TOPIK UTAMA »

October 28, 2014 – 12:51 am | 1,716

Proses penilaian prestasi kerja guru maupun kepala sekolah seharusnya sudah  dimulai pada bulan Januari  bersamaan dengan menetapkan SKP. Pelaksanaan penilaian kuantitas, kualitas, waktu dan biaya seharusnya tuntas pada bulan Desember 2014. Namun demikian, kita dapat …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PENGELOLAAN, Uncategorized

Penilaian Kinerja Berpotensi Jadi Kendala Peningkatan Efektivitas Belajar Siswa

Submitted by on July 20, 2011 – 3:23 pm7 Comments | 1,509

Bagaimana pengaruh sistem pengukuran kinerja sekolah, kepala sekolah, guru, dan kinerja belajar siswa terhadap perbaikan mutu pendidikan di Indonesia saat ini? Mencari informasi yang cukup lengkap untuk menjawab pertanyaan itu tidak mudah.

Berkenaan dengan itu Edward Sallis dalam bukunya TQM in Education menyatakan bawah “We all know quality when we experience it, but describing and explaining it is a more difficult task.”

Dalam kehidupan nyata mutu mudah kita ketahui, namun pada saat kita mencoba menggambarkan dan menjelaskan, apalagi mengukurnya, semua menjadi sangat tidak mudah.

Konsekuensi dari penerapan standar dalam  sistem pendidikan di mana pun merefleksikan harapan  penyelenggaraan pendidikan akan lebih efektif dan efisien. Hal tersebut berkembang  dengan adanya pengukuran mutu pengelolaan sekolah dan pembelajaran secara berkala dan berkelanjutan. Hasil pengukuran dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan perbaikan dan peningkatan mutu secara berkelanjutan pula.

Dampak dari adanya penilian kinerja sekolah melalui kegiatan akreditasi yang diselenggarakan setiap lima tahun,  Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang diselenggarakan sekolah pada tiap tahun yang dirangkai dengan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD), Penilaian kinerja guru, penilaian kinerja kepala sekolah, dan supervisi oleh para pengawas sekolah.adalah meningkatnya mutu lulusan yang berkarakter, berilmu, berketerampilan dan memiliki daya saing sebagai modal dasar peningkatan mutu sumber daya bangsa.

Beberapa pilar mutu dalam bentuk pengukuran  lain ialah evaluasi kinerja penyelenggaraan program seperi pada sekolah penyelenggara program Standar Sekolah Nasional (SSN), Rintisan Sekolah Kategori Mandiri  (RSKM) atau Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSBI) dihadapkan pula pada penilaian kinerja program.

Pilar mutu yang menjadi simbol kemajuan sekolah yang tidak kalah menyita energi adalah pelaksanaan ujian nasional. Program pengukuran ini telah menjadi agenda kegiatan yang menyerap energi sumber daya manajemen sekolah yang sangat besar. Persiapan dalam menghadapinya telah memicu motivasi belajar siswa melalui usaha perbaikan mutu mengajar guru dalam sepanjang tahun pelajaran.

Sama halnya dengan berproses pelaksanaan akreditasi. Sekolah menghadapi kegiatan ini biasanya membentuk tim pelaksana sebelum sekolah divalidasi asesor. Pengumpulan bukti fisik yang untuk disandingkan dengan kriteria pada tiap item menjadi pekerjaan yang paling menyerap perhatian dan membutuhkan waktu. Semakin lengkap dan indah pengemasan bukti fisik semakin besar kemungkinannya sekolah mendapat nilai yang baik.

Pemenuhan bukti fisik ada baiknya sebagai bagian dari proses perbaikan dokumen sekolah. Namun upaya perbaikan itu sering diikuti dengan terganggunya upaya pelayanan belajar. Efektivitas pembelajaran boleh jadi menurun karena adanya perbaikan mutu pendidikan. Masalahnya adalah setiap kali penilaian dilakukan,  sebagian pelaksanan tugas pokok guru, yaitu mengajar, terkendala terkendala.

Kendala terhadap berlangsungnya efektivitas mengajar di sekolah akan lebih besar jika kegiatan akreditasi, EDS, MSPD, penilaian kinerja guru, supervisi kurang mempertimbangkan besarnya gangguan terhadap efektivitas pembelajaran. Apalagi jika penilaian kinerja guru sudah berjalan efektif. Jika proses penilaian tidak diperlakukan sebagai bagian dari proses pelaksanaan tugas “on the job evaluation” maka tingkat ketergangguan tugas akan menjadi lebih besar.

Hasil yang didapat pada  beberapa sekolah terbukti kontraproduktif. Guru sibuk mengembangkan perencanaan belajar, namun tidak untuk digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran dalam kelas melainkan hanya untuk memenuhi bukti fisik. Administasi menjadi lebih penting daripada inovasi pembelajaran.

Mutu belajar siswa menurun karena sekolah terlalu banyak evaluasi untuk meningkatkan kinerja sekolah. Pernyataan ini menegaskan pentingnya untuk mengukur seberapa banyak instrumen pengukuran standar yang dapat diterapkan di sekolah, mengingat pengalaman seperti penyelenggaraan akreditasi sekolah selama ini sudah berjalan, belum jelas pengaruhnya terhadap produktivitas peningkatan mutu hasil belajar siswa.

Yang pasti dalam setiap kali akreditasi berjalan, yang paling menonjol adalah sekolah memamerkan kelengkapan administrasi, bukan unjuk kinerja siswa dan guru.

Agar penilaian kinerja sekolah, kepala sekolah, dan guru tidak kontraproduktif terhadap kinerja belajar siswa, maka instrumen yang digunakan harus tidak terlampau gemuk dan secara tidak disadari terlampau mementingkan produk administrasi daripada proses pelaksanaan tugas yang  kreatif yang berpengaruh pada meningkatnya hasil belajar siswa.

Berikut dilampirkan perangkat pelaksanaan program Induksi Guru Pemula melalui kegiatan monitoring dan pembinaan.

Penilaian Kinerja Guru

GP: Published on: Jul 20, 2011 @ 15:23

7 Comments »

  • sri wahyuni says:

    ESD dan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah semangatnya yang perlu diacungi jempol. Sekolah setiap tahun ESD demikian juga dengan Pemda. Hasil selama 5 tahun digabung dengan akreditasi.
    ESD dan MSPD muaranya ke efektif belajar siswa kenyataannya dilapangan Guru, KS masih jauh panggang dari api. Bukti fisik, sekolah bagus isi separo saja. Khusus untuk MSPD pemerintah daerah masih tidak peduli dengan mutu. Pilih KS seenaknya mengelola pendidikan hanya berfokus pada APBS/RKAS dan ujungnya persiapan 2014 ….. malah LKS seharus diproduksi guru malah diproduksi oleh yang punya kuasa …… sekalipun begitu, …..tetap semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

  • Dwi Tjahjono Widajat says:

    Saya tidak sependapat dengan judul tersebut. Kondisi sekarang ini memang masih dijumpai “banyak sekolah” yang tidak memiliki data akurat tentang data atau kondisi riil di sekolah. Kenyataan ini berimbas pada tidak adanya program kerja yang akurat di sekolah. Program kerja sekolah, program kerja wakil kepala sekolah, program kerja guru, BK, Pengelola perpustakaan, pengelola laboratorium atau kepala TU sekedar di atas kertas. Namun dengan bimbingan pengawas sekolah yang bekerja sama dengan kepala sekolah dan Sekmen kendala itu dalam waktu yang tidak lama akan dapat diatasi.
    Yang lebih penting lagi, motivasi terhadap pengelola dan pelaksana di sekolah harus masuk ke hati nurani mereka. Bagi guru mengajar 24 jpp merupakan beban yang berat, tetapi ketika mendapat tugas tambahan sebagai kepala atau pembina laboratorium beban mengajarnya tinggal 12 jpp, maka sisa yang 12 jpp harusnya digunakan untuk membina dan mengembangkan tugas tambahan sebagai pembina laboratorium. Dengan demikian, laboratorium tidak dikelola asal jalan, tetapi dengan program yang baik dan sesuai harapan. Jika itu dapat dicapai kapan saja penilaian diminta tidak akan mengganggu peningkatan mutu sekolah atau peningkatan mutu siswa.

  • admin says:

    Terima kasih Pak Dwi atas pemikirannya yang berbeda. Saya setuju bahwa selama ini sekolah, kepala sekolah, guru, TU, bahkan siswa memiliki beban kerja dan beban belajar yang sangat berat. Akan lebih berat lagi jika program penilain kinerja guru, penilaian kinerja kepala sekolah, penilaian dalam bentuk evaluasi diri sekolah, Monitoring Sekolah oleh pemerintah daerah, bagi pelaksana SSN ada evaluasi SSN, atau evaluasi RSBI untuk penyelenggara RSBI, dan Akreditasi tentu saja. Banyak sekali, sehingga ketika semua itu diatur kurang bijak, GP khawatir akan berdampak kurang baik terhadap kinerja belajar siswa. Salam

  • Mulyati says:

    Tulisan yang sangat menggelitik saya Pak..Saya sependapat dengan judul tulisan ini. Bukti di lapangan memang pada kenyataannya demikian…

  • admin says:

    Ibu Mul, terima kasih juga Ibu telah menyampaikan keperluan yang jelas, jika ada pembaca yang memiliki bahan itu, GP menanti untuk mempublikasikan. Tks.

  • Ruky Dwinarputra says:

    Salam Kenal Pak, saya setuju. Ijin menambahkan saja. Niat ingsun para pejabat sudah baik, dalam rangka peningkatan mutu dan Monev. Namun dilapanganlah yang menanggapi dengan ‘kebijakan’. akhirnya terjadi pelanggaran2 kecil. Yang terpenting, komitmen Pak. Semua demi kemajuan kita bersama, bukan individu, atau sebagian kelompok. Terimakasih.
    Salam.

  • gue akus says:

    Salam kenal Pak, saya selalu membuka dan mengikuti tulisan artikel yang dmuat di GP ini, saya setuju sekali, ada yang mungkin saya usulkan. berbagai cara pemerintah melalui kemdiknas dan melalui birokrasi berusaha menekan guru dengan pp, permen, dan yang lainnya, tak lain tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan, kalaulah boleh berpendapat dalam komentar ini, yaitu kalaulah pp 53 tahun 20 tentang disiplin pegawai belum diterapkan/dilaksanakan di sekolah, segala upaya untuk membagkitkan kinerja guru akan percuma saja dan sia-sia, karena guru akan selalu menganggap, guru bekerja cukup 24 jam per mnggu, dan memang benar guru hanya bekerja sesuai jam tatap muka, selebihnya waktu habis untuk ngerumpi dan bersenda gurau atau pulang, saya mohon disini ada penekanan yang sama bahwa guru adalah pegawai PNS, wajib bekerja yaitu 37,5 jam perminggu, sama dengan PNS lainnya. kalau tidak percaya tiap sekolah di monitoring dengan pemberlakuan PP 53 tahun 2010, kepala sekolah diberi sangsi kalau tidak melaksanakan PP 53 tersebut, terimakasih

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments