<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guru Pembaharu &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://gurupembaharu.com/home/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gurupembaharu.com/home</link>
	<description>Forum komunikasi, interaksi dan kolaborasi pendidik</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Jun 2013 00:05:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>School Buzz Marketing</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/school-buzz-marketing/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/school-buzz-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Aug 2012 01:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=14035</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kegiatan ekonomi Buzzmarketing  dikenal luas sebagai salah satu strategi pemasaran paling nge-tren saat ini. Strategi yang menghindari persaingan dengan cara mendorong sesuatu yang dipasarkan menjadi bahan perbincangan luas. Buku yang berjudul Buzzmarketing ditulis Mark ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/school-buzz-marketing/sukses/" rel="attachment wp-att-14055"><img class="alignleft  wp-image-14055" style="margin: 5px;" title="sukses" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/08/sukses-150x112.jpg" alt="" width="150" height="112" /></a>Dalam kegiatan ekonomi <em>Buzzmarketing  </em>dikenal luas sebagai salah satu strategi pemasaran paling nge-tren saat ini. Strategi yang menghindari persaingan dengan cara mendorong sesuatu yang dipasarkan menjadi bahan perbincangan luas. Buku yang berjudul Buzzmarketing ditulis Mark Hughes, 2005,  terbitan Elex Media Komputindo Jakarta, mengupas secara mendalam tentang strategi marketing  dengan menggunakan kiat pemberitaan agar sebanyak-banyaknya orang angkat bicara. <span id="more-14035"></span>Ada baiknya para pengelola lembaga pendidikan meningkatkan pemahaman mengenai cara menerapkan strategi ini. Mark Hughes telah membuktikan bahwa strategi efektif dengan menghasilkan keuntungan besar dari alokasi biaya murah. Masalah utama  dalam penerapan strategi ini adalah bagaimana lembaga menjadi magnet sehingga menjadi bahan perbincangan media.</p>
<p>Mengimplementasikan strategi bussmarketing untuk kempentingan promosi sekolah dapat jadi terobosan baru. Selama ini pemikiran tentang bagaimana memasarkan lembaga pendidikan agar menjadi pencitraan pasar semakin penting. Mengembangkan sekolah dari siswa sekolah sebagai industri pelayanan jasa semakin mengental karena persaingan semakin ketat. Menarik minat calon siswa dari orang tua yang berkecukupan secara nyata semakin banyak dipikirkan pengelola lembaga pendidikan. Dengan keberdayaan modal yang semakin kuat banyak peluang sekolah untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada orang yang kurang mampu dalam rangka mengembangkan tanggung jawab sosial.</p>
<p>Buzzmarketing dalam pengalaman Mark Hughes secara terencana menggunakan enam kiat pemberitaan agar agar menjadi bahan pembicaraan luas, yaitu;</p>
<ol>
<li>membicarakan hal tabu.</li>
<li>mempublikasikan hal yang luar biasa.</li>
<li>menyampaikan hal yang menyakitkan atau memalukan.</li>
<li>menyampaikan hal yang menggembirakan.</li>
<li>mempublikasikan hal yang mudah diingat.</li>
<li>mempublikasikan rahasia.</li>
</ol>
<div>Beberapa sekolah terkemuka menerapkan berbagai kiat itu untuk membangun citranya. SMA Negeri 3 Semarang secara empirik menerapkan strategi buzzmarketing untuk membangun pencitraan sekolahnya. Dalam tahun pelajaran ini dipubliksaikan keberhasilan siswa dalam meraih prestasi taraf internasional seperti melalui Kompas atau media lain. Setelah media besar memuatnya, sekolah menyebarkan informasi itu melalui milis. Di samping itu, melalui relasinya mengirim SMS bahwa media besar memuat info berharga tentang sekolahnya. Iformasi berharga menyebar dan menjadi bahan perbincangan.</div>
<div></div>
<div>Model buzzmarketing pernah dilakukan SMA BPK Penabur Banten pada saat siswanya meraih juara dalam olimpiade Fisika berberapa tahun lalu. Foto pemenang dipasang indah di ucapan selamat dari sekolah dalam baliho yang dipajang di jalan tol Jakarta Cikampek. Besarnya layar baliho sama dengan iklan calon gubernur yang tidak menang pilkada. Penyampaian ucapan selamat  sekolah di jalan raya telah mendongkrak citra sekolah melalui buzzmarketing karena setiap orang lewat paling tidak membacanya&#8230;atau memperbincangkannya.</div>
<div></div>
<div>GP</div>
<p>dalam menentukan hal yang memungkinkan menjadi bahan perbincangan luas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/school-buzz-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran Inovatif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pemelajaran-inovatif/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pemelajaran-inovatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 13:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13196</guid>
		<description><![CDATA[Inovasi  adalah kreasi begitulah wikipedia mendefinisikan  dengan sinonimnya. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa inovasi membuat produk, proses, cara, pelayanan, teknologi, atau gagasan lebih unggul dan baru sehingga seluruh bagian keunggulan dan kebaruannya diakui pasar, pemerintah, maupun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13200" rel="attachment wp-att-13200"><img class="alignleft size-full wp-image-13200" style="margin: 5px;" title="inovasi" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/inovasi.jpg" alt="" width="151" height="114" /></a>Inovasi  adalah kreasi begitulah wikipedia mendefinisikan  dengan sinonimnya. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa inovasi membuat produk, proses, cara, pelayanan, teknologi, atau gagasan lebih unggul dan baru sehingga seluruh bagian keunggulan dan kebaruannya diakui pasar, pemerintah, maupun masyarakat. Inovasi sering dimaknai sama dengan kreasi.<span id="more-13196"></span></p>
<p>Inovasi berbeda dengan penemuan baru. Makna Inovasi lebih menekankan pada penerapan ide baru sehingga produk inovatif berupa produk baru, proses baru, layanan baru, teknologi baru,  sedangkan penemuan baru merujuk secara langsung pada pengolahan pikiran kreatif  sehingga menemukan ide baru atau metode baru.</p>
<p>Penerapan mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan inovatir pada proses pembelajaran sering tidak sempat kita bedakan dengan cermat. Selain karena makna keduanya sering ambigu, juga membedakan keduanya pun bukan yang teramat penting. Yang jauh lebih penting adalah guru meletakkan kedua istilah itu dalam konteks kecakapan berpikir kreatif dan inovatif yang dihubungkan dengan pengembangan penguaan informasi baru, menemukan hal baru, dan menghasilka karya yang baru bagi siswa.</p>
<p>Yang perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran adalah siswa mampu belajar menguasai konsep, teori, gagasan baru sebagai dasar melakukan kegiatan dalam menghasilkan produk, proses, cara, teknologi, atau gagasan baru sehingga memperoleh pengalaman yang baru. Jika hendak dibedakan secara detil maka pengalaman berpikir kreatif lebih mewakili konsep pembeharuan ide sedangkan berpikir inovatif lebih mewakili kecakapan menerapkan ide dalam menghasilkan produk belajar yang baru.</p>
<p>SMA Khadijah, sekolah swasta terkemuka di Surabaya, merancang sistem pembayaran keuangan yang dapat diakses secara otomatis dari ATM bank BRI. Kartu ATM siswa berfungsi otomatis sebagai kartu pelajar. Kelihatannya hal ini cukup sederhana karena dalam pikiran yang sederhana, kita dapat mengirim uang dari rekening yang satu kepada rekening rekening yang lain seperti pembayaran listrik, telepon, atau air.</p>
<p>Namun ketika para siswa memerlukan pelayanan lebih seperti berapa bulan mereka sudah bayar dalam satu tahun berjalan, kapan mereka bayar, adakah tunggakan, maka hal itu mengandung resiko ada bagian dari sistem pembukuan sekolah yang dibuka ke pihak bank dan ada pembatasan pula informasi yang dapat dibuka. Ternyata program ini memerlukan proses, teknologi, dan pemikiran baru yang belum pernah dijalakan sebelumnya sehingga layak dinyatakan sebagai produk inovatif.</p>
<p>Model pembelajaran inovatif memiliki karakteristik yang khas, di antaranya guru memiliki keinginan untuk melakukan perubahan, pemahaman dan keterampilan untuk mencapai tujuan, memahami benar apa faktor-faktor penunjang, menggunakan strategi atau metode melaksanakan perubahan, dan mengevaluasi ketercapain tujuan yang ditetapkan dalam perencanaan.</p>
<p>Pada beberapan sekolah yang menerapkan konsep adiwiyata, seperti di SD Bantarjati 9 Kota Bogor, pembelajaran matematika diintegrasikan dengan lingkungan.  Misalnya, sebelum belajar matematika, siswa diminta untuk membawa dus pasta gigi dan pembungkus sabun yang berbentuk balok. Guru memperkenalkan konsep ukuran panjang, luas, dan tinggi menggunakan kotak pasta gigi dan dus sabun mandi, mengukurnya, sehingga siswa dapat meningkatkan keterampilan matematis dari sampah.</p>
<p>Seusai belajar siswa menghimpun sampah yang telah digunakan sebagai media belajar dalam tempat sampah yang telah mereka persiapkan. Setelah sampah terkumpul siswa dapat menjual barang bekas yang bernilai ekonomi yang mereka himpun secara kolaboratif. Timbangan sampah dan  nilai ekonomi yang  muncul dari proses pembelajaran matematika dapat dikembangkan sebagai bahan pemikiran inovatif siswa.</p>
<p>Ibu Yayah, kepala sekolahnya, menggagas pelajaran yang terintegrasi pada tanaman, halaman sekolah, masyarakat sekitar, dan seluruh lingkungan menjadi alat peraga dan labolatorium siswa belajar. Alam takambang menjadi guru. Siswa dibuat senang karenannya karena diyakini warga sekolah bahwa pikiran siswa tidak dapat bekerja optimal jika hatinya tertutup terhadap lingkungannya.</p>
<p>Di SD Sukadamai 3 Kota Bogor, proses belajar yang inovatif dikembangkan dengan kultur yang berbeda. Target-target terbaik dibangun melalui model transaksi. Misalnya, kepala sekolah menyatakan kepastian kepada orang tua siswa bahwa setamat dari sekolah ini siswa kompeten dalam berbahasa Inggris dan menjadi operator komputer yang handal. Guru bertransaksi kepada kepala sekolah target yang diunggulkannya. Selanjutnya siswa antusias pula membuat target kepada gurunya.</p>
<p>Pembelajaran dikejar target, namun porses belajar dilakukan dengan sukacita. Membangun pebiasaan menjadi penopang utama dan istikomah untuk mewujudkan target menjadi terbaik menjadi energi belajar mereka.</p>
<p>Jika SD Bantarjati 9 yang belum SSN telah mendapat pengakuan sebagai &#8216;eco school&#8221; yang handal dan mendapat pengakuan karena bermitra pada tingkat ASEAN dan bahkan pada ruang lingkup global. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan Jepang dengan mengundang kepala sekolahnya  ke negeri sakura untuk ber&#8217;sister school&#8217; sebagai pengakuan terhadap keunggulan sekolah secara kongkrit.</p>
<p>Minggu lalu sekolah ini  mendapat pujian dari delegasi  Amerika sebagai salah satu sekolah paling unggul di dunia karena ide inovatifnya dalam mengembangkan sekolah berbasis alam.</p>
<p>SD Sukadamai 3 memiliki basis keunggulan yang berbeda. Delegasi dari negara ASEAN mengakui kunggulan sekolah ini. Di antaranya siswa sekolah ini mampu menunjukkan kepiawaian dalam berkomunikasi global, tentu dalam berhasa Inggris, di samping memiliki keunggulan yang lain. Namun  yang pasti, begitu banyak sekolah yang tidak mampu membuat siswa berkomunikasi sehari-hari dengan bahasa Inggris.</p>
<p>Sekolah ini secara inovatif membuktikan, mereka mampu menembus kesulitan yang dialami banyak sekolah di negara kita, mengubah budaya mudah berbahasa Inggris dan fasih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.</p>
<p>Salam sukses untuk mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pemelajaran-inovatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Menilai Kinerja Kepala Sekolah</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/pengalaman-menilai-kinerja-kepala-sekolah/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/pengalaman-menilai-kinerja-kepala-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 09:29:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opsi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13186</guid>
		<description><![CDATA[Ini aturan, kepala sekolah sebagai tugas tambahan, ia tetap sebagai guru. Karenanya kepala sekolah mendapatkan imbalan nilai kinerja 75% dari tugas tambahannya, 25 % dari pelaksanaan tugas pokoknya menjadi guru. Refleksi Kinerja kepala sekolah 95% ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-13191" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13191"><img class="alignleft size-full wp-image-13191" style="margin: 5px;" title="Tak apalah" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/Stress2.jpg" alt="" width="90" height="103" /></a>Ini aturan, kepala sekolah sebagai tugas tambahan, ia tetap sebagai guru. Karenanya kepala sekolah mendapatkan imbalan nilai kinerja 75% dari tugas tambahannya, 25 % dari pelaksanaan tugas pokoknya menjadi guru. Refleksi Kinerja kepala sekolah 95% kepala sekolah di tempat kami tidak menunaikan tugas mengajar. <span id="more-13186"></span></p>
<p>Seandainya pun mengajar, jadwal pelajaran hanya di atas kertas karena realitasnya tidak pernah masuk kelas. Di salah satu sekolah pernah kepala sekolah memberi pembinaan secara kelompok, salah satu guru angkat tangan dan berkata &#8221; Bapak membina saya untuk meningkatkan mutu pembelajaran, sedangkan Bapak sendiri tidak pernah masuk kelas, bagimana bisa Bapak?&#8221; Sang kepala sekolah pun berkelit menghindar dari kewajiban.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa di tempat kami bertugas tiap tahun melaksanakan  penilaian kinerja kepala sekolah dengan menggunakan dasar dan pendekatan EMASLIM. Hanya saja rekomendasi pengawas atas hasil penilaian kinerja  dianggap seperti angin lalu. Tetapa tidak apa=apa &#8230;. kami menghibur diri, yang penting gugurlah kewajiban atau penuhi TUPOKSI, dan tetap semangat &#8230;&#8230;..wasalam, Sri Wahyuni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/pengalaman-menilai-kinerja-kepala-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Kecil Refleksi Supervisi Sekolah</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/catatan-kecil-refleksi-supervisi-sekolah/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/catatan-kecil-refleksi-supervisi-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 14:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Supervisi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13166</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ekonom Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923), seperti diungkapkan  oleh Hardi Purba dalam situs hardipurba.com, telah meneliti dan menemukan fakta  bahwa 80% kekayaan bangsa Itali dikuasai oleh 20% penduduknya. Penemuan ini selanjutnya dikenal dengan istilah “80-20 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-13169" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13169"><img class="alignleft size-full wp-image-13169" style="margin: 5px;" title="supervisi" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/supervisi.jpg" alt="" width="172" height="112" /></a>Seorang ekonom Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923), seperti diungkapkan  oleh Hardi Purba dalam situs hardipurba.com, telah meneliti dan menemukan fakta  bahwa 80% kekayaan bangsa Itali dikuasai oleh 20% penduduknya. Penemuan ini selanjutnya dikenal dengan istilah “80-20 rule”.  <span id="more-13166"></span></p>
<p>Hasil temuan ini digunakan oleh ahli manjaemen kualitas, Dr. Yoseph Juran menggunakannya sebagai landasan  teori, ia juga menyatakan bahwa 80% uang yang hilang  terdapat dalam 20% masalah kualitas.</p>
<p>Apabila prinsip Pareto digunakan dalam manajemen mutu pendidikan, maka dapat kita nyatakan bahwa 80% mutu sekolah  merupakan dampak kurang efektifnya 20% variable tata kelola yang berpengaruh terhadap rendahnya pemenuhan standar mutu .</p>
<p>Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan sekolah dalam menjalakan fungsi manajerial. Asumsi ini dibangun dari pemikiran yang dinyatakan para ahli pendidikan yang tergabung dalam kelompok model pengembangaan kepala sekolah, <a href="http://www.loveladyschoolleadership.com/">www.loveladyschoolleadership.com</a>,  yang menyatakan bahwa kepala kepala sekolah sebagai orang kunci di sekolah dalam membaharuan pembelajaran. Realitas ini menunjukkan bahwa peran kepala sekolah dalam mewujudkan keunggulan. Focus utamanya adalah mewujudkan keunggulan mutu lulusan.</p>
<p>Hasil supervisi beberapa sekolah dalam satu tahun terakhir diperoleh data bahwa bahwa kepala sekolah belum membaca dan menganalisis dokumen <strong>SKL (Standar Kompetensi Lulusan) </strong>sehingga kriteria lulusan yang sekolah tetapkan belum merujuk pada panduan. Kepala sekolah belum membaca Permendiknas tentang SKL terjadi merata di sekolah dasar dan sebagian besar di SMP dan SMA.</p>
<p>Akibat dari itu, program pemenuhan standar yang diselaraskan dengan pemenuhan  kriteria mutu mutu lulusan belum terstruktur secara sistematis. Contoh yang nyata terlihat dari program peningkatan mutu guru pada sebagian besar sekolah belum diselaraskan dengan kebutuhan siswa belajar untuk memenuhi SKL.</p>
<p>Sekali pun sekolah sudah memulai melaksanakan evaluasi diri, sasaran evaluasi masih belum jelas. Data dari kunjungan sekolah membuktikan bahwa para kepala sekolah dapat menjelaskan target ideal mutu lulusan dari sekolahnya secara lisan, gambaran mutu lulusan yang diceritakan belum tentu mereka tuliskan sebagai target mutu dalam program.</p>
<p>Sebagian besar sekolah belum menentukan ukuran keberhasilan dan melakukan evaluasi pencapaian program berdasarkan keunggulan mutu yang ditetapkan. Sekolah-sekolah unggul menetapkan target keunggulan mutu pada bidang pengembangan kompetensi berbahas Inggris, peningkatan kompetensi bidang TIK, pembinaan prestasi bidang sain dan matematika, sampai pada keunggulan kompetitif dalam meraih prestasi dalam berkompetisi. Data yang diperoleh cukup mengagetkan, semua sekolah belum memiliki instrumen untuk mengukur dan menilai keberhasilan dalam keunggulan khususnya. Data yang teramati membuktikan bahwa semua sekolah belum merumuskan instrumen superivi  untuk mengetahui kinerjanya dalam mewujudkan keunggulan yang ditetapkannya dalam program.</p>
<p>Instrumen yang sekolah gunakan adalah instrument standar yang berlaku secara umum untuk mengukur keterlaksanaan kegiatan pemenuhan standar. Dalam hal ini terbukti sekolah lebih focus pada pemenuhan syarat administrasi. Sementara pemenuhan mutu yang esensial agaknya masih terabaikan. Hal ini dapat dilihat dari pemenuhan administasi superivisi yang rata-rata sekolah miliki, namun tidak menggambarkan dinamika pembelajaran yang sesungguhnya dalam kelas. Hanya sedikit sekali sekolah yang menunjukkan catatan otentik tentang proses pelaksanaan supervisi yang ditindaklanjuti dengan refleksi dan rekomendasi tindak lanjut yang realistik dengan bukti nyata yang terdokumentasikan.</p>
<p>Berdasarkan catatan tentang permasalah utama dalam usaha pemenuhan standar nasional pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Sebagian pimpinan sekolah yang dikunjungi belum menyediakan waktu khusus untuk menelaah panduan penerapan standar, mereka lebih suka mendengarkan penjelasan tentang bagaimana cara dan patokan pemenuhan stadar daripada menelaah melalui proses membaca.</li>
<li>Sebagaian besar sekolah yang dikunjungi belum menentukan criteria keunggulan mutu lulusan sekolahnya dengan merujuk pada SKL.</li>
<li>Program pemenuhan delapan standar belum ditentukan  untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu lulusan, hal paling mencolok terlihat pada program peningkatan mutu pendidik  belum sekolah selaraskan  dengan kebutuhan peningkatan mutu belajar siswa.</li>
<li>Sekolah pada umumnya dapat menjelaskan keunggulan cita-citanya secara lisan, namun sebagian besar sekolah belum menuliskan cita-cita keunggulan dalam program.</li>
<li>Sebagian besar sekolah belum mengembangkan instrument evaluasi untuk mengukur ketercapaian target kinerja dalam program melalui kegiatan supervisi sehingga sekolah memiliki data yang sangat terbatas sebagai input informasi sebagai bahan evaluasi keterlaksanaan dan pemenuhan pencapaian program.</li>
</ul>
<p>Hasil pelaksanaan supervisi sekolah menegaskan beberapa rekomendasi seperti di bawah ini.</p>
<ul>
<li>Pimpinan sekolah perlu didorong dengan kebijakan menetapkan kebijakan mutu berdasarkan pengkajian panduan penerapan stadar baik peraturan pemerintah maupun permen. Keunggulan mutu lulusan wajib sekolah definisikan sebagai dasar untuk menentukan target pada berbagai standar yang lainnya.</li>
<li>Menegaskan betapa pentingnya sekolah memiliki instrumen untuk mengukur kinerja pemenuhan standar yang ditetapkan berdasarkan program khas tingkat satuan pendidikan.</li>
<li>Menetapkan kebijakan agar setiap pimpinan sekolah memastikan bahwa supervisi dan evaluasi keterlaksanaan program dan ketercapaian hasil dilaksanakan dan diolah hasilnya sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan berkelanjutan.</li>
<li>Peingkatan kemampuan professional pimpinan sekolah dalam menetapkan tujuan, indikator, dan criteria serta pengukuran ketercapaian  menjadi titik kritis yang perlu mendapat perhatian serius pemangku kebijakan pembinaan tenaga kependidikan.</li>
</ul>
<p>Demikian catatan kecil  ini disusun sebagai produk  pelaksanaan tugas supervisi untuk pemetaaan kinerja sekolah dalam upaya meningkatkan meningkatkan  keunggulan sumber daya manusia di masa depan.</p>
<p>Penulis : Rahmat, Dipublikasikan: <strong>Mar 27, 2012</strong></p>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li>Hardipurba..com</li>
<li>http://www.loveladyschoolleadership.com/pages/school-principal-change-model</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/catatan-kecil-refleksi-supervisi-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengasah Keterampilan Berpikir Kreatif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/mengasah-keterampilan-berpikir-kreatif-siswa/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/mengasah-keterampilan-berpikir-kreatif-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 06:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13115</guid>
		<description><![CDATA[Terampilan berpikir kreatif  merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting dalam membangun pilar belajar yang bernilai untuk membangun daya kompetisi bangsa dalam meningkatkan mutu produk pendidikan. Kemampuan berpikir kreatif merupakan kecakapan mengolah pikiran untuk menghasilkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-13135" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13135"></a><a rel="attachment wp-att-13145" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13145"><img class="alignleft size-full wp-image-13145" style="margin: 5px;" title="antusias" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/antusias.jpg" alt="" width="151" height="160" /></a>Terampilan berpikir kreatif  merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting dalam membangun pilar belajar yang bernilai untuk membangun daya kompetisi bangsa dalam meningkatkan mutu produk pendidikan. Kemampuan berpikir kreatif merupakan kecakapan mengolah pikiran untuk menghasilkan ide-ide baru agar produk bangsa kita tidak kalah oleh produk bangsa lain.<span id="more-13115"></span></p>
<p>Kecakapan berpikir kreatif adalah kecakapan berpikir kritis.  Dalam web Komunitas Berpikir Kritis  dijelaskan bahwa berpikir kritis merupakan  aktivitas yang berdisiplin dalam  mengembangkan konsep,  menganalisis, mensintesis, dan_ atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari pengalaman mengobservasi, merefleksi, mengembangkan penalaran melalui komunikasi yang digunakan sebagai landasan mengembangkan keyakinan dan tindakan.</p>
<p>Terdapat perbedaan makna kecakapan berpikir kreatif dengan berpikir kritis. Pengembangan berpikir kreatif lebih menegaskan pada menghasilkan proses yang menghasilkan ide-ide baru. Sedangkan berpikir kritis lebih menekankan pada disiplin mengembangkan konsep,  menganalisis, mensintesis, dan_atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan sehingga memdapatkan kesimpulan yang tepat.</p>
<p>Keterampilan berpikir kreatif menurut Jurnal Harvard yang dikutip oleh Yodia Antariksa  memiliki empat pilar, yaitu</p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-13148" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13148"><img class="size-full wp-image-13148 alignleft" style="margin: 5px;" title="kreatif" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/kreatif.jpg" alt="" width="180" height="136" /></a>1 : Associating. </strong>ketrampilan mengkoneksikan  sejumlah perspektif dari beragam disiplin yang berbeda sehingga membentuk  gagasan yang kreatif.  Asosiasi menggunakan kemampuan dan   kekayaan wawasan dan mengaplikasikannya dalam bidang tertentu  sehingga menghasilkan temuan baru yang inovatif.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>2 : Questioning. </strong>Mengenai kecerdasan bertanya, Plato menyatakan  “Kecerdasan seseorang  tidak diukur dari seberapa bagus ia memberikan jawaban, namun dari  ketrampilannya meracik sebuah pertanyaan”. Di Inggris dikembangkan kriteria standar keterampilan bertanya yang sejak dulu Indonesia menggunakan dalam slogan, SIABIDIMAB (siapa, apa, bilamana, di mana, mengapa dan bagaimana)</p>
<p>Siswa yang kreatif adalah siswa yang selalu bertanya. Mereka mendedahkan  serangkaian pertanyaan yang mereka rumuskan sehingga mendapatkan aneka  gagasan baru. Di balik pertanyaan  terbentang luas hamparan gagasan kreatif yang menunggu untuk  diekspresikan.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-13150" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13150"><img class="size-full wp-image-13150 alignleft" style="margin: 5px;" title="outdoor learning" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/outdoor-learning.jpg" alt="" width="185" height="139" /></a><strong>3: Observing.</strong> Kemampuan  melakukan observasi telah melahirkan banyak  ide. Mengapa diadakan perjalan bisnis, study tour, studi bandin? Jawabannya, perjalanan selalu membawa berkah tumbuhya ide baru. Kemahiran siswa melakukan observasi dan ketajaman mencium  peluang mengembangkan inovasi dibaliknya, merupakan energi siswa berkreasi. Salahnya banyak sekolah mengganti observasi lingkungan dengan cerita sehingga bangun imajinasi kreatif ditumpulkan guru-guru dalam kelas.</p>
<p><strong>4 : Experimenting. </strong>Kita mengenal kisah indah  dari Thomas Alva Edison yang  melakukan  eksperimen sebanyak dua ribu kali sebelum akhirnya menemukan bohlam  lampu yang sekarang membuat jutaan orang tidak tidur semalam suntuk, yang membuat pesawat terbang bebas terbang kapan saja, yang membuat pabrik beropresi siang malam sehingga menghabiskan sumber daya alam dengan cepat, yang membuat orang belajar di malam gelap.<br />
Siswa yang kreatif yang tidak takut salah dan mencoba berulang-ulang sampai targetnya tercapai. Mereka juga tak pernah takluk  ketika eksperimen gagasan barunya itu kandas.  Mereka selalu terus mencoba dan mencoba, sehingga gagasannya berubah menjadi kenyataan.</p>
<p>Guru yang mampu mengembangkan kecakapan berpikir kritis adalah yang  dapat menfasilitasi berkembangnya kecakapan siswa menyempurnakan,  memperbaharui,  memperbaiki, membuat sesuatu lebih artistik, menngekspresikan imajinasinya sehingga memainkan segala sesuatu dalam pikirannya agar   lebih indah, lebih mudah, lebih praktis, lebih cepat, lebih kuat, lebih aman daripapada  sebelumnya.</p>
<p>Untuk mengembangkan sistem pembelajaran seperti yang diharapkan guru memang memiliki keterbatasan dalam  mengembangkan model pengaturan kelas, interaksi dalam kelas,  skenario pembelajaran yang dirancang, materi yang disajikan, strategi pembelajaran yang harus dikemas dalam RPP, hingga harus mengejar target lulus Ujian Nasional.</p>
<p><strong>Bagaimana guru mengembangkan pembelajaran yang memicu siswa berpikir kreatif?</strong></p>
<p>Tugas utama guru dalam mengelola pembelajaran untuk mengasah keterampilan siswa berpikir kreatif mencakup peningkatan keterampilan guru dalam  merancang skenario mengelola kelas, merancang perencanaan  pembelajaran melalui perumusan RPP, menerapkan rencana pembelajaran dalam kegiatan belajar siswa, menilai proses dan hasil belajar, dan mengevaluasi pembelajaran.</p>
<p>Meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas menggambarkan tetang proses untuk memastikan bahwa pembelajaran dalam kelas dapat berjalan lancar tanpa terganggu dengan perilaku prilaku siswa yang mengganggu (Wikipedia).</p>
<p>Dr Robert DiGiulio (Wikipedia) melihat manajemen kelas yang positif merupakan hasil dari terkelolanya empat faktor: bagaimana guru mempersepsikan  siswa mereka dilihat dari dimensi spiritual, bagaimana mereka mengatur lingkungan kelas dilihat dari dimensi fisik, seberapa baik mereka mengelola perilaku siswa  dilihat dari dimensi manajerial dan bagaimana mengajarkan  terampil penguasaan materi atau dilihat dari dimensi pembelajaran.</p>
<p>Pelayanan belajar yang adil kepada seluruh siswa dengan dilakukan secara ihlas merupkan kunci keberhasilan utama. Jika didasari dengan keihlasan, maka guru akan memperlakukan seluruh siswa secara adil. Yang memerlukan pelayanan lebih akan diberi lebih, yang memerlukan pelayanan cepat akan diberi layanan cepat. Kapasitas layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa belajar.</p>
<p>Pengaturan cara siswa duduk agar mereka dapat berkomunikasi, berinteraksi, dan berkolaborasi menjadi pertimbangan penting. Hal yang lebih penting lagi adalah memfasilitasi siswa mengekspresikan pikiran, bertanya, mengomentari, bebas dari rasa takut bersalah, adalah hal penting yang guru perlu kembangkan melalui penciptaan suasana kelas yang kondusif.</p>
<p>Pengaturan siswa belajar sangat dianjurkan tidak selalu menggunakan interaksi dalam kelas. Guru dapat mengatur siswa melakukan observasi lapangan untuk mengamati gejala alam atau gejala sosial di sekitar lingkungan sekolah. Pilar pengembangan keterampilan melakukan kegiatan observasi merupakan bagian penting dalam mengembangkan keterampilan berpikri kreatif.</p>
<p>Mulailah dengan merumuskan masalah, menentukan gejala yang akan dioberservasi, menghimpun data dalam bentuk catatan, foto, bukti  kegiatan dan siswa dapat kembali ke kelas untuk berdiskusi serta menyusun dan mengolah data serta menyusun kesimpulan.</p>
<p>Karya siswa yang telah siswa hasilkan melalui pengalaman belajar dipresentasikan dalaam kelompok. Hasil terbaik dipresentasikan kelompok dalam kelas. Peserta diskusi wajib mengajukan pertanyaan, jawaban, komentar, persetujuan, belajar berbeda pendapat, berbicara santun dan rendah hati.  Selanjutnya siswa mendapatkan tes yang harus dikerjakan secara individual. Begitulah contoh model pembelajaran yang bergerak dinamis.</p>
<p>Kebaikan lain yang perlu guru kembangkan adalah merancang dan mengelola prilaku siswa dalam kelas atau di luar kelas. Yang paling penting di sini adalah bagaimana proses belajar dengan menggunakan cara yang baru berjalan dan bagaimana hasil belajar yang lebih baik terwujud. Siswa dapat menunjukkan hasil belajarnya. Bisa dengan bantuan teknologi atau tanpa teknologi.</p>
<p>Pengembangan keterampilan berpikir kreatif merupakan level berpikir kelas tinggi. Hal ini harus tercermin dalam indikator hasil belajar yang guru kembangkan dalam RPP. Jika analisis menggunakan ranah kognitif Bloom, maka berikut contoh kata kerja yang dapat guru pilih dalam bentuk:</p>
<p><strong><a class="downloadlink" href="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=3021" title=" downloaded 207 times" >Model Berpikir Level Tinggi (207)</a></strong></p>
<p><strong>Ditulis oleh Rahmat Published on: <strong>Mar 27, 2012</strong></strong></p>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li>http://www.criticalthinking.org/pages/defining-critical-thinking/766</li>
<li>http://strategimanajemen.net/2009/12/21/4-pilar-creative-thinking-skills/</li>
<li>www. wikipedia.org/wiki/Classroom_management</li>
<li>wikipedia.org/wiki/Classroom_management#Positive_Classrooms</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/mengasah-keterampilan-berpikir-kreatif-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpikir Kreatif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/berpikir-kreatif/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/berpikir-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 14:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13100</guid>
		<description><![CDATA[Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif  merupakan kompetensi siswa yang harus guru kembangkan. Jika pada halaman sebelumnya telah  penulis  sajikan  tentang berpikir  kritis, maka pembahasan berlanjut pada pengembangan berpikir kreatif.
Tudor Rickards dalam buku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-13101" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13101"><img class="alignleft size-full wp-image-13101" style="margin: 5px;" title="kreasi" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/kreasi.jpg" alt="" width="177" height="133" /></a>Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif  merupakan kompetensi siswa yang harus guru kembangkan. Jika pada halaman sebelumnya telah  penulis  sajikan  tentang <a href="http://gurupembaharu.com/home/?p=12600" target="_self"><strong>berpikir  kritis,</strong> </a>maka pembahasan berlanjut pada pengembangan berpikir kreatif.<span id="more-13100"></span></p>
<p>Tudor Rickards dalam buku <em>Creativity and the managment of change (hal.22)</em> menyatakan bahwa berpikir kreatif berkenaan dengan proses kegiatan untuk menghasil sesuatu yang berhubungan dengan proses menghasilkan ide baru yang bernilai. Baru itu bisa menurut penilaian orang yang menghasilkan pemikiran baru atau menurut  penilaian  sekelompok orang dalam masyarakat luas.</p>
<p>Selanjutnya Tudor menyatakan pula bahwa berpikir kreatif dan pemecahan masalah secara kreatif berbeda dengan berpikir rasional dan pemecahan masalah. Pemikiran tersebut beralasan karena dalam tindakan kreatif ditandai dengan adanya  ide, proses berpikir, atau  produk baru yang bernilai.</p>
<p>Persoalan utama yang dihadapi dunia pendidikan kita pada saat  ini adalah bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pecahannya adalah bagaimana proses pembelajaran perlu dibangun dan apa produk yang harus siswa hasilkan.</p>
<p>Persoalan ini menyangkut proses belajar dan hasil belajar yang tidak hanya menyangkut tugas dan beban kerja guru, namun menjadi tugas kepala sekolah, lembaga pendidikan, bahkan para pemangku kebijakan  pendidikan pada umumnya.</p>
<p>Menurut Ellis yang dipublikasikan melalaui <cite>ec.europa.eu/&#8230;<strong>learning</strong>&#8230;/<strong>creativity</strong>/e llis </cite> menyatakan bahwa kecakapan berpikir kreatif dapat diukur dengan berbagai indikator prilaku belajar siswa seperti di bawah ini.</p>
<ul>
<li><strong>Menunjukkan sikap  percaya diri, mandiri, dan menyenangkan. </strong>Kemandirian siswa dalam berpikir terlihat menunjukkan kesenangan terhadap hal yang dipelajari, terintegrasi dan fokus pada pokok bahasan, menunjukan sikap empati dan keterlibatan emosional pada hal yang dilakukan, dan menunjukkan motivasi diri untuk mencapai target yang diharapkannya.</li>
<li><strong>Aktif berkolaborasi dan berkomunikasi </strong>yang dapat dilihat dalam prilaku yang dapat bekerja untuk mewujudkan tujuan melalui kerja sama dalam kelompok, aktif berdiskusi dalam tim, memberikan saran dengan penuh pertimbangan, mendengar dengan serius, merespon dengan sungguh-sungguh, mengatasi masalah dan mengungkapkan gagasan.</li>
<li><strong>Bertindak kreatif </strong>yang ditandai dengan munculnya kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai ide dalam rumusan singkat, bertanya, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan lain, mengambil resiko, dan melakukan percobaan, mengekspresikan pikiran sendiri dalam produk belajar yang artistik.</li>
<li><strong>Menunjukkan daya imajinasi dan mampu memainkan</strong> yang ditunjukkan dengan kemampuan mengidentifikasi, melakukan eksplorasi berbagai alternatif,  mengembangkan berbagai perencanaan atau program, mendemonstrasikan perkembangan secara atistik yang didukung dengan kecapan yang spesifik, dan kemampuan mengontrol yang semakin meningkat.</li>
<li><strong>Berpengetahuan dan memiliki pemahaman</strong> yang ditunjukkan dengan kesadaran untuk membedakan berbagai format, gaya, atistik, taradisi kultural, dan melakukan berbagai teknik melakukan berbagai hal secara kreatif.<br />
uses subject specific knowledge and language with understanding</li>
<li><strong>merefleksikan dan mengevaluasi </strong> yang ditandai dengan kemampuan merespon, berkomentar, mengerjakan sendiri, sehingga dapat menunjukkan pengembangan daya berpikir logis,  artistik, imajinatif. dalam bekerja, dan mampu mengevaluasi pekerjaan yang dialaminya.</li>
</ul>
<p>Dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa pembelajaran yang kondusif untuk menumbuhkan kecakapan berpikir kreatif perlu memerlukan dukungan suasana belajar yang memungkinkan siswa bebas mengembangkan pikirannya melalui pengembangan kerja sama yang menyenangkan hatinya, telepas dari sikap tidak sungkan bicara, bebas berkomunikasi antar sesama siswa serta efektfi berkomunikasi dengan guru  sehingga kelas memfasilitasi siswa bekerja sama melalui interaksi sosial yang dinamis dalam kelas.</p>
<p>Kerja sama, komunikasi, interaksi, mendengarkan, mengomentari, bertanya, menjawab pertanyaan dan mengekspresikan pikiran merupakan prilaku yang paling penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Semua prilaku tersebut merupakan bagian dari proses belajar.</p>
<p>Hal yang penting juga dalam pengembangan kemampuan berpikir kreatif adalah suasana belajar yang mengembangkan kebebasan siswa dalam mengekspresikan pikiran, mengembangkan daya imajinasi, mengembangangkan daya eksplorasi, menyatakan pikiran dalam menghasilkan karya yang terbarukan dan bernilai.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam mengembangkan kecakapan berpikir kritis diperlukan ide-ide atau karya yang akan dikembangkan sehingga lebih bernilai atau baik proses maupun hasil belajar harus berbeda dan lebih baik daripada sebelumnya.</p>
<p>Konsekuensi dari itu, guru dan siswa perlu memiliki model proses atau hasil karya yang akan diperbaharui. Misalnya, karya terbaik siswa yang telah dibuat tahun sebelumnya baik dari hasil karya siswa di sekolah sendiri atau dari sekolah lain.  Gagasan yang telah ada dan akan dikembangan agar menjadi lebih sesuai dengan perkembangan teknologi, majalah dinding terbaik yang dibuat oleh siswa dari sekolah lain, karya hasil perobaan sebelumnya.</p>
<p>Tugas sekolah dalam mengembangkan keterampilan berpikir kreatif yaitu menentukan target pelaksanaan pembelajaran yang kreatif untuk meningkatkan keterampilan guru dan siswa berpikir kreatif. Sekolah mendeskrpsikan  cita-cita dalam perencanaan dan menentukan strategi untuk mencapai cita-cita itu.</p>
<p>Rencana itu perlu dijabarkan lebih lanjut dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum serta  cara mengukur keterlaksanaannya. Kelemahan yang kita dapatkan di sekolah pada saat ini adalah secara kelembagaan sekolah belum menetapkan target dalam program untuk mengembangkan kecapan berpikir kreatif menjadi komponen kegiatan dalam program yang terdeskripsikan.</p>
<p>Kepala sekolah belum fokus  untuk mengukur pencapaian sekolah dalam mengembangkan kecakapan siswa berpikir kreatif. Karena itu, guru-guru kurang mendapat  dorongan untuk mengembangkan kecakapan ini sehingga luput dari perhatiannya.</p>
<p>Bepikir kritis hingga saat ini baru kita sentuh kulitnya,  cuma baru pandai menyisipkan dalam bentuk kata indah dalam standar, namun miskin maknanya karena kita sendiri belum memiliki alat ukur yang spesifik untuk mengetahui posisi keterpenuhan kriteria proses dan hasilnya.</p>
<p>Penulis: Rahmat</p>
<p>Published on: <strong>Mar 26, 2012</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>Tudor Rickards, 1999. Creativity and The Management of Change, University of Oklahoma, dan Pricipal of Vangundy &amp; Associates. Blackwell</li>
<li><cite>www. ec.europa.eu/&#8230;<strong>learning</strong>&#8230;/<strong>creativity</strong>/e llis </cite></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/berpikir-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggapan Terhadap Artikel Sekolah Efektif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/tanggapan-terhadap-tulisan-tentang-sekolah-efektif/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/tanggapan-terhadap-tulisan-tentang-sekolah-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 12:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opsi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13035</guid>
		<description><![CDATA[Pengukuran efektivitas sebuah sekolah tidak dapat hanya mempertimbangkan faktor internal, yang menghasilkan tujuh karakter sekolah efektif seperti yang diuraikan dalam artikel terdahulu. Pada kenyataannya ada faktor eksternal yang sangat memengaruhi efektivitas sekolah. Paling tidak ada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-13036" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13036"><img class="alignleft size-full wp-image-13036" style="margin: 5px;" title="kinerja siswa" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/kinerja-siswa.jpg" alt="" width="203" height="153" /></a>Pengukuran efektivitas sebuah sekolah tidak dapat hanya mempertimbangkan faktor internal, yang menghasilkan tujuh karakter sekolah efektif seperti yang diuraikan dalam artikel terdahulu. Pada kenyataannya ada faktor eksternal yang sangat memengaruhi efektivitas sekolah. Paling tidak ada dua faktor eksternal utama yaitu faktor politik pendidikan dan persepsi masyarakat.<span id="more-13035"></span></p>
<p>Politik pendidikan di Indonesia setidaknya mendorong penerapan  sistem standarisasi sekolah, di antaranya menghasilkan model Ujian Nasional, yang sangat berpihak pada pengukuran kognitif (akademik) sebagai ukuran produk belajar. Ujian Nasional sampai saat ini tidak mampu mengukur karakter sebagai bagian utama produk belajar.</p>
<p>Persepsi masyarakat terhadap sekolah terutama bersumber pada sejauh mana sekolah dapat memenuhi harapan masyarakat akan masa depan anaknya. Adalah hal yang sangat memprihatinkan bahwa ukuran keunggulan masa depan dalam persepsi masyarakat masih didominasi pola pikir ranking di kelas dan sekolah unggulan serta perguruan tinggi unggulan. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganut faham bahwa jika anaknya tidak masuk 10 besar di kelas atau tidak masuk sekolah unggulan atau tidak diterima di perguruan tinggi unggulan maka tidak banyak yang bisa diharapkan dari masa depan anaknya.</p>
<p>Pandangan politik pendidikan dan persepsi masyarakat tersebut mendorong asumsi bahwa hanya perguruan tinggi unggulan yang akan menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing di dunia kerja. Sampai saat ini hanya 10 perguruan tinggi negri yang diunggulkan di Indonesia. Jika rata-rata daya tampung PTN tersebut 3000 mahasiswa, maka daya tampung keseluruhannya adalah 30.000 mahasiswa. Hanya 30.000 inilah produk belajar yang diasumsikan memiliki keunggulan yang dapat dihasilkan oleh sistem sekolah di Indonesia. Produk belajar lainnya yang tidak memenuhi asumsi tersebut luput dari perhatian sebagai produk belajar yang juga akan mengisi dunia kerja Indonesia. Mereka tidak memiliki akses psikologis yang cukup untuk menjadi produk belajar yang diharapkan.</p>
<p>Kenyataan ini menjadi dilema dalam membangun konsep efektivitas pada sekolah. Karena dua stake holder besar pendidikan sekolah yaitu pemerintah dan masyarakat memiliki paradigma yang berbeda dengan pihak sekolah dalam mengukur efektivitas. Sebagian kecil sekolah di Indonesia sudah mengembangkan paradigma efektivitas sesuai model analisis posisi internal, tetapi sebagian besar yang lain terjebak oleh paradigma pemerintah dan masyarakat. Keterjebakan inilah yang mendorong adanya praktik “jual beli” nilai di sekolah. Pihak yang paling dirugikan adalah generasi muda sebagai subyek pendidikan yang masih sangat menggantungkan masa depannya pada sistem sekolah.</p>
<p>Jalan keluar jangka panjang yang dapat dilakukan adalah adanya kesepahaman antara tiga pihak, yaitu sekolah, pemerintah dan masyarakat bahwa produk belajar di sekolah bukan hanya nilai akademik (kognitif) tetapi ada nilai (value) yang lebih besar yaitu karakter, atau yang lebih luas adalah akhlak karimah.</p>
<p>Mudah-mudahan manfaat<br />
Terima kasih</p>
<p>Anom Wiratmoyo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/tanggapan-terhadap-tulisan-tentang-sekolah-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Efektif</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/sekolah-efektif-2/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/sekolah-efektif-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 15:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=13020</guid>
		<description><![CDATA[Efektivitas dapat diukur dengan indikator peningkatan produktivitas sekolah seperti tingkat kehadiran guru dan siswa, kerja sama tim, dan tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan (1994: 7).  Menurut Abin Syamsudin, sekolah efektif  adalah satuan pendidikan yang menunjukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-13022" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13022"><img class="alignleft size-full wp-image-13022" style="margin: 5px;" title="Presentasi Laporan Kegiatan" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/Presentasi-Laporan-Kegiatan.jpg" alt="" width="179" height="119" /></a>Efektivitas dapat diukur dengan indikator peningkatan produktivitas sekolah seperti tingkat kehadiran guru dan siswa, kerja sama tim, dan tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan (1994: 7).  Menurut Abin Syamsudin, sekolah efektif  adalah satuan pendidikan yang menunjukan suatu ukuran tingkat kesesuaian antara hasil  yang dicapai (<em>achievements, observed outputs</em>) dengan hasil yang ditetapkan terlebih dahulu (1999:19).<span id="more-13020"></span></p>
<p>Sekolah efektif merupakan perpaduan dari (1)  karakter kepemimpinan pembelajaran yang kuat, (2)   terpusat jelas pada hasil belajar, (3) memiliki harapan yang tinggi, (4) memiliki lingkungan aman dan kondusif, dan (5) terpantaunya hasil pencapaian belajar secara berkelanjutan  pada suatu sekolah (Turney, at all.1992: 5)</p>
<p>Sekolah efektif dinyatakan Hatton dan Smith dalam tulisannya yang berjudul Perspectives on Effectives Schools (1992:1) berkarakteristik  (1) memiliki kepemimpinan pengajaran yang kuat (2) terpusat pada produk belajar (3)  harapan siswa yang tinggi (4) lingkungan yang aman dan sesuai dengan harapan  (5) memiliki kekerapan dalam memonitor tingkat pencapaian hasil.</p>
<p>Dijelaskan Abin Syamsudin dalam skema model analisis posisi internal organisasi maka efektivitas merupakan posisi output dibanding dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.</p>
<p>Lihat ukuran efektivitas pada skema analisis posisi internal organisasi di bawah ini:</p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-13029" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=13029"><img class="size-full wp-image-13029 aligncenter" title="analisis posisi internal" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/analisis-posisi-internal.bmp" alt="" width="400" height="260" /></a></p>
<p>Selain efektivitas, terdapat efisensi, produktivitas, apresiasi, relevansi, dan aspirasi di samping adanya batas pemenuhan standar untuk menyatakan ukuran dalam sebuah organisasi.</p>
<p>Penyelenggaraan proses pengelolaan sekolah yang efektif  berkembang dari mulai merumuskan tujuan yang diharapkan dapat dicapai,  mendeskripsikan profil siswa yang diharapkan dapat dibangun, serta merumuskan tahap-tahap kegiatan yang harus berproses yang jelas, terarah, dan terukur sehingga akhirnya diperoleh peta mutu produk kinerja sekolah.</p>
<p>Kejelasan arah menggambarkan pemenuhan standar yang berarti  berkembangnya proses konservasi untuk memproteksi  ketangguhan, keamanan, serta daya tahan kepemimpinan yang bertumpu pada disiplin, perhatian, standar, kepemimpinan yang saling berpengaruh terhadap perubahan Wilson (2004:1)</p>
<p>Dari uraian singkat di atas kita memperoleh gambaran  bahwa sekolah yang efektif  adalah sekolah yang mewujudkan kinerja dengan tujuh karakter berkut:</p>
<ol>
<li>Fokus mewujudkan tujuan dengan jelas dengan standar yang tinggi</li>
<li>Menentukan target dalam perencanaan sebagai dasar untuk menentukan ukuran keberhasilan atau kriteria keberhasilan.</li>
<li>Pengelolaan terpusat pada psroduk belajar siswa.</li>
<li>Memiliki kepemimpinan pembelajaran yang kuat, berdisiplin, bepengaruh dalam melakukan  perubahan.</li>
<li>Sekolah aman, nyaman,  dan kondusif.</li>
<li>Memantau perkembangan pencapaian berlajar secara berkala dan berkelanjutan.</li>
<li>Mengembangkan kebijakan partisipasi seluruh pemangku kepentingan.</li>
</ol>
<p>Skema efektif menjadi salah satu ukuran kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan dalam pemenuhan keterlaksanaan kegiatan maupun hasil kegiatan. Pernyataan ini jika dikaitkan dengan sistem pengelolaan sekolah, maka seorang kepala sekolah memiliki kewajiban untuk:</p>
<ol>
<li>Memahami masalah berupa kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan.</li>
<li>Menentukan tujuan pada setiap program  pemecahan masalah yang dihadapi sekolah.</li>
<li>Menentukan indiakator dan kriteria keberhasilan dalam proses dan hasil pelaksanaan program.</li>
<li>Menentukan alat ukur untuk memetakan keberhasilan program.</li>
<li>Memilih strategi yang paling efektif dalam mewujudkan tujuan.</li>
<li>Menerapkan strategi.</li>
<li>Memantau, mensupervisi, dan mengevaluasi pelaksanaan dan hasil dengan menggunakan instrumen yang sudah dirumuskan.</li>
<li>Melaksanakan refleksi pencapaian kinerja dan melakukan perbaikan berkelanjutan.</li>
</ol>
<p>Dari delapan tindakan yang banyak sekolah abaikan, berdasarkan hasil pemantauan adalah ;</p>
<p>Sekolah kurang fokus  menentukan target keberhasilan hal ini terbukti dalam menentukan setiap program sekolah belum memiliki indiakator dan target keberhasilan  yang sinergis dengan target pengembangan kompetensi lulusan.</p>
<p>Sekolah kurang menghargai fungsi kontrol  terutama terlihat dari apa yang diukur keberhasilan dalam supervisi bukan target mutu keunggulan yang sekolah cita-citakan, bahkan sebagian sekolah membiarkan guru bertindak bebas sesuai selera pribadinya tanpa kendali profesional oleh kepsek.</p>
<p>Mentapkan target mutu dan mengukur keberhasilan merupakan komponen utama yang menjadi perlu menjadi penanda kepala sekolah menerapkan standar dengan sungguh-sungguh atau hanya sekedar formalitas yang hanya terdengar dalam pernyataan, namun sulit dipotret dalam tindakan nyata yang terlihat dan jelas maslahatnya bagi perubahan mutu sekolah menjadi lebih baik.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Hatton dan Smith (1992) <em>Perspectives on Effectives Schools</em>.  <a href="http://eric.uoregon.edu/%20publications/digests/digest129.html">http://eric.uoregon.edu/ publications/digests/digest129.html</a></p>
<p>Syamsudin, Abin (1998) Analisis Posisi Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
<p>Turney, C. <em>et al. </em>(1992). <em>The School Manager</em>. Australia: Allen &amp; Unwin.</p>
<p>Wilson, Noel (2004)  <em>Educational Standards and the Problem of Error</em>,, The Flinders University of South Australia, http.//cpaa. asu.edu/epaa /v6n 10/c6.htm,2004) http://eric.uoregon.edu/trends_issues/edgov/selected_abstracts/board_super_relations.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/sekolah-efektif-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Yang Baik</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/guru-yang-baik/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/guru-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 05:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=12914</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu berlangsung   workshop pengembangan SMA RSBI dilaksanakan di Bandung,  salah satu pembicara pada kegiatan  adalah Prof. Muklas Samani dari Surabaya. Pada awal pertemuan beliau menyajikan cerita murid yang tidak berhasil karena gurunya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-12915" href="http://gurupembaharu.com/home/?attachment_id=12915"><img class="alignleft size-full wp-image-12915" style="margin: 5px;" title="Guru yang baik" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/Guru-yang-baik.jpg" alt="" width="176" height="118" /></a>Beberapa waktu lalu berlangsung   workshop pengembangan SMA RSBI dilaksanakan di Bandung,  salah satu pembicara pada kegiatan  adalah Prof. Muklas Samani dari Surabaya. Pada awal pertemuan beliau menyajikan cerita murid yang tidak berhasil karena gurunya tidak dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan terbaik.<span id="more-12914"></span></p>
<p>Alkisah terdapat seorang laki-laki  lulusan SMA A. Semasa belajar di sekolahnya, ia tidak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya sehingga ia tidak dapat diterima jadi pegawai di perusahaan mana pun.</p>
<p>Pada satu hari ia terdesak kebutuhan, anaknya yang baru lahir memerlukan susu. Karena kasih kepada anaknya, ia mencuri susu di sebuah pusat perbelanjaan. Dan&#8230;ia ketahuan mencuri, lalu dipukuli masa, sampai meninggal.</p>
<p>Di alam kubur ia diperiksa malaikat, dalam pemeriksaan ia menyatakan bahwa benar ia mencuri kerena terdesak dengan kasih sayang kepada anaknya.</p>
<p>&#8220;Tapi, mengapa kamu mencuri?&#8221;</p>
<p>&#8221; Karena saya tidak punya uang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa tidak berusaha cari uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena saya tidak memiliki keterampilan untuk bekerja!&#8221;</p>
<p>&#8221; Ya. Sudah kamu masuk neraka!&#8221;</p>
<p>&#8221; Tuan Malaikat, ada satu hal yang saya usul sebelum saya masuk neraka, tolong masukan pula orang-orang yang menyebabkan saya tidak memiliki keterampilan!&#8221;</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>Karuan saja karena sebagian besar peserta adalah guru, maka cerita pun disikapi gelak tawa. dan guru mengerti bahwa pekerjaannya tidak hanya terkait pada  kepentingan jangka pendek, namun keberhasilan mendidik itu didedikasikan pada kepentingan siswa jangka panjang hingga di menentukan sukses di akhiratnya.</p>
<p>Diskusi dilanjutkan dengan mengidentifikasi guru yang baik.Menurut peserta guru yang baik itu selalu meperhatikan muridnya. Kalau mau mengajar bercerita dulu sehingga membuat siswa senang bersamanya. Guru yang baik memiliki kedekatan psikologis dengan  siswanya sehingga kolaborasi guru dengan siswa tidak terkendala.</p>
<p>Diskusi berlanjut mengidentifikasi indikator guru yang baik. Guru yang baik selalu memperhatikan muridnya, sekali pun pelajaran telah selesai muridnya muridnya masih mau belajar. Murid-muridnya masih asik melanjutkan beraktivitas. Dalam berinteraksi guru yang baik siap dibantah siswanya karena guru  berpendirian haram guru menyalahkan muridnya. Guru berpandangan haram menyalahkan dan membantah siswa karena siswa yang bisa membantah berarti siswa yang berpendirian dan berani bicara atau bertanya. Guru yang baik adalah guru yang dapat dikagumi atau diidolakan siswanya.</p>
<p>Guru yang baik itu bak pelawak. Mungkin tidak ada rumus atau teknik yang baku. Jika di lapangan harus berubah, maka bergantung pada situasi, jika harus berubah maka berubahlah asalkan tetap efektif. Oleh karena itu, jangan-jangan kurikulum kita itu terlalu kaku sehingga tidak memberikan ruang gerak untuk berkreasi.</p>
<p>Guru yang baik ternyata membuat siswanya berhasil. Guru yang menggunakan waktu sependek mungkin, namun siswanya mencapai tujuan yang diharapkan. Pengalaman memberikan pengetahuan dan keterampilan membuat siswa belajar sendiri. Guru yang baik dapat membina siswanya sehingga siswa mengembangkan inisiatifnya sendiri seperti siswa melaksanakan solat tanpa perlu disuruh.</p>
<p>Guru yang baik itu inspiratif, pandai membuat siswa berpikir bahkan bisa membuat sesuatu. Dalam kondisi seperti ini, guru tahu bisa apa siswa sebelumnya sehingga mamahami apa yang harus siswa capai. Dengan demikian guru yang baik memahami yang sesungguhnya siswa butuhkan. Jika yang dilatih adalah menyelesaikan dalam hidup guru dapat menggunakan contoh pertanyaan berikut. Jika kamu akan pergi ke pasar sebaiknya memilih jalan yang mana?</p>
<p>Dengan pertanyaan itu berarti siswa dapat mengembangkan pikirannya sendiri, memilih berbagai alternatif. Oleh karena itu, mata pelajaran pada dasarnya perupakan alat untuk mengantarkan pikiran siswa untuk merumuskan pikiran dalam wadah yang namanya mata pelajaran, namun sebenarnya siswa dapat menyelesaikan dalam berbagai dimensi yang lain yang dibutuhkan dalam hidup.</p>
<p>Penjelasannya pun dicukupkan dengan  saran, guru-guru jangan terjebak dengan output untuk kepentingan jangka pendek, tatepi berilah siswa kita bekal untuk hidup pada jamannya. Pendidikan yang baik adalah membuat siswa kita berhasil.</p>
<p>Jadi, jangan-jangan yang kita berikan kepada siswa itu tidak mendukung sukses hidupnya, melainkan hanya mengungkung siswa dalam ruangan untuk beberapa tahun dan tidak mendapatkan hal yang sesungguhnya siswa perlukan untuk hidupnya.</p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/guru-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melek Keterampilan Digital Abad 21</title>
		<link>http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/</link>
		<comments>http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 17:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurupembaharu.com/home/?p=12867</guid>
		<description><![CDATA[ Selasa 6 Maret 2012, penulis berdialog dengan guru-guru SMAN 2 Cibinong, dalam workshop pengembangan model pembelajaran yang efektif yang ditunjang dengan keterampilan digital. Menurut pengarah kegiatan  dari Tim Pengembang Sekolah, kegiatan diarahkan untuk mendapatkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/images-14/" rel="attachment wp-att-12877"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-12877" title="images" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/images1-150x129.jpg" alt="" width="150" height="129" /></a> Selasa 6 Maret 2012, penulis berdialog dengan guru-guru SMAN 2 Cibinong, dalam workshop pengembangan model pembelajaran yang efektif yang ditunjang dengan keterampilan digital. Menurut pengarah kegiatan  dari Tim Pengembang Sekolah, kegiatan diarahkan untuk mendapatkan format baru  peningkatan  mutu pembelajaran berbasis TIK.<span id="more-12867"></span></p>
<p>Pada awal kegiatan saya menyatakan bahwa fokus perhatian sekolah adalah meningkatkan kesiapan siswa untuk lulus UN. Pada sebagian sekolah dapat digambarkan bahwa pemandangannya berkacamata kuda, hanya melihat kepentingan memperoleh UN di atas standar nasional. Pandangan lain disisihkan.</p>
<p>Dalam kondisi ini  tak ada argumentasi yang  dapat membuka pandangan lain, membuka ruang pemikiran baru selain memilih cara melatih siswa mengerjakan soal sehingga seolah usaha besar pengelolaan sekolah hanya untuk kepentingan jangka pendek yaitu mengembangkan keterampilan memecahkan soal. Arus besar ini akan  berujung pada terwujudnya lulusan yang berpersoalan karena mereka tidak terfasilitasi untuk  memperoleh manfaat besar dari proses belajar di sekolah sebagai persiapan hidup dan mengembangkan daya kompetisi dalam arus global.</p>
<p><strong>Standar Kompetensi Lulusan</strong></p>
<p>UN sebagai alat ukur keberhasilan siswa belajar tidak diragukan lagi, memang perlu dan penting. Hanya saja mewujudkan lulusan yang memenuhi standar pengetahuan dan keterampilan lebih daripada UN jauh lebih penting. Alahkan beruntunga jika sekolah dapat meningkatkan kesiapan siswa lulus UN dan siap pula dengan keterampilan hidup yang lebih adaptif  dalam konteks kehidupan. Salah satu hal penting adalah siswa melek keterampilan digital abad 21.</p>
<p>Gambaran indah jika indikator keberhasil program sekolah ditandai dengan siswa lulus UN, menguasai ilmu pengetahuan sebagai dasar kesiapan melanjutkan pendidikan, dan melek keterampilan digital abad 21.</p>
<p><strong>Apa keterampilan digital Abad 21?</strong></p>
<p>1.1 Melek  Keterampilan Dasar</p>
<p>Keterampilan individu dalam menggunakan komputer yang memenuhi kecukupan minimal penguasaan menggunakan komputer untuk dapat belajar dan berkarya.</p>
<p>1.2 Melek informasi</p>
<ul>
<li>Siswa dapat mengakses informasi secara efektif dan efisien.</li>
<li>Siswa dapat mengevaluasi informasi secara kritis dan berkompeten</li>
<li>Siswa dapat menggunakan informasi dengan tepat dan kreatif</li>
</ul>
<p>1.3 Melek Teknologi</p>
<ul>
<li>Menguasi konsep dasar dan menerapkannya</li>
<li>Terampil menerapkan nilai sosial, etika, dan isu kemanusiaan.</li>
<li>Menerapkan perangkat teknologi pendukung berproduksi</li>
<li>Perangkat teknologi pendukung penelitian</li>
<li>Menggunakan teknologi dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan</li>
</ul>
<p>1.4 Melek Keterampilan Abad 21</p>
<ul>
<li>Melek Digital
<ul>
<li>Keterampilan dasar ilmiah, ekonomi, dan pengembangan teknologi</li>
<li>Melek multikultural dan kesadaran global.</li>
<li>Melek visual</li>
</ul>
</li>
<li>Terampil berpikir untuk menemukan hal baru
<ul>
<li>Adaptif terhadap tatakelola yang kompleks</li>
<li>Mengarahkan diri sendiri</li>
<li>Mengembangkan rasa ingin tahu, kreatif, dan berani mengambil resiko.</li>
<li>Berpikir level tinggi dan mampu berargumen</li>
</ul>
</li>
<li>Efektif Komunikasi
<ul>
<li>Bekerja dalam Tim, berkolaborasi, dan keterampilan interpersonal</li>
<li>Personal, sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara.</li>
<li>Berkomunikasi interaktif</li>
</ul>
</li>
<li>Produktivitas Tinggi
<ul>
<li>Mampu menentukan prioritas, menyusun perencanaan dan manajemen produk</li>
<li>Efektif menggunakan perangkat secara nyata dalam kehidupan sehari-hari</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Jika diperhatikan secara seksama, melek keterampilan digital tidak hanya fokus pada keterampilan siswa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, melainkan fokus pada keterampilan berpikir, keterampilan belajar, keterampilan sosial, keterampilan ilmiah yang didukung dengan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi.</p>
<p><strong>Bagaimana Sekolah Mengimplementasikan Melek Keterampilan Digital?</strong></p>
<p>Untuk mendukung efektivitas implementasi keterampilan digital memerlukan kebijakan sekolah yang jelas tujuannya, jelas target indikator keberhasilan pada tingkat kepala sekolah, guru, dan siswa.  Setiap kebutuhan mutu untuk mewujudkan mutu lulusan diperlukan sistem pembinaan pendidik agar dapat melaksanakan tugas secara profesional. Oleh karena itu pada tingkat lembaga satuan pendidikan diperlukan program.</p>
<p>Pengelolaannya meliputi fungsi perencanaan manajemen sekolah dan sistem pembelajaran, pelaksanaan program, dan seupervis program. Di bawah ini terdapat kerangka pikir penjaminan dalam mengembangkan program, melaksanakan program, dan evluasi program yang dilakukan lembaga satuan pendidikan, kepala sekolah, guru, dan siswa dalam kerangka di bawah ini.</p>
<p>Lihat model implementasi pada tingkat satuan pendidikan pada gambar di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/new-picture-1-12/" rel="attachment wp-att-12894"><img class="size-full wp-image-12894 aligncenter" title="New Picture (1)" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/New-Picture-1.bmp" alt="" width="432" height="144" /></a></p>
<p>Efektivitas ditentukan pula oleh kekuatan kepala sekolah dalam menunjang perencaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Lihat pula model peta analisis fungsi kepala sekolah dalam gambar berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/tugas-kepala-sekolah/" rel="attachment wp-att-12895"><img class="size-full wp-image-12895 aligncenter" title="Tugas Kepala Sekolah" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/Tugas-Kepala-Sekolah.bmp" alt="" width="413" height="269" /></a></p>
<p>Fungsi perencanaan, pelaksanaan program, dan evaluasi juga perlu diperankan guru yang terkontrol oleh kepala sekolah. Model peran guru dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/peran-guru/" rel="attachment wp-att-12896"><img class="aligncenter size-full wp-image-12896" title="Peran guru" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/Peran-guru.bmp" alt="" width="451" height="217" /></a></p>
<p>Tantangan yang muncul dari gambar di atas ialah bagaimana guru menterjemahkan kebijakan meningkatkan keterampilan digital siswa yang dapat menguatkan penguasaan materi bahkan jika mungkin dapat mempercepat dan memperluas berkembangnya kompetensi siswa.</p>
<p>Untuk menukung ini, maka guru perlu mengembangkan disain pembelajaran dengan ditunjang RPP  yang memuat indikator pembelajaran seperti di bawah in.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/model-indikator-pembelajaran/" rel="attachment wp-att-12897"><img class="aligncenter size-full wp-image-12897" title="Model Indikator Pembelajaran" src="http://gurupembaharu.com/home/wp-content/uploads/2012/03/Model-Indikator-Pembelajaran.bmp" alt="" width="370" height="250" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Memperhatikan model pengembangan indikator belajar yang terdiri atas lima komponen, maka dalam setiap kegiatan berlajar, guru wajib merancang kegiatan untuk penguatan materi, penguatan keterampilan berpikir, penguatan pengembangan potensi individu atau kelompok, pengembangan keterampilan menggunakan TIK, dan menghasilkan karya kreatif dan inovatif.</p>
<p>Oleh karena itu setiap tatap muka guru selalu mengembangkan keterampilan siswa untuk mengeksplorasi, mengelaborasi, dan menguji kebenaran informasi dengan menggunakan TIK untuk menghasilkan karya yang bermakna.  Pada langkah ini pembelajar harus dapat memperjelas, kompetensi melek digital seperti apa yang hendak guru wujudkan untuk menunjang pengetahuan siswa seperti apa agar mereka dapat lulus UN dengan lebih baik.</p>
<p>Salam.</p>
<p>Published on: <strong>Mar 5, 2012 @ 17:01</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurupembaharu.com/home/melek-keterampilan-digital-abad-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
