TOPIK UTAMA »

September 7, 2014 – 9:25 pm | One Comment | 868

Difusi konsep kurikulum 2013 pada tahap awal pelaksananaan sudah selesai. Hampir seluruh pendidik telah terdampak oleh program pelatihan dan bergegas untuk menguasai konsep pembelajaran saintifik dan penilaian autentik. Program pelatihan telah memungkinkan sebaran konsep  kurikulum …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PEMBELAJARAN

Pengembangan Kurikulum: Siklus Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfimasi

Submitted by on April 5, 2010 – 1:24 am43 Comments | 17,245

Kegiatan pembelajaran terdiri atas pendahuluan, inti, penilaian dan penutup. Salah satu model pendekatan proses bersiklus ialah eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Dalam hal ini guru minimal menguasai aplikasi siklus tersebut. Syukur kalau guru dapat menguasai siklus  lain sehingga proses pembelajaran lebih variatif.

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan siswa mencari dan menghimpun informasi, menggunakan media untuk memperkaya pengalaman mengelola informasi, memfasilitasi siswa berinteraksi sehingga siswa aktif, medorong siswa mengamati berbagai gejala, menangkap tanda-tanda yang membedakan dengan gejalan pada peristiwa lain, mengamati objek di lapangan dan labolatorium.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru mendorong siswa membaca dan menuliskan hasil eksplorasi, mendiskusikan, mendengar pendapat, untuk lebih mendalami sesuatu, menganalisis kekuatan atau kelemahan argumen, mendalami pengetahuan tentang sesuatu, membangun kesepakatan melalui kegaitan kooperatif dan kolaborasi,  membiasakan peserta didik membaca dan menulis, menguji prediksi atau hipotesis, menyimpulkan bersama, dan menyusun laporan atau tulisan, menyajikan hasil belajar.

Konfirmasi

Dalam ini guru memberikan umpan balik terhadap yang siswa hasilkan melalui pengalaman belajar, memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kelemahan hasil belajar dengan menggunakan teori yang guru kuasi, menambah informasi yang seharusnya siswa kuasai, mendorong siswa untuk menggunakan pengetahuan lebih lanjut dari sumber yang terpecaya untuk lebih menguatkan penguasaan kompetensi belajar agar lebih bermakna. Dan, setelah memeperoleh keyakinan maka siswa dalam mengerjakan tugas-tugas untuk mengasilkan produk belajar yang kongkrit dan kontekstual.Guru membantu siswa menyelesikan masalah dan menerapkan ilmu dalam aktivitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tags: , ,

43 Comments »

  • kania says:

    kegiatan pembelajaran dengan menggunakan konsep eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, bila saya pelajari, di dalam RPP sama saja dengan kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup ?

  • admin says:

    Eksplorasi dapat ditempatkan sebagai pembuka, proses inti, maupun penutup. Begitu juga yang lainnya. Jika ketiganya ditempatkan sebagai komponen sistem yang bersiklus. Jadi, dalam konteks tertentu bisa sama, dalam konteks siklus yang berbeda, tentu tidak sama.

  • Waryanto says:

    Yang terjadi disekitar saya bahkan pengawas menganjurkan dalam kegiatan inti disuruh untuk menulis ketika ekplorasi guru melakukan langkah apa… dalam elaborasi guru melakukan langkah apa… dalam konfirmasi guru melakukan langkah apa… menurut saya tidak tepat… apakah harus dituliskan penjabaran kegiatan apalagi harus menulikan kata EKPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI. Saya sependapat dengan KANIA bahwa kegiataan/siklus EEK di atas sudah dilaksanakan cuma tidak ditegaskan… kalau menurut saya lebih pada perdebatan bahasa… mohon maaf kalo saya salah…

  • admin says:

    Setuju Pak, dilihat dari sisi substansi banyak hal yang sudah guru lakukan. Dari sisi pemenuhan standar, setiap substansi yang dilaksanakan harus dituliskan.

  • ulfa says:

    sepertinya begitu yang saya pahami jg, jadi tidak perlu di sebutkan bagian-bagiannya karena ketiga komponen tersebut bisa muncul pada pembukaan, inti dan penutup dan maknanya dapat tersirat dan tersurat.yang penting bagaimana pembelajaran yang disiapkan itu dapat dilaksanakan dengan maksimal dan menyenangkansehingga menghasilkan belajar yang optimal bagi peserta didik.

  • bambang says:

    tolong Pak berikan contoh yang nyata bagaimana EKPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI. dalam rpp untuk beberapa macam mapel mulai pend agama, pkn, mat, fis, bio, kim, or, seni, sej, ekonomi, geografi dll. Teriakasih

  • admin says:

    aduh banyak sekali……rasanya yang paling tepat untuk memberikan contoh seperti itu adalah teman-teman yang memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai untuk itu. Trm kasih.

  • This page appears to get a great deal of visitors. How do you get traffic to it? It offers a nice individual twist on things. I guess having something useful or substantial to post about is the most important factor.

  • nisa says:

    bkankah kegiatan ekplorasi, elaborasi dan konfirmasi tersebut telah terdapat dalam kegiatan awal, inti dan akhir pak?? mohon penjelasannya lebih lanjut pak

  • mee thea says:

    Aduh …..cocok plus setuju buat coment sebelumnya …ya rasa-rasanya sih sama aja cuman beda istilah aja ….keg awal ….apersepsi …..atau eksplorasi …..yg jelas setiap kelas/tingkat/anak akan punya masalah yg berbeda ….dan itu hanya diketahui oleh guru2 di lapangan ….yg penting buat saya pelajaran itu menyenanggkan bagi siswa …mencapai hasil yg baik dan bukan jadi beban buat mereka …sebab guru yg baik adalah guru yg pandai memilih metode yg tepat untuk tiap kelas yg memiliki karakteristik dan keunikan yg berbeda ….Bravo pendidikan Indonesia ….

  • Agus Pras C says:

    EFEK dalam pelajaran ipa contohnya saat dalam pembelajaran tentang reaksi pembakaran. Saat guru menampilkan kertas yang dibakar merupakan fase eksplorasi. Fase Elaborasi siswa mengamati dan mengambil data sebelum dibakar kertas warnanya apa? Bahan nya gimana? Saat proses pembakaran zatnya apa saja ?Setelah terjadi reaksi dihasilkan zat-zat apa ? Fase Konfirmasi siswa mempresentasikan hasil temuannya untuk didiskusikan. Ini pemikiran saya begitu.

  • Nah ini yang paling saya setuju ….. yang penting guru dan siswa enjoy dalam melaksanakan KBM dan berprestasi, tidak usah sibuk mikirin eek….. dari zaman bahuela guru sebelum mengajar pasti sudah punya rencana mengajar dan cara paling jiitu utk mencapai target, walaupun tidak ditulis bertele-tele seperti para pengawas sekarang inginkan. …… mungkin ada baiknya sekali-kali para pengawas tmembuat RPP, bahan ajar dan contoh penerapan eek dikelas ketika melakukan kunjungan ke sekolah……….

  • admin says:

    Baik Pak sependapat. Dalam proses presentasi siswa diuji kekuatannya dalam mengungkapkan argumentasi dan mempertahankan pendapat. Hanya saja mereka perlu terbuka terhadap pendapat lain sepanjang memiliki argumentasi yang kuat. Jika argumentasi yang lain lebih kuat, maka mereka wajib bersedia memperbaiki hasil pekerjaannya. Guru memberi apresiasi sambil menunjukkan keunggulan produk belajar siswa adalah bentuk konfirmasi yang lain. Terima kasih.

  • Eny Sudaryanti says:

    ….kalau menurut teori sih bagus buat siswa, karena siswa akan diajak berpikir kritis dan peka terhadap sesuatu…tetapi koq tidak banyak pelatihan untuk membuat dan mempraktekkan RPP versi baru ini….?????

  • admin says:

    Benar Bu Eny, kan teori itu membicarakan yang seharusnya. Pelaksana tugas dilapangan berusaha mendekati yang seharusnya menurut teori. Jadi kalau pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah belum ada, maka kita guru sebagai pakar tentu perlu berusaha untuk mencoba memulainya. Salam.

  • tya says:

    maaf agak katro saya baru dengar mengenai rpp ini kemarin. apa sih perbedaannya dengan yang sebelumnya???????????

  • admin says:

    Tya, sesungguhnya tidak ada perbedaan yang mendasar dalam pemenuhan unsur yang harus ada pada RPP, semua sama saja, bahkan secara substansial unsur yang ada pada RPP hampir seluruh negara di dunia sama saja. Yang membedakannya adalah SKL apa yang hendak guru wujudkan dengan cara bagaimana siswa mengembangkan pengalaman belajarnya. Eksplorasi-elaborasi-konfirmasi merupakan sebuah model siklus proses belajar. Tentu bukan satu-satunya model. RPPnya sama model siklus belajarnya bisa berbeda-beda. Salam

  • sukadi says:

    Sebenarnya RPP dibuat untuk memudahkan guru dalam pembelajaran, bukan justru menyulitkan guru. Yang paling penting adalah kita tidak meninggalkan komponen dasarnya. Menurut saya bagaimanapun bentuk RPP, intinya adalah tujuan pembelajaran tercapai, jadi buat sesuai yang kita pahami, sesuai kaidah, dan siswa berhasil dalam belajar. Trims

  • admin says:

    Setuju Pak Sukandi, yang penting memudahkan guru dalam mewujudkan tujuan pembelajaran agar keunggulan siswa seperti yang kita harapkan tercapai. Salam.

  • eny says:

    i think kegiatan EEK sudah kita lakukan sejak dulu. tetapi cara menjabarkan kegiatan eek tersebut yang masih rancu. According to me EEK seharusnya dijabarkan langsung baik pertanyaannya maupun jawaban harapan . contoh Ekslporasi : indikator : bisa membaca nyaring dari reading tentang family. Maka rumusan Ek adalah who has family ? who are they ? dan beberapa pertanyaan yang menggiring ke arah reading text. Elaborasi : repeat after me twice. read Group 1 then 2, 3 etc
    konfermasi : read loudly one by one freely. Read and continue when the paper fly on you.

  • mastosangwiku says:

    Lha kebiasaan manusia selalu ingin ringkes, tetap ditulis pak untuk mengetahui sampai di mana kita melaksanakannya.

  • admin says:

    Benar, kita terlalu sering berwacana, namun belum apik untuk melihat realisasinya. Salam

  • Hardanto says:

    Memang istilah EEK hal yang baru, walaupun sebenarnya sebagian guru sudah melaksanakan kegiatan tersebut. namun juga masih buaaanyaak…… juga yang belum paham pembelajaran dengan EEK, sehingga proses pembelajaran masih monoton dengan ceramah saja. sehingga siswa merasa bosan dan jenuh. dengan EEK mungkin yang diharapkan proses pembelajaran lebih menyenangkan, mungkin begitu ya pak?

  • admin says:

    Setuju Pak, kita perlu lebih banyak memperhatikan proses yang terjadi dalam kelas sebab sebagai guru kita mengalami bahwa melakukannya tidak mudah. Kita sering menunjukkan betapa sulitnya siswa mengubah cara belajar, padahal kita sendiri sebagai guru tidak mudah pula menerapkan cara-cara baru. Salam

  • Riyan says:

    Mmg skg ini tuntutan administrasi guru sgt kompleks,trmsuk memasukkn proses EEK scr eksplisit dlm RPP,wlwpun sbnrnya proses itu sdh kita lakukn. Inilh prkmbngn dunia pndidikn. Pertnyaannya,bgmn proses EEK utk pljrn hitungn yg pnuh dg rumus-rumus yg sdh psti?

  • admin says:

    Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi (EEK) dapat digunakan dalam semua mata pelajaran karena pada hakekatnya materi pelajaran merupakan informasi. Guru dapat melakukan eksplorasi terhadap bekal ajar yang telah siswa kuasai dan mengeksplorasi infomasi baru yang siswa bisa peroleh dari berbagai sumber. Siswa dapat mengelola informasi dengan menganalisis, memilah, mengelompokan, mengintegrasikan, memisahkan informasi dalam proses elaborasi. Siswa juga dapat melakukan pengujian kebenaran dan kekuatan data untuk dijadikan dasar pembenaran. Menerapkan rumus yang sudah pasti dan teruji merupakan bagian dari proses eksplorasi dan elaborasi, namun demikian kita memahami pula bahwa siklus belajar bukan hanya EEK. Siklus empat komponen : Konseptual, penerapan, tindakan, dan releksi dapat guru gunakan sebagai model siklus lain dalam menerapkan rumus.

  • Aisyah says:

    Mencoba memahami EEK…. saya jadi teringat dengan pendekatan Quantum Teaching dengan teknik TANDURnya…Tanamkan dan Alami sebagai fase eksplorasi… Namai dan Demonstrasikan sebagai fase Elaborasi ….. Ulangi dan Rayakan sebagai fase Konfirmasi. Sepertinya, EEK menjadi jawaban yang tepat dari pemikiran saya saat menyusun PTK tentang Quantum teaching beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, dari hasil diskusi saya dengan rekan2, sepertinya istilah EEK terlalu rumit untuk dikaji apalagi dipahami… seakan menjadi sesuatu yang menkhawatirkan dan membingungkan. Agar mudah dipahami, dapatkah definisi EEK dibuat lebih sederhana?

  • admin says:

    Tentu bisa, kita dapat mendefinisikan sesuai dengan keperluan. Jika kita menggunakan pendekatan operasional dalam kelas maka eksplorasi dapat diberi makna menelusuri informasi yang sudah siswa kuasai yang ditindaklanjuti dengan kegiatan siswa mencari dan mendapatkan informasi baru. Informasi yang telah ada dan baru diperoleh dipilah dan dipilih untuk mendapatkan struktur informasi sesuai dengan tujuan belajar, dianalisis, didalami, dan difahami itulah elaborasi. Tahap terakhir siswa melihat ulang informasi yang telah dikuasinya sehingga meyakini kebenarannya, mencek kembali kebenaran sumbernya, mencek kembali kebenaran susunannya, itulah konfirmasi. salam

  • joko prihatono says:

    Saya kagum dengan semua tanggapan terdahulu. Dalam kalimat lain, kita para guru berusaha menampilkan ketaatan pada perundangan dalam hal ini permen tentang standar proses pada tataran idealis, namun di sisi lainnya, pada area praksis bagaimana kita berusaha membelajar siswa bagaimana belajar dalam suasana menyenangkan.

  • Jael says:

    sya pikir pak,,,alangkah baik’y metode siklus, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi tu perlu ada simulasi, atau praktek,agar jelas dan terang,,,,jgan hanya sebatas defenisi saja,,,mohon maaf

  • yeni says:

    Banyak istilah baru…yg dimengerti setengah-setengah kemudian sibuk mau diadopsi, saya setuju dengan Jael, agar sesuatu yang tampak baru padahal lama, atau sesuatu yang lama tapi ditampilkan baru tidak menjadi momok yg membingungkan..adakan simulasi dan workshopnya. Karena kejelasan RPP dengan EEK, berusaha sy pahami dengan mencari informasinya melalui internet. Kalau RPP saja sudah bikin pusing….. gimana guru praktik di lapangan? Tugas inti kita adalah guru harus bisa mengajarkan bagaimana cara siswa belajar dengan menyenangkan.

  • admin says:

    Bu Yeni, ilmu kita peroleh secara bertahap. Ketererampilan, seperti mengajar, kita peroleh melalui pengalaman, pengulangan, dan latihan. Tak ada yang memusingkan untuk orang yang mau bisa. Kita pusing melihat bagaimana handphone di tangan kita beroprasi, namun ada orang yang terus saja memproduksi yang baru dan lebih canggih. Ok…

  • suryadi says:

    Akan sangat cepat tercapainya mutu pendidikan di Indonesia bila EkElKon dapat diterapkan secara nyata (bukan teori / berupa dokumen) di dalam kelas. Kupikir perlu ada pelatihan intensif untuk menerapkan EkElKon di kelas dan diawasi secara periodik. Pelatihan dilaksanakan oleh sekolah ybs, dengan menghadirkan pakar pbm yang secara langsung menjadi konsultan (pendamping sementara) bersama pengawas. Bila semua guru di sekolah tsb sudah benar-benar bisa menerapkan EkElKon, baru pendamping lepas dan dilanjut oleh pengawas ybs. Wallahu Alam………………….

  • suwardi says:

    Republik indonesia ini emang seneng bermain kata-kata saja. Yang diuta-atik kulitnya doank. Guru dibuat sibuk dg istilah, sibuk ber EEK lupa tugas pokoknya mendidik anak. Liat hasilnya sekarang generasi muda rusak moral dan karakternya.

  • ely suheli says:

    saya sangat setuju dengan pak suardi. Bukankah RPP merupakan rencana seorang guru yg akan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Makanya sebagus apapun RPP yg dibuat jika tidak dipahami oleh yang membuat rencana itu tdk akan tercapai tujuan yang diharpkan. makanya menurut sy guru yg menysyn itulah yg paling mengerti dan paham dgn apa yg dituangkan dalam RPP tersebut. dimanapun diletakkannya Eksplorasi Elaborasi Konfirmasi (EEK). jika makhluknya EEK ya tetap sama. yang tepat EEK itu dituangkan dalam RPP dan dilaksnakan dgn sebaik2nya sesuai prosedur yang elah dituliskan oelh penyusun RPP

  • admin says:

    GP setuju juga dengan pandangan itu, namun tidak semua guru memiliki kecakapan yang sama dalam menyusun RPP, sampai saat ini masih banyak yang copy paste. Idealnya semua dibuat sendiri, namun boleh juga jika kita melihat model yang dibuat orang lain, belajar dari yang dibuat teman, atau guru-guru di mana pun. Belajar dari pengalaman orang lain, pasti bukan berarti kita menggunakan apa yang orang lain buat. Salam.

  • ROFA'I says:

    Yang jelas ….tugas guru adalah membimbing anak agar dapat mencapai tujuan yang hendak dicapai ….bukan sibuk berdebat/mengkaji RPP…. RPP ini hanya alat agar arah kita mengajar tidak menyimpang dari pokok bahasan……perlu diketahui jenis apa pun RPP yang dibuat kalau hanya ikut-ikutan tidak akan berhasil bahkan membuat RPP saat ini hanya menambah beban bagi sebagian besar guru-guru di Indonesia tercinta ini,sehingga ujung-ujungnya mem-be-li ,sehingga saat ia mengajar justru malah menyimpang dari rambu-rambu RPP …..MENGAPA DEMIKIAN…..? YA….karena yang membuat orang lain he..he…he……

  • admin says:

    Benar Pak Rofa,i kondisi nyata di lapangan tidak seideal kondisi yang diharapkan. Selalu ada bias dari yang diharapkan. Inilah perjuangan, bagaimana kita mengubah kondisi yang ada secara bertahap dapat berubah mendekati yang diharapkan. Saya pikir kita sepakat bahwa seberat apa pun senyatanya, tetap saja harus kita perbaiki. Semoga kita mendapat kekuatan untuk melakukan perbaikan secara bertahap dan guru-guru mendapat kekuatan agar dapat lebih baik….

  • Dani says:

    Menurut saya dengan adanya siklus EEK kegiatan PBM akan lebih terarah cuma sayang nya penomena dilapangan masih banyak Guru yang bingung dalam menerapkan EEK ini mungkin pihak terkait dalam hal ini perlu mengevaluasi penyebaran ilmu penerapan EEK ini lebih membumi.Jangan sampai hanya pada tahap kognitif saja tapi harus dilanjutkan afektif dan psikomotornya atau singkatnya guru itu harus dapat ILMU dan AMAL. setelah dapat ilmunya dan paham dia harus bisa melaksanakanya.Tanggapan tentag RPP EEK di lapangan sering melihat contoh-contoh yang diberikan pengawas terkadang isinya menurut saya masih tumpang tindih.Dalam RPP tersebut dibagian penutup masih ada tanya jawab padahal menurut saya konfirmasi itulah saatnya diadakan tanya iawab untuk melihat sejauh mana materi pembelajaran bisa terkuasai oleh peserta didik, dalam kegiatan penutup jadi tingal ada dua kegiatan yaitu kesimpulaln dan tugas.Maaf bila salah Ini hanya pendapat dari wong deso.Trims.

  • Sushe Cuex says:

    Menurut saya RPP EEK itu sangat efektif,,(jika dilaksanakan sebagaimana mestinya). Saya sudah mencobanya membuat sendiri, seluruh komponen yang ingin saya sampaikan semuanya saya tuangkan pada RPP, termasuk menyelipkan Nilai-nilai Pendidikan budaya dan karakter bangsa..
    saya tidak sependapat jika membuat RPP itu menjadi beban,, padahal RPP itu kan kewajiban. Di RPP itulah semuanya tersusun untuk memudahkan kita dalam mengajar. “guru mengajar tanpa RPP ibarat orang bepergian tanpa tujuan”..

  • safudin says:

    konsep EEK, substansinya untuk mengarahkan para guru agar dalam proses pembelajaran tidak lagi teacher center, karena idealnya yang belajar itu bukan guru tapi adalah siswa jadi dalam proses pembelajaran yang seharusnya adalah student center, apalagi paradigma pendidikan kita saat ini tidak lagi melulu behavioristik tapi sdh kearah konstruktivis, seyogyanyalah dalam pembelajaran guru perlu menerapkan konsep EEK , karena didalamnya memang siswa yang harus banyak beraktivitas dalam pembelajaran bukan guru. 

  • sayang pak, belum dilaksanajan rpp berEEK berkarakter, ada lagi yang berbasis 3 ranah, tolong pak kalo sudah rpp berbasis 3 ranah itu, terima kasih sebelumnya.

  • saya se7 pak Rpp ber EEK, namun yang saya ingingkan sekarang Rpp yang berbasis 3 ranah (kognitif,afektif dan psikomotor)sesuai sewaktu saya ikuti diklat Sergu tahun 2012 kemarin

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments