TOPIK UTAMA »

October 5, 2014 – 10:09 pm | 709

Dalam proses pergeseran dari kurikulum 2006 ke pelaksanaan kerikulum 2013 kepala sekolah memegang peran yang sangat penting. Kepala sekolah dapat menentukan bidang perubahan yang perlu segera perlu penanganan.  Dalam menjalankan peran pimpinan perubahan kepala sekolah …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SUPERVISI

Supervisi Manajerial

Submitted by on March 4, 2010 – 2:24 pm3 Comments | 4,351

Perubahan kebijakan peningkatan mutu  pendidikan melalui penerapan standar, [Download not found] dan Instrumen Supervisi Pengelolaan (4404) yang GP susun ini dapat digunakan  sebagai instrumen evaluasi diri sekolah dalam memantau dan memetakan perkembangan kinerja pengelolaan yang sangat menentukan keberhasilan sistem penjaminan mutu.

Perangkat itu juga penting untuk mendukung fungsi utama supervisi, yaitu sebagai rangkaian proses pemantauan, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Pemantauan berkenaan dengan usaha untuk menghimpun gambaran kondisi nyata sekolah. Penelitian  merupakan serangkaian proses studi untuk memecahkan masalah secara ilmiah mengenai keseluruhan keadaan sekolah, baik pada guru, siswa, kurikulum, tujuan belajar maupun metode mengajar.

Pelatihan dan pembimbingan merupakan proses untuk meningkatkan mutu pengetahuan dan keterampilan dalam rangka meningkatkan profesionalisme. Strategi yang dapat pengawas gunakan untuk menemukan permasalahan dengan melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.

Penilaian  adalah bagian dari proses untuk menghimpun informasi mengenai efektivitas dan efisiensi kinerja. Dalam hal ini pengawas dapat memetakan efektivitas proses  dan output  kepala sekolah, guru, tenaga tata usaha sekolah dalam rangka mencapai target atas tujuan yang diharapkan.

Supervisi manajerial lebih menekankan pada pemberian pelayanan kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Supervisi manajerial menitikberatkan pada pengamatan mengenai aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran yang efektif.

Pandangan yang sedikit berbeda menyatakan bahwa supervisi manajerial fokus pada fungsi manajemen yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Fungsi ini dalam pandangan ISO menjadi perencanaan, pelaksanaan, memantau proses pelaksanaan, dan tindak lanjut perbaikan mutu.

Fungsi manajemen itu mencakup seluruh kegiatan pada berbagai level di sekolah, yaitu pada tingkat sekolah, tata usaha, manajemen kelas dan pendidik. Jadi menurut  pandangan ini supervisi manajerial menekankan pelayanan kepada kepala sekolah, pendidik, tenaga tata usaha sekolah dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program dalam ruang lingkup fungsi manajemen.

Dalam sistem pengelolaan sekolah, selain menjalankan fungsi manajemen juga terdapat fungsi pedagogis yaitu yang menitikberatkan perhatian pada persoalan bagaimana siswa belajar, tipe belajar siswa, motivasi siswa, apa yang harus siswa pelajari, dan bagaimana guru mengajar. Wilayah ini merupakan bagian dari pengawasan akademis.

Supervisi Manajerial

Fokus supervisi manajerial adalah bidang garapan manajemen sekolah, yang antara lain meliputi: (a) manajemen kurikulum dan pembelajaran, (b) kesiswaan, (c) sarana dan prasarana, (d) ketenagaan, (e) keuangan, (f) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (g) layanan khusus.

Dalam tugas  tersebut pengawas perlu melakukan tugas berupa pemantauan, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan yang meliputi delapan komponen, yaitu: (a) standar isi, (b) standar kompetensi lulusan, (c) standar proses, (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (e) standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan (h) standar penilaian.

Tujuan supervisi terhadap kedelapan aspek tersebut adalah agar sekolah terakreditasi dengan baik dan dapat memenuhi standar nasional pendidikan. Dalam konteks kehidupan internasional kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem penjaminan mutu pendidikan nasional agar dapat menghasilkan lulusan yang dapat bersaing dalam persaingan internasional.

Metode Supervisi Manajerial

Dalam melaksanakan supervisi manajerial  pengawas dapat menggunakan berbagai strategi, di antaranya  (1) monitoring dan evaluasi (2) Refleksi dan Diskusi Kelompok (3) Metode Delpi (4) Workshop (5) Pembelajaran Dinamis

Di bawah ini kami jelaskan  secara singkat berbagai strategi tersebut.

1.  Monitoring dan Evaluasi

  • Monitoring

Monitoring adalah model kegiatan pemantauan penyelenggaraan sekolah, apakah sudah sesuai dengan rencana, program, dan/atau standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program.  Kegiatan monitoring bertujuan untuk  (a) menetapkan standar untuk mengukur prestasi, (b) mengukur prestasi, (c) menganalisis apakah prestasi memenuhi standar, dan (d) mengambil tindakan apabila prestasi kurang/tidak memenuhi standar (Nanang Fattah, 1996: 102).

Sasaran utama monitoring adalah untuk menghimpun informasi melalui pemotretan  kondisi nyata sekolah sehingga data yang diperoleh dapat digunakan untuk bahan pengambilan keputusan perbaikan mutu.

  • Evaluasi

Evaluasi adalah proses untuk menghimpun informasi mengenai  peta proses dan progress  penyelenggaraan sekolah dibandingkan dengan target yang direncanakan sehinga dapat diketahui peta keberhasilan dalam kurun waktu tertentu.

Tujuan evaluasi utamanya adalah untuk (a) mengetahui tingkat keterlaksanaan program, (b) mengetahui keberhasilan program, (c) mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikutnya, dan (d) memberikan penilaian (judgement) terhadap sekolah.

2. Refleksi dan Diskusi Kelompok

Prinsip utama manajemen sekolah adalah mengerahkan sumber daya dan meningkatkan partisipasi. Dalam strategi ini pengawas perlu menyampaikan hasil  monitoring secara terbuka kepada pihak sekolah, terutama kepala sekolah, wakil kepala sekolah, komite sekolah dan guru.

Sekolah selanjutnya merefleksi data yang pengawas sampaikan sehingga pihak sekolah  menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung mereka hadapi. Diskusi kelompok ini merupakan bagian dari usaha menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan  langkah-langkah strategis maupun operasional untuk melakukan perbaikan mutu berkelanjutan.

3. Metode Delphi

Metode Delphi dapat digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi, misi dan tujuannya. Sesuai dengan konsep MBS, dalam merumuskan Rencana Pengembangan Sekolah.

Metode Delphi menurut Gorton (1976: 26-27) adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan dan hendak dimintai pendapatnya mengenai pengembangan sekolah;
  2. Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai nama/identitas;
  3. Mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama.
  4. Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya.
  5. Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta, dan menyampaikan hasil akhir prioritas keputusan dari seluruh peserta yang dimintai pendapatnya.

Metode Delphi merupakan cara yang efisien untuk melibatkan banyak stakeholder sekolah tanpa memandang faktor-faktor status yang sering menjadi kendala  dalam sebuah diskusi atau musyawarah dengan target agar semua yang hadir dalam musyawarah mengungkapkan gagasan. Hal ini merupakan solusi dari masalah seringnya pertemuan didominasi oleh orang-orang tertentu.

4. Workshop

Workshop atau lokakarya merupakan salah satu  metode yang dapat pengawas lakukan dalam melaksankan supervisi manajerial. Strategi ini untuk mendorong dinamika  kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah.

Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Yang penting seorang pengawas memiliki kewajiban untuk mengarahkan workshop sekurang-kurangnya 3 kali dalam setahun.

4. Pembelajaran Dinamis

Peningkatan mutu pendidikan bergantung  tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan penguasaan teknologi  sebagai media pembalajaran. Berkat kemajuan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi saat ini sekolah atau sistem sekolah dapat mengintegrasikan diri dalam jejaring internet untuk melaksanakan peningkatan mutu diri melalui prose pembelajaran.

Model ini telah dilakukan pada beberapa sekolah. Penyediaan informasi untuk bahan belajar tidak hanya disediakan untuk siswa namun juga untuk stakeholders sekolah yang lain. Apabila dalam jejaring internet  software khusus belum tersedia, sekolah dapat memanfaatkan media publik seperti e mail, forum, face book, atau web sekolah untuk mengintegrasikan orang-orang dalam dinamika belajar sehingga sekolah menjadi learning organization.

(Disarikan dan diadaptasi dari modul Metode dan Teknik Supervisi, Direktorat Tenaga Kependidikan , Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas 2008, oleh Dr. Rahmat)

Materi pendukung yang dapat didownload :

  • [Download not found]
  • [Download not found]
  • [Download not found]
  • [Download not found]
  • [Download not found]
  • [Download not found]


Tags:

3 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments