TOPIK UTAMA »

August 16, 2014 – 5:47 am | 313

Terdapat sejumlah kriteria yang harus dipenuhi dalam perumusan perencanaan pembelajaran pada pelaksanaan  kurikulum 2013. Pertama merancang kompetensi yang seimbang antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang hendak diwujudkan. Kejelasan kompetensi akan sangat membantu dalam merancang materi …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PEMBELAJARAN

Pengajaran Bilingual : Bagaimana Seharusnya?

Submitted by on February 11, 2009 – 3:19 amOne Comment | 358

Kalau kita perhatikan dengan seksama, sesungguhnya pemerintah belum mengembangkan solusi yang sistematis dalam menghadapi berbagai persoalan yang mencuat dari pelaksanaan pembelajaran bilingual. Pemerintah sampai saat ini bersikap menyerahkan urusan ke sekolah. Hal itu terlihat pada respon pemerintah terhadap dua masalah utama yaitu penyediaan guru MIPA yang pandai berbahasa Inggris dan bagaimana menyediakan sumber belajar untuk guru dan siswa yang berbahasa Inggris.

Amanat Undang-undang tidaklah cukup diwujudkan pada penetapan standar dan penyediaan block grant. Namun harus ditindaklanjuti dengan mengembangkan strategi pengembangan kompetensi guru, penyediaan sumber belajar pada tingkat nasional, pelaksanaan strategi dan pengevaluasian kinerja.

Sekolah perlu memiliki sistem perencanaan mutu yang jelas untuk menghadapi masalah peningkatan standar kompetensi guru maupun standar sumber belajar. Sebagaimana telah diuraikan dalam PP 19 tahun 2005 sekolah seharusnya :

  • Memiliki rencana jangka menengah maupun jangka pendek dengan target yang realistis dan terukur.
  • Memiliki instrumen pengukuran ketercapaian kinerja dengan indikator yang dapat diamati
  • Melaksanakan audit atau evaluasi pelaksanaan dan menghimpun informasi tentang perkembangan kompetensi guru
  • Memiliki ketersediaan sumber belajar
  • Memiliki data penggunaan bahasa Inggris dalam pelaksanaan belajar di kelas
  • Berdasarkan hasil kunjungan ke beberapa sekolah diperoleh informasi sebagai berikut :

  • Sekolah belum memiliki program dengan tahapan kegiatan yang menggambarkan tahap-tahap pelaksanaan program
  • Sekolah belum menetapkan target program atau kriteria pencapaian maupun instrumen pengukuran yang akan digunakan untuk melaksanakan inspeksi, verifikasi, dan validasi yang sesuai dengan kaidah pengelolaan mutu.
  • Model penghitungan komposisi persentase penggunaan bahasa Inggris – bahasa Indonesia belum dapat ditelusuri pada implementasi yang terukur.
  • Sampai saat ini sebagian sekolah telah melaksanakan pengukuran bekal kemampuan bahasa Inggris siswa dengan menggunakan test TOEFL atau sejenisnya. Namun banyak sekolah yang belum mampu menunjukkan data bekal ajar siswa sebagai dasar penetapan standar. Oleh karena itu daya prediksi sekolah untuk menentukan target yang diharapkan dapat diwujudkan sulit ditetapkan.

    Sekolah dengan akses internet tinggi dan didukung oleh guru yang terampil dalam menggunakan TIK memiliki peluang besar untuk pengembangan pengajaran bilingual. Sekolah dengan kondisi tersebut dapat mengembangkan kultur pembiasaan penggunaan bahasa Inggris.

    Hasil pemantauan ke sekolah menunjukkan suasana di sebagian besar sekolah yang interaksi kesehariannya belum mulai menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi salah satu indikator penting bahwa perjalanan menuju standar yang diharapkan masih jauh.

    Fakta lain yang muncul adalah bahwa sekolah belum memiliki perencanaan pengembangan mutu yang sistematis dan terstandar dengan instrumen pengukuran implementasi secara tertulis. Peningkatan kompetensi guru umumnya diwujudkan dalam bentuk satuan program seperti kursus, English Day, magang dan penggunaan internet. Program ini belum disertai model pentahapan pelaksanaan dengan target yang terukur sehingga sekolah belum dapat mengukur perkembangaannya dari waktu ke waktu.

    Walaupun sebagian sekolah telah melaksanakan pengukuran dengan test TOEC atau TOEFl, namun belum ada yang melakukan pengukuran langsung terhadap pelaksanaan pengajaran dalam kelas. Model instrumen semacam ini perlu segera dipikirkan dan dibuat.

    Sekolah telah memiliki bantuan tenaga ahli berupa konsultan. Namun demikian, sekolah belum memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan tenaga ahli. Hal ini dikarenakan program yang dimiliki sekolah belum merinci fungsi konsultan dalam meningkatkan mutu secara sistematis, terstruktur, terstandar dan terdokumentasi. Bahkan pada sekolah yang telah bersertifikasi ISO sekalipun pada umumnya belum menyertakan konsultan dalam struktur kerangka pengelolaan mutu sehingga fungsi konsultan belum optimal.

    Pada beberapa sekolah yang saya kunjungi belum banyak dilakukan komunikasi guru dan siswa di luar kelas. Kondisi ini sangat bergantung pada dedikasi dan komitmen guru untuk melakukan pelayanan belajar. Hal ini telah berjalan dengan baik di sebagian sekolah. Pada sebagian besar sekolah komitmen guru untuk mengembangkan interaksi dengan siswa tidak setiap saat tampak. Namun demikian, ada sebagian kecil sekolah yang telah berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk menyambut tamunya.

    Belum banyak Kepala Sekolah yang mampu berkomunikasi bahasa Inggris secara aktif. Data kemampuan Kepala Sekolah berdasarkan hasil evaluasi kinerja tahun 2008 adalah sebagai berikut :

    No Keterangan Jumlah %
    1 > 500 17 8,7
    2 400-499 74 38
    3 <399 60 30,7
    4 Belum diisi 44 22,5
    Jumlah 195 100

    Data tahun 2008 menunjukkan bahwa 46,7 % dari 197 kepala sekolah yang dievaluasi memperoleh nilai TOEC di atas 400. Sedangkan yang di bawah 400 terdapat 30 %. Sementara sisanya belum diketahui tingkat kemampuannya. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun belum diketahui berapa jumlah kepala sekolah yang memiliki nilai TOEC kurang dari 400. Realita di lapangan telah berubah, sementara pergantian kepala sekolah R-SMA-BI belum menggunakan kriteria berkompeten dalam bahasa Inggris. Sehubungan dengan hal itu, sebagian besar kepala sekolah belum menjadi motor penggerak tumbuhnya kultur berbahasa Inggris, melainkan baru sebagai penggalang dan penganjur.

    Dari segi masyarakat, sebenarnya tidak terdapat masyarakat yang menentang pelaksanaan program bilingual. Bahkan, masyarakat ekonomi tinggi sangat mendambakan gairah percepatan dalam pengembangan kultur berbahasa Inggris. Sebaliknya masyarakat lainnya lebih bersikap apriori.

    Referensi :

    Baca, Leonard M and Cervantes, Hermes T. 1991. Bilingual Special Education ERIC Clearinghouse on Handicapped and Gifted Children Reston VA. http://www.ericdigests.org/pre-9219/education.htm

    PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

    Stephen Krashen. 1997. Why Bilingual Education? ERIC Digest http://www.ericdigests.org/1997-3/bilingual.html

    One Comment »

    Leave a comment!

    Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

    Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

    You can use these tags:
    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


    Facebook Comments