TOPIK UTAMA »

October 5, 2014 – 10:09 pm | 648

Dalam proses pergeseran dari kurikulum 2006 ke pelaksanaan kerikulum 2013 kepala sekolah memegang peran yang sangat penting. Kepala sekolah dapat menentukan bidang perubahan yang perlu segera perlu penanganan.  Dalam menjalankan peran pimpinan perubahan kepala sekolah …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PENGELOLAAN

Struktur Program Tahunan Sekolah

Submitted by on November 9, 2009 – 8:31 pmOne Comment | 1,324

Kerjakan apa yang sekolah tulis dan tulislah apa yang  sekolah kerjakan.  Prinsip dasar itu sangat populer sebagai slogan dalam aktivitas standar pengelolaan sekolah akhir-akhir ini.  Terutama setelah sekolah mulai menerapkan standar ISO.  Namun demikian,  prinsip yang singkat  itu tidak mudah diterapkan, memerlukan proses yang bertahap dan waktu .Slogan itu amat mudah  diungkapkan, namun sulit direalisasikan. Ini pula yang menjadi alasan klasik mengapa kita tidak dapat merealisasikan banyak hal  yang baik-baik. Hambatannya klasik pula, budaya menulis  dan budaya data masih belum menjadi milik kebanyakan dari kita,  masih terlalu banyak yang  mempertahankan budaya lisan, kebiasaan manusia sejak jaman purba.

Cepatnya pertumbuhan  komputer belum dapat mempercepat budaya tulis. Oleh karena itu film dan lagu masih mendominasi ritme kehidupan kita. Sekali pun begitu kita bangga pada para penulis sekenario yang sedikit, namun yang masih suka mengembangkan aktivitas telinganya masih jauh lebih banyak.

Program Jangka Menengah dan Tahunan Pada Sekolah R-SMA-BI

Kenyataanya,  sebagian dari kita kurang memperhatikan tulisan yang tertuang pada program. Hal ini terjadi pada banyak  sekolah pengembang rintisan bertaraf internasional. Semestinya sekolah mengembangkan sistem perencanaannya dengan menggunakan kaidah-kaidah bertaraf internasional pula.

Thomas L. Wheelen dan David Hungger pada buku Strategic Management and Business Policy System mengembangkan program dalam tiga pentahapan.

Pertama, perumusan visi, misi, dan tujuan lembaga tahap ini disebutnya tahap perumusan strategis.

Kedua, pelaksanaan program yang disebutnya implementasi stratejik. Dalam implementasi program terdapat pelaksanaan kegiatan dan kendali mutu atau penjaminan mutu untuk memastikan bahwa proses mengarah pada pencapaian tujuan.

Ketiga, evaluasi atau evaluasi stratejik. Keseluruhan dari itu kita sebut dengan management strategic.

Isitilah manajemen stratejik sering dinyatakan dengan  istilah manajemen institusional yaitu panduan perumusan rencana, implementasi, dan evaluasi fungsi kebijakan yang mengarahkan organisasi untuk mencapai tujuan jangka pangjang.  Perumusan konsep perencanaan yang berkaitan dengan visi, misi, jujuan yang merupakan dasar pengembangan kebijakan dan perencanaan program (Wikipedia)

Prinsip utama sebagaimana dikembangkan oleh Thomas Wheelen,  manajemen stratejik  memiliki ciri khas mengembangkan perencanaan dengan mempertimbangkan seluruh sumber daya baik yang ada pada lingkungan internal maupun eksternal. Hal ini merupakan sebuah taktik untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Struktur Program Jangka Menengah dan Tahunan [Download not found]

Dalam mengembangakan program jangka menengah dan tahunan, jika menggunakan konsep manajemen stratejik perlu membagi dalam tiga bagian pula yaitu pertama memformulasikan strategi, kedua menerapkan strategi, dan ketiga mengevaluasi strategi.

Dalam penyusunan  program seluruh pertimbangan berdasar pada data dan fakta  hasil evaluasi kinerja sebelumnya serta dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan eksternal. Oleh karena itu pada bab dua biasanya diuraikan profil sekolah sebagai pangkal seluruh pergerakan perencanaan dengan memperhatikan kondisi nyata internal dan eksternal.  Memperhatikan kinerja sebelumnya masuk dalam kategori benchmark internal dan memperhatikan kinerja lembaga lain masuk dalam kategori benchmark eksternal.

Prosenya bermula dari idealisme dipertajam dengan data maka jadilah cita-cita. Bergitulah siklusnya. Jadi jika sekolah hendak membangun mutu pada delapan standar nasional pendidikan, maka data yang sekolah perlukan adalah hasil evaluasi untuk masing-masing standar.  Akan tetapi jika sekolah mau menambah dengan nilai plus lain sehingga profil diperluas, itu tentu lebih baik.

Pada tahap awal penyusunan program akan lebih baik jika sekolah terlebih dahulu menguraikan mengenai latar belakang penyusunan program, tujuan, landasan hukum serta sistematika penyusunan program yang disajikan dalam bab satu.

Poros perbaikan mutu berikutnya adalah analisis dan penafsiran data yang terdapat pada profil. Jika menggunakan manajemen stratejik, profil sekolah dapat dipilah dalam dua bagian. Pertama profil internal yang menyangkut seluruh perkembangan kinerja internal. Kedua profil perkembangan sekolah lain yang menjadi mitra persaingan bahkan dapat pula menggunakan daya lawan kompetisi. Yang seharusnya menjadi fokus pertimbangan adalah apa yang sekolah secara internal hasilkan dan apa yang sekolah lain hasilkan.

Perbadingan mutu layanan sekolah dengan sekolah lain akan menghasilkan rujukan eksternal. Semakin tinggi nilai pembanding yang digunakan semakin bermutu sekolah kita. Namun itu belum lengkap, dalam analisis benchmarking apa yang kita hasilkan pada waktu lalu, sekarang, dan di waktu mendatang juga penting, yang terakhir ini disebut dengan analisis benchmarking internal. Dari uraian ini kita mengenal istilah internal dan eksternal benchmarking.

Analsis profil dalam manajemen stratejik menggunakan analisis SWOT atau SLOT, istilah yang kedua kurang populer sekali pun memiliki makna yang sama. Bedanya W dan L, yaitu weakness dan leakness yang artinya sama-sama kelemahan.

Analisis profil dengan menggunakan swot pada prinsipnya untuk mendapatkan gambaran kekuatan dan kelemahan internal serta kekuatan dan kelemahan pihak pesaing atau eksternal. Kekuatan pihak eksternal secara faktual selalu menjadi ancaman kepada pihak dalam karena jika mutu produk luar makin baik sehingga tidak dapat disaingi unsur internal, maka yang akan terjadi sekolah internal menjadi kalah citra, kalah mutu , dan terancam bangkrut.

Kelemahan pihak ekstenal sebetulnya peluang untuk pihak internal  untuk menyainginya. Jadi dalam konteks kompetisi,  kelemahan lawan adalah peluang untuk menang.

Dalam perlombaan  atau pertandingan mengetahui kelemahan lawan merupakan bagian dari strategi untuk mendapatkan kemenangan. Dari analisis membandingkan kekuatan dan kelemahan di dalam dengan membandingkan kekuatan dan kelemahan luar akan menghasilkan pilahan taktik atau program yang sebaiknya dilakukan. Oleh karena itu sebaiknya analisis swot diletakan dalam bab tiga.

Tahap perumusan strategi dapat diletakkan dalam bab empat, yang meliputi kegiatan perumusan visi dan misi, tujuan, strategi dan penetapan indikator dan target mutu. Pada siklus system perencanaan, formulasi strategi ini. Pada bagian ini terdapat hal yang amat penting yaitu visi sebagai pernyataan ideal dan tujuan sebagai pangkal penentuan evaluasi.

Setelah merumuskan strategi langkah selanjutnya adalah menyusun program prioritas. Jika sudah ada program maka diperlukan jadwal dan pelaksanaannya. Dalam bab lima sekurang-kurangnya digambarkan tahap pelaksanaan dan siapa pelaksananya.  Yang ditemukan di banyak sekolah pada saat ini program empat tahunan dan satu tahunan disederhanakan menjadi daftar kegiatan yang disertai dengan target dan jadwal kegiatan. Yang menjadi dasar pemilihan program  mengapa sesuatu kegiatan dilaksanakan tidak sekolah pedulikan. Seluruh kegiatan dihitung biayanya sehingga diketahui berapa banyak anggaran diperlukan. Dari perrnyataan ringkas ini dapat diketahui bahwa dalam perumusan konsep, anggaran itu digunakan untuk menyeleksi program yang akan dilaksanakan. Jika program dipilih itu pasti karena anggarannya terjangkau.

Dalam sistem standar, ada baiknya sekolah menetapkan sistem penjaminan mutu. Di sini sekolah dapat menetapkan instrumen evaluasi program, anggaran, dan output yang dapat diwujudkan termasuk langkah-langkah monitoring dan evaluasi serta mekanisme pelaporannya.

Target mutu lulusan pada dasarnya meliputi perbaikan pelayanan belajar untuk meningkatkan potensi diri siswa dalam hal pengetahuan, sikap dan keterampilan adalah poros dari semuanya. Program dipilih biasanya karena pertimbangan hal itu akan berpengaruh pada meningkatnya mutu lulusan.

Kesimpulan

Pada beberapa sekolah terdapat persepsi bahwa yang disebut  program di sekolah adalah list atau daftar sejumlah kegiatan yang penentuannya dipertimbangkan atas dasar keputusan  profesional, bukan sepenuhnya lahir dari analisis kekuatan dan kelemahan internal serta eksternal. Sesungguhnya list kegiatan itu selayaknya disebut action plan. Bagian dari program, sementara program lebih daripada itu.

Kondisi ini merupakan tantangan besar untuk SMA rintisan bertaraf internasional agar memiliki strategi peningkatan mutu bertaraf internasional

Tags:

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments