TOPIK UTAMA »

April 7, 2014 – 8:40 pm | 246

Salah satu kewajiban sekolah dalam merumuskan dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2013, seperti pada KTSP 2006, adalah merumuskan visi-misi-dan-tujuan.  Mengapa  kewajiban merumusan tujuan sekolah begitu penting?
Sejak dulu,  seluruh warga sekolah bahwa merumuskan tujuan lembaga …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SUPERVISI, Uncategorized

Supervisi Klinis

Submitted by on October 7, 2011 – 5:20 pmNo Comment | 2,638

Supervisi pembelajaran secara umum memiliki tiga fungsi, yaitu fungsi administratif, edukatif, dan suportif. Fungsi administratif berkaitan dengan akuntabilitas  kebijakan, pemenuhan standar, atau kesesuaian dengan peraturan. Fungsi edukatif  terkait pada peningkatan  keterampilan profesional pendidik dalam mengalokasikan sumber daya pada pelaksanaan pekerjaan. Fungsi suportif  untuk meningkatkan daya dukung terhadap pendidik  agar bekerja sesuai dengan konteks pekerjaannya.

Supervisi pada dasarnya merupakan kegiatan penelitian untuk mengetahui kesesuaian antara yang seharusnya menurut teori atau peraturuan dengan kenyataan yang sesungguhnya dalam pelaksanaan tuggas guru sehari-hari. Pelaksanaannya tidak hanya berkenaan dengan tindakan logis, namun memerlukan logika, apresiasi, dan hati. Pengawas perlu mendalami pekerjaan guru dilihat dari latarbelakang ilmu pengetahuan, peraturan, dan kultur yang melatari kegiatan tentang apa yang guru lakukan. Pengawas memahami apa yang guru lakukan,  mengapa perlu dilakukan,  dan bagaimana guru seharusnya melakukan sehingga  tujuan yang diharapkannya terwujud.

Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut, seorang pengawas profesional   perlu selalu memperluas dan mendalami ilmu pengetahuan tentang bagaimana seharusnya guru mengajar. Pengawas dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengintegrasikan pengetahuan yang dipelajarinya dengan peraturan yang berlaku serta terampil menerapkan ilmu pengetahuan, peraturan, dan teknologi dalam meningkatkan mutu proses guru bekerja.

Penguasaan pengetahuan dan keterampilan terbaru sebaiknya berkembang melalui pelatihan berkelanjutan. Hasil studi Brown dan Bourne 1996; Heid 1997; Hess 1986 seperti yang diungkapkan Allyson dan Liz (2010) menyatakan bahwa pelatihan berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kinerja pengawas.

Hal tersebut menegaskan bahwa pengalaman saja tidak cukup. Worthington (1987) sebagaimana dikutip oleh Michael Carroll dalam bukunya Counselling Supervision, Theory, Skill and Practice menyatakan bahwa keterampilan pengawas tidak cukup meningkat hanya dengan pengalaman saja. Jadi, pengawas berpengalaman belum tentu profesional.

Perubahan mutu profesi pengawas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sebagiana pesan filosofis telur, jika dipecah dari luar telur jadi rusak, namun jika dipecah dari potensi di dalam telur menghasilkan kehidupan. Dengan demikian pengawas perlu meningkatkan kontrol terhadap dirinya sendiri terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan  mengasah keterampilannya melalui proses belajar berkelanjutan.

Tugas utama pengawas adalah melakukan supervisi manajerial dan supervisi akademik. Dalam melaksanakan supervisi akademik, salah satu keterampilan yang perlu pengawas kuasai melaksanakan praktik supervisi klinis. Supervisi klinis adalah supervisi yang fokus pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan melaksanakan pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki perencanaan, proses, penilaian pembelajaran (Ahmad Sudrajat, 2011)

Dikaitkan dengan tiga fungsi umum pengawasan, supervisi klinis juga dapat diarahkan pada upaya perbaikan administratif pememenuhan standar atau peraturan, perbaikan keterampilan profesional pendidik dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, serta meningkatkan fungsi suportif agar motivasi pendidik meningkat dalam bersinergi pada konteks pekerjaan.

Prinsip dasar pelaksanaan supervisi klinis adalah pengawas berfungsi sebagai fasilitator dalam memecahkan masalah yang  guru atau kepala sekolah hadapi dalam pelaksanaan tugas. Masalah sebagaiana kita ketahui muncul dari kesadaran guru sendiri yang menyadari adanya kesenjangan antara realita yang dapat diwujudkan dengan kondisi yang diharapkannya.

Kesiapan pengawas dalam melaksanakan supervisi klinis, di antaranya;

  • Mengidektifikasi tujuan pengawas dalam melaksanakan fungsi perbaikan mutu yang berpusat pada insiatif  guru mengidentifikasi permasalaha dalam  perbaikan pembelajaran  dan keterampilan melayani konsultasi.
  • Menentukan metode, teknik, model intervensi, dan pendekatan supervisi
  • Pengawas perlu meningkatkan keterampilan supervisi kelompok dan individual.
  • Pengawas mendorong guru untuk mendefinisikan masalah yang dihadapinya.
  • Pengawas mendorong guru menghimpun informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
  • Menerapkan etika, peraturan seperti peraturan tentang standar nasional pendidikan, dan isu peningkatan profesional pendidik.
  • Melakukan penilaian efektivitas pelaksanaan supervisi;
  • Mengembangkan instrumen pelaksanaan supervisi
  • Melaksanakan penelitian tindakan dalam superivisi klinis
  • Mengelola adminsitrasi dan data hasil supervisi.

Dalam melaksanakan kegiatan pengawasan, banyak guru yang menyatakan permasalahan yang dihadapinya. Hal tersebut sebaiknya tidak direspon dengan cara memberitahukan banyak hal kepada mereka, namun yang diperlukan adalah mengembangkan inisiatif untuk memecahkan masalah melalui kepakarannya. Pengawas bertindak sebagai fasilitator dalam menggali dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan guru memecahkan masalahnya sendiri.

Untuk menunjang keberhasilan melakukan supervisi klinis pengawas perlu memperhatikan beberapa kiat sebagai berikut:

  • Merefleksikan perasaan kesetaraan dalam melaksanakan kerja sama melihat masalah agar lebih jelas.
  • Memfalitasi  guru untuk menyatakan keyakinan dirinya sendiri tentang masalah yang dihadapinya.
  • Menantang guru untuk mengekspresikan pikiran yang kritis untuk menggunakan pengetahuan yang dimilikinya.
  • Mendorong kecintaan, semangat, untuk berprestasi.
  • Menghargai setiap pernyataan yang dinyatakan guru agar guru merasa dihargai.
  • Mendukung perasaan guru yang mengarah pada semangat menemukan ide-ide baru.
  • Mendukung guru jika ia memandang dirinya kurang sempurna sehingga perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
  • Hargai setiap perkembangkan mutu yang guru tunjukkan, sekecil apa pun.

Dengan memperhatikan berbagai tantang itu, maka pengawas perlu berpikir logis dan bekerja dengan  hati  agar kerja sama dan komunikasi yang sehat antara pengawas dan guru terjalin baik sehingga dapat memperbaiki kinerja mengajar yang lebih bermakna terhadap siswa belajar.

Instrumen Supervisi Klinis (3158)

Referensi:

Ahmad Sudrajat, 2011, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

Allyson Davys and Liz Beddoe. 2010. Best Practice in Professional Supervision : A Guide for the HelpingProfessions, Jessica Kingsley Publishers London and Philadelphia

Michael Carroll, 1996 Counselling Supervision, Theory, Skill and Practice, SAGe Publication India

Published on: Oct 7, 2011

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments