Topik Utama »

June 17, 2013 – 6:57 am | 95

Kurikulum boleh berubah berulang-ulang, namun apabila guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah tidak berubah maka hasilnya akan sama saja. Seperti yang telah kita alami sebelumnya, perubahan kurikulum hanya sebatas dokumen. Pergeserannya tidak mengubah banyak prilaku …

Read the full story »
Info

Merefleksikan realita dengan stuktur yang cerdas

Pembelajaran

Berilmu, terampil belajar, dan memecahkan masalah..

Pengelolaan

Realistis, konsisten, persisten dan bekelanjutan.

Daya Insani

Menciptakan ide, metode, layanan, dan produk baru.

Supervisi

Membantu kepala sekolah dan guru mewujudkan tujuan .

Home » Pembelajaran

Menilai Kompetensi Psikomotorik

Submitted by on September 27, 2009 – 6:40 pm4 Comments | 1,110

Bagaimana menilai kompetensi psikomotorik? Masalah ini kita angkat untuk memenuhi janji kepada salah satu teman pembaca. Bisa jadi masalah ini dihadapi pula oleh para guru yang lain.Secara umum tujuan pendidikan menurut  taksonomi Bloom terbagi dalam tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada ranah kognitif, Bloom menetapkan level berpikir yang mendasari penguasaan ilmu pengetahuan dari mulai ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Ranah psikomotor menurut  informasi   situs yang menjadi salah satu sumber teori kita kali ini ( http://www.humboldt.edu/~tha1/bloomtax.html ) membagi keterampilan seperti  ini : (1) gerak reflek (2) gerak reflek fundamental (3) keterampilan perseptual (4) keterampilan fisik (5) keterampilan  gerakan tubuh (6) keterampilan  diskursif.

Dikaitkan dengan pelaksanaan tugas pendidik, guru biasa merumuskan pertanyaan atau tugas. Pada pertanyaan atau tugas  dapat dikembangkan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal itu sangat bergantung pada pilihan profesional pendidik. Pilihannya dapat menitikberatkan  sesuai dengan komnpetensi yang siswa butuhkan. Bisa dalam bentuk  penguasaan ilmu pengetahuan atau kompetensi keterampilan, atau keduanya dikembangkan secara simultan.

Beberapa contoh keterampilan, mengembangkan kecakapan bicara, pidato, membaca, mengetik, dan mengunggah informasi melalui blog. Bentuk keterampilan yang manipulatif serperti belajar menjadi pilot pesawat terbang, meningkatkan kecakapan mengelola ekspor-impor dalam perdagangan internasional, melaksanakan persidangan di penadilan, termasuk mengurus harimau di kebun binatang. Yang terakhir ini penting dismanipulasi karena harimau tidak dapat dihadirkan bersama guru dan siswa dalam kelas.

Telaah kepusatakaan di negara maju antara ranah kognitif dan psikomotor mendapat perhatian yang seimabang  dan dihadirkan secara simultan dalam proses pembelajaran di kelas atau di labolatorium. Jika guru mengajarkan teori tentang kloning binatang, maka keterampilan yang harus siswa kuasai adalah memahami teori dan menerapkan  dalam kegiatan nyata.

Sebaliknya, di negara kita guru-guru lebih suka mengarahkan pengajaran pada penguasaan ilmu pengetahuan. Akibatnya, siswa memiliki tingkat kepandaian teoritis, namun sedikit mendapatkan keterampilan menghasilkan produk kinerja belajar. Akhir pembelajaran sering dikuatkan dengan latihan soal sehingga sekolah-sekolah kita hanya mampu melahirkan sumber daya manusia yang menjadi persoalan atau mengembangkan masalah. Lain halnya  dengan siswa yang terlatih keterampilannya. Setamat sekolah dan menjadi dewasa mereka berkembang menjadi orang-orang yang menghasilkan produk hand  phone baru, motor baru, mobil baru, software baru.

Atas dasar prinsip ini, pendidikan di negara-negara maju membangun etos kerja, bermunculan produk teori baru dalam bentuk barang hasil industri yang sangat inovatif. Dalam bidang genetika, misalnya, melahirkan binatang ternak unggul. Di negara yang pendidikannya kurang bermutu menghadirkan mutu seadanya, mengekor dalam penelitian, jadi makmum dalam teori, dan jadi pengguna hasil industri.

Kembali ke persoalan utama,  teman kita bertanya, keterampilan apa yang harus dinilai? Untuk menjawab pertanyaan ini  dapat dilihat dari dua kepentingan. Pertama dari kepentingan khas kebutuhan mutu tingkat satuan pendidikan. Pertama, keterampilan dikembangkan berdaarkan tujuan pembelajaran, apa indikator yang guru tetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Prinsip kedua, adalah pilihan ideal, merujuk pada keterampilan yang di sekolah di negara-negra  maju, ketrampilan untuk mengembangkan daya saing. Lebih dari itu, iInstrumen evaluasi pada prinsipnya menilai apa yang menjadi tujuan pembelajaran.

Secara generik gerak dan keterampilan seperti apa yang guru harapkan tentulah merujuk pada apa yang menurut teori seharunya guru lakukan.

Secara teknis dalam persiapan di laboratorium biologi guru menyiapkan terlebih dahulu matrik yang biasanya disebut Format Acuan Penilaian (FAP). Contoh seperti di bawah ini.

Nomor Jenis Keterampilan Deskripsi Penguasaan  Keterampilan Ket
1 2 3 4

1

Gerak reflek

2

Reflek Fundamental

3

Keterampilan Perseptual

4

Keterampilan  Fisik

5

Keterampilan  Gerak Tubuh

6

Keterampilan Diskursif

Deskripsi penilaian keterampilan siswa pada tabel di atas menggunakan empat kategori (1) kurang (2) cukup atau memenuhi kriteria minimal (3) baik, di atas kriteria minimal (4) sangat baik, keterampilannya sempurna sebagimana yang diharapkan.

Jenis keterampilan pada contoh di atas menggunakan jenis keterampilan generik yang dikutip langsung dari uraian teori dasar. Dalam kebutuhan praktis seperti di laboratorium, di lapangan olah raga, di ruang kesenian, di ruang produksi karya ilmiah tentu memiliki karakter yang berbeda-beda. Yang menentukan apa yang hendak dinilai, mutu kriteria kinerja belajar adalah pendidik. Mereka memiliki kewenangan penuh.

Dalam menetukan kriteria mutu idealnya pendidik memiliki dua model,  benchmarking internal merujuk pada hasil terbaik yang sudah siswa wujudkan pada angkatan sebelumnya dan benchmarking eksternal dapat menggunakan  ketrampilan yang telah siswa sekolah lain  capai dari sekolah yang lebih baik.

4 Comments »

  • rose says:

    ada ga materi/contoh simulasi team building tuk melatih kompetensi psikomotorik?

  • Etty says:

    Ada tambahan:
    Jika siswa belajar mencangkok, maka penilaian psikomotornya (unjuk kerja) antara lain:
    - cara memilih batang yang akan dicangkok
    - cara memotong kulit batang
    -cara mengikat tanah pada batang tanpa kulit agar akarnya keluar
    - dst….

  • admin says:

    Ide Bu Etty sangat baik, nanti intrumen kita sempurnakan, saat kami menyusunnya belum terpikir bagaimana menilai pengalaman belajar siswa yang berproses di lapangan yang menghasilkan karya nyata. Terima kasih.

  • I’d be inclined to set with you one this subject. Which is not something I usually do! I love reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to speak my mind!

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments