Keteguhan dan Perjuangan, Pak Untung, Kepala Sekolah SMPN 3 Mesuji Lampung

Gedung sekolah bertingkat dengan disertai fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap tentu menjadi dambaan setiap pengelola sekolah. Apalagi jika lokasi sekolah terletak di kota besar yang mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Guru dan siswa menggunakan sepeda motor bahkan mobil yang terparkir berderet-deret. Ditambah dengan lingkungan sekolah yang rindang, di sana-sini taman dan ruang terbuka yang hijau yang sengaja disediakan untuk mempercantik lingkungan sekolah dan kenyamanan belajar siswa. Lebih dari itu, kamar kecil tersebar di mana-mana, sama bersihnya dengan milik mereka di rumah, ditambah pengharum ruangan pula.

Rasa-rasanya deskripsi sekolah di atas sudah sempurna. Namun, sekali pun banyak sekolah yang telah berwujud seperti itu, dalam realita masih banyak warga sekolah yang berkeluh kesah. Apa pun peluang baik yang tersedia, sering  disikapi dengan sikap psikologis serba merasa kurang.

Memang, setiap sekolah yang efektif selalu memiliki cita-cita yang tinggi.  Namun bukan berarti, tidak mensyukuri kekuatan dan kelebihan yang ada.  Yang penting, jika kita melihat sekolah lain lebih unggul, jangan menggangap itu bukan karena usaha dan kesungguhannya dengan menyatakan bahwa itu karena  input mereka lebih baik. Oleh karena itu mereka bisa bekerja lebih mudah. Padahal tak ada kebaikan tanpa cucuran keringat dan perjuangan. Di mana pun.

Kali ini kita akan menikmati sebuah kisah perjuangan. Belajar dari pengalaman teman kita Pak Untung yang bekerja pada kondisi yang jauh dari diharapkannya. Gedung seadanya, lokasi terpencil dan akses jalan yang tidak mudah. Tanah becek. Sekolah ada di pedalaman. Masyarakat di sekitarnya pra sejahtera. Namun demikian, segala kekurangan itu justru telah memberinya spirit membangun dengan semangat berjuang agar pendidikan menjadi lebih baik.

Guru Pembaharu mengisahkan perjuangan Kepala Sekolah yang masih muda di Mesuji (Lampung) dalam menjalankan tugasnya. Drs. Untung Suroso, itulah nama lengkapnya. Beliau menjabat sebagai PLT Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Mesuji Lampung dan bertugas mendirikan bangunan. Mengembangkan sekolah dari tidak ada menjadi ada. Tugas ini sebenarnya pernah dimandatkan pada orang lain, namun semua menyatakan tidak sanggup.

Kisah awal ini mengindikasikan bahwa di sana ada kesulitan besar, masalahnya tidak sanggup dipecahkan oleh sebagian orang, namun Pak Untung mengadapinya dengan gagah berani.

Yang unik, keberaniannya itu justru berkobar setelah ia berdialog dengan pencari ular di hutan pada tengah malam. Pada saat ia akan memutuskan berhenti bekerja sebagai kepala sekolah. Saat Pak Untung pulang kemalaman, dari sekolah tak bisa mengendarai motor miliknya karena tanah basah.

Pada malam itu ia telah bertekad akan pulang dan menyatakan tidak sanggup lagi melanjutkan perjuangan. Ia akan menyerahkan mandat seperti temannya yang terdahulu. Di hutan ia bertemu penangkap ular yang sedang menerobos kegelapan malam, berjalan sendiri, ditemani lampu senter berbahan bakar karbit, seperti yang digunakan tukang las. Dalam obrolan sejenak, sambil berjalan, pencari ular itu berkisah bahwa dirinya tak mengenal takut menembus rimba di kegelapan malam. Demi anak istrinya, ia singgahi semak belukar di kerimbunan hutan untuk menangkap ular agar bisa mendapatkan uang 30 ribu sampai 50 ribu saja semalam.

Kisah nyata pencari ular itu telah membangkitkan inspirasi dan keberaniannya. Saat Pak Untung berpisah dengan pencari ular di simpang jalan, Pak Untung mengubah tekadnya, masa kalah sama pencari ular. Perjuangannya berlanjut.

Kondisi Wilayah Mesuji, Lampung

SMP Negeri 3 Mesuji diresmikan pada 12 Oktober 2009 lalu oleh Bupati Tulangbawang, Abdurachman Sarbini. Letaknya di Kp. Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji. Lokasi SMP N 3 Mesuji Lampung sekitar 300 Km dari Kota Lampung.

Jika menempuh perjalanan darat membutuhkan waktu sekitar delapan jam dari Kota Lampung menuju Kecamatan Mesuji. Kecamatan ini di atas  lahan gambut seluas 7000 hektar yang di dalamnya terdapat 3 kampung. Siswa harus menempuh jarak sejauh 5-8 Km untuk sampai di sekolah. SMPN 3 Mesuji Lampung memiliki 19 orang guru dengan satu tenaga tata usaha. Hanya ada dua orang PNS, selebihnya tenaga honorer. Mereka mengajar sebanyak 147siswa.

Kabupaten Mesuji sebagai daerah otonomi baru masih memiliki infrastruktur yang lemah, di antaranya transportasi seringkali terlambat dan mahal karena hampir semua jalan dan jembatan rusak parah. Jangan berpikir penerangan listrik dan air bersih di daerah trans rawa-rawa. Atau seperti dalam iklan membicarakan internet di atas punggung kerbau.

Akses jalan ke tempatnya bekerja tidak mudah. Yang pasti jika musim hujan jalan tanah yang ada basah dan berlumpur. Menuju SMPN 3 Mesuji adalah medan yang penuh tantangan dan memerlukan daya juang.

Masyarakat di sini pada umumnya pada kondisi kurang sejahtera, tingkat kemiskinan di wilayah ini masih tergolong tinggi, terlihat dari kondisi rumah yang ada di kampung.

Oleh karena itu Pak Untung dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa  memajukan pendidikan di daerah ini sangat penting supaya generasi muda Mesaji dapat membawa perubahan di masa depan.

Mendatangkan bahan bangunan dari kota menuju Mesaji

Bukan persoalan yang mudah untuk mendatangkan bahan-bahan bangunan bagi SMPN 3 Mesaji. Kondisi jalan yang demikian buruk menghambat perjalanan darat. Truk bahkan pernah terjebak selama lima bulan.

Perjalanan darat pun harus dilanjutkan via aliran sungai. Berbekal perahu kecil, mereka membawa triplek, semen dan bahan bangunan lainnya. Setelah perjalanan dengan perahu, masih harus diangkut oleh para pekerja ke lokasi pembangunan sekolah.

Sarana dan prasarana seperti bangku dan kursi siswapun perlu diangkut melaui jalur darat dan sungai sebagaimana foto berikut. Ini tidak mudah karena jarak dari truk ke tempat tujuan lebih dari 15 kilometer. Pekerjaan ini telah membuat harga barang menjadi jauh lebih mahal daripada di kota-kota.

Sekali pun sekolah ini berada di pedalaman, namun meja dan kursi siswa harus didatangkan dari tempat jauh. Sebagaimana material bangunan, perangkat kelas ini pun harus dibawa secara estafet. Kalau kurang berhati-hati kursi bisa jatuh di sungai, sehingga pekerja harus terjun mengejarnya di permukaan sungai.

Kondisi Awal Pembangunan SMPN 3 Mesuji Lampung

Foto di sebelah kiri menggambarkan lahan tempat dibangunnya SMPN 3 Mesuji, daerah gambut yang berawa-rawa. Cukup banyak genangan air yang pastinya akan menyulitkan proses pendirian bangunan. Itu tidak berarti memilih lokasi yang tidak tepat, melainkan begitulah Mesuji, tanahnya menjadi rawa di musim penghujan.

Bangunan SMPN 3 Mesuji Setelah Terbangun

Perjuangan Pak Untung kini menampakkan hasilnya. Paduan cat warna kuning dan hijau membuat tampilan sebagaimana sekolah yang lain. Bangunan kokoh ini dapat berdiri atas keteguhan hati pemimpin sekolahnya, yang mampu bertahan selama proses pembangunan sekolah tersebut. Bersamaan dengan bangunan sekolah, mesjid didirikan pula sehingga SMPN 3 Mesuji Lampung siap mendidik siswa-siswi untuk belajar.

Hal yang lain yang perlu dikisahkan adalah, kondisi sekitar sekolah yang penuh lumpur membuat siswa harus melepas alas kaki agar kebersihan kelas tetap terjaga.

Senyuman Kepala Sekolah dan Siswa SMPN 3 Mesaji Lampung

Setelah perjuangan yang cukup berat, akhirnya Kepala Sekolah dan siswa dapat tersenyum menikmati sekolah yang baru.

Referensi :

Penuturan Drs. Untung Suroso, Kepala Sekolah SMPN 3 Mesaji Lampung

Foto-foto di atas merupakan dokumentasi foto pembangunan sekolah milik SMPN 3 Mesaji Lampung

Gedung sekolah bertingkat dengan disertai fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap tentu menjadi dambaan setiap pengelola sekolah. Apalagi jika lokasi sekolah terletak di kota besar mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan, guru dan siswa menggunakan sepeda motor bahkan mobil yang terparkir berderet-deret. Ditambah dengan lingkungan sekolah yang rindang di sana-sini taman dan ruang terbuka yang hijau yang sengaja disediakan untuk mempercantik lingkungan sekolah dan kenyamanan belajar siswa. Lebih dari itu, kamar kecil tersebar di mana-mana, sama bersihnya dengan milik mereka di rumah-rumah, ditambah pengharum ruangan pula.

Rasa-rasanya deskripsi sekolah di atas sudah sempurna. Namun, dalam realita lebih banyak warga sekolah yang berkeluh kesah. Sebaik apa pun peluang yang tersedia, lebih disikapi dengan suasana psikologis serba kekurangan, bahkan dengan mudah pula mempersepsikan bahwa mengapa sekolah lain lebih baik, karena pasti mereka memiliki keunggulan input sehingga mereka bisa bekerja lebih mudah. Pola berpikir orang lain memiliki rumput yang lebih hijau karena tanah mereka lebih subur, tumbuh di mana-mana.

Kali ini kita akan melihat pemandangan yang jauh berbeda dari yang diharpkan. Belajar dari pengaman teman kita Pak Untung yang bekerja pada kondisi yang jauh dari diharapkannya. Gedung seadanya, lokasi terpencil dan akses jalan yang tidak mudah. Namun demikian, segala kekurangan yang ada justru telah memberinya spirit membangun dengan semangat perjuangan menuju kearah yang lebih baik.

Guru Pembaharu kali ini mengisahkan perjuangan Kepala Sekolah di Mesuji (Lampung) dalam menjalankan tugasnya. Drs. Untung Suroso, itulah nama lengkapnya. Beliau menjabat sebagai PLT Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Mesuji Lampung dan bertugas mendirikan bangunan. Mengembangkan sekolah dari tidak ada menjadi ada. Tugas ini sebenarnya pernah dimandatkan pada orang lain, namun semua menyatakan tidak sanggup.

Tentunya ini mengindikasikan ada kesulitan besar di sana, masalah yang tidak sanggup dipecahkan oleh sebagian orang, namun Pak Untung mengadapinya dengan gagah berani. Yang unik, keberaniannya itu justru berkobar setelah ia berdialog dengan pencari ular di hutan pada tengah malam. Saat Pak Untung pulang kemalaman, dari sekolah tak bisa mengendarai motor miliknya karena tanah basah. Malam itu ia telah bertekad akan pulang dan menyatakan ketidaksanggupannya melanjutkan perjuangan. Ia akan menyerahkan mandat seperti temannya yang terdahulu.

Di hutan ia bertemu penangkap ular yang sedang menerobos kegelapan malam, berjalan sendiri, ditemani lampu senter berbahan bakar karbit, seperti yang digunakan tukang las. Dalam obrolan sejenak, sambil berjalan, pencari ular itu berkisah bahwa dirinya tak mengenal takut menembus rimba di kegelapan malam. Demi anak istrinya, ia singgahi semak belukar di kerimbunan hutan untuk menangkap ular agar bisa mendapatkan uang 30 ribu sampai 50 ribu saja semalam. Kisah nyata pencari ular itu telah membangkitkan inspirasi dan keberaniannya. Saat Pak Untung berpisah dengan pencari ular di simpang jalan, Pak Untuk mengubah tekadnya, masa kalah sama pencari ular. Perjuangannya berlanjut.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments