TOPIK UTAMA »

October 28, 2014 – 12:51 am | 1,460

Proses penilaian prestasi kerja guru maupun kepala sekolah seharusnya sudah  dimulai pada bulan Januari  bersamaan dengan menetapkan SKP. Pelaksanaan penilaian kuantitas, kualitas, waktu dan biaya seharusnya tuntas pada bulan Desember 2014. Namun demikian, kita dapat …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PEMBELAJARAN

Pembelajaran Sastra Indonesia di Sekolah : Antara Harapan dan Realita

Submitted by on January 25, 2011 – 12:37 am5 Comments | 4,882

Persiapan pembelajaran sastra dan pembelajaran apa pun akan selalu terpaut pada pendekatan manajerial dan pendekatan pedagogis. Pendekatan manajerial berkaitan dengan bagaimana pembelajaran direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi. Pendekatan pedagogis atau substansi berkaitan dengan materi pelajaran, karakteristik belajar siswa, serta mengenali potensi siswa yang relevan dengan kesiapan untuk mendapatkan pelajaran dan hasil yang diharapkan.

James M. Lipham dan James A. Hoeh menjelaskan bahwa berbagai pendekatan manajerial yang bersifat teoritis ini memandu pendidik menganalisis program, memonitor program, evaluasi outcome dan membuat keputusan pendidikan untuk menghadirkan pendekatan sistem administrasi seperti Need Assesment (NA), Management by Obective (MBO), Program Evaluation Review Technique (PERT), dan Management Information System (MIS) [1]

Pendekatan NA mengarahkan pembelajaran mendefinisikan kompetensi siswa sesuai dengan  harapan orang tua siswa dan sekolah serta relevan dengan kebutuhan hidup siswa menghadapi tantangan jamannya. Tiap kompetensi dirumuskan sesuai dengan konteksnya perekembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan persaingan lokal maupun global.

Pendekatan MBO menempatkan tujuan sebagai poros seluruh aktivitas pembelajaan. Pembelajaran yang efektif adalah yang mencapai tujuan. Oleh karena itu, indikator pencapaian tujuan menjadi bagian penting perumusan. Demikian pula target pada tiap indikator perlu didefinisikan dalam perencanaan. Sukses pembelajaran tercermin dari nilai kinerja dalam mewujudkan target pada tiap indikator pencapaian kompetensi.

Penerapan PERT dapat memandu guru untuk menggunakan teknik evaluasi program. Biasanya ukuran keberhasilan program adalah menggunakan dua indikator utama yaitu keterlaksanaan program dan hasil yang terwujud. Keterlaksanaan program dapat diukur dengan seberapa banyak waktu yang digunakan dibandingkan dengan target. Demikian pula hasil diukur dengan membandingkan atara realita yang dapat diwujudkan dengan target yang diharapkan.

Pendekatan MIS merupakan dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan alat untuk mendukung pembelajaran dan sumber. Teknologi informasi dan komuniksi (TIK) dapat mempermudah perencanaan , pelaksanan dan evaluasi pembelajaran. TIK juga dapat menyediakan sumber belajar. Dengan bantuan TIK informasi yang dapat siswa peroleh membanjir, karenanya kompetensi utama yang perlu siswa kuasai adalah bagiamana memilih inoformasi yang cukup dan tepat sesuai dengan kebutuhan pengembangan kompetensi sesuai target.

Pendekatan pendagogis  berkaitan dengan konsep yang dapat guru tampilkan dalam menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial,kultural, emosional, dan intelektual. Di samping itu, berkaitan pula dengan penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik serta mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.[2]

Tujuan Pembelajaran Sastra

Tujuan umum pembelajaran sastra merupakan bagian dari tujuan  penyelenggaraan pendidikan nasional yaitu mewujudkan suasana dan pdroses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[3]

Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tujuan khusus di bawah ini.

  1. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
  2. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
  3. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Pengajaran sastra membawa siswa pada ranah produktif dan  apresiatif. Sastra adalah sistem  tanda karya seni yang bermediakan bahasa. Pencipataan karya sastra merupakan keterampilan dan kecerdasan intelektual dan imajinatif. Kaya sastra hadir untuk dibaca  dan dinikmati, dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan.

Pembelajaran sastra menurut panduan penerapan KTSP perlu menekankan  pada kenyataan bahwa  sastra merupakan seni yang dapat diproduksi dan diapresiasi sehingga pembelajaran hendaknya bersifat produktif-apresiatif. Konsekuensinya, pengembangan materi pembelajaran, teknik, tujuan, dan arah pembelajaran harus menekankan pada kegiatan apresiatif.[4]

Pengembangan kegiatan pembelajaran apresiatif merupakan usaha untuk membentuk pribadi imajinatif yaitu pribadi yang selalu menunjukkan hasil belajarnya melalui aktivitas mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan tata artistik baru, mewujudkan produk baru, membangun susunan baru, memecahkan  masalah dengan cara-cara baru, dan merefleksikan kegiatan apresiasi dalam bentuk karya-karya yang unik.

Potensi individu seperti itu  menurut para ahli pendidikan akan berkembang jika mendapat dukungan kultur lingkungan yang menghargai percobaan, melakukan langkah-langkah spekulatif, fokus pada pengembangan ide-ide baru, bahkan melakukan hal yang tidak dapat dilakukan orang sebelumnya. Semua potensi dikembangkan melalui pengulangan yang variatif sehingga terbentuk mutu keterampilan yang terasah.

Mengembangkan Potensi Pribadi Imajinatif, Kreatif, dan Produktif

Semua bangsa berlomba-lamba  dalam melakukan pembaharuan pengajaran agar dapat membangun mutu sumber daya manusia yang tangguh sebagai modal  persaingan global.  Pembelajaran menjadi strategi bangsa untuk memenangkan persaingan atau sekurang-kurangnya untuk memperoleh mutu yang setara dengan yang dapat bangsa lain wujudkan.

Pembelajaran terus dikembangkan agar menunjang terbentuknya pribadi yang imajinatif, kreatif, dan produktif. Semangat pembelajaran tidak lepas dari dua kata kunci yaitu kolaborasi dan kompetisi. Individu secara terus menerus dikembangkan dalam kerja sema kelompok. Sejalan dengna itu, pembelajaran memerlukan berbagai pendekatan khusus, seperti menerapkan pendekatan intelektual, imajinatif, kreatif, produktif, kolaboratif,  kompetitif dan menggunakan teknologi.

Adaptasi Taksonomi Bloom’s

Seperti yang telah kita pahami bersama bahwa pada tahun 1956 Benjamin Bloom memimpin sekelompok psikolog pendidikan yang mengembangkan klasifikasi tingkat perilaku intelektual penting dalam belajar. Membagi ranah pengembangan kompetensi berlajar dalam ranah kognitif, apektif dan psikomotor.

Pada tahun 1990-an kelompok baru psikolog kognitif yang dipimpin Lorin Anderson -mantan mahasiswa Bloom – merespon kebutuhan akibat tumbuhnya pembaharuan sehingga memperbarui pemetaan pada ranah kognitif  dengan meng- update struktur kecakapan berpikir[5]

Pemetaan kemampuan berpikir yang lama dan baru dapat dilihat di bawah ini.

Pada gambar di atas tertera jelas bahwa puncak kemampuan berpikir siswa bukan lagi kemampuan untuk mengevaluasi tertapi berkreasi. Hal ini semakin menegaskan tentang pentingnya pengembangan daya intelektual dalam penguasaan pengetahuan, menerapkan pengetahuan dan mengasah  keterampilan menerapkan ilmu yang dipadukan dnegna   imajinasi dalam menghasilkan produk baru.

Mengembangkan kreativitas produk baru bersifat relatif. Kebaruan bisa diukur dengan indikator belum pernah ada sebelumnya di sekolah atau belum pernah ada dalam ruang lingkup pembelajaran yang dipandu oleh seorang guru. Sesuatu dinyatakan baru bisa karena memiliki unsur yang berbeda dari sebelumnya, mengubah dari yang sudah ada, menambah unsur, merekomposisi unsur sehingga produk belajar tampil beda.

Karya yang siswa kembangkan merupakan upaya penerapan pengetahuan yang telah dipelajarinya. Keterampilan menjadi penguat penguasaan ilmu pengetahuan sehingga memenuhi kaidah belajar learning to do.  Keunikannya mengubah hayal menjadi realita. Mengubah realita yang terserak dalam fakta yang alamiah menjadi karya yang teratur dan bernilai.

Pengembangan Imajinasi Model Cambridge

Pemembangan kompetensi berkreasi tercermin kuat pada konsep yang dikembangkan dalam kurikulum Cambridge untuk masa ujian tahun 2012.  Pembelajaran bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan hidup yang meliputi berbagai aspek sepeti di bawah ini.

  • Read, interpret and evaluate texts through the study of literature in English.
  • Develop an understanding of literal and implicit meaning, relevant contexts and the deeper themes or attitudes that may be expressed.
  • Recognise and appreciate the ways in which writers use English to achieve a range of effects.
  • Present an informed, personal response to materials they have studied.
  • Explore wider and universal issues, promoting better understanding of themselves and of the world around them.[1]

Daya imajinasi siswa dipicu dengan pertanyaan seperti sepeti pada contoh di bawah ini.

  • Personal response:  ‘What do you think?’,
  • “‘What are your feelings about…?’
  • and sometimes by implication: ‘Explore the ways in which…’.

Pertanyaan seperti  ‘ Setelah membaca itu, apa yang kamu pikirkan?’  atau ‘ Perasaan seperti apa mengenai hal itu? Atau kita berbicara mengenai implikasi dari sesuatu yang siswa pelajari, misalnya, setelah menelaah materi itu apakah kamu memiliki ide untuk mengeksplorasi cara lain ….? atau kita memicu imajinasi siswa dengan pertanyaan, apakah ada hayalan lain yang lebih unik. Cobalah ceritakan atau tuliskan!

Pertanyaan adalah senjata guru untuk memicu tumbuhnya pemikiran, perasaan, ide, hayalanbaru. Keterlatihan adalah kunci menyempurnakan kompetensi terbaik. Namun semua harus dipadukan dengna  daya mengeksplorsi yang dituangka dalam bentuk karya.Karya terbaik adalah puncaknya keberhasilan siswa belajar.

Penguatan pengetahuan dikembangkan dengan aktivitas seperti di bawah ini.

  • Knowledge of the text by referring to details and using quotations.
  • Understanding of characters, relationships, situations and themes.
  • Understanding of the writer’s intentions and methods, and comment on the writer’s use of language.

Membaca teks, menganalisis lebih detil kandungan bacaan, menggunakan penada mengenai hal yang siswa pandang penting sebagai dasar untuk mengembangkan ide lain. Memahami karakter, hubungan antar kejadian, sutasi dan tema.

Semuanya itu berguna untuk membangun  karakter baru, hubungan baru, situasi baru, tema baru pada saat mengembangkan ide baru. Mulailah berkarya dari ide orang yang memiliki ide yang hebat.

Siswa belajar mengenai bagaimana orang lain melukiskan, mengurutkan, mengomentari sesuatu. Belajarkan siswa menulis dengan cara menulis. Tidak ada kiat lain yang lebih hebat. Kalau kita ingin siswa pandai membaca, perbanyaklah mereka membaca. Kalau kita ingin siswa pandai menulis, perbanyaklah mereka menulis.

Cambrigde mengarahkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan seperti di bawah ini:

Aim:

  • Communicate accurately, appropriately and effectively in speech and writing.
  • Understand and respond imaginatively to what they hear, read and experience.
  • Enjoy literature and appreciate its contribution to aesthetic and imaginative growth.
  • Explore areas of universal human concern, which will lead to a better understanding of themselves and others.

Berkomunikasi untuk menyampaikan  ide secara lisan atau tulisan dengan tepat, akurat, dan efektif. Mengerti dan menunjukkan respon hal yang didengar, dibaca, dan dialami. Tujuan ini sama saja dengan pembelajaran di negara mana pun. Gemar mengapresiasi, memperkuat budi halus dalam merespon berbagai hal yang berkenaan dengan  kehidupan manusia.

Kemampuan belajar siswa diarahkan untuk menguasai berbagai kompetensi yang diukur dengan sistem pengukuran yang memiliki tujuan pengukuran sebagai berikut:

Assessment objectives

  • Candidates should be able to:
  1. Show detailed knowledge of the content of literary texts.
  2. Understand the ways literary texts can be interpreted, from surface level to deeper awareness of ideas and attitudes.
  3. Recognise and appreciate ways in which writers use language.
  4. Recognise and appreciate other ways in which writers achieve their effects (e.g. structure, plot, characterisation, dramatic tension, imagery, rhythm, setting and mood).
  5. Communicate a sensitive and informed personal response to what is read.

Dari telaah silabus terlihat kata-kata kunci show detailed, understand, interpreted, recognise, dan communicate.

Hal tersebut menandakan bahwa learning to do menajadi fokus utama belajar, lebih jauh lagi yakni menekankan pada pentingnya  siswa karya. Kata-kata operasional  mencerminkan karya siswa seperti apa yang harus diukur. Di samping itu, pembelajaran memberikan tempat yang sangat penting terhadap pengembangan imajinasi. Oleh karena itu, pembelajaran menjadi wahana pengembang kapasitas siswa yang berjiwa kretif dan imajinatif.

KTSP

Kerangka umum  pengaturan pembelajaran sastra Indonesia tertuang  pada berbagai standar kompetensi   dan kompetensi dasar seperti di bawah ini.

SK  Mengungkapkan keindahan alam melalui kegiatan menulis kreatif puisi

  • KD 1. Menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam
  • KD 2. Menulis kreatif puisi berkenaan dengan peristiwa yang pernah dialami

Penilaian:

  • Tulislah puisi tentang keindahan alam dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik.
  • Pilihlah obyek apapun yang kamu sukai di luar kelas untuk kamu amati

Standar Kompetensi:Memahami teks drama dan novel remaja.

  • KD1. Membuat sinopsis novel remaja Indonesia
  • SK: Mengungkapkan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama.
  • KD1: Menulis kreatif naskah drama satu babak dan memperhatikan keaslian ide.

Penilaian

  • Penilaian: KD1: Susunlah kerangka cerita drama berdasrkan cerita yang sudah kamu pilih kemudian kamu kembangkan menjadi naskah drama

Standar Kompetensi: Mengungkapkan kembali pikiran, dan perasaan dan pengalaman dalam cerita pendek.

  • KD1 : Menulis kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang pernah dibaca
  • KD 2: Menulis cerita pendek  bertolak dari peristiwa yang pernah dialami

Penilaian :

  • Tulislah cerpen berdasrakan peristiwa yang pernah kamu alami dengan langkah: datalah peristiwa yang pernah kamu alami, pilihlah salah satu peristiwa yang berkonflik, tentukan alur cerita, kembangkan menjadi sebuah cerpen dan suntinglah.
  • Tulislah ide-ide pokok cerpen yang sudah kau baca sesuai dengan alurnya!

Analisis Empirik

Dalam implemtasi pembelajaran sastra di sekolah masih berorientasi pada menambah pengetahuan dan pengalaman mengapresiasi karya. Daya imajinasi dan mengsilkan karya belum menjadi fokus utama pendidikan.

Perencanaan kompetensi pada implementasi KTSP di sekolah menujukkan peta yang seragam.  Indikator pembelajaran  belum dikembangkan secara variatif menurut kebutuhan pengembangan pengetahuan, kerampilan dengan pendekatan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan produktif dalam rangka mengasah imajinasi untuk menghasilkan karya-karya terbaru.

Rumusan indikator pembelajaran masih berorientasi pada penguasaan pengetahuan sebagai puncak pencapaian kegiatan belajar, bukan untuk menghasilkan karya-karya unik.

Kegiatan membaca belum dijadikan sumber inspirasi utama. Pengembangan daya imajinasi siswa masih banyak yang digali dari pengalaman pribadi siswa sehingga karya yang siswa hasilkan belum berkembang karena strategi pembelajaran tidak dimulai dari karya-karya yang sudah ada. Mengembangkan ide dari karya yang sudah ada memerlukan daya baca yang lebih banyak sehingga pengalaman intelektual dan pengalaman batin siswa tidak hanya menjelajah pengamalaman dirinya sendiri melainkan juga menjelajah pengalaman yang sudah dilalui orang lain.

Penggunaan teknologi informasi yang telah terbukti dapat meningkatkan gairah kerja sama dalam mendapatkan informasi baru dan menjadi alat untuk membangun motivasi menghasilkan dan memamerkan karya belum dilakukan oleh guru-guru bahasa Indonesia secara optimal.

Oleh karena itu, pada bagian akhir tulisan ini ada baiknya para pembaca yang budiman melihat pameran hasil karya sastra pada dua alamat web di bawah ini.

Puisi Cinta Singapura


Naskah ini ditulis oleh Dr. Rahmat (Pengawas Pembina SMA di Kota Bogor)  sebagai bahan kajian dalam Seminar pada tanggal 24 Januari 2011 yang diselenggarakan oleh Himpunan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Pendidikan Universitas Pakuan Bogor.

Referensi:


[1] James M. Lipham & James A. Hoeh. Jr. 1974. The Pincipalship: Foundation and Functions. Library of congress Cataloging Harper&Row Publishers, NewYork, Evanston, San Fran cisco, London.

[2] Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

[3] UU Sitem Pendidikan Nasioanal Nomor 20 Tahun 2003.

[4] Pedoman Khusus KTSP Bahasa Indonesia

[5] Wiki pedia, http://www.odu.edu/educ/roverbau/Bloom/blooms_taxonomy.htm

5 Comments »

  • bekti patria says:

    yang juga menjadi masalah adalah tidak semua guru bahasa Indonesia menyukai sastra. sehingga para guru ini terkesan ogah-ogahan ketika harus mengajarkan sastra.

  • admin says:

    Benar Bu Bekti, sekali pun begitu, minimal mereka dapat menjadi fasilitator agar siswa belajar bagaimana mempelajari, menikmati, bahkan menghasilkan karya sastra karena inisiatifnya yang terdorong. Salam

  • made agustus says:

    guru bahasa Indonesia belum tentu menjadi guru sastra yang baik., mengapa? Karena tidak semua guru bahasa Indonesia memiliki kompetensi bersastra

  • Mardiah says:

    Aslamualaikm…

    makasih sudah membantu tugas ana…

    Bisa tambahkan implikasinya di dalam pembelajaran sastra?!

  • rosmiati says:

    waduh…saya guru bahasa indonesia sekaligus sastra indonesia di jurusan bahasa. Saya sangat menyukai mapel sastra, tapi saya mengalami kendala materi yang sesuai dengan kurikulum karena tidak ada buku acuannya untuk itu. Tolong dong dibagi ke saya materi sastranya.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments