Materi Pembinaan Kepala Sekolah agar Terampil Mengambil Keputusan

Pengambilan keputusan adalah inti dari tugas manajer satuan pendidikan. Seperti semua pemimpin organisasi formal, sekolah merupakan struktur pengambilan keputusan (Hoy dan Miskel , 2001). Dalam pelaksanaan tugas, setiap saat kepala sekolah menghadapi  tantangan untuk mengambil keputusan yang akurat.

 

Pengambilan keputusan adalah proses yang memandu tindakan pikiran, perasaan, hingga intuisi. Dalam pelaksanaannya melibatkan keyakinan, nilai-nilai, dan pengalaman sebelumnya. Sebagai manajer sekolah ia harus tahu diri, tahu mengapa memilih strategi  tertentu , tahu siapa yang harus melibatkan, dan tahu ke mana organisasi yang dipimpinnya harus bergerak. Pemimpin lembaga perlu menghitung dengan akurat menentukan pilihan, berdasarkan ada yang terhimpun atau memprediksi semua alternatif, dan resiko yang akan timbul jika langkah kerja sudah diputuskan.

Keputusan manajemen menurut Ian Pownall (2012) terbagi dalam  beberapa jenis yaitu;

  • Keputusan terstruktur yaitu keputusan yang didasari dengan tujuan yang jelas,  masalah yang dipecahkan logis dan rasional sehingga tahap pelaksanaan keputusan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
  • Keputusan tak terstruktur yiatu jika keputusan dibuat dengan didasari masalah yang kompleks, ambigu, dan tidak jelas siapa yang harus dilibatkan dan tujuan pun kurang jelas.
  • Keputusan tentang kegiatan terprogram, keputusan yang diikui dengan kegiatan yang tahapannya jelas, bertahap, dan prosedural.
  • Keputusan strategik, yaitu keputusan tentang pengembangan organisasi dalam jangka menengah dengan cara mengerahkan sumber daya internal dan eksternal. Ruang lingkup keputusan meliputi perencanaan strategic, taktis, dan implementasi dalam dinamika persaingan.

Sekalipun keputusan dapat diambil dengan cara musyawarah atau mengandalkan intuisi, namun dalam manajemen saintifik data atau informasi menjadi sumber daya yang sangat penting. Semakin akurat data atau informasi yang mendasari keputusan, maka semakin baik keputusan yang ditentukannya.

Pengambilan keputusan adalah proses kerja rasional dalam  memilih alternatif yang menghasilkan putusan yang paling mungkin dari berbagai alternatif yang diidentifikasi. Semua mendangkan konsekuensi baik dan buruk.  Tugas pengambilan keputusan, menurut Edward Simon (1976) dapat dibagi dalam tiga langkah yaitu;

  • Mengidentifikasi semua alternatif.
  • Menentukan konsekuensi dari tiap alternatif.
  • Membandingkan akurasi dan efisiensi tiap konsekuensi.

Konsep Simon menegaskan  pentingnya variabel mengembangkan alternatif dan menentukan konsekuensi dalam perancangan keputusan. Efektivitas keputusan ditentukan tingkat ketepatan dan efisiensi  pada setiap konsekuensi yang muncul akibat dari pengambilan keputusan. Ketepatan pengambilan keputusan menunjukkan adanya kesesuai antara masalah dengan keputusan yang diambil untuk memecahkan masalah yang mendatangkan keuntungan yang optimal.

Department for Economic and Social Affairs (DESA),  Rethinking Public Administration (1998), United Nations merumuskan bahwa siklus pengambilan keputusan meliputi lima tahap berikut;

  • Identifikasi masalah dan formasi
  • Rumusan kebijakan,
  • Adopsi dan legetimasi,
  • Implementasi kebijakan,
  • Monitoring dan evaluasi kebijakan.

Menurut Stone Deborah (2002) merumuskan proses pengambilan keputusan meliput lima tahap berikut:

  • Identifikasi tujuan.
  • Identifikasi alternatif.
  • Memprediksi konsekuensi pada setiap alternatif.
  • Evaluasi konsekuensi.
  • Memilih alternative paling optimal.

Pada model siklus di atas, pentahapan proses pengambilan keputusan dimulai dari identifikasi tujuan yang ingin dicapai. Untuk mewujudkan tujuan diperlukan berbagai strategi alternatif sehingga perlu terlebih dahulu mengidentifikasi berbagai alternative. Pada tahap ini seorang pengambil keputusan perlu memprediksi konsekuensi dari tiap alternative dan memilih yang paling mungkin dengan resiko terendah dengan kemaslahatan yang tertinggi. Menentukan pilihan keputusan terbaik perlu ditindaklanjuti dengan evaluasi pencapaian tujuan, sehingga dapat diketahui alternative paling optimal.

Berbeda dengan contoh sebelumnya, Ian Pownall menyatakan bahwa siklus pengambil keputusan dilakukan melalui lima tahap berikut.

  • Mendifinisikan masalah
  • Menentukan kriteria evaluasi.
  • Mengidentifikasi seluruh alternative solusi yang mungkin
  • Menetapkan target pencapaian berdasarkan tujuan dan kriteria.
  • Memilih sulusi paling optimal

Dari beberapa model pentahapan  pengambilan keputusan  dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah perlu terampil menentukan tujuan lembaga,  menganalisis masalah dengan cermat, menghimpun  data, merumuskan alternative pemecahan masalah, perhitungan resiko yang mungkin timbul dari setiap alternatif solusi, memilih alternative yang terbaik, menentukan skala prioritas dan  indikator efektivitas keputsan sebagai bahan evaluasi.

Bahan pelatihan ini dikembangkan untuk para kepala sekolah pemula dalam membuat keputusan dengan menggunakan model studi kasus:

Kasus kesatu:

Di SMP Negeri 17 terdapat empat orang pegawai negeri yang diperbantukan menjadi guru agama Islam. Jumlah jam pelajaran Agama dan Budi Pekerti 72 jam pelajaran dengan masing-masing rombongan belajar mendapatkan 3 jam pelajaran per minggu. Kepala sekolah membagi sehingga setiap guru mendapatkan jatah tugas kurang dari 24 jam. Di sekitar lingkungan sekolahnya ta ada sekolah lain yang dapat menerima guru-guru tersebut untuk mencari tambahan tugas mengajar. Keempat guru tersebut tinggal dan menjadi penduduk sekitar sekolah karena itu mereka tidak bersedia dipindahtugaskan. Namun demikian para guru tersebut meminta kepada kepala sekolah untuk mendapatkan sertifikasi. Keputusan apa yang seharusnya kepala sekolah buat?

Kasus kedua:

SMPN 1 Puncak Bukit terlah berdiri sejak tahun 1990. Lingkungan sekolahnya berada di tengah kepadatan penduduk. Penduduk di sebelah selatan sekolah adalah masyarakat elit di kotanya. Namun demikian, sangat sedikit masyarakat perumahan elit tersebut menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Dalam posisi daya saing memperebutkan siswa sekolah ini kalah saing oleh beberapa sekolah yang lahir kemudian. Padahal sekolah ini dekat sekali dengan hiruk pikuk lalu lintas angkutan umum yang dipenuhi oleh banyak anak sekolah. Perubahan apa yang perlu kepala sekolah lakukan?

Kasus Ketiga untuk keputusan dengan masalah yang takterstruktur:

SMPN Tanah Bawah Satu berada dalam satu kompleks dengan SMPN Tanah Bawah Dua di tengah ibu kota kabupaten. Prestasi SMPN Tanah Bawah Satu dalam tiga tahun terakhir tidak dapat menyaingi prestasi yang dicapai SMPN Tanah Bawah Dua. Bapak Ahmad menjadi kepala SMPN Tanah Bawah Dua dalam tiga tahun terakhir. Mengapa Pak Ahmad berhasil menjadi kepala sekolah?

Untuk mendukung analisis pelakasanaan pengambilan keputusan menggunakan perangkat pendukung pengawas pembina sebagai berikut:

  •  [download id=”3230″]
  • [download id=”3232″]

Referensi:

  • Hoy, W.K., & Miskel, C.G. (2001). Educational Administration: Theory, Research,  and Practice (6th Ed.). New York: McGraw-Hill
  • Pownall, Ian (2012).  Effective Management Decision Making: An Introduction, Ian Pownall & Ventus Publishing AP5-ISBN 978-87-403-0120-5
  • Simon, Herbert (1976), Administrative Behavior (3rd ed.), New York: The Free Press
  • Stone, Deborah (2002). Policy Paradox. New York: W.W. Norton.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments