Mengembangkan Daya Kompetisi Teoritis di Era Nanoedukasi yang Makin Teknis
Perkembangan yang cepat dalam bidang nanoteknologi telah mendorong Amerika, Eropa, Rusia, dan negara maju lainnya di Asia seperti Jepang dan Korea adu cepat mengembangkan nanoedukasi. Langkah strategis tersebut mengiringi para ilmuwan dan para teknorat yang makin terlatih dalam kancah nanoteknologi.Yang tidak kalah strategis adalah memberikan tantangan kepada pendidik mendapat giliran mengembangkan wawasan dan keterampilannya seperti pada fisika, kimia, biologi. Langkah ini segera pula disusul dengan mempersiapkan nanokurikulum yang diintegrasikan pada aplikasi metodologi e learning. Tujuan utamanya adalah mengembangkan SDM paling depan dan paling unggul dalam persaingan di era nanotech.
Pengenalan nonatech dalam program nanoedukasi terus diperluas. Belakang menyentuh siswa, mereka untuk pertama kalinya mendapat peluang menyaksikan nanoteknologi dengan mata dan kepalanya sendiri. Dengan itu, mereka dapat membayangkan gambar aslinya, unsur-unsur benda yang sangat kecil dalam ukuran nanometer (nm).
Seorang Gurubesar dari Universitas ternama di Rusia menyatakan bahwa dirinya yakin bahwa dengan memperkenalkan nanoteknologi melalui nanoedukasi akan berpengaruh positif terhadap perkembangan pendidikan di masa depan. Langkah stratetegis itu akan membuat proses pendidikan di masa depan akan lebih menarik dan lebih mudah dipahami.
Dalam ketatnya persaingan di era nanoedukasi Indonesia memasuki sedang meningkatkan citra pendidikannya melalui peningkatan daya kompetisi pada bidang sains dan teknologi khususnya dalam memenangkan medali olimpiade sains pada tingkat internasional.
Sekali pun strategi ini bukan merupakan solusi yang tepat dalam merespon tantangan dunia, namun prestasi dalam bidang ini diperlukan untuk meningkatkan keyakinan diri bangsa bahwa kita punya anak-anak bangsa yang tidak kalah cerdas jika dibina oleh guru dengan cara yang tepat.
Secara empirik kesertaan dalam kegiatan olimpiade telah membuktikan keunggulan anak-anak Indonesia di dunia internasional. Hanya saja, ketika seleksi ini dikembangkan melalui system pembinaan prestasi dari seluruh sekolah dengan melibatkan begitu banyak siswa, maka maka kebanggaan segelintir pelajar yang memperoleh medali itu tidak dapat menyelamatkan banyak pendidik dan pelajar yang berkecil hati karena kalah bersaing.
Banyak sekolah yang mencoba mengembangkan kemampuan siswa untuk memenangkan persaingan dalam memperebutkan medali pada olimpiade terpaksa harus gigit jari karena kiat pembinaan yang dipilihnya tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Pada umumnya kegagalan itu disebabkan oleh keyakinan para pelatih bahwa sukses itu dapat diperoleh melalui pendalaman teori dan latihan mengerjakan soal.
Memperhatikan dua fenomena besar itu, maka menjelang era nanoedukasi inisiatif Indonesia sedang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa berkompetisi terutama dalam ajang olimpiade. Pada saat bersamaan para pengembang kebijakan di Negara maju sedang mengembangkan daya kompetisi mereka menerapkan nanoteknologi dengan dukungan nano edukasi.
Dampak dari itu, jangan heran jika anak bangsa ini memiliki karakter kuat pengetahuannya, namun kalah daya inovasinya dalam mengembangkan teknologi sehingga dengan strategi pendidikan seperti sekarang agaknya anak Indonesia masih akan mempertahankan status lamanya sebagai konsumen besar dunia yang pandai teori tak pandai bekerja menghasilkan karya.
(Admin)
Tags: nanoedukasi4 Comments »
Leave a comment!















Sekarang pun sudah terjadi di era informasi dan komunikasi bangsa kita hanya sebagai konsumen, penonton mungkin juga the looser ya. Apalagi menghadapi era nanoteknologi bangsa lain sdh mempersiapkan nano edukasi dengan nano kurikulumnya. makin jauh sj bangsa kita tertinggal. Apa ya yang salah dengan pendidikan kita? mungkin harus ada rekontruksi pendidikan kita ya, beserta kurikulumnya. Dan siapakah ya yang harus memulai???????
GP sempat bertemu dengan sekelompok guru dari Spanyol. Saat mereka tahu bahwa Indonesia memberi keleluasaan kepada guru dan sekolah untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikannya berdasarkan kerangka kurikulum nasional, mereka menyatakan bahwa guru-guru Indonesia sangat beruntung diberi peluang itu oleh negaranya. Bagaimana menurut Pak Ardiansyah?
I’d be inclined to give blessing with you here. Which is not something I typically do! I really like reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to speak my mind!
bisakah admin menjelaskan kpn saya paparan mengenai nano_edukasi?
saya berencana untuk mengupasnya, namun sedikit sekali sumber yang saya dapatkan. mohon bantuannya .