TOPIK UTAMA »

April 7, 2014 – 8:40 pm | 128

Salah satu kewajiban sekolah dalam merumuskan dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2013, seperti pada KTSP 2006, adalah merumuskan visi-misi-dan-tujuan.  Mengapa  kewajiban merumusan tujuan sekolah begitu penting?
Sejak dulu,  seluruh warga sekolah bahwa merumuskan tujuan lembaga …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PENGELOLAAN, Uncategorized

Workshop Pendidikan Lingkungan Hidup ASEAN : Studi tentang The Amazing School

Submitted by on July 16, 2011 – 4:47 pm4 Comments | 1,663

GP.com- Jika saja Kinabalu, Sabah, Malaysia tidak menjadi tempat pelaksanaan Workshop Asean Eco-School pada tanggal 25-28 Juni 2011 maka saya tidak  akan menyiapkan waktu khusus untuk berkunjung ke sana. Kinabalu, sebuah kota di negara bagian Sabah dapat ditempuh dengan pesawat dengan waktu 2 jam 20 menit dari Kualalumpur. 

Mendarat di Sabah pada pukul 10 malam dalam gemerlap lampu kota. Malam benderang sepanjang  pesisir yang padat dengan aneka kegiatan bisnis dan menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru.

Warung makan tenda  tersebar sepanjang pantai. Orang-orang makan malam sambil menikmati angin laut.

Kota ini semakin ramai terutama dalam dua tahun terakhir, begitu kata penduduk setempat. Wisatawan datang dari berbagai negara. Ada banyak keindahan yang bisa dinikmati, seperti keindahan laut, hutan tropis, gunung, sungai, kuliner yang terintegrasi di  potensi dan keindahan  alam pulau Borneo alias Kalimantan.

Kota  ini bersih, jauh dari dari polusi tanah dan   air. Udara kota juga bersih dan  suasananya tidak terlalu bising.  Sejak  pertama kali menapaki Kinabalu, saya dapat berjalan di tepi pantai. Jalannya lebar, nyaman untuk menjadi tempat joging atau jalan pagi.

Di sini tersedia anjungan untuk orang berdiri di pinggir pantai. Dari sini dapat  menyaksikan  gerombolan ikan di laut dangkal. Sekali pun tidak begitu banyak ikan yang dapat dipandang tetap saja panorama seperti ini jarang terlihat di tempat lain.

Workshop Pendidikan Lingkungan Hidup ASEAN

Kegiatan ASEAN  ini difasilitasi USAID (United States Agency For International Development) yang berlangsung selama tiga hari yaitu hari Minggu hingga hari Selasa dari tanggal 26-28 Juni 2011. Dalam dua hari pertama diisi dengan kegiatan pembahasan materi, sehari berikutnya adalah kunjungan lapangan dan pembahasan akhir draf tentang standardisasi pendidikan lingkungan hidup di ASEAN.

Tema pengembangan sekolah bersih, indah, rindang  serta konservasi lingkungan menjadi fokus perhatian semua anggota delegasi. Program tiap negara hampir sama, namun tiap negara memiliki karakteristik yang disesuaikan dengan kebutuhan khas tiap negera.

Disampaikan pula oleh delegasi Indonesia bahwa program utama yang sedang berjalan adalah meningkatkan kinerja sekolah dalam pengembangan pendidikan lingkungan hidup melalui program Adiwiyata. Keberhasilan sekolah dalam memenuhi kriteria lingkungan dan manajemen lingkungan dikembangkan melalui sistem pembinaan. Output program dikompetisikan. Besarnya perhatian negera ditunjukkan dengan pemberian penghargaan kepada sekolah yang memiliki lingkungan terbaik.  Penghargaan yang diberikan oleh presiden dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup.

Dijelaskan Indonesia, di samping Adiwiyata, penyelenggaraan program pendidikan lingkungan hidup  juga diintegrasikan dalam kurikulum mata pelajaran dan dilaksanakan dengan menggunakan kurikulum yang berdiri sendiri. Provinsi Jawa Barat, di antaranya,  menetapkan pendidikan lingkungan hidup sebagai mata pelajaran sebagai muatan lokal.

Malayasia memiliki program yang hampir sama dengan Indonesia, namanya program Sekolah Lestari. Negara lain seperti Thailand, Filipina juga tidak jauh berbeda, namun Thailan, belum menyelenggarakan perlombaan sekolah seperti Indonesia dan Malaysia. Yang banyak berbeda  adalah Brunei dan Laos.

Beberapa pokok pikiran yang disajikan dalam presentasi delegasi setiap negara seperti yang tercatat dalam uraian di bawah ini.

  • Support and develop environmental curriculum (Brunei)
  • Engage students and the community in environmental clubs and activities (Brunei)
  • Provide safe and healthy learning environment with effective and high quality teaching and learning, which is in response to children’s needs (Cambodia)
  • Mainstream environmental education into existing school programs and policies (Cambodia)
  • Teacher training including faith based schools and other organizations (Laos)
  • Collaborative Public-Private Partnerships (Laos)
  • Clean and Green Model Schools  (Laos)
  • Collaborative cross-border activities (Laos)
  • Management  (Malysia)
  • Co-curriculum (Malaysia)
  • Greening Activities (Malaysia)
  • Award Evaluation of Eco Schools – Measurable Indicators and Scoring (Malaysia)
  • Participative: School community must be involved in the school management which includes the overall process of planning, implementation and evaluation (Indonesia)
  • Sustainable: All activities must be comprehensively conducted in well planned and continues way (Indonesia)
  • Development of school policies with environmental awareness and culture (Indonesia)
  • Development of environment based curriculum (Indonesia)
  • Presence of environment-related school policy (Philipines)
  • The school’s operation is environment friendly and there exist environment programs (Philipines)
  • Environment related features of the school curriculum (Philipines)
  • Presence of partners and linkages on environment programs/projects (Philipines)
  • Work in partnership with communities, NGOs, and Ministries to achieve the goal (Singapore)
  • Co-Curricular activities and campus green committees (Singapore)
  • Environmental education school hubs (Singapore)
  • Green Ribbon Schools Program (USA):  (1) Conceived in 2010 and launching Fall 2011 (2) A non-monetary recognition award given to schools (3) Partnership between state agencies, NGOs, & federal government.

Selanjutnya, dengan memperhatikan keragaman program sebagaimana terlihat dalam pokok materi dari tiap negara, pekerjaan mengembangkan standar pendidikan lingkungan hidup memerlukan waktu dan perhatian yang lebih besar daripada yang diperhitungkan.  Ada beberapa standar operasional yahng diusulkan untuk dilakukan pada tingkat ASEAN.

Kegiatan-kegiatan yang direkomendasikan diharapkan  dapat diwujudkan mulai tahun depan. Pengembangan aktivitas pendidikan lingkungan hidup ASEAN mengacu pada kriteria yang distandarkan. Di antaranya adalah standardisasi istilah, kegiatan, dan pengembangan kurikulum.   Keragaman program selanjutnya diintegrasikan dalam bentu kegiatan yang diusulkan di antaranya:

1) Kerja sama  pengembangan  Eco-Schools ASEAN

2) Kolaborasi Pengembangan ASEAN Regional Web Portal (ASEAN  Environmental Education Database) yang meliputi

  • Level sekolah
  • Level guru
  • Pertukaran Siswa
  • Kerja sama mengembangkan kegiatan Education and Environment
  • Pengembangan kurikulum
  • Forum pendidikan regional yang melibatkan kepala sekolah, guru, atau siswa.

3) Kegiatan Tahunan Lingkungan Hidup  ASEAN – Menampilkan aktivitas atau prestasi sekolah

4) Pengembangan jejaring Eco-Schools

5) Mengintegrasikan Kegiatan Nasional, Regional, dan Internasional yang diinisiasi oleh universitas.

6) Mengembangkan pusat informasi pendidikan lingkungan hidup ASEAN

7) Kolaborasi dengan Media.

8) Kontes dokumen, seni, lagu, tarik suara yang bertama lingkungan hidup, serta berbagai solusi inovatif dalam pelestarian lingkungan hidup.

9) Kerja sama riset dan pengembangan sesuai dengan kapasitas siswa pada tingkat dasar dan menengah serta universitas.

Program ini akan menjadi bahan pembicaraan lebih lanjut dalam pertemuan ASEAN berikutnya yang  akan dilaksanakan di Jakarta.

The Amazing School

Hasil yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh  seluruh anggota delegasi adalah pengalaman memperoleh model best practice dari kunjungan ke sekolah inovatif dengan memberdayakan  lingkungan hidup sebagai penggerak pembaharuan mutu sekolah.

Sekolah ini sebagai sekolah unggulan Malaysia penyelenggara pendidikan berbasis lingkungan hidup, sekolah menengah Michael Penampang, Sabah. Pada tahun 2009/2010  Michael mendapat anugrah Sekolah Lestari semacam program Adiwiata di Indonesia.

Visi St Michael’s Secondary School, Penampang “will continue to shine as an Outstanding ’Lestari’ School”.

Kepala sekolah menyampaikan presentasi  yang  menjelaskan Strategic planning & Action plan dalam 6 pernyataan sebagaimana terurai di bawah ini.

  1. Pendidikan lingkungan hidup  meliputi program penghijauan dan ramah lingkungan yang teritegrasi pada kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler dalam usaha mendorong seluruh warga sekolah untuk mengelola lingkungan secara holistik.
  2. Mengembangkan sekolah bebas sampah.
  3. Bangunan sekolah dan lingkungan sekitarnya bersih, sapih, da indah setiap saat.
  4. Semua warga sekolah melaksanakan kegiatan dan berpartisipasi aktif dalam setiap aktivitas peduli ramah lingkungan.
  5. Meningkatkan diri setiap orang  secara berkelanjutan tentang pentingnya memelihara dan merawat lingkungan.
  6. Meraih penghargaan lingkungan seperti Wira SERASI atau Anugerah Lingkungan Sekolah Berkelanjutan (Lestari).

Dalam merealisasikan cita-citanya, kepala sekolah menggunakan lingkungan sebagai materi belajar dan sekaligus sebagai sumber inpirasi guru dan siswa untuk mengembangkan multi kecerdasan. Di bawah ini terdapat gambar yang mengintegrasikan seni tradisional dengan misi lingkungan.

Pada banyak sekolah pendidikan lingkungan hidup sebagai kegiatan penunjang. Di sini sebaliknya, pendidikan lingkungan hidup menjadi landasan untuk seluruh mata pelajaran mengembangkan aktivitasnya. Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa dengan berlandaskan lingkungan sebagai konteks. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih kongkrit, menarik perhatian siswa, dan empiris karena menggunakan lingkungan hidup sebagai bahan belajar.

Materi lingkungan juga dikembangkan sebagai orientasi pengembangan sistem organisasi sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler tidak lepas dari  pengembangan lingkungan. Pengembangan   akademik, karakter siswa, dan aktivitas pengembangan diri tidak lepas dari pelestarian lingkungan hidup.  Sistem pengelolaan halaman, tanaman, toilet, kebun menjadi poros pengembangan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam mempelajari  IPA, Matematika, dan Ekonomi-Sosial dan seluruh mata pelajaran berpijak pada proses belajar dan berpengalaman yang terintegrasi dalam pendidikan lingkungan hidup.

Sistem pembelajaran berbasis lingkungan menghasilkan produk belajar  yang terukur dan kongkrit. Pengetahuan, keterampilan dan karakter siswa ditingkatkan melalui penerapan ilmu pengetahuan dalam pengalaman belajar dan produk belajar yang jelas terlihat hasilnya. Gambar di atas menunjukkan kompetensi siswa dalam menampilkan drama kreatif bertema lingkungan.

Aktivitas siswa yang terprogram, aktivitas pembelajaran yang terintegrasi dalam usaha meningkatkan keunggulan sekolah berbasis lingkungan, dukungan guru yang mengembangkan pembelajaran kontekstual, mengembangkan kepemimpinan dan daya kolaborasi siswa sebagai realisasi peningkatan kecerdasan emosional yang diwujudkan dalam struktur organisasi pengelolaan lingkungan, hingga meningkatnya produktivitas karya ilmiah siswa terintegrasi dalam aktivitas belajar berbasis lingkungan.

Di bawah ini siswa mempresentasikan program, teknik pelaksanaan, program dalam pengelolaan program. Hasil yang siswa tampilkan tidak hanya  inovasi yang dikembangkan, hasil yang dicapai, tetapi analisis pekerjaan dilihat dari dimensi ilmu pengetahuan. Mereka menyajikan karya ilmiah sehingga model pekerjaan pengelolaan lingkungan sebagai ajang penerapan ilmu pengetahuan.

Lebih dari  itu, produktivitas kepemimpinan dan keterampilan berorganisasi disatukan dalam kegiatan siswa dalam sistem pengelolaan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi menyatu dalam  program pelestarian lingkungan. Siswa memiliki tugas mengelola  proyek secara nyata, dalam proses bekerja dan berpengalaman kongkrit dengan menggunakan media lingkungan menjadi medan  interaksi sosial antara siswa, kerja sama, dan alat mengasah kemampuan  siswa yang bekerja sama dengan guru, dan masyarakat sekitar.

Keindahan sekolah sebagai tempat belajar  menjadi model mahakarya yang dikelola bersama. Seluruh warga sekolah berpartisipasi nyata. Pengorganisasian pengelolaan lingkungan hidup menjadi media belajar yang potensial dalam mengembangkan potensi akademis siswa. Mereka belajar dan berkarya berbasis data. Satu siswa satu pohon mereka kembangkan menjadi ajang penguatan partisipasi siswa untuk menjadi pemelihara, pengamat, dan pembelajar yang kuat dari riset kecil yang berharga.

Bagaimana Kegiatan Dikembangkan?

Seluruh aktivitas pengembangan berawal dari kebijakan sekolah yang mengembangkan aktivitas belajar sebagai proses yang simultan dengan kegiatan pengembangan lingkungan. Belajar dalam kelas tetap menjadi prioritas. Dari kelas aktivitas di perluas ke lingkungan sekitar.

Keunikan sekolah ini adalah dalam pengorganisasian belajar yang terintegrasi dan fokus pada peningkatan keserasian hubungan siswa dengan lingkungan sekolah sebagai tempat belajar yang indah, nyaman, dan hijau. Partisipasi siswa dalam semua kegiatan sungguh mengagumkan. Peningkatan pengetahuan, keterampilan, sikap yang dikembangkan pada tiap mata pelajaran berorientasi pada peningkatan penguatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkembang simultan dalam kegiatan penataan lingkungan sekolah dan sekitarnya.

Jika di Indonesia struktur organisasi sekolah didukung dengan OSIS yang berkonstrasi pada pengaturan aktivitas siswa untuk mengembangkan diri melalui interaksi sosial dan pengembangan prosestasi, maka pada sekolah Michel organisasi siswa dikembangkan dalam aktivitas organisasi pengelolaan sekolah dan lingkungannya.

Organisasi siswa di Indonesia memilik struktur Ketua, Sekretaris, Bendahara, yang dilengkapi dengan beberapa seksi seperti sekbid ketakwaan, sekbid pendahuluan bela negara, sekbid pengorganisasian pendidikan politik dan kepemimpinan yang sangat politis dan syarat nilai, maka pada sekolah Michael sangat pragmatis, meskipun nilai-nilai budaya bangsa tetap menjadi bagian dari sasaran pembinaan.

Struktur organisasi kesiswaan setaraf sekbid mereka menggunakan istilah SCUAD yang lebih berkonotasi pasukan kecil yang menangani oprasional bidang tertentu. Bidang yang mereka tangani di antaranya scuad drainase, kantin, toilet, ruang kelas, tanaman, halaman belakang, kolam ikan,  air sungai, lingkungan hidup sekitar sekolah, penanaman pohon, kebun sekolah, dan keperluan lain yang sekolah pandang perlu.

Struktur pembelajaran dipandu oleh guru mata pelajaran yang bekerja sama dengan pembimbing organisasi kesiswaaan, misalnya divisi yang menjaga pelestarian sungai sekitar sekolah. Kerja sama antara guru mata pelajaran intra dan ekstra kurikuler terpadu dalam proyek  peningkatan kebersihan sungai.

Mereka mengembangkan konsep bagaimana siswa turut menjaga dan  peduli pada sungai sebagai habitat banyak mahluk. Sungai bersih adalah masa depan yang ramah. Dalam rangka itu pada siswa melakukan pengukuran tingkat polusi air. Data yang mereka peroleh dihimpun sebagai produk kegiatan organisasi yang juga bagian dari pelajaran IPA. Mereka mengangkat sampah dari sungai, mengukur luas sungai yang mereka perlakukan sehingga mereka tahu berapa banyak sampah yang terhimpun dari luas tertentu. Mereka selanjutnya memprediksi berapa banyak sampai yang ada di sungai. Berapa banyak pertambahan sampah tiap tahun. Bagaimana dampak polusi yang ditimbulkannya.

Jika mereka memperoleh sampah yang dapat didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi, maka siswa menghimpun sampah untuk dijual. Hasil dari penjualan sampah mereka gunakan untuk membiayai kegiatan pengelolaan lingkungan. Karena usaha siswa seperti ini, dukungan publik pun mengalir, dana yang terhimpun untuk mengembangkan kegiatan siswa menjadi lebih banyak.

Produk kegiatan itu mereka publikasikan kepada masyarakat sekitar. Melalui publikasi karya itu siswa mengharapkan ada peningkatan perhatian masyarakat terhadap kebersihan sungai, mencegah kebiasaan masyarakat membuang sampai dan mencemari sungai.

Lain halnya dalam soal penanaman sayur sebagai bagian dari program pengembangan kebun sekolah. Sayur mayur mereka pelihara. Mereka petik hasilnya. Proses itu mereka kembangkan berkaitan dengan dua hal, bagaimana proses pengelolaan dikembangkan dan bagaimana ilmu pengetahuan tentang bercocok tanam diterapkan. Lebih dari itu mereka menimbang hasilnya, menilai keuntungannya, dan menghitung berapa luas tanaman yang harus mereka kelola jika ingin mendapatkan keuntungan dari skala ekonomi tertentu. Program ini menjadi pendidikan kewirausahaan nyata.

Kewirausahaan mereka peroleh dari semua sudut sekolah, jika di berbagai tempat halaman belakang sekolah kadang menjadi tempat pembuangan sampah, di sini menjadi lahan produktif. Tempat mengembangkan tanaman hias yang menghasilkan uang, pengetahuan, keterampilan, karya ilmiah, dan masa depan siswa yang produktif.

Mereka memperoleh keterampilan beroganisasi, memperoleh pengalaman bekarya, memperoleh pengalaman menyusun karya ilmiah, dan dari semua aspek yang dapat dijual mereka kembangkan usaha ekonomis. Model itu dikembangkan secara integratif dalam usaha mengembangkan sekolah yang ramah lingkungan.

Model kesimpulan dari kegiatan siswa terlihat pada kesimpulan pelaksanaan kegiatan siswa mengelola lingkungan yang terungkap melalui presentasi. siswa.

Yang menarik seluruh delegasi  adalah kemampuan sekolah untuk mengembangkan pasukan dan mampu mendorong setiap pasukan berdaya efektif dalam mengembangkan organisasi dan pembelajaran. Masing-masing divisi mengembangkan sistem manajemen pengelolaan  bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

Masing-masing bidang memiliki program yang direncanakan sesuai dengan visi dan kebijakan sekolah, ada dokumen pelaksanaan kegiatan, dan ada dokuman evaluasi. Sistem informasi mereka kembangkan dan data mereka gunakan sebagai dasar untuk mengembangkan penyempurnaan kegiatan organisasi,  karya ilmiah, dan bahan intervensi terhadap pengetahuan publik di sekitar sekolah  yang yang terintegrasi dengan  seluruhnya mata pelajaran.

Mereka melakukan mementukan tujuan penelitian, menghimpun informasi, mengelola informasi, dan menyimpulkan hasil penelitian terhadap proyek masing-masing sebagai bahan kajian dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh dari poyeknya sendiri.

Hal unik lain adalah  usaha pengurangan penggunaan beg plastik. ” Kurangkan penggunaan beg, sayang dan jagalah bumi kita: Sekolah bebas beg plastik pada setiap hari Jumat. Sebuah seruan yang relevan dalam membangun kebiasaan seluruh warga sekolah.

Yang tidak kalah menarik tentu rangkaian keindahan seni  yang siswa pertunjukkan  yang bertemakan pendidikan lingkungan hidup. Karya seni berjiwa alam lestari disajikan secara bergantian dengan apik oleh para siswa siswa yang menyokong tumbuhnya kualitas lingkungan.

Tarik suara yang indah tentang harmoni alam,  mulai yang dinamis, tarian, penyanyi solo, sampai pada drama bertemakan kelestarian lingkungan memukau seluruh anggota delegasi, tepuk tangan tak berhenti mengiringi sajian ke sajian seni pengisi kegiatan. Keindahan alam dan kecintaan terhadapnya  telah menginspirasi sekolah mengembangkan keindahan seni yang dalam bentuk kreasi siswa.

Di dinding aula tertulis seluruh nama negara bagian Malaysia. Itu memberi memberi kesan bahwa mereka ada di tengah Malaysia bersatu. Sebuah model sederhana untuk meningkatkan kesadaran bahwa negara mereka terdiri atas bagian-bagian yang perlu dipersatukan.

Saat kami  berpindah ruang  ke tempat ruang diskusi melalui lorong yang teduh.  Pada lorong ini  berhiaskan pot gantung, tanaman hijau diatur rapih di bawah peneduh aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan sehari-hari terfasilitasi dengan baik.

Di sisi kiri dan kanan pot gantung yang sangat banyak.  Seluruh tanaman tumbuh subur menandakan terpelihara dengan baik. Sebagian siswa sedang duduk bercengkrama di sisi lainnya. Dan, menurut keterangan yang saya depat seluruh aktivitas pemelihataan tanaman itu tidak melibatkan pegawai sekolah. Prinsip satu siswa satu pohon sekolah terapkan. Semua orang memiliki tanggung jawab masing-masing dalam melestarikan lingkungan.

Pada saat berada di sekolah, matahari bersinar cerah dan panas terik. Ketika itu pandangan dilayangkan ke lapangan yang sedang terik matahari para siswa masih melakukan kegiatan olah raga yang diatur seorang guru.  Kegiatan ini bukan hanya  bagian dari usaha peningkatan kebugaran fisik melainkan meningkatkan siswa lebih dekat dengan terik matahari. Siswa yang basah dengan keringat tidak menjadi masalah besar di bawah terik matahari. Mendekatkan siswa   dengan sinar matahari tampaknya menjadi bagian dari target aktivitas sekolah.

Ada siswa yang asik belajar. Mereka tampaknya sedang membaca. Bacaan  mereka terlihat pula dalam bentuk catatan mereka jelas terlihat.  Sebagian dari mereka sedang asyik mengerjakan tugas menulis.

Pembelajaran dilakukan di luar kelas menjadi kegiatan mandiri yang penting.  Kegiatan dilakukan juga oleh para siswa secara mandiri. Kerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dalam membicarakan tugas mereka sesuai dengan peran yang diatur dalam organisasi.

Seusai kepala sekolah menyajikan kebijakan umum sekolah dilanjutkan dengan penyajian materi dari siswa sesuai dengan divisi tugas masing-masing. Pada sekolah ini kekuatan siswa dihimpun dalam berbagai scuad (divisi). Tiap divisi memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Gambar di atas memperlihatkan siswa yang sedang menjelaskan program dan hasil implementasi manajemen toilet. Dalam presentasi dijelaskan program yang mereka susun. Mengembangkan toilet, kering itu sehat. Untuk mewujudkan itu mereka memiliki anggota divisi yang menjaga kebersihan, keindahan, pemeliharan perlengkapan, pemeliharaan tanaman yang harus mereka ganti setiap hari untuk menjaga tanaman tetap hijau.

Kreativitas mereka untuk menjaga WC tetap kering maka di tiap ruang disediakan alat untuk  alat pel. Tiap pengguna tampaknya memiliki tugas untuk mengeringkan kembali ruang yang telah mereka gunakan. Sebelum masuk ruang toilet siswa wajib mengganti sepatu yang mereka pakai dengan sandal khusus untuk masuk WC.

Luar bisa toilet dapat menjadi sumber media pengembangan kepemimpinan, kerja sama, peningkatan kompetensi manajerial proyek, hingga karya ilmiah siswa dilihat dari berbagai sisi pandang tiap mata pelajaran yang relevan.

Sekolah ini ada di pesisir, namun tidak dialiri air sehingga terkesan kering. Sekali pun demikian bagian depan sekolah ini merupakan kolam lele yang produktif. Air mereka peroleh dengan cara menampung air hujan. Ketika delegasi berkunjung, di sana sudah lama tidak turun hujan sehingga air kolam berwarna hijau. Walaupun demikian, lele tak menjadi mati karenanya.

Siswa sekolah ini mendapat pelajaran tidak sekedar bagaimana mereka mendapatkan ilmu pengetahuan, melainkan bagaimana mereka bekerja sama menerapkan ilmu pengetahuan, mengebangkan kecakapan bekerja sama, memimpin kegiatan, mewujudkan mimpi mengembangkan karya sehingga sekolah mejadi alat untuk mengekpresikan pikiran dan imajinasi mereka menjadi mahakarya yang luar biasa karena selalu berubah dan berbeda daripada sekolah yang lain.

Bagaimana pengelolaan pendidikan lingkungan hidup di Indonesia?

Jika melihat hasil yang ditunjukan dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia, kita memiliki sekolah yang jauh lebih indah daripada yang terbaik di Malaysia. Ambil contoh lingkungan di SMAN 1 Tuban. Penataan lingkungan di sekolah ini sangat indah. Lihat gerbang halamam sekolah yang cantik.

Kecantikan halaman diperindah dengan taman yang tertata sangat rapih. Lingkungan sekolah tidak kalah cantik dengan taman yang ada di depan hotel mewah sekali pun.

Halaman kelas benar-benar dipelihara dengan baik dengan didukung partisipasi seluruh siswa untuk menjaga sekolahnya menjadi tempat yang bersih, sehat dan produktif.Halaman kelas benar-benar dipelihara dengan baik dengan didukung partisipasi seluruh siswa untuk menjaga sekolahnya menjadi tempat yang bersih, sehat dan produktif. Jadi soal citra seni penataan sekolah Indonesia jauh lebih baik, apalagi jika program yang sekolah kembangkan melebihi sekolah Michael yang ada di Malaysia. Kita akan memiliki the amazing school yang membuat orang dari seluruh dunia berdecak. Benar, itu masih memerlukan perjuangan.

Admin, Published on: Jul 16, 2011 @ 16:47



4 Comments »

  • lenterak says:

    kapankah wujud keasrian sekolah dapat diterapkan di Indonesia ? mengingat sebagian gedung sekolah di tanah air masih layak disebut “kandang sapi”.

  • admin says:

    Kata politikus di sana tidak ada orang miskin, melainkan ada sebagian yang berlum kaya. Dalam kebaikan bangsa ini ternyata masih banyak sudut gelap yang perlu cahaya terang.

  • ary says:

    kalau kita ingin maju kita harus membuka hati untuk belajar kepada orang lain, walaupun itu terhadap negara yang sebagian orang menganggapnya sebagai musuh. pasti ada kebaikan disana

  • henning says:

    Asslmualiakum wr.wb
    sebelumnya saya sampaikan terima kasih kepada Pak Rahmad, dan mohon doa restunya SMA N 1 Tuban untuk mengikuti pemilihan sekolah Adiwiyata (seleksi Provinsi). awalnya saya memang tertarik untuk membaca artikel tentang pendidikan Lingkungan hidup (Workshop Pendidikan Lingkungan Hidup ASEAN : Studi tentang The Amazing School) tidak taunya ada foto SMA N 1 Tuban disana, oiya Pak Rahmad SMA N 1 Tuban sekarang semakin hijau dan cantik selain itu seluruh warga sekolah juga semakin antusian untuk mewujudkan SMA N 1 Tuban menjadi sekolah adiwiyata. wslm

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments