TOPIK UTAMA »

April 7, 2014 – 8:40 pm | 171

Salah satu kewajiban sekolah dalam merumuskan dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2013, seperti pada KTSP 2006, adalah merumuskan visi-misi-dan-tujuan.  Mengapa  kewajiban merumusan tujuan sekolah begitu penting?
Sejak dulu,  seluruh warga sekolah bahwa merumuskan tujuan lembaga …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PENGELOLAAN

Peningkatan Mutu dan Penjaminan Mutu Pendidikan

Submitted by on May 14, 2009 – 9:10 am3 Comments | 519

Mutu dan Standardisasi

Peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan saat ini telah menjadi agenda yang sangat penting pada seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini tidak hanya untuk memenuhi harapan undang-undang, namun juga terkait erat pada penjaminan posisi bangsa dalam persaingan dengan bangsa-bangsa lain di masa depan. Salah satu penentunya adalah terjaminnya pendidikan yang lebih bermutu.

Mutu adalah terpenuhinya persyaratan dan tahan dalam penggunaan (Juran, 1995). Sesuatu yang bermutu berarti memenuhinya kebutuhan konsumen, bebas dari kerusakan, serta memenuhi kepuasan (Deming, 2000). Mutu adalah terpenuhinya kebutuhan dan kepuasan pelanggan (ISO:2000).

Mutu merupakan ide yang dinamis sehingga tidak dapat didefinisikan secara final. Di samping itu, mutu juga memiliki kelas. Mutu bukan atribut pada suatu produk, namun mutu melekat pada produk itu sendiri. Sallis (2002) menyatakan bahwa mutu yang menjadi pembicaraan sehari-hari memiliki sifat absolut, sedangkan mutu bagi para pekerja termasuk mutu pendidikan bersifat relatif. Pelanggan menetapkan secara mutlak mengenai mutu suatu produk, sedangkan pekerja mengukur mutu secara relatif. Para pekerja menentukan mutu dengan menggunakan sistem pengukuran sehingga di dalam mutu terkandung dua aspek yaitu pengukuran yang melahirkan spesifikasi (kriteria) dan kesesuaian dengan harapan pelanggan.

Mutu terkait dengan konteks sistem. Mutu terhubung pada dimensi input, proses, output dan outcome. Juran (1995) menyatakan bahwa mutu adalah terpenuhinya persyaratan. Jadi, sebelum suatu produk dihasilkan maka perlu ada kriteria mutu yang ditetapkan terlebih dahulu. Kriteria minimal yang harus dipenuhi pada suatu sistem disebut standar. Oleh karena itu, sesuatu yang memenuhi standar adalah sesuatu yang telah memenuhi batas atau kriteria minimal. Lebih lanjut, Sallis (2002) menyatakan bahwa pelayanan dan produk harus memenuhi standar yang memiliki karakter (1) sesuai dengan spesifikasi (2) handal dalam penggunaan (3) produk tanpa cacat (4) handal digunakan sejak pertama kali dan pada setiap waktu.

Deming (2000) dan ISO menempatkan konsumen pada dimensi utama, artinya mutu adalah memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Oleh karena itu mutu merupakan bagian penting dari strategi pelayanan.

Penjaminan Mutu pendidikan

Pendidikan pada hakekatnya menyangkut mutu pembelajaran. Bagaimana sekolah memfasilitasi siswa memperoleh pengalaman belajar, mengembangkan potensi dirinya secara optimal, mengembangkan potensi dirinya secara alamiah. Pada prinsipnya mutu pendidikan tidak lepas dari kerangka utamanya yaitu aktivitas belajar. Institusi pendidikan terikat pada harapan dapat melaksanakan pembelajaran dengan metode yang variatif sehingga memenuhi kebutuhan siswa agar dapat belajar. Memahami secara mendalam siswa yang dididiknya, gaya belajarnya, potensi intelektualnya, dan melayani siswa secara fleksibel sehingga dapat belajar dengan tuntas sesuai dengan target yang ditetapkan (Sallis, 1993).

UNESCO (2002) menyatakan bahwa secara universal mutu pendidikan dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu (1) apa yang siswa peroleh (2) lingkungan pendidikan (3) isi (4) proses (5) outcomes. Poros mutu pendidikan bertumpu pada apa yang diperoleh siswa dan hasil belajar seperti apa yang dapat diwujudkan. Hasil belajar dapat ditunjukkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penegasan ketiganya tercermin pada kompetensi siswa. Idealnya pengetahuan yang semakin tinggi tercermin dalam keterampilan dan sikap hidupnya. Siswa yang telah terdidik seharusnya tercermin pada kebersihan pakaian, kerendahan hati dalam bertutur kata, tegas dalam mempertahankan kebenaran, berani memperjuangkan keyakinan yang benar.

Semua sikap di atas harus berkembang melalui berbagai latihan di sekolah, seperti yang ditunjukkan dengan sikap kesalehan dalam interaksi dengan teman, berpakaian rapih, memiliki kepatuhan yang kuat dalam mengikuti aturan, serta memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan tugas dengan dilandasi semangat untuk medapatkan karya terbaik. Menghasilkan karya-karya kreatif, mengungkapkan pikiran ke dalam bentuk secara lisan dan tertulis. Siswa juga menunjukkan kemampuan untuk menjelaskan ide, menghimpun dan mengolah data serta menafsirkan data. Memperhatikan pendapat, sampai dengan berusaha memperoleh hasil ulangan dan hasil ujian yang baik. Yang menjadi indikator utama yaitu indeks prestasi kumulatif atau rata-rata nilai raport siswa dalam 6 semester, keterampilan hidup dan sikap yang baik.

Pada ruang lingkup lain terdapat pula indikator mutu jumlah siswa yang naik kelas, tinggal kelas, DO, angka mengulang, angka melanjutkan, angka siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan dan siswa yang masuk dunia kerja. Semuanya merupakan bagian dari indikator keberhasilan sekolah.

Pada ruang lingkup yang lebih luas terdapat indikator angka partisipasi murni, angka partisipasi kasar dan rata-rata lama belajar. Indikator yang terakhir lebih menggambarkan tingkat keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat mengikuti pendidikan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi rata-rata anggota masyarakat mengikuti pendidikan maka semakin maju tingkat kehidupan sosial dan ekonomi masyarkat itu.

Fokus utama dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah bagaimana memfasilitasi guru mengajar sehingga siswa dapat belajar efektif. Pernyataan ini mengandung konsekuensi bahwa setiap pengelola pendidikan perlu menetapkan target prestasi yang hendak diwujudkannya.

Pada setiap aspek yang menjadi prioritas, sekolah merumuskan rencana kegiatan sekurang-kurangnya meliputi aspek berikut:

  • Adanya pernyataan tujuan, indikator keberhasilan, dan target yang spesifik.
  • Target prestasi
  • Fokus kegiatan
  • Implementasi strategi
  • Indikator keberhasilan
  • Peta waktu
  • Penanggung jawab untuk mengimplementasikan strategi
  • Menentukan peta titik pemeriksaan untuk memastikan bahwa pembaharuan berjalan sesuai dengan rencana.
  • Peluang melakukan revisi atau perbaikan

Tim pengembang mutu pendidikan Depdiknas menyatakan bahwa mutu pendidikan diukur berdasarkan (1) akses (2) relevansi, (3) efisiensi, (4) keefektifan (5) dampak program, (6) proses atau tindakan (7) daya adaptasi dan daya respon pada tiap perubahan atau inovasi (7) akuntabilitas (9) transparansi (10) kehandalan produk untuk bersaing dalam kehidupan.

Peningkatan Mutu dan Biaya

Peningkatan mutu terkait erat pada biaya. Secara tradisional mutu itu adalah tingkat kemahalan, makin tinggi mutu makin mahal harganya. Mobil yang mewah berkonotasi sebagai mobil yang sangat tinggi mutunya sehingga sangat tinggi pula harganya. Orang yang menggunakan mobil mewah memiliki harga tersendiri di masyarakat, namun mereka harus mengeluarkan uang yang lebih banyak, membayar harga dengan lebih mahal.

Deming berpikir sebaliknya, menurutnya mutu adalah efisiensi. Mutu adalah menghemat biaya sekaligus merupakan peningkatan daya kompetisi pada produk. Menurut Deming, menghasilkan produk yang bermutu adalah penghematan. Sebaliknya menghasilkan produk tidak bermutu merupakan pemborosan. Konsumen membeli barang yang tidak bermutu adalah pemborosan sekaligus menuai kekecewaan hingga melahirkan ketidakpuasan.

Menurut Deming, rumus konsep mutu adalah sebagai berikut :

Mutu sama dengan poduk kerja dibagi keseluruhan biaya yang digunakan.

Semakin tinggi mutu yang dihasilkan berarti semakin rendah tingkat kegagalan dalam produksi, semakin tinggi daya tahannya, semakin panjang umurnya, semakin tinggi tingkat kepuasan konsumen dan semakin rendah tingkat kerusakan. Sebagai dampak akumulasi dari itu, maka biaya menjadi semakin rendah dan daya saing semakin tinggi.

Peningkatan Mutu dan Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

Peningkatan mutu pendidikan merupakan strategi dan program terkoordinasi yang dirancang dan dilaksanakan oleh semua tingkatan dalam sistem pendidikan nasional guna meningkatkan hasil belajar bagi seluruh peserta didik (MSPD, 2009). Setiap tingkatnya dapat menentukan batas minimal mutu yang menjadi target atau standar. Salah satu kegiatan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan mengembangkan penjaminan mutu.

Penjaminan mutu merupakan rangkaian proses dan sistem yang saling berkaitan untuk mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu tenaga kependidikan, program serta lembaga (MSPD, 2009). Dalam penjaminan mutu terdapat dua unsur utama dalam sistem pengelolaan mutu yaitu menetapkan kriteria dan melaksanakan pengukuran.

Proses penjaminan mutu mengidentifikasi bidang pencapaian dan prioritas untuk perbaikan, memberikan data untuk perencanaan berbasis bukti dan pembuatan keputusan serta membantu membangun budaya perbaikan yang berkelanjutan.

Pengecekan atau perunutan jejak proyek, program atau kegiatan guna memastikan bahwa:

  • Input diberikan sesuai dengan perencanaan – tepat waktu, dengan kuantitas yang memadai, dalam plafon anggaran
  • Proses diimplementasikan sesuai dengan rencana, dan
  • Output yang dicapai sesuai dengan target yang ditetapkan.

Departemen Pendidikan Nasional pada saat ini telah menyiapkan instrumen evaluasi diri (EDS) yang dapat sekolah gunakan untuk mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu tenaga kependidikan, program dan lembaga. Sekolah dapat melaksanakan kegiatan ini bersama dengan pengawas.

Untuk melaksanakan kegiatan evaluasi diri, sekolah perlu menyiapkan sistem dokumen yang dapat menyimpan hasil evaluasi sehingga dapat digunakan untuk perbaikan mutu selanjutnya sehingga sekolah dapat meningkatkan mutu secara berkelanjutan.

Referensi:

Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, Monitoring Sekolah Oleh Pemerintah Daerah, Panduan Pelaksanaan (2009)

Douglas B. Reeves, 2002. The Leader’s Guide to Standards: A Blueprint for Educational Eqauity and Excellence, Jossey-Bass –USA

Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, Kogan Page. Place of Publication: London. Publication

Gary S. Becker .1992 Human Capital:A Theoretical and Empirical Analysis with Special Reference to Education; Printed Library Material ANSI- USA

http://syque.com/quality_tools/articles

Juran, J.M. (1995). A History of Managing for Quality, ASQS Quality Press, Milwukee, WI.

Philips B. Crosby (1979) Quality Is Free : The Art Of Making Quality Certain; McGraw Hill Books Company, New York

RandalS. Schuler and Drew L. Haris, Managing Quality: The Primer For Middle Managers. 1992. Madison-Wesley Publishing Company.INC p 5)

Sergiovanni, Thomas J ; Burlingame, Martin; Coomb, Fred S; Thurston, Paul W; 1980. Educational Governance and Administration; Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs Ney Jersey

Wenger, E. (1998). Communities of practice: Learning, meaning and identity. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

3 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments