Strategi Pengembangan Mutu Lulusan Yang Inovatif
Menjelang berakhirnya tahun ke-4 perintisan program peningkatan mutu pendidikan pada berbagai jenjang pendidikan telah menghasilkan tingkat perbaikan mutu yang sangat variatif. Kebervariasian itu dapat dilihat pada berbagai indikator mutu sekolah pada variasi pelayanan yang diberikan.
Mutu beberapa sekolah meningkat. Hal itu terlihat dari minat masarakat untuk mendapatkan pelayanan. Kondisi tersebut dalam beberapa kasus meningkatkan daya keuangan, penampilan fisik, sampai pada mutu lulusan.
Sebagian berubah lebih baik, namun sebagian sekolah menghadapi masalah dan ketidakjelasan. Perubahan yang selalu didengungkannya tidak berdampak pada mutu yang realisis. Sekolah menjadi terkesima karena semakin sulit memahami sebenarnya yang sesungguhnya meningkat.
Orang yang kuat menyerahkan sebagian kecil nasibnya kepada Tuhan. Selebihnya mereka usahakan sendiri. Begitu kata-kata bijak Mario Teguh dalam acara di televisi yang disampaikannya dengan penuh semangat. Kalimat itu tepat untuk keadaan sekolah pada saat ini. Sekolah yang kuat menyerahkan sebagian kecil kondisi masa depannya kepada Tuhan, sebagiannya lagi menggantungkan pada keajaiban.
Masalah utama dalam meningkatkan mutu adalah bagaimana memenuhi kebutuhan siswa belajar dan mencapai tujuan pendidikan. Siswa puas, itu target akhirnya. Uniknya, banyak sekolah mendapat kewenangan untuk merumuskan kebutuhan siswa pada lingkungan sekolahnya sendiri, menghadapi kewenangan itu malah jadi bingung. Apa yang seharusnya siswa putuskan agar relevan dengan standar nasional pendidikan dan relevan dengan kebutuhan hidup siswa.
Tiap sekolah seharusnya memenuhi dua kebutuhan utama siswa yaitu dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memperoleh keterampilan untuk hidup. Lebih dari itu, siswa harus lulus ujian dulu dengan hasil yang baik.
Tujuan itu mendasari usaha meningkatkan mutu materi belajar, proses belajar, dan penilaian harus memenuhi kebutuhan siswa dalam rangka mempersiapkan dirinya mengukuti ujian jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal itu berimplikasi pada hal-hal berikut;
- Kurikulum, silabus, dan Rencana Pelaksanaan pembelajaran harus menjadi perangkat yang mempersiapkan siswa masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun kehidupan.
- Proses belajar harus membekali siswa pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan hidup.
- Penilaian yang sekolah lakukan harus mengukur tingkat penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapannya untuk masuk PT.
- Standar Sikap dan Disiplin lulusan dideskripsikan secara kongkrit dan terukur.
- Standar komunikasi berbasis teknologi diintegrasikan dalam pelaksaan kegiatan sehari-hari di sekolah.
- Standar Penggunaan bahasa asing terutama dalam penggunaan bahasa Inggris diwujudkan dalam aktivitas siswa sehari-hari seperti dalam bentuk diskusi, kolaborasi dan pengembangan karya-karya yang realisik.
- Pengembangan prestasi akademik dimulai dari pelaksanaan pembelajran sehari-hari yang kompetitif serta target utama mutu dikembangkan pada tiap mata pelajaran sehingga prestasi utama berbasis disiplin akademis. Contoh di SMA Singaraja yang menghasilan juara-juara tingkat internasional dalam bidang kimia, Biologi, dan Matematika lahir dari model sistem pembinaan seperti yang dijelaskan kepala sekolah sebagai berikut :Manajemen kelas ditangani khusus. Dari enam rombongan belajar pada tiap angkatan, siswa diranking. Ranking satu sampai rangking 96 ditempatkan di kelas A sampai kelas C berdasarkan urutannya. Kelas A memiliki siswa dari ranking 1 sampai 32, kelas B ranking 33 sampai 64, dan kelas C ranking 65 sampai 96. Selebihnya ditempatkan di kelas D, E, dan F secara acak sehingga memiliki tingkat prestasi pada tiap kelas hetrogen. Kelas A, B, dan C selalu diperbaharui pada tiap semester sehingga siswa berlomba untuk memperoleh kelas A, atau sekurang-kurangnya berusaha untuk tidak tereliminasi ke kelas di bawahnya. Sebaliknya tiap siswa berhak atas penghargaan untuk naik ke kelas yang lebih tinggi jika prestasinya meningkat. Model ini, menurut kepala sekolah, telah membuat siswa selalu berada di kursi panas sehingga daya belajarnya selalu bergolak.
- Standar Kompetensi Esktra Kurikuler menjadi ajang peningkatan kompetensi siswa. Contoh di SMA Negeri 1 Tarakan Kalimantan Timur yang mengembangkan keterampilan siswa dala mengelola web sekolah. Mereka membagi siswa tim pengelola internet dalam empat divisi, yaitu bidang disain web, artistic web, content, dan tim jurnalistik. Web mereka tampil dalam bidang bahasa Inggris dan Indonesia. Di dalam bidang seni selain SMAN 1 Tabanan, Semarapura, Kuta Utara di Bali mereka memiliki siswa duta kesenian daerah bersama pemerintah daerah ke berbagai negara. Juga, SMAN 1 Ciamis dalam bidang seni etnis nusantara dapat tertandang ke Amerika karena ketermpilan dalam pengembangan budaya.
Mudah-mudahan beberapa model di atas dapat membangun inspirasi meningkatakan mutu pendidikan yang lebih kongkrit dan efektif.
One Comment »
Leave a comment!













sublime journal you latch on to