Mengapa Fenomena Yang Sama Mengungkit Masalah Berbeda?

Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang melihat fakta atau fenomena yang sama, namun tak semuanya memikirkan yang dilihatnya. Ia pikirkan atau tidak  bergantung pada keterampilannya, pengetahuan yang dimilikinya, serta pengalaman hidup yang dilaluinya. Kekuatan berpikir sangat bergantung pada pengalaman belajar, sumber belajar, materi yang dipelajari dalam kehidupannnya, buku yang dibacaa, teman diskusi, serta guru yang telah mengajarinya. Karena orang mengikuti cara belajar, sumber belajar, guru, tempat belajar yang berbeda, maka hasil pemikirannya pun menjadi berbeda-beda.

Contoh:  Di kota B terdapat sebuah parit yang berfungsi sebagai drainase yang sangat penting di waktu hujan tiba. Di hari-hari lainnya berfungsi sebagai saluran pembuangan limbah dari bangunan sekitarnya. Di sisi kiri-kanannya tumbuh pohon yang rimbun. Parit ini pun memisahkan antara jalan raya dengan taman yang sangat terawat.  Pada kondisi ini seluruh warga kota melihat parit itu tak bermasalah, sekali pun dalam sebagian waktunya parit kurang sedap dipandang karena tak selalu dirawat sehingga sering tumbuh rumput liar menutupinya. Saat pemimpin berganti, pandangannya terhadap parit berbeda dari pemimpin sebelum-sebelumnya. Kondisi parit  terbuka dipandangnya sebagai masalah. Solusinya parit ia tutupi dengan gorong-gorong ukuran besar. Saluran air limbah tertutup. Di atasnya kini berubah menjadi area publik yang memberi ruang kepada pejalan yang lapang. Parit kini bertambah fungsi sebagai ruang publik yang asri. Masyarakat mengapresiasi daya inisiatif pemimpinnya.

Ada contoh yang berbeda dari sebuah SMA. Dalam 4 tahun lalu SMA X di Kota Y mendapat bantuan multi media berserta peralatannya untuk mendukung meningkatnya efektivitas pembelajaran. Ruang ber-AC sekolah siapkan atas kerja sama sekolah dengan komite. Ruangan dalam tahun itu pula telah dilengkapi dengan komputer sebanyak 40 unit ng diletakan di atas meja yang terpisah untuk tiap unitnya. Sebuah proyektor telah tergantung di langit-langit ruangan. Ruangan juga dilengkapi dengan pengeras suara yang menghasilkan getar suara lembut namun menghasilkan volume surata yang jelas terdengar oleh setiap orang dalam ruangan. Yang tak kalah penting akses internet telah terhubung dengan Telkom sehingga setiap pengguna dapat memperoleh informasi dengan mudah dari internet.

Semula pimpinan sekolah sangat optimis bahwa ruang multi media akan berfungsi optimal dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis komputer. Lebih dari itu, semula ruang multi media yang sekolah miliki  telah menjadi kebanggaan guru komputer dan para siswa, namun belakangan sejalan dengan lenyapnya keterampilan komputer dari kurikulum, ruang multi media lebih banyak tertutup rapat. Penggunaan oleh guru untuk melaksanakan lab kurang optimal karena hanya satu dua guru yang terampil memberdayakannya. Sebagian besar guru, selain belum terlatih, rencana ppembelajaran yang mereka miliki tidak disiapkan untuk pelaksanaan pembelajaran berbasis digital.

Internet? Lain lagi. Terlalu mahal untuk sekolah beli jika hendak digunakan setiap saat. Sekolah menimbang berat jika harus mengeluarkan biaya di atas 3 juta per bulan untuk berlangganan. Lagi pula pada jam sibuk, selain mahal, nyata-nyata pada jam sibuk yang sering muncul malah pernyataan yang lucu “server not found”. Ini pula yang menjadi sebab, sekolah lebih suka jika masing-masing guru yang beli pulsa di androidnya. Apalagi jika muridnya juga mengikuti jejak gurunya.

Pimpinan sekolah memandang bahwa kondisi seperti ini wajar saja sebagai dampak dari perubahan. Apalagi berkah punya selanjutnya komputer sangat mendukung  pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer. Tak ada masalah. Sekali pun penggunaan Lab Multimedia tak begitu optimal. Sejalan dengan itu proses pembelajaran pun tak banyak berubah. Meneguhkan eksistensi sebagai sekolah konvensional.

Tak ada masalah,tak ada masalah begitulah sekirannya ada pihak yang menanyakan tentang fungsi multi media, sebab kurang faham masalahnya. Tentu kondisinya akan berubah jika jika pimpinan sekolah memandang keberadaan Lab Multimedia bermasalah. Bagimana memberdayakan Lab Multi Media agar dapat meningkatkan kecepatan dan kecerdasan siswa belajar? Serperi itulah masalah yang seharusnya menggerakan kepala sekolah dalam pelaksanaan tugasnya.

Salam pendidikan.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments