Prosedur Operasional Standar Perumusan Karya Tulis
Peran komunikasi tertulis dalam era teknologi informasi dan komunikasi semakin menunjukkan kedudukannya yang lebih dominan dibandingkan dengan komunikasi secara lisan. Perkembangan kompetensi komunikasi tertulis pada kalangan pendidik Indonesia belum sebaik pendidik di berbagai negara maju. Hal itu terkait pada budaya menulis belum berkembang menjadi kebiasaan yang terintegrasi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Jika dibandingakan dengan penggunaan bahasa lisan, kebiasaan menggunakan bahasa tulis jauh lebih rendah.
Bahasa adalah kebiasaan. Jika kompetensi berbahasa tulisan tidak ditingkatkan pembudayaannya, maka perbedaan kompetensi pendidik di negara ini dengan di negara lain yang lebih maju akan semakin lebar. Kesenjangan terlihat pada daya kelola web pendidikan di Indonesia lebih merana karena pada umumnya pendidik belum dipaksa menjadi produsen informasi. Konsisi saat ini, banyak pendidik menempatkan diri sebagai konsumen informasi. Kelemahan ini erat kaitannya dengan rendahnya kebiasaan kita untuk mengelola, mengolah, dan menyajikan data secara tertulis.
Yang menjadi tantang besar yang lain adalah perkembangan teknologi selalu simultan dengan disain dan panduan operasional atau lebih dikenal dengan istilah manual yang disajikan dalam teks tertulis yang snagat efisien, sederhana dan mamiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk dijadikan panduan teknis penerapan. Pada produk canggih apa pun selalu disertai dengan buku panduan. Jadi semakin terbatas produk bangsa maka makin terbatas pula manual yang dihasilkan bangsa itu.
Untuk menjawab tantang itu maka tidak banyak pilihan jawabannya. Meningkatkan kapasitas daya tulis harus dengan belajar menulis lebih banyak lagi. Untuk itu guru pembaharu menyediakan ruangan belajar memberanikan diri menyampaikan pikiran kepada publik agar kebiasaan menulis menjadi meningkat. Kepada teman-teman yang hedak mencoba mengubah kebiasaan untuk lebih banyak menulis silakan gunakan [Download not found] sebagai model acuan. Kami tunggu hasilnya untuk kita sajikan pada forum ini (Dr. Rahmat).
Artikel terkait:
Mengatur Format Nomor Halaman Berbeda Dalam Satu Naskah Pada MS Word.
2 Comments »
Leave a comment!














Assalamualaikum wr.wb
Saya seorang peserta Pelatihan CAKEP Propinsi Lampung 2010.
secara pribadi saya begitu terkejut dan sangat antusias mendengar uraian Bapak ,dengan contoh SD di Curup Bengkulu, Medan, Tarakan dll. Tadinya saya selaku guru agak pesimis, “masa depan pendidikan di Indonesia” sangat semerawut, setiap ganti menteri ganti kebijakan. Bahkan di salah satu kabupaten semua urusan guru baik karir atau non karir senantiasa diakhiri dengan berapa duit yang sanggup anda berikan. Semakin jauh dari kabupaten semua informasi untuk perkembangan karir sangat langka termasuk “Penyusunan Karyatulis ilmiah”, LPMP sendiri sebagai nota bone Penjamin mutu sangat pelit informasi. Oh ya, saya kata saya senang dapat mendengarakan informasi dari Bapak ternyata indonesia masih ada…….wass
Walaikum sl wrwb. Pak Yusuf, inilah realita pahit yang kita hadapi sebagai bangsa. Banyak hal yang berkembang tidak sesuai dengan harapan. Itu, selalu akan terjadi, sekali pun intensitasnya dapat berbeda. Namun kita tetap harus optimis bahwa jika kita bekarja lebih baik, kondisi akan membaik di masa depan.