Topik Utama »

June 17, 2013 – 6:57 am | 56

Kurikulum boleh berubah berulang-ulang, namun apabila guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah tidak berubah maka hasilnya akan sama saja. Seperti yang telah kita alami sebelumnya, perubahan kurikulum hanya sebatas dokumen. Pergeserannya tidak mengubah banyak prilaku …

Read the full story »
Info

Merefleksikan realita dengan stuktur yang cerdas

Pembelajaran

Berilmu, terampil belajar, dan memecahkan masalah..

Pengelolaan

Realistis, konsisten, persisten dan bekelanjutan.

Daya Insani

Menciptakan ide, metode, layanan, dan produk baru.

Supervisi

Membantu kepala sekolah dan guru mewujudkan tujuan .

Home » Pengelolaan

Bagaimana Membangun Sekolah Efektif?

Submitted by on January 6, 2010 – 3:47 pm4 Comments | 505

Sahabat kita seorang guru pada SMP swasta mengirim e mail ke GP. Isinya menyampaikan harapan dan keluh kesah mengenai keadaan sekolahnya yang menghadapi banyak kendala. Sistem pengelolaannya kurang sesuai dengan yang diharapkannya. Namun di balik berbagai kelemahan terdapat keinginan yang kuat untuk membangun sekolahnya menjadi sekolah yang ideal dan efektif.

Sahabat kita ini menyampaikan pemikirannya bahwa untuk mewujudkan sekolah yang efektif, katanya, bergantung pada kemauan dan kemampuan yang warga sekolah miliki. Kemauan yang paling menentukan kemajuan adalah kemauan belajar menambah dan menerapkan ilmu pengetahuan. Pernyataannya relevan dengan hasil  studi para ahli pendidikan. Mereka menyatakan bahwa sekolah efektif itu ditentukan oleh kapasitas belajar warganya sehingga sekolah menjadi learning organization.

Profil umum sekolahnya ia gambarkan. Iklim sekolahnya agak tertutup. Sistem pengelolaan yang kurang transparan. Informasi yang pendidik peroleh masih sangat terbatas. Program yang  sekolah kembangkan menggunakan pendekatan anggaran. Ada uang baru ada program. Pendidik diposisikan sebagai buruh yang kerjanya mengajar  dan dapat gaji.

Semangat  kerja sama tim untuk sama-sama memajukan sekolah belum berkembang. Belum semua pihak yang berkepentingan  dapat berperan dalam menggerakan dan menciptakan masyarakat pembelajar.

Semua inisiatif masih dalam gengaman satu di tangan,  pimpinan sekolah. Kerja sama belum tumbuh. Insiatif pendidik rendah akibat dari tingkat kepercayaan pimpinan kepada bawahan sangat rendah.

Kepala sekolah memiliki komitmen yang rendah pula. Hal ini tampak pada rendahnya inisiatif untuk melakukan perubahan. Pernah ada, namun masih dalam tataran wacana.  Oleh karena itu, tujuan, target program masih samar dalam pikiran kami. Mungkin, hanya kepala sekolah saja yang tahu dengan jelas.

Kami menyadari  bahwa kami masih memiliki banyak kekurangan, namun kami memerlukan bantuan agar sekolah kami bergerak ke arah yang lebih baik, yang lebih efektif.

GP Menjawab:

Masalah yang diungkap teman dapat disederhanakan yakni bagaimana mengembangkan sekolah efektif. Jawabannya tidaklah sederhana. Oleh karena itu lebih baik GP memperhatikan dulu bagaimana kata teori lalu setelah itu kita carikan bagaimana menerapkannya.

Dalam beberapa literatur yang terdapat pada website,  sekolah efektif memiliki 10 karakter utama, yaitu:

  1. Memiliki arah pengembangan yang jelas dan memiliki target yang tinggi.
  2. Memiliki struktur program pembelajaran yang cermat, setiap siswa dapat terfasilitasi untuk memperoleh peluang mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas, keterampilan yang tinggi, serta menerapkan strategi belajar yang efektif.
  3. Suasana belajar personal yang kuat, sekolah memahami tipe belajar siswa, kondisi keluarga dan sosialnya, kekuatan, aspirasi serta kebutuhan khasnya.
  4. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang selalu fokus pada pengembangan prestasi siswa, menegaskan dukungan pada terbangunnya kultur semangat belajar, pembelajaran dan belajar yang bermutu, membangun kerja sama dengan sesama kepala sekolah, guru, orang tua, siswa, dan partner lain di masyarakat.
  5. Mengembangkan sekolah berbasis profesional. Kultur sekolah menunjang kolaborasi dalam peningkatan mutu belajar, prestasi siswa, dan peningkatan efektivitas pada lingkungan masyarakat sekolah.
  6. Melakukan pengujian atau evaluasi belajar siswa berkelanjutan. Menantang siswa dengan berbagai peluang yang membuka lebar kemungkinan mereka memenuhi standar dan melaksanakan proses belajar, menyelesaikan ujian atau ulangan berlandaskan semangat juang yang tinggi.
  7. Memiliki kemampuan bekerja sama dengan berbagai organisasi dalam meningkatkan mutu pelayanan akademik dan memenuhi kebutuhan pengembangan diri siswa. Sekolah memiliki jaringan kerja sama yang luas untuk memfasilitasi siswa berhasil mewujudkan cita-citanya.
  8. Orang tua siswa dan seluruh penyedia layanan harus terintegrasi untuk meningkatkan mutu pelayanan belajar kepada siswa.
  9. Siswa terintegrasi dan berpartisipasi pada berbagai peluang  berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepengtingan di sekolah.

10.  Mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan mengajar belajar. seluruh siswa, pendidik dan anggota komunitas sekolah terintegrasi pada jaringan komunikasi dan dapat mengekspresikan pikirannya dalam berbagai variasi. (http://michaelmassiah.x7hosting.com)

Masalah berikutnya adalah bagaimana sekolah mengubah 10 karakter tersebut ke dalam aksi nyata sehari-hari di sekolah. Menurut Edward Deming  bahwa pembaharuan mutu dapat dilakukan dalam skala yang kecil dan bisa juga dalam skala besar. Skala kecil berarti hanya melibatkan sedikit orang dan menyangkut perubahan-perubahan kecil,  sedang skala besar melibatkan team dan terkait perubahan yang lebih besar.

Berdasarkan itu, sebaiknya sekolah berusaha mengubah pekerjaan yang besar-besar seperti :

  1. Meningkatkan pengetahuan pendidik
  2. Meningkatkan kemauan belajar pendidik maupun siswa
  3. Meningkatkan keterampilan menerapkan ilmu pengetahuan.
  4. Meningkatkan transparansi sekolah.
  5. Meningkatkan kapasitas kepemimpinan sekolah dll

harus diurai dalam indikator yang kecil-kecil yang dapat sekolah, kepala sekolah, pendidik, dan siswa laksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Pada prinsipnya pekerjaan pengembangan sekolah yang kompleks diurai di dalam pekerjaan-pekerjaan kecil yang terintegrasi dalam sebuah struktur. Lalu pekerjaan itu didefinisikan agar jelas indikatornya.  Teknik mengurai pekerjaan besar ke dalam satuan kegiatan yang kecil-kecil itu untuk memudahkan penyediaan biaya dan sumber daya lain yang sekolah miliki. Dengan memperkecil skala kegiatan, maka peluang untuk melakukan pekerjaan itu semakin besar karena semua sekolah memiliki sumber daya (en.wikipedia.org, 2009)

Berikutnya bagaimana menjamin bahwa sekolah agar dapat menjamin bahwa kegiatan yang kecil-kecil dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari di sekolah itu terjamin sesuai dengan yang direncanakan. Menjawab masalah ini adalah penting adanya kebersamaan, keterbukaan, dan membangun kesepakatan  bersama agar setiap masalah yang muncul di sekolah dihadapi bersama. Di samping itu sekolah juga harus menjamin bahwa kegiatan itu dapat dievaluasi sehingga kinerja pelaksanaan program selalu diketahui.

Kembali ke berbagai masalah yang dikemukakan teman kita, singkatnya adalah warga sekolah itu wajib memilih kegiatan dalam skala yang kecil-kecil yang pasti dapat diwujudkan bersama, didokumentasikan secara bertahap, dievaluasi secara bertahap dengan dukungan kebersamaan yang tidak hanya bergantung pada kepala sekolah, namun pada inisiatif bersama para pendidik dan tenaga kependidikan.

Pengasuh : Dr. Rahmat

Referensi :

http://michaelmassiah.x7hosting.com/ schools/downloads/10principleslong.pdf

http://en.wikipedia.org/wiki/Work_breakdown_structure

Tags:

4 Comments »

  • HENDI - SMA TIMIKA says:

    Terimaksih atas pencerahan dari Bapak atas kondisi dan langkah konkrit kedepan bagi SMAN 1 Mimika. Cukup banyak aset + di Timika, namun kompleks juga tantangan dan kendala bagi kami. Mohon doa dari Bapak dan rekan2 seperjuangan. Semoga sukses

  • Saya sudah baca pada buku yang diterbitkan oleh Ditjen PMPTK Depdiknas, edisi 2007, namun dengan adanya pencerahan Bapak ini dapat menambah pengetahuan dan kompetensi saya sebagai Pengawas Sekolah (SMP/SMA) Dinas Pendidikan Prov. Jatim dalam membina sekolah. Mohon perkenan Bapak jika masih ada bahan-bahan lain sebagai referensi kami semi. Terima kasih Bapak, dan saya sempat Bapak bimbing dalam kegiatan Bermutu di Hotel Accasia Jakarta, September 2009

  • Terima kasih bapak atas pencerahannya pada September 2009 di Jakarta , materi ini dapat sebagai bahan peningkatan pengetahuan dan kompetensi kami dalam pembinaan pada sekolah binaan kami, karena kami adalah Pengawas Sekolah (SMP/SMA) Dinas Pendidikan Prov. Jatim dan kami juga sudah membaca buku tentang Kepala Sekolah yang Effektif yang diterbitkan oleh Ditjen PMPTK Depdiknas, edisi 2007. Terima kasih bapak, dan kami juga pernah dimbing oleh Bapak pada ToT Bermutu di hotel Accac

  • admin says:

    Semoga komunikasi yang kita jalin memberikan maslahat, terima kasih atas perhatian semuanya.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments