Indikator Lulusan : Cermin Kompetensi Pendidiknya

siswa-kita

Seluruh lingkar sistem mutu pendidikan berporos pada masalah yang paling mendasar yaitu;  Mutu lulusan seperti apa yang masyarakat harapkan?

Seperti  pada dunia industri,  pabrik sepeda motor memerlukan tenaga ahli yang terlatih memproduksi motor. Pada pabrik mobil berhimpun tenaga ahli pembuat mobil. Dan, di sekolah idealnya berhimpun tenaga ahli yang mendapat pendidikan khusus mengembangkan potensi sumber daya manusia.

Mutu lulusan seperti apa yang hendak sekolah wujudkan? Jawaban pertanyaan ini terkait pada konsep manusia yang sekolah harapkan. Jika sekolah menentukan bahwa manusia yang dicita-citakan itu memiliki berbagai indikator seperti beriman dan berahlak mulia, sehat, cerdas, berpengetahuan dan banyak lagi indiktor yang menandainya, maka selanjutnya sekolah perlu berpikir tentang program apa yang harus sekolah sediakan dan mutu guru seperti apa yang harus sekolah sediakan.

Ihwal mutu guru yang sekolah butuhkan  idealnya diturunkan dari spesifikasi kebutuhan. Jika kebutuhan siswa berahlak mulia, maka kita membutuhkan guru yang berahlak mulia juga, ia harus menjadi teladan untuk siswanya. Jika yang  dicita-citakan adalah siswa yang sehat. Maka jauhkan dari guru-guru yang perokok apalagi berani unjuk kebiasaan merokok dalam kelas. Jika siswa yang dicita-citakan adalah siswa yang cerdas, maka yang dibutuhkan adalah guru-guru yang terampil mengembangkan kecerdasan. Jada dalam sikap diperlukan keteladanan, dalam keterampilan diperlukan contoh, dalam kecerdasan diperlukan pengetahuan tentang bagaimana mengembangkan kecakapan dan menerapkan pengetahuannya dalam melaksanakan kegiatan pengembangan.

Salah satu ciri sekolah yang efektif adalah sekolah yang memiliki harapan yang tinggi. Target mutu yang hendak diwujudkannya lebih baik daripada sekolah lain. Atau sekurang-kurangnya lebih baik daripada yang telah diwujudkan sebelumnya. Untuk menghadapi tantangan ini diperlukan guru yang selalu belajar, mengembangkan pengetahuannya dari waktu-ke waktu tanpa henti meningkatkan keterampilannya sejalan dengan bertambah pengetahuannya. Kekuatan mutunya bergantung pada kemampuan belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan yang terbaik

Konsekuensi dari penetapan target yang tinggi diperlukan kompetensi guru sesuai dengan mutu produk yang diharapkan. Oleh karena itu ukuran minimalnya  atau standarnya adalah jika indikator mutu lulusan itu diberi simbol X  spesifikasi guru minimal yang dibutuhkan adalah X juga. Ini namanya standar artinya memenuhi batas minimal. Jika sekolah mengharapkan guru yang lebih baik maka standar harus dinaikan menjadi X plus Y.

Uraian ringkas ini ingin menegaskan bahwa kejelasan target mutu lulusan adalah poros dari seluruh pergerakan sekolah dalam menyediakan sumber daya yang dapat menunjang pencapaian tujuan. Tidak mengukur target pencapaian maupun kebutuhan sumber daya untuk mewujudkannya, tidak menuliskannya, adalah hambatan umum yang kita dapatkan di lapangan. Kendala ini bisa jadi merupakan kendala kultur yang melekat pada banyak pengelola sekolah. Lebih suka bicara daripada menuliskannya. Kita punya banyak data, namun tidak mengelola dengan seksama.

Tulisan sederhana ini kita tutup dengan pernyataan bahwa data memang perlu dan berarti di tangan pengelola sekolah yang telah mengelola standar dengan benar, namun tidak berarti banyak di tangan pemikir yang belum menuangkan apa yang didapatnya dalam tulisan.

Melaksanakan standar mengukur apa yang telah dilaksanakan dan hasil seperti apa yang telah diwujudkan. Tapi yang tidak kalah berarti daripada itu ialah mana datanya? Tuhan kita yakini adanya.  Prestasi atau yang lainnya, mana datanya?

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Related posts

Comments

comments

5 comments

Mudah mudahan kita bisa memperkuat jalinan kerjasama yang lebih kuat dengan sekolah-sekolah didalam negeri yang mempunyai kualitas yang baik, sehingga kita dapat menunjukan kepada dunia bahwa kualitas pendidikan kita tidak kalah dengan mereka.

Saya adalah guru muda yang baru lulus sarjana S1 . Saya sekarang mengajar di salah satu sekolah di sebuah kecamatan di daerah JATIM. MTs Nurul Ihsan adalah tempat aku mencari ilmu pengatahuan dunia dan agama. MTs mempunyai program baru yaitu membuka kelas unggulan. yang difasilitasi gengan maks, misal ada 2 AC yang bertengger di ujung ujung temboknya. Saya terpilih menjadi wali kelas unggulan, padahal pengalaman saya sangatlah sedikit. MTs memiliki program2 yang hrus dijalankan, salah satunya ingin melakukan pertukaran pelajar dari dalam ataupun dari luar negeri. Kalau boleh saya nanya, bagaimana cara-cara dan trik untuk melakukan program tersebut ya? mohon dibalas. Trima Kasih

Kerja sama sekolah/madrasah pada taraf nasional maupun internasional memerlukan syarat yang harus dipenuhi, di antaranya, (1) kemampuan berkomunikasi (lihat model di http://www.globalgateway) (2) sekolah perlu menyiapkan program membangun komunikasi dan kerja sama internsional melalui pengembangan sistem informasi pendukung (3) informasi yang diperlukan di antaranya apa yang sekolah dalam maupun luar negeri butuhkan dari kita jika kerja sama akan dilakukan? Manfaat apa yang akan orang lain peroleh dari kerja sama itu? (4) kembangkan web sekolah agar menarik perhatian dan minat kepala sekolah, guru, atau siswa sekolah lain untuk bekerja sama dengan sekolah kita. (5) lihat pula artikel guru pembaharu tentang Sister School Sebagai Unjuk Kinerja Pendidikan Bertaraf Internasional di menu pengelolaan. Terima kasih atas kunjungan Anda di Gurupembaharu.

Maaf pak, saya kira program sister school itu adalah program prorakyat yang dapat memicu sekolah-sekolah pinggiran menjadi lebih maju. Kalau syaratnya seperti yang bapak tulis, berarti akan sulit bagi sekolah yang menampung siswa dengan ekonomi menengah. Adakah solusi lain?