seperti yang berlangsung saat ini belum mampu mendeskripsikan mutu proses pembelajaran yang sesungguhnya. Akreditas pembelajaran lebih banyak ditentukan oleh pemenuhan administrasi pembelajaran daripada fakta pemenuhan mutu pembelajaran secara empirik.

Sekolah-sekolah yang besar, memiliki sumberdaya yang kuat dalam pemenuhan syarat formal administratif dan sarana-prasarana belajar yang baik, seperti ditunjukkan dengan gedung yang megah berpeluang untuk mendapat nilai akreditasi yang baik. Padahal seharusnya nilai yang baik itu diperoleh dari pengaruh sekolah yang baik terhadap hasil belajar dan pembentukan pribadi siswa yang baik,

Pengembangan Kolaborasi Sistem Sekolah

Menurut James Scott (1987) yang dikuatkan dengan hasil studi Dawn Andersen- Butcher dan yang lainnya (2008) menyatakan bahwa kolaborasi, kemitraan dapat meningkatkan keamanan sekolah dan menunjang pencapaian bidang akademik.Kerja sama dapat mengurangi berbagai hambatan nonakademik seperti munculnya berbagai kerenggangan akibat pergesekan sosial. Kerja sama yang baik antar sekolah dapat meningkatkan citra sekolah dalam satu komunitas Kerja sama yang baik antar sekolah menurut James Scott (1987) dapat diisi dengan berbagai kegiatan perbaikan pelaksanaan permbelajaran.

Kolaborasi antar sekolah tidak hanya diperlukan saat siswa telah beraksi melakukan tawuran antarsekolah namun, justru lebih penting dilakukan secara berkelanjutan untuk mencegah terjadinya gesekan sosial antar siswa. Syarat itu tak mudah dipenuhi. Daya kolaborasi sekolah berkembang tak sebanding dengan kecepatan perkembangan kolaborasi siswa dalam perbuatan menyimpang. Siswa dapat mudah mengembangkan geng yang meningkatkan pengakuan terhadap perilaku yang menyimpang. Sementara usaha penghargaan atas kebaikan yang mereka miliki dari sekolah sangat terbatas.

Oleh karena itu, untuk mencegah tawuran antarsekolah diperlukan peningkatan kerja sama antar kepala sekolah dalam setiap wilayah. Kolaborasi kepala sekolah guru-guru, dan siswa antar sekolah dalam satu wilayah tertentu, menurut hasil penelitian, terbukti dapat mengurangi gesekan sosial siswa dan dapat meningkatkan daya kolaborasi siswa dalam bidang akademik.

 

Referensi:

  • http://www.encyclopedia.com/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang
  • Keith  Devis http://penyimpanganprilakusiswadisekolah.blogspot.co.id/2012/01/penyimpangan-prilaku-siswa-di-sekolah.html
  • Emile Durkeim, http://www.ssbelajar.net/2013/05/teori-tori-perilaku-menyimpang.html

 

 

 

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments