TOPIK UTAMA »

October 5, 2014 – 10:09 pm | 736

Dalam proses pergeseran dari kurikulum 2006 ke pelaksanaan kerikulum 2013 kepala sekolah memegang peran yang sangat penting. Kepala sekolah dapat menentukan bidang perubahan yang perlu segera perlu penanganan.  Dalam menjalankan peran pimpinan perubahan kepala sekolah …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PEMBELAJARAN

Pengajaran Bilingual : Mengapa Perlu?

Submitted by on February 11, 2009 – 3:21 am2 Comments | 835

Pengajaran bilingual merupakan model penggunaan dua bahasa untuk menyampaikan materi kurikulum dengan tujuan menguatkan kompetensi siswa dalam berbahasa asing. Dengan menggunakan model ini terdapat dua hal utama yang diperoleh siswa, yaitu penguasaan ilmu pengetahuan dan melek dalam dua bahasa.

Hingga saat ini telah banyak negara yang melaksanakan pengajaran bilingual, seperti Filipina, Australia, Jepang, Cina, dan Amerika. Tujuan pelaksanaan ini adalah untuk mempercepat perbaikan mutu pendidikan anak dari berbagai kelompok masyarakat sehingga secara simultan dapat mencapai kesejajaran standar nasionalnya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan bahasa. Indonesia bertujuan mendapatkan kesejajaran mutu pendidikan, baik pada level nasional maupun internasional.

Terdapat banyak model melasanakan pengajaran ini (Stephen Krashen, 1997) di antaranya pada suatu sekolah menggunakan bahasa inggris untuk mata pelajaran tertentu dan menggunakan bahasa ibu dalam mata pelajaran yang lain. Pada model berikutnya digunakan dua bahasa sekaligus dalam satu mata pelajaran, dimana siswa difasilitasi dengan dua orang guru. Satu orang guru sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, sedangkan seorang yang lain sepenuhnya menggunakan bahasa ibu. Ada juga model lainnya dimana seorang guru memberikan materi ajar dalam dua bahasa. Yang lain adalah dari sisi siswa, bagaimana menggabungkan siswa yang memiliki bahasa ibu berupa bahasa Inggris dengan siswa yang berbahasa ibu yang lain.

Indonesia sejak tahun pelajaran 2006 / 2007 telah melaksanakan model pengajaran bilingual pada pembelajaran MIPA. Hal ini sebagai wujud dari pelaksanaan kebijakan pembaharuan mutu pendidikan. Kebijakan model pengajaran bilingual bukanlah hal baru. Pada awal kemerdekaan telah dilaksanakan pengajaran bilingual, yaitu bahasa Belanda-Indonesia. Di era tahun 1970-an bersamaan dengan penggunaan metode Struktur Analisis Sintesis (SAS) muncul inisiatif baru pengajaran bilingual bahasa Indonesia-bahasa ibu. Dengan menggunakan metode SAS ini siswa mulai belajar membaca dari kalimat “Ini Budi”, “Ini Bapak Budi”, “Ini Ibu Budi”. Hal ini merupakan langkah pembaharuan dari model mengeja.

Pada saat itu terjadi perubahan bahasa pengantar pengajaran, yang semula menggunakan bahasa Ibu menjadi bahasa Indonesia. Ini merupakan era baru penggunaan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Awalnya bahasa Indonesia baru digunakan di kelas empat, yang kemudian diubah mulai dari kelas satu. Sekalipun pada saat awal menuai kontroversi, namun secara bertahap pengajaran berpengantar bahasa Indonesia menjadi biasa di negara kita. Bahasa memang bisa karena biasa.

Tiga faktor utama yang mendukung lancarnya proses perubahan tempo dulu adalah adanya guru yang sudah fasih berbahasa Indonesia maupun bahasa Ibu, buku siswa yang tersedia di sekolah dan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan. Dampak lanjut dari penguatan itu terlihat pada tahun 1980-an dimana para ahli bahasa optimis bahwa bahasa Indonesia dapat berfungsi sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Argumentasi mereka berlandaskan pada realitas di Fakultas pasca sarjana teknik maupun kedokteran yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Ini menjadi indikator bahwa bahasa Indonesia memadai sebagai pengantar ilmu pengetahuan modern. Optimisme ini semakin menguat ketika Australia menetapkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa asing yang dipelajari di sekolah. Bahkan, siswa dari Alaska yang datang ke Indonesia tahun 1984 telah pandai berbahasa Indonesia karena di negaranya terdapat tempat kursus bahasa Indonesia.

Pada periode berikutnya, rasa optimisme yang kuat itu tidak berlanjut. Hal ini dikarenakan penguasaan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia tidak secepat bangsa-bangsa lain.Kemampuan menerjemahkan ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Indonesia tidak dapat mengejar perkembangan ilmu pengetahuan. Akhirnya, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan tak dapat beradaptasi dengan semakin cepatnya perubahan ilmu pengetahuan. Konsekuensinya adalah semakin pentingnya penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional maupun bahasa ilmu pengetahuan.

Perkembangan terakhir di tahun 2000-an menunjukkan semakin cepatnya penguasaan bahasa Inggris oleh bangsa India, China, Malaysia, Korea, Filipina, Singapura, serta kawasan ASEAN lainnya. Hal ini sejalan dengan perkembangan era teknologi informasi dan komunikasi. Itulah mengapa tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia kecuali memulai program pembelajaran bilingual, bahasa Inggris-Indonesia, yang diharapkan dapat menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di tanah air.

Referensi :

Baca, Leonard M and Cervantes, Hermes T. 1991. Bilingual Special Education ERIC Clearinghouse on Handicapped and Gifted Children Reston VA. http://www.ericdigests.org/pre-9219/education.htm

2 Comments »

  • MERINA SITUMORANG says:

    MUNGKIN NTAR KL AQ DAH JADI GURU AKAN MEMAKAI CARA BILINGUAL.
    THANKS

  • jika bahasa inggris menjadi bahasa kedua mungkin, lambat laun bahasa ibu akn semakin punah, sekarang aja sudah banyak bhs ibu di indonesia yg tlh punah, dan terancam punah, padahal kedudukan bhs inggris di indonesia msh sbg foreign langguage,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments