SMA Sutomo 1 Medan Mendongkrak Kinerja Belajar Melalui Penilaian
Sulit membayangkan terdapat sejumlah pendidik dengan menerapkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dapat mengarahkan peserta didik sebanyak 3.262 orang pada satu sekolah, pada satu areal, dalam kelas yang berisi 48 sampai 50 siswa. Mereka membuktikan hasil pembelajaran dengan meraih banyak prestasi, mendapat apresiasi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka hingga melahirkan banyak juara bertaraf internasional. Kesulitan itu ada karena banyak pengelola pendidikan Indonesia terjebak dalam arus pikiran pembenaran mutlak atas standar kelas ideal itu maksimum 32 siswa. Asumsinya, lebih kecil lebih baik, lebih besar lebih tidak bermutu. Memperhatikan SMA Sutomo 1 Medan menunjukkan bukti ada kebenaran yang lain.
Keyakinan itu sekaligus menutupi pikiran bahwa keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh banyak variabel. Lebih mengherankan lagi karena keyakinan seperti itu tumbuh di Indonesia tidak berdasarkan studi empirik yang mempelajari tentang berapa banyak jumlah siswa yang ideal dalam satu rombongan belajar agar menunjang efektivitas pedagogik juga dengan mempertimbangkan dari sisi ekonomi. Masalahnya, kalau kelas kecil sama tidak efektif, kerugian secara ekonomis juga makin membesar.
Data di sekolah ini menyatakan lain, fakta sekolah menyatakan bahwa di sini dapat berbeda. Sekolah dapat mengembangkan suasana belajar yang sangat progresif. Tengok misalnya soal pakaian seragam, seluruh siswa tampil pantas. Lingkungan kelas terjaga kebersihannya. Seluruh meja siswa bebas dari coretan tip ex. Lebih dari itu, pelayanan pendidikan pun menjadi mewah, berkelas, namun ekonomis.
Kasus meja belajar siswa mejadi tempat siswa mengekspresikan dirinya baik dengan menggunakan spidol, tip ex, ballpoint lumrah terlihat pada sekolah-sekolah yang daya kendalinya rendah. Bahkan beberapa sekolah menyatakan ketidakberdayaannya ketika diminta menghapus kelemahan ini. Jawabnya, pasti, sulit. Sebaliknya pada sekolah sebesar Sutomo 1 dapat mengendalikan siswa sebanyak itu, dan berhasil.
Memperhatikan berbagai hasil penelitian mengenai jumlah siswa yang ideal menyatakan bahwa jumlah siswa dalam kelas bukan satu-satunya variabel yang menentukan keberhasilan. Menurut para ahli, kelas yang besar bukan merupakan rintangan di tangan pendidik yang efektif. Sebaliknya kelas kecil tetap saja menjadi masalah di tangan guru yang tidak efektif. Masalahnya adalah seberapa besar kapasitas profesional pendidik dapat memfasilitasi siswa belajar.
Ketika ditelusuri lebih lanjut, apa yang sesungguhnya yang membuat pendidik SMA Sutomo 1 berhasil mengendalikan siswa belajar? Sekali pun untuk menjawab pertanyaan ini memerlukan studi lebih lanjut, namun jawaban sementara dapat diperoleh dalam waktu yang singkat.
Sekolah dalam memfasilitasi siswa belajar menggunakan strategi penilaian hasil belajar yang sangat responsibel dan akuntabel. Hal tersebut direalisasikan dengan setrategi seperti berikut:
- Pendidik memiliki kewenangan yang terbatas dalam menangani pelaksanaan penilaian. Kewenangan pendidik adalah memerankan tugas sebagai pengajar, penulis soal, dan menilai hasil ujian atau ulangan uraian.
- Pelaksanaan penilaian belajar dilakukan oleh pelaksana tugas, saat ini ditangani oleh satu orang, yang bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah. Pelaksana tugas ini sangat memungkinkan dapat berjalan karena seluruh rangkaian tugas penilaian didukung dengan sistem aplikasi berbasis TIK.
- Yang unik dalam sistem penilaian di sini ialah pendidik tidak mengenal identitas siswa karena nomor peserta ujian ditetapkan oleh pengelola penilaian. Pada saat pendidik memeriksa hasi ulangan uraian, misalnya, identitas yang pendidik kenali hanya nomor kode indentitas, tanpa disertai nama.
- Pengolahan nilai dengan software khusus yang didukung pula dengan scanner, memungkinkan pengelola mengolah nilai dengan cepat, akurat, dan tuntas. Artinya pendidik dapat dengan cepat memilah siswa yang memerlukan remedial, mendapatkan data siswa yang tuntas, serta analisis soal.
- Tinggi rendahnya nilai siswa menentukan penilaian kinerja pendidik. Pendidik yang tidak berhasil mengantarkan siswa memperoleh nilai yang baik, hasil kinerjanya rendah. Sebaliknya siswa yang tidak berhasil memperoleh nilai yang baik terancam tidak naik kelas.
- Sekolah menjalankan aturan yang konsisten, jika siswa tidak dapat memenuhi standar minimal nilai yang ditetapkan, siswa tidak dapat naik kelas.
Strategi untuk menjaga agar sistem penilaian itu tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang negatif, maka sistem penilaian diusahakan tidak boleh diinterpensi pendidik. Penentuan nilai hasil belajar siswa menjadi hak perogratif kepala sekolah yang dibantu oleh satu pelaksana tugas. Strategi ini telah mendongkrak kesungguhan pendidik dan siswa bahu membahu mewujudkan target belajar mengajar.
Produk dari strategi itu mencengangkan. Nilai kinerja belajar siswa kelas gemuk mengalahkan kinerja belajar siswa di kelas kecil yang jumlahnya hanya 32-36 saja. Buktinya, dari kelas gemuk lahir banyak juara, hingga tingkat dunia. (Admin)
Tags: Model Standar Penilaian, sma, SMA SUTOMO 1 MEDAN4 Comments »
Leave a comment!














Kunjungan saya ke SMA Sutomo 1 Medan telah memberikan pencerahan luar biasa kepada kami, guru sekolah negeri yang selama ini terkungkung oleh paradigma dan “mitos’ yang berlaku. Yang saya dapatkan dari kegiatan tanggal 2 Februari 2010 adalah “Beranilah berpikir di luar kelaziman, teguh dan tulus dalam melaksanakan tugas?” Ternyata dengan niat dan motivasi yang kuat segala hal yang tampaknya mustahil dilakukan dapat menghasilkan sesuatu yang luar bisa. Saya mengamati betapa Kepala Sekolah dan seluruh guru dan staf administrasi Sutomo 1 benar-benar mencurahkan segala pikiran dan tenaga dalam mengelola sekolah dengan menghasilkan yang terbaik.
Jika diamati, fasilitas dan sistem informasi yang ada di sekolah ini tidaklah luar biasa, tapi dengan pengelolaan yang tepat ternyata dapat memberikan “kemewahan” bagaikan surga belajar bagi siswanya. Betapa saya iri pada seluruh warga SMA Sutomo Medan karena ternyata selama ini saya tidak pernah menyadari bahwa saya jauh lebih beruntung daripada mereka. Jika dibandingkan dengan gaji para guru SMA Sutomo maka gaji saya jauh lebih besar karena saya memiliki jam kerja yang lebih singkat dan kewajiban yang lebih sedikit. Jika dibandingkan dengan “kemewahan” fasilitas sekolah, sekolah saya lebih mewah karena fasilitas di sekolah saya jauh lebih bervariasi sekalipun belum digunakan secara optimal. Ketulusan saya untuk memanfaatkannya belum maksimal. Dari pengalaman dan kontemplasi kunjungan ini masih banyak lagi hal yang saya sadari, terutama setelah mengamati kinerja para guru di SMA Sutomo 1 Medan dalam memfasilitasi siswa untuk mencapai prestasi terbaiknya. Semoga apa yang saya dapatkan ini akan memacu motivasi untuk peningkatan kinerja saya di masa depan, in the near future.
Terima kasih Pak Rahmat, Bapak telah membuka mata hati saya yang selama ini tertutup oleh keangkuhan yang saya miliki selama ini. Terima kasih Bu Emmy, yang dengan segala kesederhanaan beliau telah mengajarkan ketulusan yang pudar selama ini.
This post appears to recieve a good ammount of visitors. How do you promote it? It gives a nice unique twist on things. I guess having something real or substantial to give info on is the most important thing.
Subhanallah , Niat yang kuat , serius dan ketulusan yang membuat SMA Sutomo 1 Medan menjadi luar biasa.
Good Luck ^_^
Semoga ilmu yang didapat bisa menjadi berkah.
Tetap semangat dan lakukan yang terbaik.
^_^