Memantau Pratik Baik Penerapan Model Inquiry dalam Pembelajaran

Dalam menerapkan model inquiry dalam pembelajaran sain, sebagaimana dideskripsikan dalam panduan pelaksanaan model tersebut untuk pendidikan dasar di Eropa pada buku Designing and ImplementingInquiry-Based Science Units for Primary Education  (2009) yang disusun oleh Karen Worth, Center for Science Education, Education Development Center, Inc, USA. Mauricio Duque, Universidad de los Andes, Colombia.Edith Saltiel, La main à la pâte, France dinyatakan  sebagai berikut:

Pertama : Melibatkan Siswa

Pada tahap ini siswa mencermati KD dan materi yang akan siswa pelajari dengan  merumuskan jawaban atas pertanyaan pokok berikut:

  • Apa yang akan kita coba?
  • Mengapa Anda tertarik dengan itu?
  • Apa sebenarnya yang ingin Anda ketahui?
  • Mengapa tertarik dengan itu?

Kedua : Merencanaan dan Mendesain

Siswa  merumuskan jawaban atas pertanyaan pokok berikut:

  • Apa masalah yang hendak dipecahkan?
  • Apa yang hendak diketahui?
  • Apa yang akan siswa lakukan?
  • Apa yang ingin ditemukan?

Ketiga : Merumuskan pertenyaan baru.

  • Adakah pertanyaan lain yang perlu diungkap?
  • Pertanyaan baru apa?
  • Bagaimana cara mencari dan menemukan jawabanya?

Keempat : Implementasi 

  • Apa yang semestinya dilaksanakan sesuai rencana?

Kelima : Mengolah dan Menganalisis Data

  • Bagaimana sisw mengolah data?
  • Pola apa yang saya temukan?
  • Hubungan apa yang mungkin ada?
  • Apa artinya?

Keenam Menarik Kesimpulan Akhir

  • Apa yang diketahui dari semua proses investigasi ini?
  • Bukti apa yang mendukung ide pokok?

Ketujuh: Mengomunikasikan teman

  • Apa yang ingin disampaikan?
  • Bagaimana cara menyampaikannya?
  • Apa yang penting untuk mendapat penekanan?

Teknik Observasi Penerapan Model Inquiry

Pembelajaran adalah peristiwa yang kompleks sehingga tak mungkin pengamat dapat mencatat semua peristiwa atau fakta yang terjadi dalam kelas. Mengamati seluruh cara siswa merespon guru dalam waktu yang sama tak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu, sebaiknya pengamat mencatat fakta penting yang terjadi di dalam kelas dari waktu ke waktu untuk menjadi dasar dalam mengisi instrumen.

Contoh cataran fakta praktik baik pembelajaran dalam penerapan model inquiry sebagai berikut:

Waktu Catatan Praktik Baik
7.01

 

Siswa berdoa dipimpin oleh ketua kelas.
7.02  Guru mengabsen siswa
7.02

 

Guru menyamapaikan KD , IPK, dan materi  yang akan siswa pelajari
7.02

 

Guru mengaitkan materi dengan yang sudah siswa pelajari
7.03

 

Guru menantang siswa untuk mengaitkan materi dengan kehidupan.
7.05 Guru membagi kelas dalam 4 kelompok
7.05

 

Guru menyajikan 4 pertanyaan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
7.06  Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk mejawab pertanyaa
7.07 Siswa kelompok satu membacakan jawaban atas 4 pertanyaan yang dibahasnya.
  Dst.

Pencatatan fakta seperti itu terus pengamat lakukan samapai pada batas waktu yang dinilai cukup. Dari situ tampak fakta yang lebih dominan, jika guru lebih banyak, maka kemungkinan aktivitas belajar yang dikembangkan berpusat pada guru. Sebaliknya jika catatan fakta banyak maka pembelajaran berpusat pada siswa.

Pengisian Instrumen

Pengisian instrumen melalui langkah berikut:

  1. Sandingkan setiap butir instumen dengan fakta, setiap fakta boleh digunakan berkali-kali pada beberapa nomor instrumen asal menurut pertimbangan pengamat berkesesuaian.
  2. Setelah setiap butir instrusmen berisi fakta hasil pengamatan, pertimbangkan keterpenuhan setiap butir, misalnya amat baik, jika fakta yang sesuai memenuhi kriteria.
  3. Olah isnstrumen untuk melihat tingkat pemenuhan yang kurang atau baik. Jika pada instrumen tertentu tak ditemukan fakta dari kelas, berarti pemenuhan istumen itu lemah.

Dengan model pengolahan istrumen berbasis fakta yang diperoleh dari pengamatan kelas, maka pertimbangan pemenuhan skor menjadi lebih objektif. Bandingkan  dengan pengisian istrumen yang sering dilakukan dengan cara memantau kelas dan mengisi istrumen secara langsung. Dalam peristiwa yang terakhir itu, pengisian instrumen lebih banyak mengandalkan persepsi, bisa jadi lebih subyektif.

Demikan yang dapat saya sajikan, semoga bermanfaaat.

Referensi:

  • Jack C. Ricards, Thomas S. C Farell, 2011. Practice Teaching: A Reflective Approach. Cambridge University Press, New York
  • Karen Worth, Designing and ImplementingInquiry-Based Science Units for Primary Education  (2009) , Center for Science Education, Education Development Center, Inc, USA. Mauricio Duque, Universidad de los Andes, Colombia.Edith Saltiel, La main à la pâte, France

Pendukung;

www. heejoubag.com

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments