TOPIK UTAMA »

July 18, 2014 – 5:18 pm | 117

Menyongsong pelaksanaan tahun pelajaran baru serta memperhatikan pelaksanaan penilaian prestasi kerja yang meliputi Sasaran Kerja Pengawai (SKP) dan penilaian perilaku kerja yang efektif berlaku mulai tahun 2014 pasti akan menimbulkan konsekuensi baru dalam pelaksanaan tugas, …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » PEMBELAJARAN

Visi-misi Sebagai Kompas Pergerakan Peningkatan Mutu Pembelajaran

Submitted by on August 18, 2009 – 11:37 pm3 Comments | 1,324

Hasil observasi selama melakukan kunjungan ke berbagai sekolah dalam melaksanakan pembinaan melalui kegiatan bimbingan teknis tahun 2009 pada  SMA bertaraf internasional, penulis memperoleh banyak informasi yang dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat. Salah satu hal yang penting adalah fakta bahwa sebagian sekolah belum  menganalisis dan mendefinisikan  mutu lulusan sebagai penjabaran dari indahnya pernyataan visi dan misinya.  Sekolah menyatakan visi dan misi yang mendeskripsikan harapan yang tinggi, namun banyak sekolah yang belum menerjemahkan  pada indikator mutu lulusan bertaraf  nasional dan internasional. Juga belum mengembangkan indikator mutu pada standar lainnya yang terkait bagaian dari unsur penunjang  pengembangan mutu sesuai kriteria standar.

Prinsip penerapan standar adalah menetapkan profil awal sebagai dasar untuk meningkatkan mutu dan menentukan target yang hendak dicapai. Meningkatkan mutu berarti  mengusahakan mencapai target. Kinerja yang optimal artinya produktivitas kegiatan mencapai target yang diharapkan atau lebih baik.

Kejelasan dalam menterjemahkan visi dan misi ke dalam aksi-aksi yang terukur dengan kriteria kompetensi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang jelas dalam tiap disiplin ilmu merupakan bagian penting dalam menerapkan standar. Bagi sekolah, jelasnya indikator kompetensi lulusan, bagai arsitek yang mendisain gambar rumah yang hendak dibangun. Jelas penampilan akhirnya, jelas bentuknya pengaturan teknisnya sehingga berguna sebagai pedoman dalam proses pembangunannya.

Data membuktikan bahwa sampai pada pernyataan visi dan misi, seluruh sekolah memiliki cita-cita yang tinggi. Harapan yang tinggi sangat berpotensi dan menjadi sumber semangat peningkatan mutu. Pernyataan visi-misi tergambar seperti berikut:

  • Seluruh sekolah memiliki perhatian yang baik mengenai pentingnya pernyataan visi dan misi. Semua sekolah menegaskan  perhatian pada peningkatan  keimanan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguasaan teknologi. Terdapat pernyataan yang mirip pada hampir seluruh sekolah yaitu berlandaskan keimanan dan ketakwaan, prestasi atau kompetisi dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Mempublikasikan visi dan misi pada berbagai media sebagai pernyataan formal sekolah.
  • Mendeskripsikan secara umum pada konsentrasi sekolah meningkatkan kompetensi siswa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Menunjukkan kuatnya  keyakinan bahwa  sekolah dapat berprestasi sebagaimana  harapan yang dideskripsikan pada visi dan misi sekolah yang ideal.

Deskripsi standar kompetensi lulusan

Rumusan mutu yang tercermin pada visi dan misi sekolah belum tentu tercermin pada  implementasi dan aksi. Pada beberapa sekolah visi-misi belum berfungsi sebagai pilar menjamin standar karena indikator dan target keberhasilannya belum dirumuskan pada indikator dan target yang terukkur. Pada kondisi seperti itu, visi  telah berfungsi sebagai pernyataan cita-cita, namun belum terjabar secara nyata dalam aksi sehari-hari. Visi dan misi belum menjadi kompas untuk semua kegiatan dan tindakan yang  terukur dalam aksi sehari-hari di sekolah atau  dalam pengelolaan kelas.

Kelemahan dalam merumuskan tujuan diperparah dengan  belum ada instrumen penjaminan mutu yang memastikan bahwa visi dan misi yang dijabarkan dalam berbagai strategi terpantau realisasinya. Pada umumnya sekolah belum memiliki instrumen sebagai alat monitoring yang memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan  sekolah mengarah pada tujuan.

Salah satu tujuan SMA adalah mengantarkan  peserta didik agar dapat diterima di perguruan tinggi. Akuntabilitas sekolah ditentukan oleh seberapa banyak siswa yang berhasil mendapatkan perguruan tinggi yang dicita-citakannya. Tingkat efektivitas ditentukan oleh seberapa tinggi kinerja dalam mewujudkan target. Oleh karena itu idealnya sekolah menentukan target seberapa banyak siswa yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi mana yang mereka harapkan.

Ada beberapa persoalan penting yang sekolah hadapi dalam mendeskripsikan lulusan yang diharapkannya, di antaranya:

  • Kompetensi seperti apa yang siswa perlukan untuk dapat lulus Ujian Nasional?
  • Kompetensi seperti apa yang siswa perlukan untuk dapat diterima di perguruan tinggi?
  • Kompetensi seperti apa yang siswa perlukan untuk dapat berkompetisi pada level nasional?
  • Kompetensi seperti apa yang siswa perlukan untuk dapat berkolaborasi pada level internaisonal?
  • Kompetensi apa pula yang siswa perlukan jika tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi?

Sekolah seyogyanya dapat menjawab seluruh persoalan itu. Jawaban itu pada dasarnya dapat ditemukan dari hasil analisis pada setiap mata pelajaran. Oleh karena itu, peran kelompok Musyawarah Guru Mata pelajaran (MGMP) sangat strategis dalam menjabarkan dan mendeskripsikan cita-cita sekolah yang terkandung pada visi dan misi. Sejumlah informasi utama MGMP perlukan, untuk mengembangkan berbagai solusi alternative yang paling logis untuk satu satuan pendidikan.

  • Informasi tentang  materi pelajaran yang secara empirik menjadi bahan ujian nasional (UN).
  • Informasi tentang materi seleksi masuk ke perguruan tinggi. Pada saat ini sekolah menghadapi persoalan yang serius karena masing-masing perguruan tinggi menggunakan instrument tes yang berbeda-beda sehingga rentang analisis sekolah semakin lebar dan memerlukan daya jelajah informasi yang luas.
  • Informasi tentang materi pelajaran yang sesuai dengan keperluan berkompetisi tingkat internasional. Sekolah perlu menghimpun contoh-contoh soal yang digunakan dalam olimpiade sains sehingga pendidik memahami betul tentang materi pelajaran dan sejumlah kompetensi yang sekolah perlu kembangkan dalam mensejajarkan mutu siswa dalam taraf internasional yang berubah dengan cepat dan pada tingkat persaingan yang semakin ketat.
  • Informasi tentang  kompetensi yang siswa butuhkan dalam kegiatan kolaborasi antar siswa pada taraf internasional. Hal utama yang paling strategis adalah meningkatkan kompetensi siswa dalam berkolaborasi dengan menggunakan bahasa Inggris dan teknologi informasi untuk membangun daya kolaborasi berbasis jaringan internet.

Sejumlah informasi di atas merupakan bahan dasar untuk membangun struktur Silabus dan RPP. Menentukan sejumlah indikator pembelajaran yang memenuhi kebutuhan siswa mengembangkan potensi dirinya, menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran yang telah ditentukan dalam SK dan KD, menentukan strategi pembelajaran dan penilaian.

Untuk mempertajam kemampuan pendidik dalam merumuskan tujuan dalam bentuk kompetensi lulusan yang memenuhi kriteria sesuai dengan cita-cita yang dinyatakan pada visi dan misi diperlukan rumusan tujuan, standar, dan rujukan (benchmark). Contoh Pendidikan Illinois menyatakan bahwa dalam menetapkan standar bertaraf internasional dan benchmarks harus memenuhi kriteria berikut:

  • Jelas indikator dan targetnya dan bermakna  untuk siswa, keluarga, pendidik, perkembangan bisnis dalam komunitas yang luas.
  • Merupakan integrasi dari ilmu pengetuan dan keterampilan, tidak hanya berupa fakta atau keterampilan saja.
  • Didasari dengan disiplin akademik.
  • Dapat siswa serap sebagai materi belajar, dapat disampaikan dalam berbagai pendekatan pembelajaran, dapat dirumuskan dalam kurikulum, dan dapat dievaluasi.
  • Dapat dikembangkan sebagai bahan evaluasi perkembangan belajar siswa.

Secara umum kriteria di atas mendorong sekolah lebih bersungguh-sungguh mengembangkan kurikulum yang dapat menjawab kebutuhan belajar siswa pada tingkat satuan pendidikan. Kurikulum yang memberi ruang yang luas kepada siswa untuk mengembangkan potensi dirinya dalam melalui peningkatan kemampuan belajar yang meliputi keterampilan:

  • Memecahkan masalah
  • Berkomunikasi
  • Menggunakan teknologi
  • Bekerja sama dalam tim, dan
  • Membangun jaringan

Kesimpulan

Informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa sekolah belum mendeskripsikan mutu lulusan secara rinci dalam bentuk standar kompetensi yang harus siswa kuasai untuk lulus UN di atas standar nasional, lulus seleksi masuk perguruan tinggi, berprestasi pada lomba sains tingkat nasional dan internasional, dan menguasai keterampilan terbaik untuk bersaing dalam kehidupan sebagai dasar untuk menentukan indikator pembelajaran, materi pelajaran, strategi pembelajaran, dan model penilaian.

Kelemahan tersebut muncul karena sekolah belum memahami tentang bagaimana seharusnya sekolah menetapkan standar kompetensi lulusan yang menjadi cita-cita pada visi dan misinya yang dikembangkan ke dalam sejumlah indikator dan kriteria mutu pada tiap mata pelajaran sebagai dasar mengembangkan KTSP.

Karena sekolah belum menetapkan kriteria mutu dengan jelas, maka sekolah belum dapat mengembangkan system instrument penjaminan mutu yang memastikan bahwa system pembelajaran di sekolah sesuai dengan standar yang mengarah pada upaya mencapai tujuan.

Rekomendasi

  • Definisikan dengan jelas kompetensi yang siswa butuhkan untuk dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, berkompetisi  dan berkolaborasi pada taraf lokal, nasional dan internasional.
  • Deskripsikan sejumlah kompetensi itu sesuai dengan disiplin akademik untuk mengembangkan pengetahuan  dan keterampilan yang siswa butuhkan dalam bentuk matrik.
  • Gunakan matrik yang telah tersusun baik sebagai dasar untuk menentukan indikator pembelajaran, kedalaman dan keluasan materi, strategi pembelajaran, dan penentukan instrumen penilaian.
  • Kembangkan instrumen untuk memonitor dan memastikan bahwa proses penyelenggaraan sekolah atau proses pembelajaran mengarah pada tujuan yang tercermin dalam visi dan misi.
  • Kembangkan system informasi hasil evaluasi kinerja sekolah untuk melakukan perbaikan selanjutnya.

(http://www.isbe.state.il.us/ils/pdf/ils_introduction.pdf)

Tags:

3 Comments »

  • Cecep Aunillah says:

    Begitu pula di sekolah dasar Pak. Saya sendiri bingung ketika membimbing guru membuat indikator dalam silabus yang harus mengacu kepada visi misi sekolah. Apalagi sampai ke kompetensi standar kelulusan…. wah, mungkin ini salah satu kelemahan KTSP.

  • admin says:

    Penerapan KTSP mensyaratkan penetapan target mutu lulusan disepakati oleh para pemangku kepentingan di sekolah. Tinggi rendahnya mutu mereka putuskan sesuai dengan sumber daya yang sekolah yang mungkin dapat diwujudkan dengan kriteria ideal di atas standar nasional pendidikan. Kami setuju bahwa sekolah masih memiliki beberapa kelemahan dalam penerapan KTSP yang perlu segera dibenahi…

  • This blog seems to get a great deal of visitors. How do you advertise it? It offers a nice individual spin on things. I guess having something real or substantial to talk about is the most important factor.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments