Keunggulan Konsep Kepribadian Indonesia dalam Cita-Cita Pendidikan
Indonesia menaruh perhatian yang besar pada pembentukan pribadi yang unggul Indikatornya jelas dan tegas pendidikan yang menghasilkan manusia yang patuh menunaikan perintah agama, menjadi pribadi yang bertakwa, beriman, berahlak mulia. Yang tidak kalah penting semua itu harus menjadi karakter pribadi yang sehat jasmani dan rohani.
Keberhasilan mewujudkan itu memerlukan kultur sekolah yang memiliki disiplin, konsistensi, dan persistensi untuk mencapai target yang terukur, memiliki aturan yang ditegakkan, memiliki sistem pemantauan yang berkelanjutan, menjunjung pengabdian yang profesional guru-guru yang menjalankan fungsi mendidik.
Penyelenggaraan pendidikan lebih rumit daripada mengajar. Proses pendidikan tidak cukup dengan mentrasfer ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu. Setelah siswa tahu, siswa perlu mengubah pengetahuan menjadi kebenaran yang diyakini sehingga dari situ dapat dikembangkan kepatuhan.
Meningkatkan kepatuhan siswa terhadap aturan, menjalankan aturan setiap saat dalam menegakkan disiplin dalam integritas ramah sosial, edukatif, bersemangat untuk mencapai prestasi yang tinggi memerlukan pemantauan yang berulang-ulang bahkan terus menerus.
Kekompakan seluruh penyelenggara sekolah mengarahkan seluruh sumber daya pada pencapaian cita-cita yang telah disepakati bersama. Hambatan utama dala menegakan kepatuhan siswa adalah tidak seluruh penyelenggara sekolah konsisten menegakannya.
Kepribadian dapat diamati dalam bentuk prilaku. Amerika dalam pengembangan konsep keterampilan abad ke-21 mengintegrasikan pengembangan pribadi sebagai karakter dasar pengembangan karir.
Pemikiran baru tentang perlunya pendidikan karakter Indonesia sebenarnya merupakan refelksi dari kegagalan pendidikan dalam membangun karakter melalui pengembangan ketakwaan, keimanan, ahlak mulia sehingga karakter perlu dikembangkan dalam program tersendiri.
Hal seperti itu akan terus berulang apabila dalam sistem pendidikan kita masih terus membahas pengembangan kepribadian berhenti dalam wacana dan konsep. Persoalan selama ini, kita belum memiliki alat ukur yang kongrit yang dapat menjamin bahwa proses pengembangan kepribadian itu terwujud sesuai konsep karakteristik yang dicita-citakan.
Konsep yang baik adalah konsep yang terealisasikan secara nyata dalam bentuk prilaku siswa secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Produk pendidikan terwujud dalam berbagai indikator operasional kepatuhan siswa melaksanakan perintah agama, kecintaannya terhadap negara, dan dalam aktivitas sosial dan kultural tampak dalam hal-hal praktis.
Karenanya, penyelenggaraan pembinaan pribadi yang berkarakter perlu dijabarkan dari citai-cita besar ke dalam berbagai indikator prilaku siswa yang terukur yang terintegrasi ke dalam kegiatan pendidikan, pengajaran dan pelatihan. Dengan demikian berbagai pernyataan indah seperti di bawah ini perlu sekolah jabarkan lebih lanjut.
Jika SKL yang Indonesia cita-citakan dipadukan dengan berbagai keterampilan abad ke-21 yang dikaitkan dengan keterampilan yang perlu siswa kuasai dalam mengembangkan karakter yang terkait dengan potensi diri dapat dirumuskan dalam urutan sebagai berikut.
- Mematuhi dan mengamalkan agama
- Membangun karakter diri yang meliputi (1) Mengembangkan potensi diri secara optimal (2) Mengembangkan sikap percaya diri (3) Bertanggung jawab
- Meningkatkan partisipasi dalam mengasah kecerdasan sosial
- Menghargai karagaman suku, agama, ras, dan sosial-ekonomi
- Mengembangkan kepribadian, meliputi: (1) pribadi yang adaptif (2) berinisiatif (3) adaptif terhadap perubahan (4) berinteraksi sosial (5) berpartisipasi sosial (6) berinterasi kultural, dan (7) produktif.
- Terampil memimpin & bertanggung jawab
Berbagai komponen itu perlu dijabarkan ke dalam indikator berbagai prilaku spesifik yang sekolah definisikan sesuai dengan konteks pengembangan keterampilan dalam prespektif internasional yang sekolah harapkan. Harapan itu harus tercermin dalam kondisi nyata yang menampilakan partisipasi dan kepatuhan siswa untuk merealiasikan seprti dalam contoh berikut:
Menerapkan ajaran agama tercermin dalam cara siswa berpakaian dalam kegiatan belajar:
Tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan kreatif di sekolah dalam mengembangkan kolaborasi
Siswa merefleksikan pengalaman meningkatkan keterampilan di lapangan dalam berbagai kegiatan melalui presentasi keterlaksanaan dan ketercapaian program
Yang perlu lebih cermat sekolah perhatiakan adalah memastikan bahwa cita-cita pembentukan pribadi unggul itu dapat direalisasikan melalui pengalaman bekerja. Hal tersebut menjadi titik kritis karena sering terjadi sesuatu yang baik dalam rencana, sering tidak tampak dalam proses hasil yang yang dicapai karena pembentukan pribadi lebih banyak dilakukan melalui pengembangan pengetahuan.
Untuk membangun kerpribadian suswa sekolah perlu mengembangkan aturan yang menentukan tugas guru sebagai pendidik. Pengembangan pribadi sangat erat kaitannya dengan tugas guru sebagai pembimbing, menjadi teladan, penasehat, inspirator, dan motivator dalam membentuk pembiasaan yang telah ditentukan.
Pedidik yang efektif adalah yang memenuhi standar sebagai pengembang potensi diri secara optimal, mengembangkan rasa percaya diri, bertanggung jawab, meningkatkan daya partisipasi sosial, menghargai keberagaman suku, agama, ras, dan kemampuan ekonomi serta akses sosial dalam konteks lokal dan global.
Guru sebagai pendidik yang efektif yang berperan dalam membangun ketakwaan, keimanan, ahlak mulia dan karakter serta ditunjang dengan peningkatan keterampilan siswa meningkatkan kesehatan fisik, mental, kolaborasi, pergaulan antar gender, serta disiplin. Proses pengembangan pribadi yang memiliki karakter yang paripurna sepeti itu memerlukan sekolah yang cerdas dalam menunjang peran pendidik secara sistem. Peran pendidik dalam kolaborasi sistem penting mengingat keteladanan yang paripurna pada tiap individu sulit didapat, sebab pada diri tiap orang melekat kekurangan di samping kelebihannya.
Menjawab masalah sekolah yang bagaimana yang unggul dalam membentuk kepribadian maka dapat dinyatakan bahwa sekolah yang berhasil mengembangkan kepribadian adalah yang mampu mengembangkan aktivitas yang terencana yang membentuk pengalaman belajarsehingga siswa dapat menerapkan pengetahuannya menjadi karya nyata yang berulang. Pengulangan pengalaman itu pada akhirnya membangun sikap mental.
Referensi:
Referensi:
- http://www.gurusoftware.com/GuruNet/Personal/Factors.htm
- http://www.p21.org/%3C/index.php?option=com_content&task=view&id=254&Itemid=120
- http://www.p21.org/
- Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Published on: Aug 31, 2011


















Facebook Comments