TOPIK UTAMA »

August 16, 2014 – 5:47 am | 274

Terdapat sejumlah kriteria yang harus dipenuhi dalam perumusan perencanaan pembelajaran pada pelaksanaan  kurikulum 2013. Pertama merancang kompetensi yang seimbang antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang hendak diwujudkan. Kejelasan kompetensi akan sangat membantu dalam merancang materi …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PENGELOLAAN

Senyum Siswa Merefleksikan Dinamika Kultur Sekolah

Submitted by on February 1, 2010 – 10:55 pm7 Comments | 804

Tiap sekolah menunjukkan profil  yang berbeda-beda. Kekuatan daya juangnya  dipengaruhi oleh tingkat keyakinan, harapan, dan sejumlah prilaku  positif yang berkembang dan berpengaruh pada tiap gerak dinamis sekolah dalam  mencapai tujaun, pada kegiatan sehari-hari. Bagaimana sekolah berpikir menghadapi masa depan, tercermin pada senyum siswa dalam menikmati prestasi sebagai buah perjuangan yang melelahkan.

Kultur sekolah  mencakup unsur-unsur yang sangat jelas seperti jadwal pelajaran dan jadwal kegiatan ekstra, kurikulum, domografi, kebijakan, serta interaksi sosial dalam lingkungan yang  mencerminkan iklim yang ramah, keelitan, kompetisi, dan kolaborasi  antar warga sekolah.

Tinggi rendahnya keyakinan, harapan, dan cita-cita warga sekolah tidak hanya bergantung pada optimisme yang datang dari konteks ekonomi sekolah. Keyakinan dapat meraih cita-cita yang tinggi secara kultural dapat datang dari interaksi hidup sehari-hari. Oleh karena itu belajar merupakan produk dari interkasi sosial.

Tidak semua sekolah dapat membangun cita-cita siswanya yang tinggi. Banyak sekolah yang belum menyadari sepenuhnya bahwa memiliki harapan dan kepercayaan yang tinggi adalah keniscayaan. Sekolah yang efektif memiliki warga sekolah yang punya harapan dan optimis  dapat mewujudkan prestasi dengan baik. Membangun cita-cita yang tinggi merupakan pondasi bagi terwujudnya sukses di masa depan.

Tanpa adanya kebijakan yang mendorong sekolah menetapkan target mutu yang tinggi, sekolah cenderung akan memilih cara bekerja seadanya. Menetapkan cita-cita yang tinggi mengandung resiko yang tidak ringan. Cita-cita yang tinggi memerlukan daya juang yang  besar dan usaha keras. Menetapkan cita-cita yang tinggi memerlukan komitmen yang kuat dalam kebersamaan semua anggota komunitas.

Menurut Dr. Kent D. Peterson guru besar pada Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Wisconsin_Madison yang merangkap sebagai Direktur Institut Kepemimpinan Sekolah (2002) menyatakan bahwa kultur sekolah adalah seperangkat norma, tata nilai, keyakinan, ritual, dan tradisi dalam bentuk aturan-aturan yang tidak tertulis yang mendasari cara berpikir, cara merasakan, dan cara bertindak.

Dengan demikian kultur itu sebagai konteks setiap individu berpikir. Ruang interaksi sosial. Wahana yang menyediakan ruang pikir bergerak dari kedirian, sosial  hingga mengglobal.

Tiap sekolah memiliki kesadaran dalam menyikapi lingkungan, namun budaya sekolah sering mengalir di bawah arus kesadaran yang mempengaruhi cara orang berinteraksi. Aturan-aturan yang tidak tertulis itu mendasari interaksi,  pemecahan masalah, serta dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan pandangan itu, budaya sekolah terefleksikan dalam

  • aktivitas ritual
  • harapan
  • interaksi dalam aktivitas sehari-hari
  • pengembangan kurikulum
  • kegiatan ekstrakurikuler
  • proses pengambilan keputusan
  • pelepasan lulusan

Membangun cita-cita, menetapkan target yang kompetitif, membangun kebiasaan kerja sama, berkompetisi, dan menghargai prestasi yang terus dikembangkan secara berulang-ulang adalah bagian dari langkah kongkrit membangun budaya sekolah.

Data yang terhimpun dari kegiatan pembinaan sekolah memperlihatkan bahwa banyak sekolah di Indonesia yang belum merumuskan harapan atau target mutunya secara tertulis. Kebiasaan menuliskan cita-cita untuk menggambarkan manusia seperti yang hendak sekolah wujudkan belum tumbuh menjadi kebiasaan seluruh sekolah.

Pengalaman menunjukan bahwa indikator mutu lulusan pada tiap sekolah di Indonesia dapat kepala sekolah jelaskan dengan rinci. Penjelasannya hampir selalu lebih baik dan lebih lengkap daripada yang ada dalam dokumen program sekolah. Hal itu berarti bahwa pada umumnya sekolah lebih suka menuturkan target mutunya daripada menuliskannya. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan karena pengembangan mutu menjadi sangat bergantung kepada pigur kepala sekolah. Realita itu menunjukan pula bahwa kepala sekolah sebagai pigur sentral menjadi sangat dominan dan mendominasi pembaharuan mutu. Peran kepala sekolah menjadi poros pengembangan karena tingi rendahnya keyakinan, harapan, dan cita-cita sekolah bergantung pada kepala sekolah. Kelemahan tersebut perlu menjadi bahan pemikiran para pengelola sekolah, agar sistem pembaharuan mutu berporos pada sistem sekolah bukan pada pigur-pigur pengelolanya.

Pada sekolah-sekolah yang efektif, cita-cita yang tinggi, harapan, dan keyakinan, tidak terpusat pada kepala sekolah. Semangat mengembangkan kerja sama dan semangat untuk meraih prestasi tumbuh dan tersebar pada kelompok pendidik, pada OSIS, pada kelompok siswa per angkatan, hingga ke kolaborasi orang tua siswa.

Kultur sekolah pada dasarnya merefleksikan cara berpikir warga sekolah dalam melakukan pembaharuan. Hasil studi membuktikan bahwa kultur sekolah tidak jatuh dari langit melainkan hasil kreasi dari seluruh warga sekolah dalam membangun kebiasaan baik sehingga melembaga menjadi tradisi.

Melihat kondisi nyata yang ada di sekolah saat ini memperlihatkan bahwa tidak banyak sekolah di Indonesia yang mengembangkan rencana peningkatan mutu yang fokus pada pengembangan budaya sekolah. Target-target pengembangan kultur belum menjadi perhatian yang utama. Sekolah memperlakukan pengembangan kultur belum menjadi prioritas.

Hal lain yang memperlemah perhatian sekola dalam pengembangan kultur ialah menguatnya perhatian sekolah pada pengembangan mutu dalam delapan standar pendidikan nasional.  Pembinaan sekolah secara formal telah menempatkan kultur sebatas wacana.

Realita itu seharunya meningkatkan penyadaran pada pengembangan strategi peningkatan mutu bahwa mutu adalah kultur. Mutu adalah kebiasaan baik yang selalu berulang. Mutu adalah perubahan cara pandang dan cara pikir tentang bagaimana mutu menjadi bagian dari prilaku sehari-hari di sekolah.

Berbagai kelemahan sekolah dalam peningkatan mutu, dilihat dari dimensi kultur, perlu mendapat perhatian yang lebih sungguh-sungguh. Perhatian itu terutama perlu diarahkan pada penguatan dalam hal-hal dibawah ini :

  1. Sekolah perlu mengembangkan rencana yang lebih fokus terhadap usaha merumuskan secara lebih jelas tujuan, target serta strategi kunci untuk mengembangkan kultur yang ditandai dengan;
    • Meningkatnya target mutu yang ditetapkan dalam kebijakan pengembangan sekolah.
    • Menguatnya keyakinan bahwa warga sekolah dapat mencapai pretasi terbaik sehingga pada tiap kelompok akademik dapat menetapkan target mutu lulusan yang tinggi.
    • Menguatnya keyakinan pada tenaga tata usaha sekolah untuk mewujudkan sistem pelayanan yang lebih baik.
    • Menguatnya keyakinan pada siswa bahwa mereka dapat melakukan komunikasi, kolaborasi, dan kompetisi pada lingkungan internal dan ekternal sekolah.
  2. Meningkatkan target pencapai tujuan dan strategi kunci yang sekolah kembangkan dalam membangun norma, tata nilai dan keyakinan yang mendukung tumbuhnya potensi dan semangat warga sekolah dalam melakukan pembaharuan mutu melalui pembaharuan berbagai peraturan di sekolah yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap perkembaangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Mewujudkan tindakan nyata untuk membangun komunikasi dan kolaborasi yang terintegrasi dengan perkemban teknologi. Membangun kecerdasan sekolah dengan bantuan teknologi. Mengembangkan kesadaran dapat melakukan kerja sama secara global.
  4. Mengembangkan sistem pengembilan keputusan yang lebih demokratis melalui peningkatan budaya pemanfaatan data dalam rangka meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan.
  5. Mengembangkan sistem penghargaan terhadap setiap mutu yang dapat warga sekolah wujudkan melalui penciptaan kebiasaan-kebiasaan baru menghargai prestasi.
  6. Mengembangkan unjuk karya produk-produk kreatif pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa melalui internet untuk agar memiliki kesetaraan mutu dengan apa yang dapat bangsa lain hasilkan serta menguatkan apresiasi mutu produk belajar pada ruang lingkup global. Produk yang dapat dapat dipamerkan sehingga dapat mengubah produk kreatif lokal menjadi global, di antaranya:
  • RPP
  • Model penerapan strategi belajar.
  • Rekaman pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
  • Program ekstra kurikuler.
  • Dokumen kerja sama siswa dalam ruang lingkup nasional dan global.
  • Standar proses pembinaan siswa.
  • Karya tulis siswa yang disajikan pada internet
  • Karya satra dalam bentuk puisi atau cerpen,
  • Karya lukis,
  • Karya siswa dalam bentuk drama atau film.
  • Film documenter tentang ciri khas budaya daerah.
  • Laporan karya tulis siswa.
  • Hasil penelitian siswa.
  • Hasil analisis evaluasi
  • Tips melaksanakan evaluasi, pengayaan dan remedial dsb.

Model-model produk kegiatan seperti di atas dapat dipamerkan pada web. Dengan cara itu, sekolah telah mengubah ruang sekolah dan dinding kelas yang sempit menjadi sekolah bertaraf internasional yang mendunia. Kuncinya adalah membuka setiap laci yang selama ini terkunci, disambung dengan akses internet. Pengaruh yang diharapkan adalah mempercepat perubahan cara berpikir local ke arah berpikir global.

Cara berpikir yang memandang pengembangan kultur sekolah sebagai sesuatu yang kurang berarti dalam melakukan pembaharuan sekolah telah menyebabkan sekolah kurang menghargai program pengembangan kultur sekolah sebagai komponen utama dalam pembaharuan mutu. Penyikapan terhadap pentingnya pengembangan keyakinan, harapan yang tinggi perlu menjadi agenda baru dalam pembinaan sekolah. Dengan peningkatan pemahaman tentang pentingnya peningkatan mutu kultur sekolah melalui sistem perencanaan, implementasi yang termonitor dalam peningkatan mutu kultur sekolah wajib dikembangkan untuk mendasari peningkatan standar nasional pendidikan.

Artikel Terkait :

Referensi :

The School Culture www.smallschoolsproject.org/PDFS/culture.pdf

The School Culture, www.sedl.org/change/school/culture.html

7 Comments »

  • asutardi says:

    Bravo GP ! maju terus pantrang mundur, lawan status quo demi majunya dunia pendidikan

  • Ass. Termakasih pa. kedatangan bapak memberikan nuansa baru, semangat baru. Penyampaian materi dan contoh contoh yang relevan yang dihadapi kami sehari-hari memberikan motivasi tersendiri . sehingga kami menyadari masih banyak tahapan dan tantangan menuju sekolah yang ideal. Senyum Siswa Merefleksikan Dinamika kultur sekolah itulah pesan bapak kepada kami, senyum siswa bahwa sekolahnya sekolah yang unggul dalam segala bidang, senyum siswa yang sekolahnya bisa mengembangkan kepribadian siswanya, senyum siswa yang guru-gurunya cerdas dalam menyiasati pembelajaran mengunakan IPTEK, Senyum siswa dan senyum orang tua yang harapan dan citanya dapat tercapai …insya Allah.. dengan segala keterbatasan dan kekurangan kami di daerah. Senyum siswa itu akan selalu ada di Sekolah kami…..

  • I saw something about this subject on TV last night. Good article.

  • Ezra Zinda says:

    This page seems to recieve a large ammount of visitors. How do you advertise it? It offers a nice individual twist on things. I guess having something useful or substantial to say is the most important thing.

  • Super-Duper site! I am loving it!! Will be back later to read some more. I am taking your feeds also

  • This page seems to recieve a large ammount of visitors. How do you promote it? It offers a nice unique spin on things. I guess having something real or substantial to talk about is the most important thing.

  • amanda says:

    Thanks for the info! been looking for it

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments