TOPIK UTAMA »

September 7, 2014 – 9:25 pm | One Comment | 709

Difusi konsep kurikulum 2013 pada tahap awal pelaksananaan sudah selesai. Hampir seluruh pendidik telah terdampak oleh program pelatihan dan bergegas untuk menguasai konsep pembelajaran saintifik dan penilaian autentik. Program pelatihan telah memungkinkan sebaran konsep  kurikulum …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » Uncategorized

Ibuku Sayang

Submitted by on April 7, 2010 – 2:59 pmOne Comment | 3,509

Cerpen Karya : Yudi SMPN 9 Bogor kls IX  Th.2008/2009

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 6 sore. Aku baru saja sampai di rumah. Hari ini aku lelah sekali karena harus latihan futsal selama tiga jam lebih. Tanpa piker panjang, aku langsung istrahat di ruang keluarga.Belum lama beristirahat sambil menonton televisi, tiba-tiba ibuku menyuruhku untuk segera makan.

“ Yud, cepat makan!” teriaknya dari kamar. “ Iya sebentar” jawabku. Sebenarnya aku tak terlalu menghiraukannya. Karena jika aku sudah lapar, aku akan makan dengan sendirinya. Perintah ibuku tak segera aku laksanakan.

Aku malah mengambil handuk untuk kemudian mandi dan solat maghrib.fikirku,mungkin setelah mandi dan shalat aku akan lebih tenang dan nyaman untuk menyantap makanan. Aku mandi hanya sebentar saja. Karena aku takut kemalaman untuk shalat maghrib. Setelah shalat, aku langsung pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV bersama. Kebetulan saat itu semua anggota keluargaku ada di rumah. Tak lama setelah aku duduk, ibu keluar dari kamarnya dengan badan yang terlihat lemas.”Di, udah makan?” Tanya ibuku.aku hanya tersenyum kecut bertanda aku belum melaksanakan perintah ibuku itu. Aku tahu, dengan bersikap seperti itu ibuku pun akan mengerti.”cepat makan sana” perintah ibuku dengan nada halus. Aku tak kuasa menolaknya karena ini adalah perintahnya yang kedua. Dengan perasaan sedikit lelah,aku pun lansung menuju meja makan. Di atas meja, kulihat dua piring ayam bakar tersedia di sana. Kadang aku heran, mengapa ibu memboroskan uangnya hanya untuk membeli makanan. Padahal kami takan keberatan memakan lauk pauk seadanya. Mungkin ibu punya pendapat lain tentang hal itu. Tanpa berfikir lagi aku langsung mengambil sepiring nasi dan sebuah paha ayam. Setelah itu aku langsung ke ruang keluarga untuk menonton tv. Aku memang terbiasa makan di sana , begitu pula kakak dan ibuku. Kecuali ayah, dia lebih suka makan di meja makan.

Nikmat sekali makan malam itu. Mungkin karena aku sangat lelah, hingga membuat makanku sangat lahap. Tak lama setelah aku makan, kulihat ibuku ikut makan bersamaku. Saat kutengok ke arah piringnya, aku sangat kaget karena yang berada di atas piringnya hanya secungkil nasi, ikan asin, dan sepotong daging ayam bagian lehernya.

“Mengapa ibu mengambil makanan seperti itu? Padahal di meja makan masih ada dua piring ayam bakar yang tentunya lebih baik untuk dimakan daripada bagian lehernya. Dan belum tentu lauk pauk  itu habis oleh keluarga kami” pikirku. Selera makanku pun jadi hilang sejenak. Aku berfikir” Apa maksud ibu mengambil makanan yang paling sederhana, padahal masih ada makanan yang lebih baik dari itu”.

Mataku sedikit meredup. Jauh di balik hatiku tersirat suatu kekaguman yang teramat sangat. Dari pagi sampai malam ibuku tidak henti bekerja. Dari mulai mencuci baju, membereskan rumah, memasak, menyetrika pakaian, sampai menjaga cucu-cucunya yang mulai aktif. Pernah aku disuruh mengerjakan hal-hal itu, namun baru sebentar aku bekerja, aku sudah lelah sekali. Tak terbayangkan lagi bagaimana ibuku melakukan pekerjaan pekerjaan itu sepanjang hari. Ibu tak pernah sekalipun kulihat mengeluh dengan semua pekerjaannya.

Sekarang aku sadar, mengapa ibu harus kita hormati. Menjadi seorang ibu bukanlah sesuatu yang sangat mudah.Butuh kesabaran yang luar biasa dalam menjalani peran sebagai seorang ibu. Aku tahu, sering sekali aku mengeluh jika diperintah ibu, tetapi tak pernah mengungkit semua itu. Ibu masih tetap bersabar membimbingku.

Detik demi detik berlalu, aku masih merenung. Aku teringat akan semua yang pernah ibu lakukan untukku. Aku sadar, dia selau ingin yang terbaik untukku. Walau kadang letih sering sering menyelimuti  pikirannya, bahkan sampai jatuh sakit sekalipun, ia tak pernah mengeluh. Tak pernah kulihat air matanya menetes karena merasakan beratnya kehidupan seorang ibu. Ia tulus menjalankan semua itu.

Aku masih tetap terdiam, mataku mulai terasa pedih. Aku terharu mengingat semua jasa ibuku untukku dan juga keluargaku. Sekali lagi kutengok ibuku, ia sangat lahap memakan bagian leher ayam dan ikan asin. Aku tahu mengapa ibu memilih makanan itu, karena ibu hanya ingin yang terbaik untuk keluarga. Biarlah ia mendapatkan batu asal anak dan keluarga mendapat emas. Sekarang nafsu makanku hilang, kukembalikan daging ayam  tadi yang belum sempat kumakan. Aku menggantinya dengan ayam yang lebih kecil. Aku hanya ingin merasakan sesuatu yang juga dirasakan oleh ibuku. Ibu, andai aku bisa,  ingin sekali kuberikan  separuh dunia untuk membalas jasa jasamu. Andai aku mampu, ingin sekali kulukis sahaya bintang di hatimu agar kau bahagia menjalani kehidupanmu. Karena aku tahu, betapa berartinya dirimu untukku…

Karya: Yudi SMPN 9 Bogor kls IX  Th.2008/2009

Tags:

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments