TOPIK UTAMA »

October 5, 2014 – 10:09 pm | 619

Dalam proses pergeseran dari kurikulum 2006 ke pelaksanaan kerikulum 2013 kepala sekolah memegang peran yang sangat penting. Kepala sekolah dapat menentukan bidang perubahan yang perlu segera perlu penanganan.  Dalam menjalankan peran pimpinan perubahan kepala sekolah …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SUPERVISI

Instrumen Kepengawasan Manajerial dan Akademik

Submitted by on April 22, 2010 – 12:09 pm3 Comments | 2,585

Dengan semakin gencar usaha penerapan standar nasional pendidikan, maka tugas sehari-hari pengawas makin  tidak dapat lepas dari pekerjaan mengukur  efektivitas perencanaan, pelaksanaan, evaluasi. Artinya selalu berkaitan dengan supervisi manajerial. Hal lain yang tidak akan lepas dari pekerjaannya adalah mengukur efektivitas pembelajaran, atau supervise akademik. Konsekuensi dari dua pekerjaan itu pengawas perlu meningkatkan kemampuan membuat atau mengadaptasi  alat ukur atau instrumen dan menggunakan instrumen dalam kegiatan mengukur.

Tulisan singkat ini merupakan ringkasan modul tentang penyusunan intrumen pengawasan untuk mendukung pengembangan enam dimensi kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah yakni: (a) kompetensi kepribadian, (b) kompetensi supervisi manajerial, (c) kompetensi supervisi akademik, (d) kompetensi evaluasi pendidikan, (e) kompetensi penelitian dan pengembangan, dan (f) kompetensi sosial. Empat kompetensi  berkaitan erat dengan pengukuran.

Kuatnya kepentingan pengukuran dapat dilihat dari empat langkah pengawasan, yaitu: (1) menetapkan suatu kriteria atau standar, (2) mengu-kur/menilai kinerja (performance) yang sedang atau sudah dilakukan, (3) membandingkan kinerja dengan standar yang ditetapkan dan menetapkan perbedaannya jika ada, dan (4) memperbaiki penyimpangan dari standar dengan tindakan pembetulan. Dari empat langkah itu, tiga di antaranya menyangkut pengukuran pula.

Langkah pelaksanaan pengawasan menurut Asrori (2002: 43-44) meliputi lima langkah utama, yaitu:

  1. Menetapkan tolok ukur, yaitu menentukan pedoman yang digunakan.
  2. Mengadakan penilaian, yaitu dengan cara memeriksa hasil pekerjaan yang nyata telah dicapai.
  3. Membandingkan antara hasi penilaian pekerjaan dengan yang seharusnya dicapai sesuai dengan tolok ukur yang teah ditetapkan.
  4. Menginventarisasi penyimpangan dan atau pemborosan yang terjadi (bila ada).
  5. Melakukan tindakan korektif, yaitu mengusahakan agar yang direncanakan dapat menjadi kenyataan.

Untuk mendapatkan hasil penilaian yang baik, Pengawas memerlukan instrumen yang valid, artinya mengukur yang seharusnya diukur. Uji validitas instrumen dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui ketepatan instrumen yang telah disusun.  Terkait dengan validitas instrumen Arikunto (2002: 144) menyatakan instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Jika yang hedak diukur perbedaan kinerja beberapa sekolah, maka instrumen harus dapat membedakan sekolah yang memiliki kinerja terbaik.

Validitas intrumen terlihat pada isi dan kegunaannya. Berdasarkan itu, validisitas instrumen setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis, yaitu:

a.  Construct Validity

Construct validity, menunjuk kepada asumsi bahwa alat ukur yang dipakai mengandung satu definisi operasional yang tepat, dari suatu konsep teoretis., sehingga dapat diamati dan diukur.

Pengawas sekolah dalam meneliti construct validity, mulai dengan menganalisis unsur-unsur suatu konstruk. Kemudian diberikan penilaian apakah bagian-bagian itu memang logis untuk disatukan  (menjadi skala) yang mengukur suatu konstruk. Langkah terakhir adalah menghubungkan konstruk yang sedang diamati dengan konstruk lainnya

b. Content Validity

Content validity (validitas isi) menunjuk kepada suatu instrumen yang memiliki kesesuaian isi dalam mengungkap atau mengukur yang akan diukur. Sebagai contoh, seorang guru pada akhir semester akan memberikan ujian dari bahan yang diajarkan.

C. Face Validity

Face validity (validitas lahir atau validitas tampang) menunjuk dua arti berikut ini:

  1. Menyangkut pengukuran atribut yang konkret. Sebagai contoh pengawas ingin mengawasi kemampuan guru dalam mengggunakan fasilitas internet.
  2. Menyangkut penilaian dari para ahli maupun konsumen alat ukur tersebut. Sebagai contoh, pengawas ingin mengawasi tingkat partisipasi masyarakat terhadap sekolah. kemudian ia membuat skala pengukuran dan menunjukkannya kepada ahli.

d. Predictive Validity

Predictive validity menunjuk kepada instrumen peramalan. Meramal sudah menunjukkan bahwa kriteria penilaian berada pada saat yang akan datang, atau kemudian. Sebagai contoh, salah satu syarat untuk diterima di perguruan tinggi adalah menempuh ujian. Instrumen tes ujian itu dikatakan memiliki predictive validity yang tinggi, apabila mendapat nilai yang baik ternyata dapat menyelesaikan studinya dengan baik pula.

Reliabilitas Instrumen Pengawasan

Selain harus memenuhi kriteria valid, instrumen penelitian pun harus reliabel atau menunjukkan pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul  data karena instrumen tersebut sudah baik”. Tingkat kepercayaan dapat dilihat

Jika suatu instrumen diganakan untuk mengukur sesuatu berulang kali, dengan syarat bahwa kondisi saat pengukuran tidak berubah, instrumen tersebut memberikan hasil yang sama

Ketepatan, menunjuk kepada instrumen yang tepat atau benar mengukur dari sesuatu yang diukur. Instrumen yang tepat adalah instrumen di mana pernyataannya jelas, mudah dimengerti dan rinci. Pertanyaan yang tepat, menjamin juga interpretasi tetap sama dari responden yang lain, dan dari waktu yang satu ke waktu yang lain.  Homogenitas, menunjuk kepada instrumen yang mempunyai kaitan erat satu sama lain dalam unsur-unsur dasarnya.

Mutu suatu instrumen atau alat pengukur secara keseluruhan, pada dasarnya dapat diperiksa melalui dua tahap usaha, yaitu pertama dengan analisis rasional dan analisis empiris. Instrumen yang reliabel itu hakekatnya menperlihatkan bangun yang rasional dan jika digunakan berulang-ulang hasilnya tetap sama.

Untuk memahami lebih lanjut tentang topik intrumen pengawasan, silakan baca modul Instrumen Pengawasan (2364) (Rahmat, Admin)

3 Comments »

  • hulaimi says:

    Memang untuk pelaksanaan pengawasan yang profesional tidak hanya diperlukan keterampilan praktik menggunakan instrumen tapi memahami prinsip, konsep dan pengetahuan tentang substansi materi yang disupervisi. sehingga kegiatan supervisi tidak menjadi pekerjaan klerikal yang bisa dilakukan siapa saja.

  • rois hamdani says:

    untuk instrumen 8 standar nasional pendidikan belum jelas

  • pembaca yth. kiranya dapat mengirimkan instrumen atau pedoman wawancara kompetensi pengawas

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments