Evaluasi Kinerja Rintisan SMA Bertaraf Internasional 2010
Pada bulan November kinerja seluruh sekolah penyelenggara program rintisan SMA bertaraf internasional secara serempak dievaluasi. Proses pengukuran difokuskan pada sistem pengelolaan dan pembelajaran dalam memenuhi standar nasional pendidikan yang berkeunggulan pada mutu daya saing komparatif dan kompetitif pendidikan Indonesia pada konteks global.
Kriteria sekolah yang memenuhi standar nasional pendidikan di antaranya memiliki Rencana Kegiatan Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) yang mencerminkan mutu pada daya saing global. Hal ini ditandai dengan visi dan misinya yang dijabarkan lebih lanjut pada tujuan, indikator pencapaian, serta kriteria pencapaian target mutu yang terukur pada tiap komponen yang distandarkan.
Standar kompetensi lulusan menjadi poros pembaharuan dan sekaligus sebagai akuntabilitas program yaitu tercapainya mutu lulusan yang memiliki keunggulan yang setara dengan mutu yang siswa dari sekolah unggul bahkan lebih dari itu yaitu memiliki keunggulan kompetitif dalam konteks global.
Target keberhasilan yang dideskripsikan pada RKJM dan RKT tiap satuan pendikan selanjutnya dijabarkan dalam berbagai komponen penunjang dengan memperhitungkan berbagai penunjang dan kendala yang dapat menghambat tercapainya target.
Jika kita beranjak dari struktur organisasi sekolah maka indikator dan target mutu dapat disebar pada level lembaga, kelompok mata pelajaran atau kelompok guru mata pelajaran, mata pelajaran atau guru secara individual, level kelas, dan level siswa. Contoh indikator dan target mutu yang dapat sekolah tetapkan dalam kurun waktu 4 tahun ke depan adalah sebagai berikut:
Model target prestasi kelembagaan sekolah
- Memfasilitasi siswa 100% lulus Ujian Nasional
- Mencapai target lulus seleksi masuk PTN 90%.
- Meraih juara bidang kebersihan lingkungan tingkat nasional
- Meraih juara dalam lomba UKS tingkat nasional
- Meraih juara dalam lomba perpustakaan tingkat nasional.
Model target prestasi siswa:
- Mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal di atas 7,0
- Meraih nilai rata-rata UN di atas 7,5
- Lulus seleksi masuk perguruan tinggi yang diharapkannya.
- Meraih medali tingkat internasional dalam bidang akademik dan nonakademik.
- Meraih nilai TOEFL di atas 500.
- Menunjukkan kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan pikiran melalui internet.
Model target prestasi kepala sekolah:
- Memiliki blog pribadi untuk mengekpresikan pikirannya dalam mendukung peraihan keunggulan sekolah.
- Mengevaluasi setiap target keunggulan yang telah sekolah sepakati dalam proses penjaminan mutu.
- Memiliki karya tulis ilmiah yang dipublikasikan melalui media elektronik.
- Meraih penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi tingkat nasional.
Model target prestasi kelompok pendidik :
- Mewujudkan standar kompetensi pada silabus dan RPP yang setara dengan indikator pencapaian kompetensi (IPK) yang setara dengan IPK pada kurikulum yang berkeunggulan internasional.
- Merumuskan materi pelajaran yang disetarakan dengan standar materi pelajaran pada sekolah unggul di negara-negara maju.
- Mengembangkan instrumen penilaian dengan menggunakan standar penilaian sekolah unggul di negara-negara maju.
- Menerapkan strategi pembelajaran dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi.
- Mempublikasikan rancangan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan perangkat monitoring dalam rangka penjaminan mutu dalam web sekolah.
Model target prestasi pendidik per matapelajaran
- Menetapkan pemetaan standar kompetensi siswa yang akan dikembangkan dalam kurun waktu tiga tahun.
- Memetakan beban belajar siswa seperti mengatur materi dan tingkat kesulitan pekerjaan rumah siswa dalam kurun waktu tiga tahun.
- Memfasilitasi siswa meraih medali bidang akademik tingkat nasional pada mata pelajaran yang diampunya.
- Mengkomunikasikan pikiran yang kolaborasi pada tiap mata pelajaran melalui internet.
- Mengembangkan kerja sama dengan siswa melalui jejaring internet.
- Mengembangkan komunikasi dan kolaborasi dengan pendidikan secara nasional dan internasional.
- Menyusun karya ilmiah hasil kegiatan Lesson Study minimal satu judul dalam satu tahun pelajaran.
- Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris dengan target minimal meraih nilai TOEFL 500.
- Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi belajar.
Model Target Pemenuhan Standar Pendidik
- Mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dalam merumuskan IPK yang setara dengan standar IPK sekolah di negara-negara maju.
- Meningkatkan keterampilan siswa dalam menerapkan model berpikir kritis.
- Menerapkan berbagai pendekatan kecakapan berpikir.
- Menggunaan TIK dalam proses penyetaraan materi pelajaran dengan menerapkan standar sekolah di negara maju.
Target mutu seperti di atas idealnya sekolah tetapkan dalam program sebagai bagian dari pemenuhan target pada penerapan standar. Ruang lingkup pengembangan seharusnya meliputi seluruh standar yang berporos pengembangan standar kompetensi lulusan. Standarnya warga sekolah sepakati dan menjadi muatan dalam dokumen perencanaan.
Pelaksanaan evaluasi kinerja sejauh ini telah berjalan sehingga dapat menghimpun data tentang target mutu yang sekolah tetapkan dan pencapaiannya. Nilai kinerja sekolah diperoleh dari selisih antara kondisi yang diharapkan dengan realita pencapaian yang dapat sekolah wujudkan.
Perhitungan kinerja keseluruhan meliputi input berupa standar isi, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, serta pembiayaan. Komponen proses dalam sistem standar nasional pendidikan meliputi komponen pengelolaan, proses, dan penilaian. Komponen output adalah standar kompetensi lulusan yang mencerminkan mutu bertaraf internasional.
Keunggulan utama yang tercermin dalam sistem pengembangan sekolah rintisan SMA bertaraf internasional adalah:
Sekolah memiliki target mutu yang berkeuggulan yang secara bersungguh-sungguh diwujudkannya. Misalnya
- Taget mutu pencapaian nilai UN dan jumlah kelulusan rata-rata telah mencapai nalai di atas standar nasional.
- Sekolah menetapkan target mutu lulusan yang diterima di perguruan tinggi di atas 50%, sebagian kecil sekolah yang berkeunggulan khusus di atas 75%. Target mutu ini telah sekolah capai.
- Jumlah sekolah yang dapat meraih kejuaraan pada lomba tingkat internasional dan nasional makin tersebar di seluruh tanah air. Prestasi tingkat internasional dan nasional tidak lagi menjadi milik segelintir sekolah terkemuka. Kini prestasi siswa di tingkat internasional menyebar hingga diraih oleh sekolah unggul di tingkat kabupaten dan kota.
- Meningkatnya usaha sekolah dalam menyetarakan standar isi kurikulum, hampir seluruh sekolah berusaha menggunakan pembanding kurikulum Cambridge. Komponen utama yang sekolah perbandingkan adalah pada materi pelajran.
- Meningkatnya usaha sekolah dalam memperbaiki dan meningkatkan mutu sarana belajar, gedung sekolah, penataan lingkungan sekolah. Kondisi pada umumnya berada pada level kinerja yang sangat baik. Lingkungan sekolah rintisan bertaraf internasional pada umumnya menunjukkan keadaan yang sangat baik hingga baik. Tingkat kerindangan dan penataan taman sekolah berkembang signifikan dengan status RSBI.
- Meningkatnya perangkat keras komputer dan jejaring teknologi di sekolah. Jumlah kabel yang terintegrasi dengan kelas dan ruangan sekolah makin banyak, minimal kabel menunjukkan keberfungsian sound sistem yang terintegarasi pada seluruh ruang belajar, jejaring internet, dan jejaring CCTV.
- Tiap ruang kelas dilengkapi dengan komputer dan LCD serta meningkatnya dengan cepat penggunaan laptop oleh guru dan siswa.
- Peningkatan suhu penggunaan bahasa Inggris dan siswa. Program English Day, kursus Guru berbahasa Inggris terdapat di seluruh sekolah dengan tingkat efektivitas yang belum optimal.
- Kerja sama sekolah dengan guru-guru dari luar negeri semakin meningkat, kerja sama sekolah dengan The American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) meningkat tajam sehingga sekolah-sekolah mengembangkan kerja sama terutama dalam meningkatkan kompetensi berbahasa Inggris. Di samping sekolah melakukan kerja sama pertukaran guru dan siswa seperti dengan Australia, Singapura, Malayasia, Korea Selatan, China, Jepang, Jerman, Belanda, Turki, Inggris, dan Amerika berkembang pesat. Pengalaman kerja sama ini telah membuka wawasan para pengelola sekolah lebih luas sehingga berbagai model dalam pengelolaan sekolah sedang berubah melebihi pada masa sebelum program rintisan SMA bertaraf internasional dikembangkan .
- Penggunaan internet sebagai sumber belajar telah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari di seluruh sekolah dengan ruang lingkup dan kedalaman materi yang dikelola berbeda-beda pada tiap sekolah. Semakin besar kota tempat sekolah berada makin tinggi prekuensi penggunaan internet oleh siswa dan guru. Semakin jauh sekolah dari Ibu Kota Provinsi semakin banyak kendala sekolah dalam menggunaan internet sebagai teknologi penunjang perubahan mutu.
Berbagai keunggulan yang sekolah raih mengimbangi permasalahan yag masih menjadi kendala yang sekolah hadapi sehingga secara psikologis warga sekolah menegaskan bahwa membarharui mutu sekolah memang bukan pekerjaan ringan yang dapat dilakukan sembil lalu.Permasalah yang sekolah hadapi di ataranya:
- Tingkat keyakinan warga sekolah untuk menetapkan target dapat berkompetisi pada tingkat internasional masih dipandang terlampau tinggi dan kurang realistik. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman dan keterampilan untuk menyusun target pencapaian secara bertahap dan berkelanjutan.
- Kesulitan kepala sekolah dan pendidik untuk mengembangkan kesetaraan pada kurikulum kehususnya pada materi pelajaran, metode belajar, proses belajar, sumber belajar, dan penilaian akibat masih besarnya kenadala dalam penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
- Sekolah belum menetapkan indikator mutu dan target mutu secara sistematis yang terintegarasi pada usaha meningkatkan mutu lulusan sehingga target mutu pada program sekolah masih belum terstruktur secara sistematis yang mencerminkan perncapaian pada tiap setandar.
- Akibat dari belum terstrukturnya target mutu secara sistematis sebagai indikator tercapainya tujuan dalam program sekolah juga masih dihadapkan pada kesulitan untuk melaksanakan siklus pengembangan perencanaan, pelaksanaan, manitoring, dan perbaikan secara bekelanjutan atau penerapan siklus Plan Do Check, dan Ack yang mencakup seluruh komponen standar.
- Model manajemen standar sesungguhnya manajemen berbasis data. Banyak sekolah yang telah melaksanakan program yang sangat signifikan dalam pemenuhan standar, namun banyak yang belum menuangkan kegiatan dan hasil kegiatannya dalam dokumen tertulis. Kelemahan ini merata pada sebagian besar sekolah sehingga sistem penerapan standar sebagai model manajemen saintifik masih perlu perhatian yang lebih sungguh-sunggu dari semua pihak.
Proses penilaian kinerja memiliki makna yang besar dalam mempengaruhi peningkatan kinerja sekolah. Diharapkan dengan proses yang lebih bermutu dan sistem pengukuran yang valid diharapkan output yang baik akan terwujud. Pelaksanaan evaluasi telah membuka peluang secara kongkrit bagi pembina, dalam hal ini pemerintah, dan sekolah untuk memetakan lebih lanjut mengenai prioritas perbaikan mutu yang perlu sekolah tingkatkan dalam waktu dekat.
Dari hasil evaluasi menunjukkan bahwa memetakan kompetensi siswa yang setara dengan standar sekolah unggul di negara maju perlu menjadi perhatian semua pihak. Hal itu perlu dikuatkan melalui sistem perbaikan mutu kurikulum, perbaikan mutu pembelajaran yang didukung dengan meningkatnya keterampilan pendidik sehingga sanggup merealisasikan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di sekolah secara efektif.
Lebih dari itu, melalui evaluasi kinerja kita dapat memastikan bahwa sekolah penyelenggara program rintisan SMA bertaraf internasional benar-benar sedang mengarah pada terwujudnya tujuan pendidikan nasional serta kekhawatiran publik terhadap penyelenggaraan program ini karena kurang akuntabel akan terjawab. Kita menyadari bahwa ternyata perkembangan mutu di sekolah itu tidak bisa terjadi serta merta, namun perlu ditelateni secara bertahap, memerlukan proses dan waktu. Kita harus agak sabar menunggu hasil yang terbaik serta tetap mendorong sekolah agar terus dapat bekerja keras untuk mewujudkan harapan yang tertinggi dan terbaik.
Lampiran:
2 Comments »
Leave a comment!














Sebenarnya langkah maju bagi Indonesia untuk membuat sekolah yang bertaraf Internasional. Kalau kita jujur mutu pendidikan kita masih kalah dengan negara lain tengoklah Malaysia, Singapura. akan tetapi yang lebih penting lagi adalah konsep matang dari rencana tersebut jadi jangan terkesan coba-coba. semua baik adanya asalkan semua juga terkonsep dengan benar dan ada monitoring yang terus menerus. jangan sekedar proyek yang berjalan dengan waktu yang tidak jelas bahkan nantinya diganti dengan program yang lain.
RSBI perlu pengawasan yang lebih ketat, terutama dalam hal pengembangan SDM, sarana pra sarana.
Sekolah yang ditunjuk menjadi RSBI sebaiknya diberi pendamping yang betul mempunyai kompetensi, tidak hanya sekedar formalitas saja. Pendamping tersebut jangan diambil dari orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ketika mendampingi sekolah mereka jarang datang dan tidak dapat memberikan bimbingan secara intensif.