TOPIK UTAMA »

October 5, 2014 – 10:09 pm | 616

Dalam proses pergeseran dari kurikulum 2006 ke pelaksanaan kerikulum 2013 kepala sekolah memegang peran yang sangat penting. Kepala sekolah dapat menentukan bidang perubahan yang perlu segera perlu penanganan.  Dalam menjalankan peran pimpinan perubahan kepala sekolah …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SISWA

Koperasi Sebagai Wadah Pembinaan Kewirausahaan

Submitted by on October 30, 2009 – 7:21 pm2 Comments | 1,410

imagesSeruan Presiden SBY menegaskan dasar penetapan kibijakan mutu pendidikan, khusunya pembelajaran, sekaligus sebagai spirit permbaharuan agar sekolah  menerapkan metode pembelajaran yang mampu meningkatkan kompetensi kewirausahaan siswa (Kompas, 30 Okt. 2009). Penyataan itu perlu disikapi lebih lanjut dengan panduan teknis pelaksanaannya.

Kesungguhan untuk mengarahkan pembaharuan ke arah sebagaimana Presiden harapkan sangat amat strategis dalam konteks pengembangan mutu sumber daya manusia agar memiliki daya kompetisi pada persaingan global. Masyarakat Uni Eropa sejak tahun 2006 mengembangakan usaha ke arah yang sama dengan meningkatkan kompetesi sumber daya manusia sejak pendidikan dasar hingga universitas. (http://europa.eu/legislation_summaries/education_training_youth/general_framework/htm). Hal serupa dilakukan pula dengan sungguh-sungguh oleh negara China. Dalam hal ini, jika ditelusuri, seluruh negara memiliki harapan untuk dapat meningkatkan daya wirausaha yang kuat sebagai modal persaingan antar bangsa.

Koperasi sekolah sebagai wadah peningkatan mutu kewirausahaan

Jiwa kewirausahaan sebagaimana dijelaskan David Osborn dan Ted Gaebler (1999) dapat dimunculkan pada prilaku dalam organisasi yang utamanya memperluas kemandirian orang-orang mengembangkan insiatif dan menerapkan pikirannya dalam tindakan dalam koridor untuk mewujudkan target yang sesuai dengan visi-misi organisasi. Orang diberi keleluasaan untuk mengembangkan insiatif serta tidak terikat dengan menunggu perintah. Keberanian untuk melakukan tindakan yang perlu asalkan diperhitungkan dengan cermat sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan menjadi dasar  utama kebijakan.

Koperasi dapat mewadahi  pengembangan prilaku itu pada tataran konsep maupun praktis sehingga siswa melalui koperasi tidak hanya mampu mempelajari dan menguasai konsep, namun sekaligus dapat menambah pengalaman dalam menerapkan pengetahuan untuk dikembangkan menjadi keterampilan kewirausahaan.

Koperasi sekolah adalah lembaga usaha yang lingkup keanggotanya terbatas dalam sebuah lingkungan satuan pendidikan tertentu.

Jika dilihat dari unsur keanggotanya kopersi dapat digolongkan pada ada tiga model koperasi sekolah, yaitu :

1)        Koperasi siswa;

Koperasi siswa dilihat dari sisi kecukupan persyaratan dapat dinyatakan sebagai pra koperasi karena itu tidak dapat berbadan hukum.  Anggotanya belum memenuhi syarat usia minimal untuk melakukan tindakan hukum.  Dilihat dari sisi aktivitas ekonomi, tidak terpenuhinya persyaratan itu bukan masalah. Yang penting lembaga ini dapat menjalankan visinya sebagai lembaga usaha.  Fungsi utama koperasi sisw adalah sebagai  wahana pembelajaran dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan siswa.

Koperasi menjadi wadah ideal dalam mengembangkan jiwa kewirausahan yang tidak muncul dalam waktu yang instan  karena koperasi memerlukan sistem pengelolaan yang  bersistem.  Aktivitasnya melampaui langkah-langkah perencanaan,  mengembangkan kesepakatan, melaksanakan kegiatan, mengendalikan kegiatan untuk memastikan mencapai tujuan  atau audit, hingga ke evaluasi dan pertanggungjawaban

Sekali pun tingkat pemahaman para pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan sangat baik, namun dalam kenyataannya secara empirik kopersi siswa berlum dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal untuk menjadi wadah pengembangan kewirausahaan.

2)        Koperasi guru dan karyawan sekolah;

Model koperasi ini relatif tidak akan mengalami banyak kendala karena selain keanggotanya yang relatif lebih panjang, pada model koperasi ini relatif memiliki sumber daya yang lebih baik  berupa sumber daya keuangan maupun sumber daya manusia.  Hanya saja model ini pun pada umumnya belum dapat beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang ekonomi.

Model kopersi ini umumnya bergerak pada  usaha  simpan pinjam  sehingga koperasi dapat beperan sebagai media untuk membantu meningkatkan kesejahteraan para guru dan karyawan dengan memberikan tingkat bunga pinjaman yang lebih murah. Namun ciri khas yang dipertahankan ini menggambarkan daya adapasi secara ekonomi tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.

Sekali pun demikian, karena koperasi ini berada pada lingkungan sekolah, idealnya harus dapat dikembangkan  menjadi wadah belajar siswa.

3)        Koperasi campuran antara guru dan siswa.

Pada model ini keanggotanya terdiri dari siswa dan guru dalam sekolah. Salah satu kebaikan dari model ini, koperasi dapat memiliki badan hukum sendiri dengan diawali para pendirinya dari para guru dan karyawan sekolah, status keangotaan siswa dapat dikategorikan dalam keanggotan khusus  sehingga siswa dapat bejar lebih banyak dari para gurunya dalam mengelola kegiatan usaha.  Kelemahan dari model koperasi ini adalah adanya perbedaan kepentingan yang sangat ekstrim dari anggota yang berstatus sebagai guru dan anggota siswa  sehinga dapat menyembabkan konflik kepentingan yang dapat menghambat perkembangan koperasi.

Sehubungan dengan itu model pembagian kewenangan dalam membangun kesepakatan harus dikembangkan dalam model standar prosedur yang transparan dan konsistem menjalankannya agar fungsi koperasi sebagai lahan edukatif dan lahan usaha dapat berkembang sebagaimana yang diharapkan .

Konflik kepentingan dapat diatasi pula dengan mengembangkan model-model kesepakatan formal dan didokumentasikan serta transparansi dala pengelolaan.

Dengan  tiga model koperasi yang dapat sekolah kembangkan patut menjadi alternatif yang tebaik untuk mengembankan  kewirausahaan sebagaimana negara-negara lain mengembangkannya, sekaligus memenuhi seruan Presiden.  Namun demikian, jalan masih cukup jauh, kita masih harus mengebangkan bagaimana itu direncanakan, dilaksanakan, dan tenaga pendidik dan pengelolanya ditingkatkan kompetensinya sehingga koperasi dapat dalam koperasi pengelola sekolah bersinergi secara baik sehingga semua pihak dapat berperan sebagai pembimbing, pengusaha, pengarah, dan pengembang kerja sama yang produktif baik secara ekonomi, kewirausahaan, dan edukasi.

2 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments