Topik Utama »

May 7, 2013 – 10:18 am | 7 Comments | 1,713

Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.
Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada …

Read the full story »
Info

Merefleksikan realita dengan stuktur yang cerdas

Pembelajaran

Berilmu, terampil belajar, dan memecahkan masalah..

Pengelolaan

Realistis, konsisten, persisten dan bekelanjutan.

Daya Insani

Menciptakan ide, metode, layanan, dan produk baru.

Supervisi

Membantu kepala sekolah dan guru mewujudkan tujuan .

Home » Opsi

Mengembangkan Daya Kompetisi Teoritis di Era Nanoedukasi yang Makin Teknis

Submitted by on August 31, 2010 – 8:41 am4 Comments | 144

Perkembangan  yang cepat dalam bidang nanoteknologi telah mendorong  Amerika, Eropa, Rusia, dan negara maju lainnya di Asia seperti Jepang dan Korea adu cepat mengembangkan  nanoedukasi. Langkah strategis tersebut mengiringi para ilmuwan dan para teknorat yang makin terlatih dalam kancah nanoteknologi.Yang tidak kalah strategis adalah memberikan tantangan kepada pendidik mendapat giliran mengembangkan wawasan dan keterampilannya seperti pada  fisika, kimia, biologi. Langkah ini segera pula disusul dengan mempersiapkan nanokurikulum yang diintegrasikan pada aplikasi metodologi e learning. Tujuan utamanya adalah mengembangkan SDM paling depan dan paling unggul dalam persaingan di era nanotech.

Pengenalan nonatech dalam program nanoedukasi terus diperluas. Belakang menyentuh siswa, mereka untuk pertama kalinya mendapat peluang menyaksikan nanoteknologi dengan mata dan kepalanya sendiri. Dengan itu, mereka dapat membayangkan gambar aslinya, unsur-unsur benda yang sangat kecil dalam ukuran nanometer (nm).

Seorang Gurubesar dari Universitas ternama di  Rusia menyatakan bahwa dirinya yakin bahwa dengan memperkenalkan nanoteknologi melalui nanoedukasi akan berpengaruh positif terhadap perkembangan pendidikan di masa depan. Langkah stratetegis itu akan membuat proses pendidikan di masa depan akan lebih menarik dan lebih mudah dipahami.

Dalam ketatnya persaingan di era nanoedukasi Indonesia memasuki  sedang meningkatkan citra pendidikannya melalui  peningkatan daya kompetisi pada bidang sains dan teknologi khususnya dalam memenangkan medali olimpiade sains pada tingkat internasional.

Sekali pun strategi ini bukan merupakan solusi yang tepat dalam  merespon tantangan dunia, namun prestasi dalam bidang ini diperlukan untuk meningkatkan keyakinan diri bangsa bahwa kita punya anak-anak bangsa yang tidak kalah cerdas jika dibina oleh guru dengan cara yang tepat.

Secara empirik kesertaan dalam kegiatan olimpiade telah membuktikan keunggulan anak-anak Indonesia di dunia internasional. Hanya saja, ketika seleksi ini dikembangkan melalui system pembinaan prestasi dari seluruh sekolah dengan melibatkan begitu banyak siswa, maka maka kebanggaan segelintir pelajar yang memperoleh medali itu tidak dapat menyelamatkan banyak pendidik dan pelajar yang berkecil hati karena kalah bersaing.

Banyak sekolah yang mencoba mengembangkan kemampuan siswa untuk memenangkan persaingan dalam memperebutkan medali pada olimpiade terpaksa harus gigit jari karena kiat pembinaan yang dipilihnya tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Pada umumnya kegagalan itu disebabkan oleh keyakinan para pelatih bahwa sukses itu dapat diperoleh melalui pendalaman teori dan latihan mengerjakan soal.

Memperhatikan dua fenomena besar itu, maka menjelang era nanoedukasi inisiatif Indonesia sedang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa berkompetisi terutama dalam ajang olimpiade. Pada saat bersamaan para pengembang kebijakan di Negara maju sedang mengembangkan daya kompetisi mereka menerapkan nanoteknologi dengan dukungan nano edukasi.

Dampak dari itu, jangan heran jika anak bangsa ini memiliki karakter kuat pengetahuannya, namun kalah daya inovasinya dalam mengembangkan teknologi sehingga dengan strategi pendidikan seperti sekarang agaknya anak Indonesia masih akan mempertahankan status lamanya sebagai konsumen besar dunia yang pandai teori tak pandai bekerja menghasilkan karya.

(Admin)

Tags:

4 Comments »

  • Adriansyah says:

    Sekarang pun sudah terjadi di era informasi dan komunikasi bangsa kita hanya sebagai konsumen, penonton mungkin juga the looser ya. Apalagi menghadapi era nanoteknologi bangsa lain sdh mempersiapkan nano edukasi dengan nano kurikulumnya. makin jauh sj bangsa kita tertinggal. Apa ya yang salah dengan pendidikan kita? mungkin harus ada rekontruksi pendidikan kita ya, beserta kurikulumnya. Dan siapakah ya yang harus memulai???????

  • admin says:

    GP sempat bertemu dengan sekelompok guru dari Spanyol. Saat mereka tahu bahwa Indonesia memberi keleluasaan kepada guru dan sekolah untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikannya berdasarkan kerangka kurikulum nasional, mereka menyatakan bahwa guru-guru Indonesia sangat beruntung diberi peluang itu oleh negaranya. Bagaimana menurut Pak Ardiansyah?

  • Mirta Kaza says:

    I’d be inclined to give blessing with you here. Which is not something I typically do! I really like reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to speak my mind!

  • anonim says:

    bisakah admin menjelaskan kpn saya paparan mengenai nano_edukasi?
    saya berencana untuk mengupasnya, namun sedikit sekali sumber yang saya dapatkan. mohon bantuannya .

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments