TOPIK UTAMA »

July 18, 2014 – 5:18 pm | 143

Menyongsong pelaksanaan tahun pelajaran baru serta memperhatikan pelaksanaan penilaian prestasi kerja yang meliputi Sasaran Kerja Pengawai (SKP) dan penilaian perilaku kerja yang efektif berlaku mulai tahun 2014 pasti akan menimbulkan konsekuensi baru dalam pelaksanaan tugas, …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SUPERVISI, TOPIK UTAMA

Program dan Laporan Supervisi Manajerial Implementasi Kurikulum 2013

Submitted by on September 10, 2013 – 6:52 am5 Comments | 2,902

Bagaimana melaksanakan supervisi manajerial implementasi kurikulum 2013? Persoalan ini menarik untuk dibahas. Dasar pemikirannya adalah tidak mungkin kepala sekolah berhasil mengawal perubahan apabila strategi dalam mengimplementasikan manajemen sekolah sama dengan yang ia lalukan dalam mengimplentasikan kurikulum sebelumnya.  Sukses utama pelaksanaan tugas  kepala sekolah, memang sama dengan sebelumnya, dapat memfaslitiasi seluruh guru efektif  mengajar dan siswa efektif belajar.

Kunci sukses mewujudkan efektivitas guru mengajar dan siswa belajar bergantung pada terpenuhi kewajibannya  yaitu membaca seluruh peraturan yang terkait dengan standar SKL, isi, proses, dan penilaian. Dengan langkah ini kepala sekolah menjadi faham tetang arah pengembangan dan implementasi kurikulum, memahami indikator keberhasilannya sehingga  keunggulan mutu lulusan sesuai  standar kompetensi lulusan dapat diwujudkan.

Lebih dari itu kepala sekolah perlu memahami berbagai komponen perubahan yang seharusnya terjadi dalam menerapkan kurikulum 2013. Pergerseran dalam standar SKL, isi, proses, dan penilaian perlu dicermati dengan seksama. Yang perlu mendapat perhatian utama ialah memilih prioritas komponen sistem yang perlu berubah, memetakan kondisi saat ini dan kondisi yang diharapkannya. Dengan dasar itu, kepala sekolah dapat menentukan strategi untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan sehinga semua tindakan penting yang akan kepala sekolah laksanakan terencana.

Terdapat sejumlah koponen sistem sekolah yang dapat mejadi prioritas program. Di antaranya adalah  mengembangkan struktur kurikulum sekolah sesuai dengan kebutuhan siswa. Pekerjaaan ini perlu didahulukan mengingat sekolah dapat menambah jam belajar sehingga sesuai dengan kebutuhan siswa untuk berprestasi. Dengan adanya struktur yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dapat mengembangkan kalender pendidikan dan peta beban belajar siswa yang dapat mendukung terwujudnya mutu lulusan. Pemetaan beban belajar perlu melibatkan seluruh pendidik mengingat banyaknya karya yang harus siswa kerjakan yang tersebar dalam berbagai mata pelajaran sebagai konsekuensi dari kurikulum 2013 berbasis aktivitas dan karya. Jika tidak dikoordinasikan  maka keteraturan beban tidak mungkin terwujud jika guru menentukan tugas sendiri-sendiri.

Tugas penting lain yang perlu kepala sekolah perhatikan adalah  pengelolaan peminatan. Pekerjaan menyerap pehatian sejak awal tahun pelajaran. Keputusan yang tepat dalam mengelola peminatan dapat menjadi dasar yang baik untuk melaksanakan pembagian ruangan, penentuan jadwal, jadwal pelajaran, hingga mendistribusikan tugas guru serta pemantaaan sumber daya pendidik dapat bekerja optimal, maupun alokasi sumber daya lainnya agar efisien. Pelaksanaan lintas minat yang menjadi ciri khas kurikulum 2013 mendorong munculnya aktivitas belajar siswa yang lebihvaritatif dan memerlukan waktu yang lebih banyak.

Jika dihubungkan dengan kondisi awal pelaksanaan kurikulum 2013 yang menunjukkan adanya beberapa kelemahan manajerial seperti;

  1. belum memfasilitasi pendidik untuk menganalisis konteks internal dan eksternal sekolah sebagai dasar untuk menetapkan SKL.
  2. belum memahami secara detil tentang peraturan yang berkaitan dengan standar skl, isi, proses, dan penilaian.
  3. belum menentukan prioritas perubahan, deskripsi kondisi nyata, deskripsi kondisi yang diharapkan, dan strategi yang kepala sekolah lakukan  yang dibuktikan dengan belum jelasnya program pada rencana kegiatan tahunan.
  4. belum jelasnya prioritas pengembangan budaya sekolah untuk meningkatkan keberterimaan, berkurangnya resistensi atau penolakan program, dan membangun hubungan kerja yang harmonis di seluruh lini pemangku kepentingan.
  5. belum tersedia RPP yang mencerminkan karakteristik kurikulum 2013 yang mengedepankan indikator hasil belajar yang mencakup HOTS (high order thingking skills) dan keterampilan berpikir tinggi.
  6. belum mengembangkan perangkat penilaian otentik dan sistem data untuk mengolah hasil penilain belajar.
  7. belum tersedia instrumen supervisi yang sesuai dengan kebutuhan memonitor kurikulum 2013
  8. dan, belum jelasnya program untuk melakukan pertemuan berkala agar penjaminan untuk meningkatkan kepastian  terwujudnya target keberhasilan belajar siswa terpenuhi.

Beberapa kelemahan ini setidaknya terungkap dari hasil monitoring yang saya lakukan. Semua kelemahan itu perlu dijawab dalam pelaksanaan pendampingan terutama melalui perbaikan implementasi manajemen dan perbaikan program tahunan dan supervisi akademik untuk melakukan perbaikan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Terhadap semuanya diperlukan sistem pemantauan lebih lanjut dengan menggunakan instrumen yang sama yang dilakukan dalam beberapa siklus. Berikut instrumen yang digunakan dalam memantau  implementasi manajemen pengelolaan  kurikulum 2013.

Rencana dan Kosep Laporan Supervisi Manajerial (805)

Setelah melihat memantau pelaksanaan pada beberapa sekolah terhimpun informasi sebagai berikut;

  1. Para pemangku kepentingan di telah mengindentifikasi sejumlah komponen pengelolaan yang mereka ubah,  namun mereka masih menghadapi kendala dalam mengangkat komponen perubahan ke dalam program tahunan sekolah.
  2. Pemahaman tentang  perubahan SKL, pengembangan indikator pembelajaran pada keterampilan berpikir level tinggi (high order thinking skills_HOTS), kesesuaian instrumen penilaian dengan indikator hasil belajar, penerapan metode saintifik dalam  kegiatan inti pembelajaran, pembelajaran berbasis aktivitas dan karya masih terbatas sehingga pengarahan kepala sekolah pada sekolah yang dipantau belum efektif.
  3. Pendidik dan tenaga kependidikan masih ragu-ragu untuk menetapkan instrumen penilaian otentik. Oleh karena itu, sampai pertengahan September 2013 pada sebagian besar sekolah belum menggunakan isntrumen penilaian otentik. Kekurangan ini diperparah dengan kondisi tiap sekolah yang belum menyiapkan perangkat penghimpun data hasil penilaian otentik dan data kemajuan belajar siswa yang diperoleh dari kegiatan tes, tugas, bahkan sampai ke kegitan ekstrakurikuler.
  4. Sebagian sekolah telah melaksanakan pembelajaran santifik, namun belum ditunjang dengan sistem pendampingan yang terecana dan supervisi secara berkala dan berkelenjutan.
  5. Beberapa sekolah menyambut pemantauan sebagai proses untuk mengevaluasi keterlaksanaan program sehingga  kerja sama ini telah melahirkan  identifikasi berbagai hal yang dipandang masih lemah.
  6. Sementara itu,  dari pemantauan terhimpun data tentang tingginya keberterimaan dan kesiapan sekolah dalam menyediakan sarana penunjang pelaksanaan kurikulum. Dalam ranah kultur dan sarana sangat siap sekali pun belum dituangkan dalam  program secara tertulis.

Dari hasil pemantauan diperoleh rincian data kualitatif dalam bentuk laporan pengawasan berikut:

Laporan Pengawasan Manajerial (1154)

Semoga bermanfaat

 

5 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments