Topik Utama »

June 17, 2013 – 6:57 am | 71

Kurikulum boleh berubah berulang-ulang, namun apabila guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah tidak berubah maka hasilnya akan sama saja. Seperti yang telah kita alami sebelumnya, perubahan kurikulum hanya sebatas dokumen. Pergeserannya tidak mengubah banyak prilaku …

Read the full story »
Info

Merefleksikan realita dengan stuktur yang cerdas

Pembelajaran

Berilmu, terampil belajar, dan memecahkan masalah..

Pengelolaan

Realistis, konsisten, persisten dan bekelanjutan.

Daya Insani

Menciptakan ide, metode, layanan, dan produk baru.

Supervisi

Membantu kepala sekolah dan guru mewujudkan tujuan .

Home » Sekolah

SMAN 3 Malang

Submitted by on February 11, 2009 – 1:40 am3 Comments | 409

SMA N 3 Malang memiliki pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan sekolah lainnya, model sekolah khas perkotaan. Halaman depannya memanjang mengikuti garis jalan. Di lahan ini terbentang taman sekolah yang hijau dengan aneka tanaman. Tiap jengkalnya menyiratkan sentuhan tangan para pengelola yang rajin.

Kebersihan sekolah ini terjaga dengan baik. Bangunannya kokoh, di mana sebagiannya merupakan peninggalan jaman kolonial yang dibangun dengan pikiran yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Di sekolah ini terdapat 850 orang siswa yang berada di bawah pengelolaan 77 orang guru, dimana dua di antaranya sedang mengikuti pendidikan pasca sarjana di Singapura.

Kepala sekolahnya, Bapak Tri Suharno, baru saja kembali dari Inggris. Kabarnya sebagian besar dari waktu kunjungannya dihabiskan di sekolah, mengamati sistem pengelolaan dan proses pembelajaran di dalam kelas. Sepulang dari sana Bapak Tri yakin bahwa ilmu pengetahuan yang ia miliki tidak berbeda banyak dengan pengelola kelas di Inggris. Perbedaannya terletak pada kesungguhan dalam menerapkannya.

Mimpi Tak Pernah Jadi Kenyataan Pada Kaum Yang Tertidur, Sukses Lahir Dari Disiplin Dalam Mendapatkannya

Gagasan baru oleh-oleh dari Inggris adalah program meningkatkan kemampuan profesi guru melalui pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh teman sejawat. Program ini tentu bukan hal yang baru. Jepang memiliki model lesson study. Amerika memperkenalkan quantum teaching. Inggris menguatkan kerja sama tim pendidik dalam kelas melalui proses pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran dan observasi pelaksanaan tugas untuk memperhatikan best practice yang kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Hasilnya menjadi rekomendasi perbaikan dan inovasi pembelajaran di sekolah dengan teman sejawat.

Yang tidak dapat dilewatkan begitu saja adalah model peningkatan mutu pelayanan belajar sesuai dengan kebutuhan belajar siswa melalui penguatan dengan memfasilitasi belajar sesuai dengan tipe siswa, yaitu audio, visual, dan kinestetik (AVK). Pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu pendukungnya. Sebelumnya sekolah melakukan pengamatan dan pengujian terlebih dahulu pada setiap kelas sehingga tipe belajar siswa dapat dikenali.

Model penerapan inovasi bukan hal yang baru di sekolah ini. Banyak hal yang telah dilakukan sebelumnya. Dampak dari berbagai pelayanan yang inovatif telah membangun kompetensi yang kompetitif. Pada tahun ini saja siswa sekolah ini menyabet posisi terbanyak dalam kejuaraan di Malang. Dalam meraih juara di berbagai bidang Olimpiade tingkat kota. Sebanyak 16 siswa meraih peluang mewakili kotanya tahun ini, empat diantaranya akan berlaga di Makasar dalam memperebutkan juara nasional.

Sekolah ini dapat berbangga telah melahirkan siswa terbaik yang menjadi mahasiswa Indonesia peraih gelar Doktor termuda dari Amerika. Namun alumni potensial ini kabarnya digaet NASA sehingga tidak kembali ke Indonesia. Kerja sama dengan Cambridge pada dua tahun terakhir telah melahirkan lulusan yang berkompeten serta mendapat pengakuan pada taraf internasional. Berkat meraih nilai sertifikasi tertinggi, salah satu siswa di sini menyesaikan pendidikan SMA selama tiga semester dan langsung dapat diterima menjadi mahasiwa di Korea. Standar yang dipakai untuk melanjutkannya pasti bukan dari hasil UN, melainkan sertifikat Cambridge. Sekali pun siswa itu telah belajar di Perguruan Tinggi Negeri tentu siswa itu tidak menempuh UN sebab telah melanjutkan pendidikannya dengan sertifikat Cambridge.

Model melanjutkan studi ini tentu belum lazim pada sistem pengelolaan pendidikan Indonesia, namun secara empirik dengan membuka peluang internasional, hal itu dapat terjadi. Di samping mendobrak tradisi, pengujian Cambridge telah membuktikan bahwa dalam bidang matematika selalu lahir siswa yang meraih nilai A (plus). Namun hasil yang baik itu belum bisa dicapai pada bidang lainnya seperti IPA. Masalahnya menurut catatan sekolah ini, dalam bidang IPA kita masih punya kelemahan mendasar dalam membekali kemampuan penguasaan ilmu melalui pengalaman belajar praktek di laboratorium. Siswa kita, menurut catatan SMA 3 Malang, kuat dalam menguasai konsep, lemah dalam menerapkannya. Hal ini terutama dikarenakan standar pembelajaran di Lab masih tertinggal dari yang ditetapkan Cambridge.

Kerja sama guru dengan siswa untuk menyiapkan siswa mengikuti sertifikasi Cambridge dilakukan dalam bentuk pelayanan plus pada siang hari. Layanan ekstra ini tentu membutuhkan dedikasi dari semua pihak. Termasuk menyediakan menyediakan sumber daya pelayanan ekstra. Alasan sekolah ini memilih sistem Cambridge adalah karena adanya kelonggaran yang diberikan oleh penjamin dalam menentukan model pelayanan belajar yang tidak terikat pada penjamin.

Sekolah ini tampaknya menerapkan filosofi bahwa semakin banyak memberi maka akan semakin bertambah ilmu yang didapatkan. Pelaksanaan sertifikasi Cambridge tidak hanya dapat diikuti oleh siswa sekolah ini, namun dapat diikuti oleh sekolah lain. Karena itu pula sekolah ini telah menjadi Cambridge Center.

Kerja sama guru-guru menunjukkan potensi kekompakan yang tinggi. Hal ini terlihat pada kesibukan pada ruang-ruang khusus semacam kerja sama MGMP. Kunjungan singkat Pada kunjungan singkat ini penulis sempat berbincang di ruang inovasi guru fisika. Ruangan tidak begitu luas yang disebut dengan ruang inovasi guru fisika memiliki enam kursi yang mengelilingi sebuah meja lengkap dengan sebuah komputer yang terhubung dengan internet. Di ruang seperti ini mereka membangun kebersamaan dalam meningkatkan kinerja mengajar dan mengembangkan inovasi pembelajaran. Ruang ini juga menjadi pusat kendali kerja sama dan sekaligus sebagai pusat jaringan belajar sekolah lain.

Guru-guru MIPA di sekolah ini berkontribusi besar pada pengembangan kerja sama peningkatan mutu profesi untuk SMA di Malang. Bahkan telah terdapat kerja sama se-Jatim dan beberapa sekolah dari Sulawesi dan Kalimantan. Kekompakan guru terlihat pula pada kegiatan di ruang TRRC yang dilengkapi komputer berlayar tipis dan terhubung dengan jaringan internet.

Kebanggaan terhadap kekompakan dan kerja sama tim sekolah ini terungkap tegas dari kepala sekolah. Kebanggaan karena mekanisme sistem berjalan baik produktivitasnya adalah bahwa kini sistem pengelolaan sekolah telah berstandar ISO 9001-2000. Pada bulan Juli 2008 sekolah mendapatkan sertifikat setelah selesai melasanakan proses audit eksternal. Menurut keterangan Manajemen Representatif SMAN 3 MALANG menetapkan kebijakan dalam meningkatkan sistem manajemen mutu untuk memberikan kepuasan kepada para siswa pada tujuh prioritas yang meliputi :

  • Menciptakan lulusan yang santun dan berbudi luhur
  • Meningkatkan lulusan yang kompeten dalam bidangnya
  • Meningkatkan layanan sekolah guna menuju Sekolah Bertaraf Internasional
  • Meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam bidang penelitian, sains dan teknologi
  • Menciptakan lingkungan kegiatan belajar mengajar yang kondusif
  • Meningkatkan upaya pelestarian lingkungan
  • Meningkatkan prestasi akademik dan non akademik di pentas Nasional dan Internasional

Konsep itu tampaknya telah mengalami penyempurnaan dari konsep sebelumnya. Pada komponen standardisasi peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa mendapat perhatian lebih besar lagi daripada masa sebelumnya. Ada penguatan perhatian pada peningkatan kesiapan daya kompetisi siswa pada ajang kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

Dari tujuh kebijakan mutu, sekolah menjabarkan secara operasional pada 17 sasaran mutu seperti di bawah ini :

  • Tercapainya implementasi Kurikulum 2004/2006 dan sistem penilaian berbasis kompetensi (KSPBK) dan life skill sebesar dari ……% menjadi ……%
  • Tercapainya implementasi Kurikulum 2004/2006 yang diadaptasikan dengan Kurikulum Internasional (Cambridge) sebesar dari ……% menjadi ……%
  • Tercapainya peningkatan penggunaan model-model pembelajaran di luar KBM sebesar dari ……% menjadi …….%
  • Tercapainya peningkatan kemampuan komunikasi berbahasa asing sebesar dari……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan keterampilan penggunaan media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebesar dari ……% menjadi ……%
  • Tercapainya peningkatan keterampilan menggunakan peralatan laboratorium sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan kemampuan guru menyusun silabus dan alat penilaian sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan perolehan rata-rata ujian akhir nasional sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan kedisiplinan dan ketertiban siswa sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan rata-rata nilai rapor kelas 1, 2, dan 3 sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan kuantitas dan kualitas fasilitas/sarana di lingkungan sekolah berstandar internasional sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur PMDK dan SMPB sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi luar negeri sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya internalisasi budaya tata krama kepada warga sekolah khususnya siswa sebesar . dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan kerjasama dengan orang tua, masyarakat sekitar dan institusi lain sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya pengembangan kualitas siswa dalam bidang penelitian ilmiah remaja, olimpiade mapel, seni, olahraga, sosial dan beragama sebesar dari ……% menjadi …..%
  • Tercapainya peningkatan kegiatan 7 K (keamanan, ketertiban, kedisiplinan, kekeluargaan, kerindangan dan kesehatan) sebesar dari ……% menjadi …..%

Untuk mendukung pencapaian produk layanan tersebut sekolah melaksanakan 4 model pelayanan belajar, meliputi

  1. Program Reguler
  2. Program Kelas Akselerasi
  3. Program Kelas Rintisan Bertaraf Internasional (KRBI)
  4. Sertifikasi Cambridge

Tanggung jawab lembaga adalah mendistribusikan target tersebut dalam distribusi tugas sebagai berikut meliputi dua dimensi yaitu peningkatan mutu sumber daya manusia dan mutu pelayanan. Tiap komponen dari 17 sasaran mutu disebar ke tiap bagian gugus tugas meliputi tiap wakasek, para koordinator perpustakaan, Bimbingan Konseling, TU, koordinator mata pelajaran, dan laboratorium. Bidang-bidang itu dibentuk secara fleksibel sesuai dengan tingkat kebutuhan pengembangan sekolah. Distribusi peran disebar dalam bentuk tabel sehingga jelas pemetaannya.

Dalam meningkatkan kinerja belajar mengajar, sekolah ini juga menerapkan teknologi tinggi, penyajian informasi yang apik karena ditata oleh orang profesional menjadi bagian sehari-hari dari kinerja belajar siswa. Di antara yang dapat terpantau adalah guru bersepakat menerapkan standar penilaian yang ketat. Setiap kali ulangan guru wajib menyusun soal. Dalam hal tes objektif, hasil tes tidak boleh diperiksa guru, teknologi scanner membantu mengolahnya. Nilai yang diperoleh siswa tidak lagi masuk dalam buku nilai guru, melainkan menjadi dokumen tim kurikulum dan selanjutnya dikemas untuk bahan evaluasi tingkat ketercapaian KKM maupun grafik pencapaian nilai siswa dilihat dari rata-rata kelas. Hasil analisis hasil ulangan selanjutnya disiapkan untuk dipublikasikan kepada orang tua siswa dalam bentuk laporan individu yang dilengkapi dengan grafik pencapaian rata-rata kelas. Model pengelolaan seperti ini berjalan sebagai proses yang normal dan dapat diterima oleh semua pihak. Kesepakatan untuk menentukan standar seperti ini menurut keterangan wakasek kurikulum agar guru lebih giat lagi memfasilitasi siswa belajar karena guru tidak dapat melakukan intervensi dalam mengatur nilai siswa.

Dalam laporan nilai siswa kepada orang tua, sekolah ini memiliki dua paket laporan terpisah namun diberikan sekaligus. Pertama, orang tua menerima hasil kinerja belajar siswa dalam paket standar nasional yang berujung di rapot. Kedua, laporan kemajuan belajar pada paket plus standar internasional. Untuk mendukung model pelaporan seperti itu, sekolah telah memetakan sistem kurikulum nasional dan paket plus yang materi, pengantar, dan sistem pengujiannya menggunakan bahasa Inggris yang telah diuji dengan rujukan kurikulum Cambridge. Hal belajar pada komponen plus inilah siswa mendapat paket laporan kedua. Oleh karena itu hasil belajar paket plus tidak berduplikasi dengan paket Standar Nasional Pendidikan.

Model keterbukaan dan dukungan pada kemandirian belajar tampaknnya menjadi dasar dalam mempermudah semua pemangku kepentingan di sekolah untuk menerima sistem pengujian menggunakan standar Cambridge untuk seluruh mata pelajaran. Untuk kita ketahui, universitas Cambridge memiliki kesiapan untuk mensertifikasi pada materi pelajaran apa pun. Bahkan jika kita perlu mensertifikasi pelajaran bahasa Indonesia pun mereka siap.

Sekolah ini juga telah melangkah maju dalam penerapan sistem administrasi berbasis komputer. Semua kegiatan pengolahan data telah mendayagunakan komputer. Akses internet tidak hanya digunakan oleh siswa dan guru, tapi juga pada pusat pelayanan administrasi. Penerapan Paket Aplikasi Sekolah telah berjalan baik untuk mengelola data siswa reguler. Kendala dalam penerapan PAS di sekolah ini adalah dalam soal pengelolaan data siswa akselerasi. Sistem administrasi percepatan atau akselerasi belum terpecahkan sehingga jika hal ini tidak segera ditemukan solusinya, maka penggunaan PAS belum pas dalam pengelolaan sistem kredit semester.

Pengelolaan kredit semester pada sekolah ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Namun kesiapannya telah sampai pada tahap pengembangan RPP yang dilengkapi worksheet pada seluruh mata pelajaran pada seluruh tingkat. Satu tahap lagi para guru di sekolah ini akan mengembangkan silabus yang telah dipadukan dengan standar Cambridge. Silabus, RPP dan worksheet untuk tiap mata pelajaran siap menjadi dasar untuk pengembangan modul sebagai bentuk kesiapan melaksanakan sistem kredit semester. Penguatan persiapan telah didukung pula dengan sistem pembelajaran MOVING CLASS pada hampir seluruh mata pelajaran. Gaduhnya siswa dalam pergantian jam ternyata mengandung hikmah para siswa tidak kehilangan daya kantuknya.

Pameran karya siswa juga mendorong siswa berkreasi, karya-karya siswa terbaik dipamerkan di lorong sekolah dan di dalam kelas. Identitas pembuatnya dicantumkan agar menjadi kebanggaan pembuatnya. Hanya saja demo karya terbaik belum di-upload ke web sekolah. Selain itu, pemetaan tingkat kecerdasan belum tersusun secara sistematis sebagai dasar untuk mengembangkan indikator pembelajaran yang dapat mendukung terwujudnya kecerdasan kehidupan siswa yang lebih terencana dan terpetakan pada seluruh level. Dari kunjungan singkat ke SMA Negeri 3 Malang dapat disimpulkan bahwa sekolah tersebut pantas menyandang gelar guru pendidikan bangsa karena mereka lebih maju dari sekolah kebanyakan. Bravo SMA Pembaharu. (Rahmat, 22 Juli 2008)

Tags: ,

3 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments